
"Dimana kalian menaruh otak-otak kalian itu hah! Apa kalian tahu betapa gila nya aku tadi??!!" Geram Harley, sambil menunjuk keduanya dengan pistol ditangannya.
"Kalian pikir itu lucu??!!! Tunggu sampai kalian merasakannya sendiri, terutama kau sialan!" Harley kembali menunjuk mereka dengan pistol nya, hingga keduanya bergidik ngeri.
Hanya satu kemungkinan yang muncul dalam benak pria sedingin es balok itu saat mencari alasan kenapa GPS pada liontin yang dikenakan oleh Ellena tiba-tiba tidak terdeteksi oleh ponselnya, dan hanya ada satu orang yang bisa menonaktifkan fungsi dari liontin tersebut yakni Charlie.
Jika hanya ponselnya saja yang tiba-tiba mati, itu bisa dipahami oleh Harley karena kemungkinan orang lain yang menculik istri kecilnya itu adalah benar.
"Turunkan pistol mu itu Harley, sebelum benda itu meletus!" Charlie mencoba untuk meraih pistol dari tangan sang anak, dirinya tidak mengira jika aksi balas dendamnya dengan Emir karena sang anak telah pergi membawa menantu kesayangan nya itu berakhir seperti ini.
"Kami hanya bercanda, lagipula kenapa kamu membawa Ellena tanpa mengajak kami tadi?" Emir tak acuh dengan sikap keterlaluan keponakannya tersebut, dalam hatinya dia tertawa puas karena telah berhasil mengerjai mahluk kutub Utara itu.
"Bercanda katamu??!! Ini bukan kali pertama seseorang menculiknya Emir!!" Harley meninggikan volume suaranya, dirinya benar-benar geram karena tingkah tak acuh pamannya itu.
Emir terkejut bukan main, pantas saja keponakan nya ini begitu posesif terhadap Ellena pikirnya. Ternyata memang ada alasan besar dibalik tingkahnya itu.
"Maafkan aku Harley, aku tidak tahu...." Emir mengaku bersalah, bahkan saat ini pria tersebut benar-benar diliputi perasaan bersalah karena kejahilannya tadi.
Harley meninggalkan tempat itu untuk menenangkan dirinya, setidaknya saat ini semua kekhawatiran nya telah sirna karena ternyata Ellena dalam keadaan baik-baik saja di kamarnya.
Hanya saja perasaan nya saat ini benar-benar tidak dalam keadaan baik-baik saja, ayah dan pamannya itu memang tidak pernah tahu apa saja peristiwa yang telah dilalui oleh dirinya dan Ellena selama ini. Dia pun tidak bisa menyalakan sepenuhnya kepada keduanya.
Semua memori tentang Paloma dan pertemuan pertama nya dengan Ellena, bagaimana dirinya memperjuangkan gadis itu hingga bisa benar-benar dia miliki pada akhirnya sesaat hadir kembali tadi. Dan semua itu hampir membuat Harley gila hingga tidak lagi memikirkan apapun kecuali tekadnya untuk menemukan kembali istri kecilnya itu apapun caranya.
"Apa mereka itu tidak sadar jika aku bisa saja membunuh mereka tadi?" Batin Harley
Harley kembali menghidupkan mesin mobilnya dan mengarahkan kemudinya keluar dari halaman luas mansion Charlie.
"Ya Tuhan Charles, kita sudah sangat keterlaluan kali ini" Keluh Emir, sambil memijat keningnya yang sekarang ini terasa semakin berdenyut.
"Aku semakin merasa bersalah..."
__ADS_1
"Tenangkan dirimu, aku yakin semua akan baik-baik saja...Dia hanya perlu menenangkan dirinya saat ini" Charlie menepuk pundak Emir, bukan hanya Emir saja yang merasa bersalah saat ini, apalagi dirinya.
Andaikan saja saat itu dia memilih untuk tidak menyerahkan anak kesayangannya itu kepada sahabatnya Rumius, mungkin Harley tidak harus mengalami banyak kejadian tragis selama hidupnya.
Rumius memang tidak pernah menceritakan bagaimana kehidupan anaknya itu secara lengkap, pria tua sialan itu hanya berkata jika anaknya dalam keadaan baik-baik saja selama ini dan telah mengikuti jejaknya untuk menjadi seorang agen handal. Rasanya saat ini dirinya ingin sekali segera menghubungi Rumius untuk menanyakan semuanya.
"Aku ada ide!"
"Apa itu? Jangan bertindak yang tidak-tidak lagi Charles,aku tidak mau..." Emir sudah tidak mau lagi menuruti kemauan pria tua dihadapannya ini, apalagi jika rencananya itu untuk menjahili keponakan nya lagi.
"Tenanglah, kali ini rencananya bagus"
Charlie lalu menceritakan tentang rencana briliannya kepada Emir, tentang keinginan nya untuk merayakan pesta pernikahan anak semata wayangnya itu dalam puncak acara perayaan penduduk asli pulau tersebut.
"Apa kamu yakin dia akan bersedia menghadiri acara itu pak tua?"
"Aku yakin Emir, apalagi jika Ellena yang memintanya "
.
.
Sengaja dia menunggu sang istri untuk bangun dari tidur lelapnya sekembalinya dia dari perjalanannya semalam, dirinya bahkan melewatkan jam tidurnya hanya untuk memberikan sebuah kejutan manis kepada Ellena. Wanita yang telah membuatnya panik setengah mati malam tadi.
Harley memutuskan untuk pergi ke atas bukit dipinggir pantai diujung timur pulau tersebut untuk menenangkan pikiran nya semalam, dia berteriak dan menangis sejadinya disana hingga semua emosinya tercurahkan.
Harley bahkan bertemu dengan seorang pria yang dia pikir adalah seorang kepala suku dari penduduk setempat, pria tua tersebut ternyata diam-diam memperhatikan tingkah aneh Harley disana dan menunggu nya hingga dirinya menuntaskan semua emosinya lalu mendekati dirinya.
"Ayahmu itu sangat baik nak, apa kau tahu ini adalah tempat ayahmu mencurahkan perasaannya sama seperti dirimu malam ini?" Wenku berkata dengan aksen uniknya kepada Harley sambil memperlihatkan gigi-gigi coklat nya, dan menepuk pundak Harley.
"Dia sangat merindukan dirimu hingga kau berada disini sekarang"
__ADS_1
Mereka lalu saling bertukar cerita, Harley menceritakan kisah selama hidupnya begitu pula dengan Wenku. Banyak wejangan yang diberikan oleh pria tua unik tersebut kepada Harley, bagaimana alam semesta bekerja dan merespon setiap energi yang kita pancarkan baik itu energi baik maupun buruk.
Dan kenyataan tentang nasib yang harus Harley alami hingga takdir yang akan dia terima nantinya.
"Apa kau mengira dirimu akan menjadi sehebat ini jika kau masih berada disini bersama dengan ayahmu?"
Sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan unik yang keluar dari mulut pria tua bijak yang sempat menggelitik pikiran serta hati pemuda tampan sedingin es balok, hingga membuat dirinya tersadar.
"Pulanglah, semua orang sedang menunggu mu..."
Dan disinilah dia saat ini, setelah pagi tadi disambut haru oleh kedua pria memusingkan yang sedang menunggu kepulangan nya sejak semalam, serta melewati ritual saling memeluk dan memaafkan.
"Aku tidak bersalah, untuk apa kau menghukum ku Harley?" Rengek Ellena, lalu menarik kembali selimut nya hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya.
"Kau ingat boneka ini?" Harley menarik paksa selimut tersebut agar Ellena melihat benda yang sedang dia tunjukkan kepadanya.
"Boneka ku!" Pekik Ellena, sambil mengulurkan kedua tangannya. Tetapi Harley berhasil menjauhkan benda berbulu halus tersebut dari hadapannya..
"Kau sudah ingat sekarang sayang?" Harley kembali menyeringai, lalu menatap setiap inchi tubuh Ellena nya setelah dia menarik semua pakaian yang dikenakan istri kecilnya itu.
"Kau juga junior...Apa kau ikut bekerjasama dengan mommy dan kedua kakek mu? Kenapa kau diam saja didalam sana hhmmm???
.
.
.
To be continued
Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah 😊🤗
__ADS_1
Happy reading 😘🤗