HARLEY THE SECRET AGENT

HARLEY THE SECRET AGENT
The Wedding


__ADS_3

“Aku mau kesana lagi sayang, hari ini puncak acaranya” Rengek Ellena, sejak pagi ini istri kecil dari Harley ini meminta kepada suami besarnya untuk pergi bersama menghadiri acara puncak festival pemujaan dewa perang suku asli pulau tersebut.


Harley tetap menolak permintaan Ellena, bahkan sebisa mungkin dirinya membujuk istri kesayangannya itu untuk mengganti permintaannya itu dengan hal lain. Tetapi buka  Ellena namanya jika mau menyerah begitu saja dengan keinginannya.


“Sayang, aku tidak mau peristiwa kemarin terulang, apalagi saat ini disana pasti akan sangat ramai” Kilah Harley, sambil tetap duduk santai di atas sofa didepan televisi di dalam kamarnya.


“Tapi ketua Wenku telah mengundang kita untuk menghadiri acara itu, ayah dan Emir akan menghadirinya kenapa kita tidak?” Ellena mengeluh, ibu yang sedang hamil besar ini bahkan mengerucutkan bibirnya dengan sempurna serta melipat kedua tangannya di dada dan duduk membelakangi Harley berharap suami posesifnya itu akan luluh.


“Biarkan saja mereka yang hadir di sana, kita tidak”


Tak lama kemudian, karena Ellena melihat jam telah menunjukan waktu dimana dia harus segera membawa Harley ke tempat acara, akhirnya dia mengeluarkan jurus pamungkasnya. Yakni menangis.


Harley tidak akan pernah bisa tahan jika melihat atau mendengar suara tangisan Ellena, pria sedingin es itu pasti akan menggunakan segala macam cara untuk membuat tangisan istri kecilnya itu berhenti. Diantaranya adalah dengan mengabulkan keinginannya, apapun itu dan betapapun sulitnya hal itu.


Samar-samar mulai terdengar isak tangis Ellena ditelinga Harley. Pada awalnya dia akan membiarkan istri kecilnya itu untuk menangis, karena Harley tahu jika itu merupakan senjata pamungkas sang istri agar dia mau mengabulkan permintaannya. Harley bertekad untuk tidak tergoda dengan isak tangis Ellena, dan akan sekuat tenaga untuk bersikap layaknya tidak ada apapun yang sedang terjadi saat ini.


“Lihat nak, daddy mu tidak mau mengantar kita ke festival itu…Dia jahat kan?” Ellena terisak sambil mengelus perutnya yang buncit, dan menangis kembali.


Tidak terima dengan ucapan Ellena yang telah menyebutnya jahat, apalagi sambil berbicara dengan jabang bayinya ketika mengucapkan kata tersebut akhirnya Harley terpaksa harus mengibarkan bendera putih.


“Baiklah…Baiklah…Tapi ada syaratnya” Harley beranjak dari tempat duduknya, lalu mengangkat tubuh Ellena agar istri kecilnya itu ikut berdiri bersamanya.


“Apa itu?” Seketika senyuman manis pun terlukis di wajah cantiknya yang kini terlihat lebih bulat.


“Nakal…”Harley menyentil pelan hidung mancung Ellena nya, dia tahu saat ini istri kecilnya itu telah sukses mengerjainya.


“Syaratnya kamu tidak boleh sedikitpun melepaskan tangan ini, kamu mengerti?” Harley meraih tangan Ellena lalu meletakkannya di atas telapak tangannya, lalu mendekatkan tangan mungil itu ke bibirnya dan menciumnya.

__ADS_1


Setengah jam kemudian.


“Apa aku harus mengenakan pakaian seperti ini?” Keluh Harley, Dirinya tidak habis pikir kenapa hanya untuk menghadiri sebuah festival harus mengenakan baju se formil itu. Harley mengenakan setelan jas abu-abu tua dengan kemeja putih serta warna dasi yang senada dengan baju yang dikenakannya serta dilengkapi dengan sepatu pantofel, Ellena pun sama mengenakan gaun putih selutut yang sangat cantik hingga memperlihatkan perutnya yang buncit. Ellena bahkan menata rambutnya sedemikian rupa, juga merias wajahnya hingga kecantikannya semakin terpancar.


“Ayolah pak sopir, mereka sudah menunggu kita” Ellena mencium pipi Harley, agar suami tampan nya tersebut menambah kecepatan pada laju mobilnya.


“Mereka sedang menuju kemari” Emir berbicara melalui walkie talkie nya. “Cepat bersiap-siap” Lanjutnya, lalu menempati posisinya di atas podium bersama dengan Charlie dan Wenku serta para tetua suku yang lainnya.


Dari kejauhan mereka melihat mobil yang dikemudikan oleh Harley baru saja memasuki tempat parkir khusus, Emir meminta kepada salah satu tim untuk menyambut kedatangan mereka dengan tarian khas penduduk setempat dan menuntun mereka hingga ke hadapan podium.


Tanpa ada rasa curiga sedikitpun Harley dan Ellena menyambut baik tarian yang sengaja diperuntukan untuk menyambut dirinya dan sang istri, keduanya pun mengikuti arahan mereka untuk berjalan ke hadapan podium.


Ketika keduanya sudah berada di hadapan podium, Wenku memberikan isyarat kepada semua orang untuk menghentikan kegiatannya. Harley sempat tertegun ketika melihat keramaian yang tiba-tiba hening saat Wenku mengangkat tangannya, lalu membentuk sebuah formasi di belakang dirinya dan Ellena.


“Ada apa lagi ini?” Batin Harley.


“Awas jika kau berani melakukan hal konyol lagi pak tua” Batin Harley semakin meronta. Ingin rasanya dia pergi dari tempat itu saat ini, tetapi karena Ellena terlihat begitu bahagia maka dirinya pun memutuskan untuk diam dan mengikuti permainan yang sedang berlangsung.


“Hari ini selain kita merayakan hari puncak pemujaan dewa perang, kita pun akan merayakan pesta pernikahan anakku satu-satunya Harley Davidson beserta menantu kecilku Ellena” Lanjutnya, lalu berjalan menuruni podium dan berdiri diantara keduanya.


“Harley anakku, maukah kau menerima menantu kecilku Ellena untuk menjadi pendamping mu baik dalam suka maupun duka hingga maut memisahkan kalian?” Charlie menatap sang anak dengan senyuman hangat dan menunggu jawaban darinya dengan penuh harap.


“Bersedia” Jawab Harley


“Dan kau Ellena menantu kecilku, mau kah kau mendampingi anakku Harley dalam suka maupun duka hingga maut memisahkan kalian?”


Tanpa ragu Ellena pun menjawab “ Bersedia”

__ADS_1


“Baiklah, dengan ini aku nyatakan kalian telah mengulang janji suci kalian!”


Ucapan selamat diiringi riuh tepuk tangan serta musik tradisional kembali terdengar secara bersamaan, tarian pun kembali dipertunjukkan untuk menyambut dua peristiwa besar yang terjadi hari ini dan seluruh penghuni pulau pun menikmati kebahagiaan tersebut bersama-sama.


“Sepertinya aku harus menghukum mu lagi sayang” Bisik Harley, setelah dia melepaskan tautan bibirnya kepada Ellena.


“Aku tidak takut” Ellena membalas bisikan suami besarnya dengan nada yang menggoda, bahkan kali ini dirinya tidak berencana untuk kalah.


“Kalian lama sekali, hampir saja kami membatalkan acaranya” Keluh Emir, saat berjalan mendekati kedua keponakannya. Pria tampan tersebut sempat berpikir jangan-jangan Ellena tidak berhasil membujuk suami posesifnya karena peristiwa yang belum lama ini terjadi, untung saja keduanya datang disaat yang tepat.


“Aku harus mengeluarkan jurus pamungkas ku terlebih dulu tadi Emir” Jawab Ellena seraya melirik ke arah suami besarnya yang kini terlihat sedikit cemburu.


“Kau harus lebih membuat banyak jurus jitu untuk menaklukan mahluk kutub utara ini Ellena” Kekeh Emir, lalu meninggalkan keduanya sebelum es balok itu mencair dan mengamuk.


“Kau..!”


.


.


.


To be continue


Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah


Happy reading

__ADS_1


Mohon maaf othor hanya bisa up satu episode hari ini


__ADS_2