
Seminggu kemudian.
Markas rahasia pusat, jam 15.00 waktu setempat.
M mengumpulkan kembali tim nya untuk membahas strategi yang akan mereka jalankan untuk mencari keberadaan Peter, Viper telah berhasil mengumpulkan data-data penting terkait keberadaan pria yang wajahnya tidak bisa menua itu.
“Kemungkinan dia sudah melakukan operasi plastik diwajahnya sangat besar sekali, satu hal yang tidak bisa berubah darinya adalah sorot matanya” Ucap M, kemudian menggeser slide dan menampilkan gambar seorang wanita yang wajahnya mirip dengan Peter.
“Ini adalah ibu kandung Peter, selama satu dekade terakhir ini dia berada disebuah fasilitas kesehatan mental, wanita ini mengidap kelainan jiwa tak lama setelah menikah dengan Aleksei” M pun kembali menggeser slide nya, kali ini gambar yang terlihat adalah lokasi reruntuhan kota. Dia pun menceritakan sebuah aktivitas rahasia dilantai bawah tanah salah satu bangunan tua disana.
“Kali ini kita berurusan dengan penjahat cyber, para ilmuwan gila dan orang-orang sadis, aku ingin kalian lebih berhati-hati” M menonaktifkan layar monitornya, lalu menyerahkan masing-masing sebuah kotak berisi cokelat kepada ketiga agennya.
“Aku baru kembali dari negara C, aku harap kalian menyukai makanan itu” Ucap M, lalu mengusir ketiganya dari ruangan pribadinya. M meminta mereka untuk segera bersiap karena dalam satu jam wanita itu akan mengirim ketiganya terbang ke negara R.
“Wanita gila itu tahu aku alergi makanan ini, apa dia sedang bercanda?” Batin Harley, tetapi tetap membuka kotak tersebut untuk melihat isinya. Dia akan memberikan makanan itu kepada Ellena jika sudah memastikan bahwa isi kotak tersebut adalah benar-benar sebatang cokelat.
Harley memasukan kembali makanan kecil itu kedalam tempatnya setelah dia mengetahui isinya, lalu menaruhnya didalam tas dan membawanya pergi dari ruangan lokernya.
Selama dalam perjalanan ketiganya terlihat lebih banyak diam, mereka sibuk dengan ponselnya masing-masing. Sesekali mereka membahas kelezatan dari cokelat batang yang diberikan oleh M, dan kali ini mereka sepakat untuk membawakan wanita itu oleh-oleh setibanya mereka kembali ke markas pusat.
Sementara disebuah fasilitas kesehatan mental, seorang pria tampan tengah mengunjungi seorang wanita paruh baya di sebuah ruangan khusus. Pria tampan yang mengaku sebagai anaknya itu sedang berusaha untuk mengajaknya bicara, meski sudah lima belas menit berlalu wanita tua itu masih sibuk dengan dunianya sendiri dan enggan untuk berbicara kepadanya.
“Mom, I promise you…Kita akan pergi berlibur setelah semua urusanku selesai, tapi tolong mom…Bicaralah padaku, ini aku Feliks mom…” Ucap sang anak sambil mengusap tangan mommy nya itu.
“Feliks? Apakah ini benar-benar kamu?” Tanya Maria, sambil menatap wajah sang anak lalu tersenyum kepadanya.
“Iya mom, ini aku Feliks…” Jawab Feliks, lalu menciumi tangan Maria, tetapi wanita itu langsung menariknya dan menyembunyikan tangannya itu kedalam saku bajunya.
__ADS_1
“Pergilah! Feliks bukan anakku! Mereka membawanya pergi! Mereka telah membunuh anakku!” Maria terus meracau, wanita itupun semakin panik hingga membuat Feliks berteriak untuk meminta bantuan kepada para perawat yang bersiaga diluar pintu.
Hari itu Feliks lagi-lagi kembali tanpa membawa hasil yang diharapkannya dari Maria, pemuda itu sangat berharap jika mommy nya itu bisa sedikit bekerjasama dengannya agar dia bisa membawanya keluar dari fasilitas itu tanpa harus menculiknya. Tetapi sepertinya dia tidak memiliki pilihan lain, pria itupun menghubungi seseorang dengan ponselnya.
“Bersiaplah, malam ini kita akan beraksi” Ucapnya, lalu mengakhiri sambungan teleponnya dan bergegas menuju mobilnya.
Sementara itu di ruangan Maria, seorang perawat wanita dengan terpaksa menyuntikkan obat penenang kepada wanita itu untuk menghentikan amukannya. Tak lama kemudian seorang dokter pria senior memasuki ruangan dan meminta para perawat untuk membawanya ke sebuah ruangan khusus, ruangan tempat para pasien yang mengamuk akan kembali mendapatkan perawatan spesial.
“Tinggalkan kami!” Pinta sang dokter kepada para perawat yang membawa masuk Maria.
Dengan cepat sang dokter pun mulai melucuti semua pakaian yang dikenakan oleh wanita paruh baya itu dan menggantinya dengan yang baru, tak lupa dia merapihkan rambut Maria dan memakaikan masker diwajahnya.
Kemudian dua orang perawat wanita memasuki ruangan dan membawa Maria dari sana dengan menggunakan kursi roda, tetapi mereka tidak membawa Maria kembali ke kamarnya, melainkan masuk kedalam lift menuju lantai dasar gedung itu menuju tempat parkir dimana anak buah Rumius sudah menunggu kedatangan mereka.
Tidak ada yang mencurigai kepergian Maria dari sana, karena pasien yang dibawa masuk kedalam ruangan khusus itu baru akan dikembalikan ke kamarnya semula setelah 2x24 jam. Hingga malam hari tiba dan kelompok Feliks berhasil memasuki kamar wanita itu dan tidak mendapatkan Maria disana.
“Nyonya Maria ada di ruangan khusus, disebelah sana…” Jawabnya, sambil tetapi merunduk dan melindungi kepalanya dengan kedua tangannya.
“Tunjukan padaku!” Pria bersenjata api itu menarik paksa tangan sang perawat pria dan menendang tubuhnya.
“Apa kamu sedang bermain-main denganku hah?!” Pekik pria tersebut lalu menodongkan senjata api ditangannya ke kepala pria yang sangat ketakutan itu.
“Tadi sore dokter Franklin membawanya kesini untuk mendapatkan perawatan khusus tuan…” Jawab pria tersebut dengan tubuh yang semakin bergetar.
Dor!
Satu peluru berhasil menembus kepala perawat pria itu, dan membuatnya mati seketika.
__ADS_1
“Cek rekaman CCTV!”
Jauh di atas awan dimana pesawat yang membawa Maria sedang mengudara, seorang gadis tengah menatap wajahnya melalui pantulan cermin. Dia masih tidak percaya dengan aksi menegangkan yang baru pertama kali ini dilakukannya, dia baru saja menyamar menjadi seorang perawat pria dan membawa pergi seorang wanita tua yang saat ini tengah tertidur di kursi pesawat dalam keadaan terikat pakaian khusus.
“Harley pasti akan murka “ Gumamnya, lalu kembali membilas wajahnya.
“Kalau begitu ini akan menjadi rahasia kecil kita oke?” Ucap Rumius yang sukses membuat Ellena terkejut karena kehadirannya yang tiba-tiba.
“Oke Rumius, tapi anda harus membantuku jika dia mengetahuinya nanti” Pinta Ellena, menatap wajah pria tua itu melalui pantulan cermin di depannya.
“Kau jangan khawatir tentang hal itu” Balasnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Sementara di sebuah apartemen jauh di negara R, seorang pria tengah mencoba sekuat tenaganya untuk menahan amarahnya setelah mengetahui titik lokasi gadis kecilnya melalui satelit pengintai yang terhubung dengan liontin kalung yang dia berikan kepadanya tepat sebelum kepergiannya ke markas pusat.
Dugaannya tidak salah tentang alasan sebenarnya pria tua kurang ajar itu menahan Ellena disana, saat itu dia pun memilih untuk kembali tinggal bersama Rumius karena kecurigaannya tentang hal ini. Dan tindakan memberi Ellena liontin khusus ciptaan Viper pun tepat adanya, kali ini Harley benar-benar tidak akan mengampuni Rumius!
“Awas kau aki-aki peot! Aku tidak akan melepaskan mu setelah ini!”
.
.
.
To be continue
Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah
__ADS_1
Happy reading