
"Ha...ha....ha...ha....! Kalian pikir kalian bisa mengelabui kami hah?!" Luis tertawa sambil berjalan mendekati mereka dan mengarahkan senjata otomatis nya ke arah John dan Deluca.
"Jangan bodoh Luis! Letakkan senjata mu!" Titah D'Castello.
"Diam kamu pak tua! Kau tidak tahu kan apa yang terjadi saat ini?! Mereka bahkan bukan seperti yang kau lihat saat ini!" Luis melepaskan tembakan nya ke arah John, hingga laki-laki itu ambruk bersimbah darah.
Dor!
Dor!
Dia lalu memeriksa tubuh John, menarik rambutnya lalu menorehkan pisau tajam nya ke pipi John.
"Ini tidak mungkin! Dia adalah agen yang sedang menyamar!" Teriak John.
"Dasar anak tidak berguna! Apa maksud perkataan mu itu hah?! Dia itu anggota parlemen Luis! Aku telah memastikan nya sendiri!" D'Castello mengarahkan senjatanya ke kepala Luis.
"Kau tidak mengerti Luca! Mereka ada dimana-mana!" Saat ini Luis sudah seperti orang yang terkena gangguan paranoid akut. Bicaranya melantur dan dia sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
"Semalam aku melihat mereka bisa mengubah wajah dan tubuhnya dihadapan ku Luca! Kau harus percaya kepadaku!" Lanjut Luis kepada Deluca lalu tertawa terbahak-bahak.
"Dasar sampah! Seharusnya aku membiarkanmu mati saat itu!" D'Castello memerintahkan Rudolf untuk mengambil senjata Luis dan membawanya keluar dari hangar, sementara Deluca melanjutkan niatnya datang ke tempat itu.
"Apa maksud perkataan keponakan gila mu itu tuan D'Castello?" Luca mengambil senjata yang dibuat oleh pria tua itu untuk dia uji kehebatan nya.
Bum!
Bum!
Bum!
Tiba-tiba saja terdengar suara ledakan dari arah luar hangar, seketika para pengawal berhamburan untuk melihat keadaan diluar gedung besar itu.
"Hubungi mansion!" Teriak salah satunya, setelah dia mengetahui bahwa keadaan diluar aman terkendali.
"Kau sengaja kan D'Castello??Kau mencoba untuk mengkhianati ku!! Kau sengaja membuat keributan ini kan orang tua?!!" Deluca geram dengan kondisi yang terjadi.
Pertama tiba-tiba saja keponakan sang kartel berbicara melantur tentang agen rahasia yang bisa mengubah-ubah wajahnya, sekarang tiba-tiba saja bom meledak entah dimana. Padahal malam ini Deluca akan melunasi pembayaran untuk transaksi senjatanya dengan D'Castello.
"Kau jangan main-main Deluca, jangan-jangan kamu lah agen rahasia itu!" Castello menodongkan senjatanya, seketika para pengawal mereka pun saling menodongkan senjata untuk melindungi para majikannya.
"Kau mulai gila juga pak tua?! Aku telah lama bekerja sama dengan mu! Pake otakmu itu dengan benar!" Balas Deluca.
Bersamaan dengan itu diluar sana kondisi sudah semakin memanas, para pengawal tengah menembakkan senjata mereka ke sembarang arah. Mereka tidak tahu siapa yang telah menembaki mereka satu persatu hingga jumlah merekapun semakin berkurang.
Dor!
__ADS_1
Dor!
Dor!
Akhirnya didalam pun mulai terjadi aksi tembak menembak, Castello berhasil menembak Deluca tepat di dadanya tetapi sayangnya pria itu mengenakan rompi kevlar dibalik jaket kulitnya.
Merekapun saling menghindar dan bersembunyi sambil terus melancarkan tembakan demi tembakan, pada saat bersamaan serangan anak panah mulai terjadi.
"Sudah aku bilang kan pria tua cabul! Kau tak mau mendengarkan aku!" Luis kembali berteriak. Saat ini dia berada didalam sebuah ruangan dimana Rudolf telah mengurungnya, sebelum pengacara sialan itu bergabung kembali bersama dengan Castello.
" Astaga!" Pekik Luis saat dirinya melihat anak panah menembus kepala orang yang sedang berlari ke arahnya.
Saat itu juga dari kejauhan Luis bisa melihat sosok yang bisa mengubah tampilan wajahnya, seperti sosok yang dia lihat sore dan malam itu. Saat sedang berada diantara para gadis, dan saat malam hari ketika dia tiba-tiba didatangi oleh mereka pada malam harinya. Sosok manusia itu kini tengah menatap tajam ke arah nya.
"Ini tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Dia ada disini!" Luis mulai panik, dia mencari apapun di ruangan itu untuk melindungi dirinya.
"Keluar kau Deluca! Jangan jadi pengecut!" Pekik Castello saat dia mencari kebenaran pria itu di antara lorong gondola penyimpanan onderdil senjata api.
Tap...tap....tap...tap...
Pria tua itu memutar tubuhnya saat dirinya mengira ada seseorang telah berlari di belakangnya.
"Tunjukkan dirimu kurang ajar!" Pekik Castello, lalu melepaskan beberapa tembakan ke arah depan dan samping kanan kiri nya.
Sleb!
Dor!
"Ja...Jadi semua itu benar??" Ucap pria tua itu terbata, sambil memegangi anak panah yang telah menembus perutnya. Seketika darah keluar dari mulutnya.
Tidak mau mengulang kesalahan yang sama orang itupun kembali memasang anak panah pada busurnya, lalu melepaskan nya tepat di jantung D'Castello.
Sleb!
Sementara di ruangan dimana Luis berada.
Pria gila itu telah menemukan satu koper berisi granat dan senjata otomatis didalam lemari yang ada di sana, dia pun mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan manusia misterius itu.
"Kali ini aku pasti bisa membunuhnya" Geram Luis, lalu menembak gagang pintu hingga pintu itupun terbuka.
Sebuah keputusan yang akan sangat dia sesali seumur hidupnya, itupun jika dia berhasil lolos dari Kematian kali ini.
Siiuuuutttt!
Sleb!
__ADS_1
Trak!
Satu anak panah berhasil mendarat di salah satu kaki robotnya, hingga membuat kaki robotnya itu patah. Luis pun limbung dan langsung terjatuh.
"Sialan!!" Umpatnya, lalu melepaskan tembakan nya ke sembarang arah.
Sleb!
Trak!!
Anak panah kedua kalinya ini berhasil mematahkan kaki robot sebelah kirinya, dan membuat Luis kembali terjatuh.
"Keluar kau pengecut! Tunjukkan dirimu!" Pekik Luis semakin geram.
Saat itu hanya tinggal dirinya saja yang tersisa di sana, dia mengetahui nya dari hilangnya suara-suara tembakan disekelilingnya.
Srak!
Srak!
Dua pisau belati berhasil menembus tangannya, hingga senjata yang ada ditangan Luis terjatuh. Pada saat itulah dua sosok manusia berjalan ke arahnya, dan berhenti tepat dihadapannya.
Luis terbelalak saat dia melihat sosok dua orang yang pernah dia temui setahun yang lalu setelah keduanya menekan sesuatu dibelakang telinga nya.
"Kalian!!!" Pekik Luis, saat matanya menatap seorang wanita yang telah tega menebas habis alat vitalnya dan seorang pria yang telah membuat hilang kedua kakinya.
"Kau tak boleh hidup di dunia ini Luis " Ucap sang wanita, lalu menarik satu belati dari sebelah tangan Luis dan menggores leher pria itu.
"Kau kalah..." Ucap Luis terbata, lalu mati seketika saat darah membanjiri tubuhnya.
"Kau dengar itu Har?" Ucap Ferrari sambil menekan tombol dibelakang telinga nya.
"Ya...Aku mendengar nya" Jawab Harley, sambil membuang sisa mayat yang berhasil dia ledakkan dengan anak panahnya ke laut.
.
.
.
To be continued
Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah...
Happy reading
__ADS_1
Jangan lupa bernafas....huuusaaaahhhh 😂😂😂😂😂