
Drap! Drap! Drap!
Tak…Tak…Tak…
Ditengah keseruan acara bersejarah tersebut tiba-tiba mesin kapal berhenti dan semua lampu padam, sontak para tamu wanita berteriak dan mereka pun berlomba-lomba untuk mencari pintu keluar yang sayangnya sudah dalam terkunci rapat dengan para penjaga bersiaga di dalam dan diluar ruangan.
“Harap tenang tuan-tuan dan nyonya, crew kami sedang memeriksa keadaan mesin kapal!!” Seru seorang kepala keamanan di dalam ruangan tersebut, dia memerintahkan kepada seluruh anak buahnya untuk memberlakukan kode merah dan melindungi para tamu dari kemungkinan buruk yang akan terjadi.
“Lindungi pangeran” Bisik seseorang melalui alat komunikasi yang tersemat di telinga Emir dan kawan-kawannya.
Trak!
Sebuah lampu sorot menyala ke arah Luthor, pria paruh baya itu terkekeh sambil berjalan menuju atas podium lalu memutar tubuhnya setibanya ia disana, dia tersenyum penuh kemenangan lalu mengeluarkan sepucuk pistol klasik yang terbuat dari emas dan mulai memainkannya.
“Selamat malam tuan-tuan, senang bisa berkumpul bersama dengan anda” Ujarnya dengan suara yang dibuat se-berwibawa mungkin.
Trevor yang berdiri tepat dihadapan sang ayah terdiam mematung saat menatap pria yang kini seperti orang asing di matanya, Luthor adalah sosok pria tegas, berwibawa dan ayah yang baik di keluarganya. Meski pria tersebut sering kali berselisih pendapat dengannya karena bisnis yang digelutinya, Trevor berfikir itu hanyalah sebuah fase dimana sang ayah belum menaruh kepercayaan yang besar kepadanya.
Tetapi saat ini dihadapannya Trevor melihat sisi yang lain dari seorang Luthor, “Siapa dia sebenarnya?” Batin Trevor
“Sayang sekali sahabatku Charlie tidak hadir malam ini, seharusnya dia turut menyaksikan maha karya yang telah aku buat” Lanjutnya, lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengambil semua alat komunikasi milik para tamu yang hadir.
Luthor tidak memperdulikan sama sekali keberadaan Trevor yang masih berdiri dan menatapnya tak percaya, pria itu sibuk memerintahkan anak buah nya untuk menawan para tamu termasuk Caesar dan asistennya Emir.
“Aku mendengar kau memiliki seorang anak laki-laki tuan Caesar, dimana dia sekarang? Atau jika boleh aku tebak anakmu itu sedang bersenang-senang dengan para gadis diluar sana” Hina Luthor saat dua orang agennya menyeret keduanya ke atas panggung.
Caesar menarik salah satu sudut bibirnya, lalu menjawab pertanyaan tersebut sambil menatap Emir.
“Dia mewarisi wajah sang ibu dan memiliki sifat yang hampir sama dengan pamannya, aku akan mengenalkan dia kepadamu nanti tuan Luthor”
“Beruntung anakmu itu tidak hadir disini malam ini, karena tidak lama lagi dia akan mewarisi semua kekayaanmu” Balas Luthor, meski dirinya tidak paham dengan jawaban yang di lontarkan oleh pria paruh baya yang tampan itu.
“Ya…Mungkin anda benar” Kembali Caesar menarik salah satu sudut bibirnya.
__ADS_1
Trevor baru tersadar jika kedatangan Caesar dan Emir tidak dibarengi dengan kedatangan Tonny, biasanya pria tampan tanpa ekspresi di wajahnya itu selalu ada dimana Emir berada.
“Dimana Tonny tuan Caesar?” Trevor memberanikan dirinya untuk bertanya, meski sang ayah menatapnya tajam.
“Seperti yang ayahmu bilang nak, anakku itu sedang bersama dengan para gadis” Kekeh Caesar.
“Dengarkan semuanya! Aku tidak perduli dengan kekayaan kalian, aku bahkan tidak akan meminta sepeserpun dari kekayaan kalian” Luthor berseru, dia tidak mau lagi membuang-buang waktunya untuk berbicara omong kosong dengan Caesar atau siapapun di ruangan itu bahkan dengan anaknya Trevor.
“Malam ini, kalian semua harus mati!” Lanjutnya
Deg!
“Apa?! Mati?!” Batin Trevor, dia kembali menatap sang ayah yang saat ini tidak dikenalnya.
Sementara para tamu disana berusaha untuk tidak berteriak karena keadaan diri mereka yang sudah tertodong senjata api.
“Mati bukanlah hal yang sulit bagi kami tuan Luthor, anda sebaiknya memikirkan kembali ucapan anda sebelum semuanya terlambat” Kekeh Emir.
Bugh! Bugh! Bugh!
Tanpa mereka sadari di luar ruangan pesta tersebut diam-diam sekelompok orang tengah menghabisi satu persatu anak buah Luthor yang berjaga di semua sudut, dan mengantikan posisi mereka setelah mereka menyembunyikan mayat dari para penjaga tersebut ditempat yang aman.
Sleb! Sleb! Sleb!
Serangan anak panah dari arah yang tidak diketahui mendarat di tubuh para penjaga dan mematikan mereka seketika, begitu juga dengan hujaman pisau yang menancap di dada sebagian dari mereka belum lagi peluru-peluru tajam yang berhasil menembus kening mereka tanpa suara.
Krak…Krak…Krak…
“Sudut timur clear!” Ucap Chopper setelah dia menghabisi penjaga terakhir dengan mematahkan lehernya
“Sudut barat check!” Kali ini Ferrari mengangkat senjatanya setelah dia melihat para agen yang menggantikan posisi para penjaga yang telah berhasil dia lumpuhkan dengan timah panasnya.
“Utara clear” Harley kembali bergerak mencari posisi paling strategis di ketinggian.
__ADS_1
“Selatan check!” Suara seorang gadis membuat jantung Harley copot, pria dingin itu membuang nafasnya kasar sejenak dan hampir saja membelokkan arahnya saat suara seorang wanita yang dikenalnya mengambil alih alat komunikasi dari gadis tersebut.
“Jangan khawatir, dia aman bersamaku” Ucap seorang wanita dengan rambut cepak sambil terkekeh.
“Satu helai saja M, satu helai saja...” Ancam Harley sambil mengeratkan rahangnya.
“Its good to have you back Harley” Lanjut M, lalu menempati posisi strategisnya bersama dengan Ellena dan para agennya.
“Aku akan membuat perhitungan denganmu pria tua!” Batin Harley. Susah payah dirinya menyembunyikan gadis kecilnya dengan menyuruh Charlie membawa Ellena ke kediaman rahasianya, dan malam ini dia malah bergabung bersama dengannya disana.
“Apa kau sudah berhasil menjinakkan semua bom nya Viper?” Harley melanjutkan kembali aksinya setelah dia berhasil mengontrol degup jantungnya.
“Satu menit lagi Har” Jawabnya. Menjinakkan bom dengan pengatur waktu digital merupakan hal yang mudah baginya, tetapi bom ciptaan ayahnya ini mempunyai kode yang unik untuk bisa dia pecahkan.
“Kita tidak punya banyak waktu Vip, aku tidak mau aki-aki peot itu kenapa-kenapa didalam saja” Balas Harley, pria dingin itu bisa melihat Rumius dengan jelas melalui teropongnya. Dia bahkan bisa melepaskan anak panahnya saat ini jika dia mau, tetapi keadaan didalam sana tidak memungkinkan baginya untuk melakukan hal tersebut.
“Aku akan mengulur waktu untuk kalian” Kini suara si tua Charlie yang terdengar ditelinga Harley.
Tuuttt…Tiiittt…
“Ekhem…Tes! Apa ada orang yang bisa mendengarkan aku?” Ucap pria tua tersebut melalui pengeras suara yang terdengar didalam ruangan pesta itu.
“Maafkan atas kelancangan ku tuan-tuan, dan maafkan aku karena tidak bisa hadir bersama dengan kalian malam ini” Lanjutnya, seakan dia tidak menyadari kondisi yang saat ini tengah terjadi disana.
"Owh Hai Luthor...Lama kita tidak berjumpa"
.
.
.
To be continue
__ADS_1
Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah
Happy Reading