
“Welcome home Rosie…Atau lebih suka aku panggil Ellena?” Senyuman tulus terlukis di wajah tampannya, dia mengulurkan tangannya kepada gadis yang berdiri dan terpaku menatapnya.
“Ellena..”Ucap sang gadis lalu menyambut uluran tangannya.
Entah apa yang ada dipikiran Ellena saat ini, bahkan gadis itu begitu sulit untuk mengembangkan senyumannya. Dia masih ragu apakah dirinya benar-benar tidak dalam keadaan bermimpi saat ini, dia baru saja terbangun dari tidurnya ketika dua pria berjas hitam mengantarnya ke depan pintu rumah yang dulu sempat dia tinggalkan tanpa ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka.
Ellena mengikuti langkah kaki pemuda misterius itu saat dia menuntunnya ke meja makan, di sana gadis itu bisa melihat bahwa pria yang sudah tiga kali menolongnya ini telah mempersiapkan sebuah jamuan makan malam untuk menyambut kedatangan dirinya.
Harley menarik sandaran kursi untuk Ellena, lalu mendorongnya pelan ketika gadis itu mendudukinya. Dia pun menduduki kursi yang telah dia persiapkan untuk dirinya, lalu menuangkan segelas anggur putih untuk Ellena.
“Cheers..” Ucap Harley saat kedua gelas kristal itu saling beradu.
“Aku membuat masakan untuk kita malam ini, aku harap kamu menyukainya” Harley beranjak dari kursinya setelah dia meletakkan kembali gelas anggurnya, untuk mengambil steak sapi yang masih dia taruh didalam oven.
Ada ribuan pertanyaan dipikiran Ellena saat ini, tentang bagaimana pada akhirnya dia berakhir ditempat ini setelah serangkaian pertanyaan yang diajukan oleh seorang wanita bernama M, surat perjanjian hidup dan mati yang dia tandatangani sebelum pada akhirnya kedua pria berjas tadi membawanya kembali ke rumah ini dalam keadaan mata yang tertutup oleh seutas kain, dan yang paling ingin diketahuinya adalah siapa pria yang bernama Harley Davidson ini sebenarnya.
Atau itu hanya sebuah nama yang disematkan oleh M kepadanya, seperti halnya Ferrari dan Chopper yang sempat berbincang kepadanya saat dipusat tadi.
Satu hal yang masih terngiang di telinga Ellena yakni pada saat M mengatakan kalimat pamungkasnya, “Kau tak akan pernah bisa keluar lagi setelah ini, jadi pastikan apa yang kamu inginkan ini benar-benar telah kamu pertimbangkan dengan baik”
“Here we go…” Harley meletakkan satu porsi steak sapi lengkap dengan sayuran segar dan kentang tumbuk ke hadapan Ellena, lalu dia pun meletakkan satu porsi yang sama untuk dirinya.
Perlahan mereka pun mulai menikmati hidangan sederhana itu, tetapi pada saat Harley mulai mengunyah potongan daging yang sudah terlanjur masuk kedalam mulutnya itu, dia langsung meminta Ellena untuk menghentikan makannya.
“Sepertinya kita harus melanjutkan acara makan malam kita diluar” Kekeh Harley, dia pun bisa melihat raut wajah Ellena saat sedang mencoba untuk mengunyah daging alot itu tadi. Ternyata Harley terlalu lama menyimpan daging panggang nya didalam oven setelah dia memanggangnya tadi, hingga membuat daging steak itu menjadi terlalu matang.
__ADS_1
“Aku punya ide yang lebih bagus” Ucap Ellena, lalu beranjak dari duduknya dan bergegas menuju dapur.
Ellena mulai mengeluarkan bahan-bahan untuk masakannya dari dalam kulkas dan dari lemari penyimpanan, dia masih hafal betul jika Harley pasti menyimpan lembaran pasta untuk makanan yang akan dia buat sekarang ini.
Dengan cekatan Ellena memotong-motong bawang bombay dan mencincang bawang putih lalu menggorengnya dengan sedikit minyak zaitun, setelah itu dia memasukan daging sapi cincang dan mengaduknya lalu membiarkannya sementara dia membuat saus bechamel serta merebus pasta tadi.
Setelah dia yakin bahwa daging cincang olahannya tadi sudah cukup matang, dia pun mulai membumbuinya. Ellena mengambil loyang lalu mulai menyusun tiga jenis masakan yang telah dia buat tadi, dimulai dengan helaian pasta, olahan daging cincang, saus bechamel dan parutan keju hingga menjadi beberapa lapis dan semua bahan habis. Terakhir dia memberikan banyak parutan keju sebelum dia memasukkannya kedalam oven yang sudah dia panaskan sebelumnya.
Harley terpana melihat kepiawaian gadis itu dalam mengolah masakan favoritnya, dia duduk di atas kursi bar dan mendaratkan dagunya pada kedua tangan yang dia jadikan sebagai topangan di atas meja. Sekilas dia bisa melihat sosok mendiang Paloma di sana, bahkan nenek tua itu seperti sedang mengolok-oloknya dengan mengatainya bocah sialan. Harley pun menghampiri nenek tua itu dan memeluk tubuh bulatnya dari arah belakang, seperti biasa yang selalu dilakukannya untuk menghentikan semua ocehannya.
“Kamu berisik sekali nenek tua, aku lapar…Mana lasagna ku?!” Ucap Harley dengan manjanya, sambil membenamkan wajahnya dileher wanita tua yang sudah dianggapnya ibu itu dan menghirup aroma tubuhnya.
“Ha…Harley…Harley…Apa kamu baik-baik saja?!” Ellena berusaha untuk menahan rasa geli dilehernya saat pemuda itu membenamkan wajahnya di sana. Dia pun harus mengontrol degup jantungnya saat tiba-tiba pria itu melingkarkan kedua tangannya di pinggangnya.
Seketika Harley tersadar dan melepaskan pelukannya. “Ma..Maafkan aku” Ucapnya, lalu memutar tubuhnya dan bergegas meninggalkan Ellena menuju kamarnya.
Sementara Ellena masih berusaha untuk mengontrol ritme jantungnya, gadis itu menghela nafasnya berkali-kali.
“Apa itu tadi? Dia…Dia manja sekali” Batin Ellena meronta.
Satu lagi dari sikap Harley yang membuatnya terkejut, bahkan kali ini sangat terkejut. Belum lama ini dia melihat sisi lain dari pemuda misterius ini saat masih berada di negara W, pria yang selama ini begitu dingin dan datar tiba-tiba bersikap hangat kepadanya saat berada di rumah sakit dan ketika bersama dengan sahabatnya Marylin. Dia bahkan sempat menciumnya ketika dirinya dalam keadaan pingsan setelah ledakan bom terjadi.
Dan ini, kali ini Ellena benar-benar tidak percaya dengan sikap Harley yang imut dan manja. “Pantas saja dia begitu kehilangan Paloma, rupanya hubungan mereka sangat dekat” Ellena kembali menarik nafasnya panjang lalu membuangnya perlahan.
Tiiitttt!
__ADS_1
“Rupanya sudah matang” Gumam Ellena, lalu mengenakan kembali sarung tangan anti panasnya dan mengeluarkan loyang berisi lasagna panas itu dari dalam oven.
Tok…Tok…Tok…
“Harley…Apa kamu sudah tidur? Aku membawakan lasagna untukmu”
Harley bisa mendengar seruan Ellena dari balik pintu kamarnya, dia pun memutar tubuhnya. Sejenak dia merasa ragu apakah dia akan menarik gagang pintu itu atau tidak dan memilih untuk membiarkan Ellena mengira bahwa dirinya sudah tidur padahal sejak tadi dia memang masih setia berdiri di sana, tetapi suara naga diperutnya sudah begitu nyaring. Harley memang belum makan sejak siang tadi.
“Oke…Aku akan meletakkannya saja dibawah pintu, kalau-kalau nanti kamu lapar” Ucap Ellena, dan meletakkan nampan yang dibawanya di bawah sana.
Ceklek…
“Owh...Aku pikir kamu sudah tidur tadi…” Ellena mengurungkan niatnya untuk menaruh nampan itu dibawah pintu dan menyerahkannya kepada Harley, tetapi diluar dugaan pria itu memeluknya setelah mengambil nampan itu tadi dari tangannya.
“Terimakasih Ellena…Terimakasih sudah hadir didalam hidupku…”
.
.
.
To be continue
Hai kakak-kakak terimakasih sudah meninggalkan jejak kalian disini yah
__ADS_1
Happy reading