Harus Memilih

Harus Memilih
Part 26| Mimpi Itu


__ADS_3

Semilir angin bertiup begitu sejuk di badan. Suara itu terdengar kembali dengan suara burung berkicau indah diluar sana.


"Mama!?"...


Zania terbangun dari tidur lelapnya, melihat sekeliling yang masih dalam keadaan yang sama.


"Mimpi itu lagi"ucap Zania terbangun setelah terapi yang diberikan Riri selesai.


"14 jam sudah aku tertidur, sekarang jam(melihat jam di dinding) 6 pagi" ucap Zania terkejut dan langsung turun dari ranjangnya dan menuju kamar mandi.


Zania keluar kamarnya dan siap-siap membantu mamanya di bawah.


"Mama, Nia bantu ya"ucap Zania disamping Dewi yang memotong sayuran.


"Boleh, tumben mau bantuin mama"ucap Dewi ke anaknya.


"Ish... mama nih"ucap Zania yang malah diketawain oleh Dewi.


"Oh ya ma?"ucap Zania menghentikan kegiatan memotong sayurannya itu.


"Hem, ada apa sayang?"ucap Dewi yang fokus dengan sayuran yang di potongnya.


"Emm...kalau ada seseorang memberikan kita bunga anyelir warna merah muda artinya apa ma?"tanya Zania mengupas bawang sambil melihat sekilas kearah Dewi.


"Kenapa sayang, ada yang kasih Nia bunga?"ucap Dewi masih fokus dengan kegiatan memotongnya itu.


"Bukan ma, Nia cuma tanya saja"ucap Zania mengalihkan pembicaraan.


"Oh mama kira. Kalau nggak salah sih artinya pemberi bunga itu menyayangi orang yang akan diberinya bunga. Kenapa sih sayang, kok tanya begituan, mau beliin mama bunga Anyelir apa?"ucap Dewi tersenyum.


"Kalau mama mau, nanti Nia beliin deh"ucap Zania tersenyum, tapi dia juga hendak berfikir akan apa yang di bicarakan Dewi.


"Ma, terus kalau di kasih bunga Anyelir tapi warnanya merah sekali artinya apa ma"tanya Zania lagi yang membuat Dewi mengerutkan keningnya.


"Cari di Mbah Google saja sana lah"ucap Dewi yang malah dibuat rengekan Zania.


"Hem...artinya, orang itu tidak bisa melupakan orang yang diberi bunga itu"ucap Dewi, menggelengkan kepalanya melihat ekspresi anaknya ini.


"Mama kok tahu semua arti dari bunga sama warna nya sih, jangan bilang dulu mama seorang penjual bunga"ucap Zania yang malah di cubit gemas oleh Dewi.


"Aw...ma"ucap Zania


"Sudahlah jangan ganggu mama, sana siap siap buat kerja"ucap Dewi yang langsung Zania berucap.


"I love you, mama" ucap Zania yang berlari ke kamarnya.


"Dasar anak itu, masih saja kayak bocah"ucap Dewi melihat Zania yang berlari ke kamarnya.


***


"Apa yang dikatakan mama benar?, tapi kenapa dalam mimpiku itu. Ada seorang anak kecil memberiku sebuah bunga anyelir merah muda dan bunga anyelir merah pekat dari laki-laki yang tak bisa ku ketahui wajahnya. Huft....sudahlah, itu juga hanya mimpi"ucap Zania bersiap-siap untuk kerja.

__ADS_1


***


Zania, Riri, dan Kevin pergi ke bioskop untuk menghilangkan rasa lelah mereka setelah bekerja. Ide ini adalah keinginan Zania untuk menjodohkan kedua sahabatnya itu.


"Aku ke toilet dulu ya"ucap Zania yang tiba-tiba izin keluar dari duduknya, padahal film segera di mulai.


"Kenapa nggak dari tadi sih"ucap Riri, melihat gelagat aneh sahabatnya itu.


"Mana bisa kencing di jadwal"ucap Zania pura-pura ngambek.


"Ya udah sana-sana, awas saja kamu lama"ucap Riri yang di sambut anggukan kepala dari Zania yang tersenyum ke arah Kevin sambil mengedipkan sebelah matanya.


Zania pun keluar dari gedung itu dan tinggalah Kevin dan Riri.


"Alasan klasik banget sih tuh anak"ucap Riri sambil memakan popcron nya.


"Ya sudah sih, suka-suka Nia"ucap Kevin yang juga makan popcron itu.


"Apaan sih, nyambung saja, kek ada signal saja"ucap Riri dengan juteknya.


"Jangan jutek gitu sih, hilang nanti cantiknya"goda Kevin yang malah membuat Riri ilfil.


Di lain sisi, Zania menikmati makanannya di luar sambil menunggu temen-temannya selesai menonton.


Tiba-tiba ada seseorang memanggilnya dan menghampiri Zania yang sedang duduk sendiri menikmati makanannya.


"Zania..."ucapnya dan membuat Zania mengerutkan keningnya, mengingat-ingat siapa orang itu. Karena wajah orang itu sungguh tidak asing.


"Apa sih, nggak usah gitu deh...sebel, mana sih Zania"ucap Riri risih karena Kevin menggodanya terus. Riri yang melihat Zania duduk di bangku dan menikmati makanan, itu pun menghampirinya.


"Zania...."ucap Riri dengan raut menyebalkan, Zania yang tahu itu hanya menahan senyumnya sedangkan Derren menoleh ke sumber suara itu.


"Itu Riri, bukan?!"tanya Derren yang dibalas anggukan dari Zania.


"Kamu ya....mau menjerumuskan aku kan, dasar ya,..."ucap Riri sambil mengelitiki Zania,


"Stop ri, malu wah..."ucap Zania menahan tawanya dan akhirnya Riri membebaskannya.


"Awas saja ya kamu ngelakuin itu lagi, akan lebih parah pembalasanku"ucap Riri pura-pura ngambek.


"Kamu apakan Riri, Vin, sampe gitu amat sensinya"ucap Zania yang malah di balas gerakan bahu yang naik turun dari Kevin.


"Ehm....jangan-jangan..." ucap Zania terpotong.


"Nggak usah mikir aneh - aneh dch"ucap Riri yang dibalas senyum Zania.


"Siapa tuh, kayak nggak asing?"ucap Riri menunjuk kearah Derren.


"Derren kamu lupa dia. Masa iya lupa sama masa lalu."ucap Zania yang hanya dibalas senyum dari Derren.


"Oh....si **** boy itu" ucap Riri yang langsung menutup mulutnya.

__ADS_1


"Sorry sorry"ucap Riri melihat tatapan dari Derren dan Zania.


"Oh ya, Kevin kenalin dia Derren teman kuliahku sama Riri. dan Derren kenalin dia Kevin teman kerja kami"ucap Zania dan mereka saling bersalam.


"Sekarang, kesibukanmu apa ren"tanya Zania


"Yang pastinya kerja, kerja buat masa depan"ucap Derren tersenyum manis kearah Zania dan membuat Riri kesal melihatnya.


"Sudah nikah kamu, udah tobat berarti dong"ucap Riri nyeplos yang langsung dilempari kacang oleh Zania.


"Apasih"ucap Riri menatap Zania kesal.


"Belum, masa depanku baru ketemu nih"ucap Derren menatap Zania.


"Idih..." ucap Riri merasa jengah dengan sifat Derren saat ini.


"Kenapa? ada masalah?"ucap Derren yang membuat Riri menatapnya tajam. Derren pun tidak mau kalah saing juga.


"Nggak usah berharap deh kamu Ren, Nia nggak bakal ngelirik kamu"ucap Riri kesal dan Derren hanya tersenyum.


"Kamu masih sendirikan Nia"tanya Derren yang hanya dibalas senyuman dari Nia.


"Sudah deh, kamu bukan tipe-tipe Nia. Kok maksa amat"ucap Riri mulai jengah dengan situasi saat ini.


"Nyambung saja sih, udah sana pesen makan"ucap Kevin


"Ngapasih. Kamu saja sana pesen makanan. Akuharus jaga Nia dari buaya berkaki dua ini"ucap Riri yang malah di ketawain mereka.


"Sudah deh Ri, lebay sih kamu. sana pesen makan dulu, efek lapar deh, sensi amat"ucap Zania yang mendapat dengusan dari Riri yang langsung pergi pesen makanan.


"Sudah deh, ren. Nggak usah gombal, kita bukan remaja lagi tahu."ucap Zania.


"Okok, oh ya Nia, kanu masih sendirikan"tanya Derren.


"Kepo deh kamu"ucap Zania.


"Nggak apa-apa dong kepo untuk masa depan"goda Derren lagi.


"Mulai lagi kan, mending kamu cari target lain deh, jangan gangguin Nia"ucap Riri yang baru selesai memesan makanan


"Loh ri, mana Kevin"tanya Zania yang tidak melihat Kevin disamping Riri.


"Dapat panggilan darurat, pergi dia"ucap Riri yang langsung duduk.


"Duh cemburu keknya ini anak, makanya jangan sok jual bakso"ucap Zania,


"Apaan sih aku nggak jualan bakso"ucap Riri sewot.


"Maksudnya jual mahal"ucap Zania tahan ketawa dan membuat Riri makin sewot aja.


***

__ADS_1


Next part selanjutnya bagi like, comment, vote dong


__ADS_2