Harus Memilih

Harus Memilih
Keegoisan


__ADS_3

Revan melihat adiknya diluar gedung club' itu. Zania menatap wajah kakaknya nanar. Dia tidak menyangka kakaknya yang terlihat baik baginya, menyukai dunia malam seperti ini. Walaupun itu bukanlah hal asing lagi di zaman seperti ini. Tapi bagi Zania, dunia seperti itu harusnya dihindari.


"Nia tidak pernah menyangka kakak seperti ini. Kenapa kakak masuk ke gedung itu? Gedung itu terkenal dengan prostitusi. Apa kakak menyewa wanita disana? Kenapa kakak seperti ini!!?"tanya Zania menatap wajah Revan yang terdiam tidak ada jawaban. Zania pun perlahan-lahan menjauh dari Revan dan Rifky yang ada depannya itu.


"Kak Revan diam, apa berarti itu benar!? Nia kecewa sama kakak, Nia kecewa. Ternyata kakak sama saja dengan laki-laki lainnya!!"ucap Zania lagi menatap wajah Revan meminta penjelasan disana. Rifky pun menengahi perdebatan itu.


"Sudah Nia. Ini adalah hal yang wajar, kamu tidak perlu membesar-besarkan hal seperti ini"ucap Rifky mencoba melerai perdebatan yang terjadi, karena menurutnya ini bukanlah hal yang tabu.


"Iya ini bukan hal yang tabu, tapi sungguh memalukan. dan Aku tahu kenapa Riri lebih memilih Kevin dari pada kakak, karena kakak seperti ini!!! dan kamu juga sama! Kalian dua macam laki-laki yang sama. Yang harus dihindari!!!"ucap Zania menatap kearah Rifky tajam dan meninggalkan mereka. Rifky pun mengejar Zania yang sangat marah saat ini dan mencoba menghentikan langkah Zania. Rifky pun menarik Zania saat akan menyebrang jalan dan hampir saja tertabrak mobil, jika Rifky tidak cepat menarik tangan Zania.


"Kamu bodoh hah!!! Kenapa kamu tidak memperhatikan langkahmu!!"teriak Rifky ke Zania yang langsung mendorong Rifky untuk menjauh darinya.


"Lepas...aku sangat malu. Kakak yang aku kira baik, dia menyakiti sahabatku dengan cara seperti itu. Kenapa? kenapa nasib Riri harus sama denganku, kenapa!!? Kenapa kalian sama!!!"ucap Zania memukul-mukul kecil Rifky yang terdiam mendengar ocehan dari wanita yang sangat di sayangnya ini.


"Kamu sama saja. Kenapa semua laki-laki itu sama jahatnya... kamu juga menyakitiku Ky, kamu sama saja seperti kak Revan yang menyakiti perasaan Riri"ucap Zania yang masih setia memberikan pukulan kecil ke Rifky yang hanya diam tanpa membalas perlakuan Zania kepadanya itu.


"Kya aku sama jahatnya. Sekarang kita pulang, sudah malam. Aku takut mama dan papa khawatir. Please Nia.."ucap Rifky mencoba menenangkan Zania dan memohon ke Zania.


"Kamu harus pulang, dimana pak Joko?"tanya Rifky tidak ada jawaban disana. Zania hanya terdiam memikirkan apa yang baru saja terjadi


"Kalau begitu aku antar pulang. Kamu harus pulang Ni, ini sudah malam"ucap Rifky lagi yang langsung membawa Zania masuk ke mobilnya. Zania pun menurut dan masuk kedalam mobil Rifky. Hanya diam disana, Zania tidak ingin membuka percakapan terlebih dahulu, hingga Rifky pun yang berbicara.


"Kamu jangan menyalahkan Revan seperti itu Ni. Bukan karena aku membela dia atau apa, tapi dia pasti ada alasan berbuat seperti itu. Jadi, belum tentu apa yang kita lihat itu sebenarnya, pasti ada alasan."ucap Rifky yang belum menjalankan mobilnya itu dan masih stand by disana, menunggu respon dari Zania yang sedari tadi hanya diam setelah perdebatan tadi.


"Tapi kenapa harus ketempat seperti itu Ky. Sama saja dia merusak dirinya sendiri!!! Aku gak mau kakakku seperti itu"ucap Zania setelahnya.


"atatap aku Nia, tatap aku"ucap Rifky mengarahkan wajah Zania untuk menatapnya.

__ADS_1


"Aku mengenal Revan dan dia tidak seperti itu. dan kamu adalah adiknya yang sangat mengerti seperti apa Revan, bukan. Apakah Revan akan seperti yang kamu fikirkan"ucap Rifky menatap Zania yang juga menatapnya.


"Tapi..."ucap Zania dihentikan oleh Rifky yang langsung memegang tangan Zania dan mengarahkan wajah Zania menghadap kearahnya.


"Kita jangan masuk ke masalah orang lain, selain mereka yang meminta bantuan ke kita Nia. Biar mereka yang mengurus urusan mereka sendiri dulu. Kita tidak berhak ikut campur dan kita bisa membantu masalah dari belakang tanpa mereka ketahui, jika itu inginmu. Tapi sebaiknya kita tidak melakukannya, tapi jika itu perlu. Apa boleh buat bukan"ucap Rifky dan tidak tahu kenapa Zania menundukkan kepalanya dan menerima apa yang diucapkan Rifky itu.


"Kalau begitu kita pulang ya, aku takut mama dan papa khawatir denganmu. Aku takut kamu juga lelah"ucap Rifky yang langsung menghidupkan mobilnya dan mengantarkan Zania pulang.


.


.


.


.


.


"Ada yang ingin aku tanyakan kak? dan kak Revan harus jujur padaku? Janji!"ucap Zania kepada Revan. Revan menatap kearah Zania yang masih dalam posisi berdiri.


"Apa? Apa yang ingin kamu tanyakan dan sebelum itu, duduk terlebih dahulu"ucap Revan yang tidak berani menatap kearah adiknya dan ke ih memilih fokus dengan berkas-berkas yang ada dimeja kerjanya itu.


"Kakak janji akan berkata jujur padaku. Kakak tidak akan mengingkarinya? Jika kakak selama ini jujur, kakak pasti tidak akan kehilangan perempuan yang kakak cintai?"ucap Zania lagi ke Revan yang langsung menatap kearah adiknya itu.


"Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kakak dengan Riri di Rumah sakit waktu itu didekat parkiran. Aku pun tahu apa yang kakak lakukan padanya. Sebenarnya mau kakak ke Riri itu apa sih. Kenapa kakak selalu menyakiti perasaan Riri. Apa kakak ingin adik kakak merasakan hal seperti itu lagi! Seharusnya kakak memikirkan terlebih dahulu sebelum bertindak!!!"ucap Zania yang sudah tidak tahan berbasa-basi lagi dengan kakaknya itu. Revan pun terdiam sejenak hingga dia membuka suaranya itu.


"Karena aku tidak bisa melepaskannya. Aku mencintainya, apa itu salah?"ucap Revan menatap kearah Zania yang menatap sedih Revan.

__ADS_1


"Tapi Riri tidak lagi mencintai kakak. Sudah ada laki-laki lain dihati Riri kak?"ucap Zania menatap Revan memelas.


"Riri mencintaiku dan dia hanya lari dari semua itu. Aku membenci sifat dia yang seperti itu"ucap Revan menatap tajam kearah adiknya itu. Baru kali ini Zania melihat kakaknya seperti itu.


"Kenapa kakak sepercaya diri seperti itu. Riri lari dari kakak karena sifat kakak yang suka ganti-ganti pasangan. Semua wanita tidak ingin pasangannya seperti itu kak!"ucap Zania yang tidak kalah tajamnya ke Revan.


"Aku harap kakak bisa melepaskan Riri dan biarkan dia bahagia kak. Kakak tahu semua perlakuan yang kakak berikan ke dia, semua itu membuatnya tersakiti. Tapi saat dia bersama Kevin aku bisa melihat Riri yang aku kenal, dia kembali ceria seperti dulu kak. Tolonglah kak lupakan Riri dan buka lembaran barumu kak!"ucap Zania yang tidak tahan melihat kakaknya itu dan langsung meninggalkan ruangan Revan dan Revan membanting semua barang yang ada dimejanya itu.


Entah kenapa Revan terobsesi dengan Riri dan tidak merelakan wanita itu berada dalam pelukan orang lain. Karena menurutnya Riri berbeda dengan wanita lain yang selalu mengejarnya. dan Riri adalah miliknya.


.


.


.


.


.


Jangan lupa mampir di cerita author yang lain ya, "MENJAGA HATI" dan "DI BALIK SENJA" Recomended banget loh Gengs๐Ÿ˜


di tunggu kelanjutan ceritanya ya๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


oh ya sampai lupa, jangan lupa like, coment, vote apalagi rate, oh ya satu lagi, Shere ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜, maksa amat ya๐Ÿคญ๐Ÿคญ


jangan bosen-bosen sama ceritanya ya para Gengs๐Ÿคญ

__ADS_1


__ADS_2