
Dalam harapku dan inginku
Kau ada di sana
Di setiap langkahku dan mimpiku
Kau ada di sana
Mungkin suatu saat nanti
Kau dan aku bersama
Berdua kita jalin kasih
Dalam satu ikatan cinta
Oh Tuhan, tolong
Jaga dirinya di sana
Aku disini 'kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
(🎶Indah Pada Waktunya_ Rizky Febian)
"I have come to end"ucap Zania menatap lekat sesorang yang ada dihadapannya.
"With what did you end this all? Everything will not change (Dengan kamu mengakhiri ini semua? Semuanya tidak akan berubah)"ucap seseorang tersebut menatap remeh kearah Zania yang matanya mulai memerah.
"Apa maumu?. Jangan pernah kamu berani-berani melukai mereka!!!"ancam Zania ke orang tersebut yang malah terkekeh mendengar gertakan Zania yang tidak berpengaruh baginya.
"ehm..I want Devan to be crushed. Dia membuat orang yang sangat saya sayangi menderita, maka dari itu saya akan melakukan sebaliknya"ucap orang tersebut lagi.
__ADS_1
"Tapi semua itu sudah selesai. Bukannya Jesicca baik-baik saja. Apa yang perlu dipermasalahkan lagi?"ucap Zania menatap tajam ke orang tersebut yang tersenyum sinis kearah Zania.
"Baik-baik saja?. Itu yang kalian fikirkan"ucapnya lagi yang masih duduk di kursi dengan angkuhnya. Menatap Zania yang berdiri dihadapannya dengan remeh.
"Aku sudah menurutimu untuk menjauh dari mereka. Aku harap kamu menepati janjimu. You're a man, right?. Jadi jangan berani-berani kamu menyentuh mereka"ucap Zania lagi yang malah mendapatkan kekehan yang membuat Zania merasa kesal.
"Saya tidak pernah membuat janji seperti itu denganmu Zania Dwi Pratnoejoe. Kamu sendiri yang membuat perjanjian seperti itu. Saya akan tetap menghancurkan Devan dan Rifky. Karena mereka, adik-adik saya menderita!"ucapnya tajam menatap Zania dengan senyum yang meremehkan.
"Marcell!!. Please stop, this is all over. Derren menyerahkan dirinya sendiri dan Jesicca dia juga sudah baik-baik saja bukan"ucap Zania merasa frustasi dengan apa yang sedang dihadapinya saat ini.
"Terus"ucap Marcell memandang rendah kearah Zania yang mulai memohon kepadanya.
"Aku mohon jangan sakiti mereka. Semua ini salahku. Semua ini terjadi karena salahku, jadi jangan salahkan mereka. Bencilah aku"ucap Zania yang sudah dalam posisi duduk dilantai yang dingin itu. Marcell yang menatap Zania seperti itu pun berdecih kesal.
Marcell pun memanggil asistennya untuk membawa Zania keluar dari ruangannya. Dia tidak suka melihat Zania dalam keadaan seperti itu. Dia merasa aneh dengan dirinya sendiri setiap melakukan hal kejam kepada Zania. Setelah Zania dibawa keluar oleh asistennya. Jesicca pun masuk keruangannya.
"Kak"panggil Jesicca dan Marcell pun tersenyum setelahnya dan meminta adiknya untuk duduk didekatnya.
"Kenapa sayang"jawab Marcell.
"Kak"ucap Jesicca lagi.
"Atau kakak memang tidak bisa melepaskan Zania karena kakak menyukainya. Dari gerak gerik kakak, aku bisa mengetahuinya. Hanya saja, kakak tidak ingin mengakui perasaan itu bukan. Kakak sudah menyukai Zania sejak dulu, ketika kakak satu sekolah dengannya. Kakak selalu mencuri perhatiannya dengan berbuat jail dengannya bukan. Ayah pernah cerita soal kakak waktu sekolah dulu suka menjaili adik tingkat kakak karena kakak mencari perhatiannya dan perempuan itu adalah Zania. Iya kan kak"ucap Jesicca membuat Marcell terdiam.
"Kembali kekamar kamu, kakak banyak pekerjaan"ucap Marcell mengalihkan pembicaraan yang sedang berlangsung itu.
"Jika kakak mengambil hatinya dengan cara ini. Kakak akan bernasib sama seperti kak Derren kak. Kakak gak akan mendapatkan hati Zania. Aku kembali ke kamar ya kak"ucap Jesicca yang langsung pamit kembali ke kamarnya.
Marcell menatap kepergian adiknya itu dengan menghela napasnya kasar. Tidak tahu kenapa pernyataan adiknya itu berputar-putar dikepalanya.
"Buat apa aku menyukai wanita seperti dia?. Cari perhatian dia?. omong kosong!!"ucap Marcell kembali fokus dengan kertas-kertas yang ada didepannya itu. Namun bukanya mengerjakan pekerjaannya itu dia malah tidak bisa konsentrasi sedikitpun.
"Sial!!"ucap Marcel membantuk barang yang ada didepannya.
***
__ADS_1
Setelah kembalinya dia dari ruangan Marcell. Zania menatap dirinya sendiri yang duduk sendiri didepan perapian yang berada dirumahnya itu. Dia menatap sebuah foto di ponselnya yang menampakan dua pasang suami isteri yang sangat berbahagia dengan saling menatap satu sama lain.
"I really miss you at this time, maafkan aku yang tidak bisa berada disampingmu saat ini"ucap Zania yang setelah itu meninggalkan ponselnya dimeja tepat di belakangnya.
Zania berjalan menuju kearah kamarnya dan sebuah tangan menghentikan langkahnya dan membuat Zania berpaling dan berada dalam pelukan orang tersebut. Zania tidak mengetahui siapa orang tersebut yang dia ketahui dia seorang laki-laki yang memeluknya erat sangat erat. Namun setelah itu Zania dilepaskan secara kasar dan Zania pun tahu siapa laki-lali tersebut yang berani semena-mena kepadanya, tidak lain dan tidak bukan adalah Marcell.
"Omong kosong!!!"ucap Marcell yang langsung meninggalkan Zania yang penuh tanda tanya disana. Apalagi kalimat yang diucapkan sebelum laki-laki sialan itu pergi.
"Sabar, sabar Zania. Dia memang laki-laki gila"ucap Zania yang langsung menuju ke kamarnya.
#Diposisi Marcell saat ini
#Marcell Pov'
Kenapa aku bertindak bodoh sih? Kenapa pula aku main peluk dia. Ini semua gara-gara Jesicca. Aku tidak salah, aku hanya memastikan jika apa yang diucapkan adikku itu salah. Maka pada saat itu aku mencarinya dan menemukannya akan masuk kedalam kamarnya dan memeluknya untuk memastikan perasaanku padanya. dan sialnya kenapa jantungku berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Sial, memang sial. Aku pun dengan kasar melepaskannya dalam pelukanku itu dan membuatnya terkejut setelah mengetahui wajahku.
Aku pun langsung meninggalkannya yang bingung dengan sikapku itu. Aku tidak peduli, yang aku pedulikan saat ini jantungku sedang dalam keadaan tidak normal aku harus menelphon dokter untuk memeriksanya, tapi tunggu bukankah perempuan itu adalah seorang dokter di mansion ku. Aku pun memanggil asistenku untuk memanggil perempuan itu untuk memeriksa keadaanku.
Aku sudah menunggunya dikamar. Perempuan itu pun datang dan membawa peralatan yang biasa dibuat untuk memeriksa Jesicca adikku.
"Yang kamu keluhkan sekarang apa, biar aku periksa permisi"ucapnya memeriksa keadaanku dengan Stetoskop yang sudah bersemayang ditelinganya. Jantungku semakin berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Aku pun tanpa sadar memegang tangannya yang berada di tanganku itu. Dia menatapku bingung.
"Kenapa Marcell?"ucapnya gugup melihatku.
"Jantungku. Apakah ada masalah dengan keadaan jantungku?"tanyaku yang membuatnya mengerutkan dahinya bingung.
.
.
.
.
.
__ADS_1
NEXT ON