Harus Memilih

Harus Memilih
Hari Pertunangan Riri Dan Kevin II


__ADS_3

"Kamu akan menjadi miliku Zania"ucap Derren menatap Zania pergi dari hadapannya. Tanpa dia ketahui dari tadi ada dua pasang mata yang mengawasi gerak-geriknya.


"Beraninya kamu menyentuh wanitaku Derren"ucapnya menatap tajam kearah Derren.


***


Rifky Pov'


Saat ini aku sedang bersiap-siap untuk datang ke acara sepupuku Riri yang akan melaksanakan acar pertunangannya dengan Kevin kekasihnya. Sebenarnya aku merasa khawatir akan acara itu, dikarenakan Revan yang masih tidak rela Riri meninggalkannya.


Aku pun mengendarai mobilku menuju rumah pamanku itu dan tampak banyak penjaga disana. Karena acara ini dilakukan secara private, supaya tidak ada para reporter yang menggangu acara pertunangan ini.


Aku pun memasuki rumah itu dan pandangan pertama yang aku lihat adalah Zania sedang berbincang dengan Kevin dan laki-laki yang selama ini aku cari, Derren.


Kurang ajar!, kenapa laki-laki itu ada disini!, Aku pun menelphone seseorang untuk mengawasi gerak-gerik laki-laki itu. Karena aku tahu laki-laki itu tidak akan melihat kebahagian dari Riri. Aku pun juga masih mengawasinya yang semakin berani ke wanitaku. dan berani-beraninya dia menyentuh wajah Zania. Aku mencengkram tanganku erat karena melihat perlakuannya itu. Aku melihatnya tersenyum kearah Zania yang meninggalkannya.


"Awasi gerak-gerik Derren, jangan sampai dia mengacau acara pertunangan Riri"ucapku dari telphone yang tersambung.


Aku pun ikut bergabung dengan mereka untuk melihat acara pertunangan itu dan sekarang aku tepat dibelakang Zania yang masih memperhatikan Riri dan Kevin yang bertukar cincin.


"Kamu menginginkan hal seperti itu juga"tanyaku yang membuatnya terkejut dan menghela napas kasar saat melihatku.


"Aku sudah pernah merasakan hal seperti itu"jawabnya yang membuatku tersenyum masam ketika mendengarnya.


"Oh iya"ucapku yang langsung di tatapnya. Kenapa aku merasa perih ketika tatapannya mengarah padaku walaupun sekilas. Dia pun mengalihkan pandangannya kembali kearah Riri dan Kevin yang tersenyum bahagia hari ini.


"Tapi aku akan menemukan seseorang yang bener-bener sayang denganku dan melakukan hal seperti itu kepadaku nanti"ucapnya yang menatapku lagi. Aku tahu maksud dari tatapan wanita ini. dan aku pun lagi hanya tersenyum kepadanya yang juga membalas senyum kepadaku. Perih, itu yang aku rasakan akan arti tatapannya saat ini. Aku pun mencoba mencairkan suasana ini.

__ADS_1


"Aku yang akan menjadi seseorang yang kamu maksud itu"ucapku tepat ditelinganya yang langsung reflex menoleh ke arahku yang tanpa sengaja bibir kami bersentuhan. Dia menatapku terkejut dan aku pun juga terkejut dengan apa yang terjadi. Aku tidak bermaksud seperti ini.


"Maaf"ucapnya dan aku hanya menganggukan kepalaku. Dia pun mencoba menghindariku dan aku mencekal lengannya hingga dia menatapku. Aku melihat pipinya memerah dan aku menahan senyumku. Namun tiba-tiba ada seseorang memanggilnya dan itu adalah Devan. Devan menghampiri kami dan aku melepas genggaman tangan itu darinya.


"Datang diwaktu yang tidak tepat"ucapku lirih. Zania menolehku sekilis. Apa dia mendengar apa yang aku bilang.


"Aku itu nyariin kamu sayang"ucap Devan kepadanya sambil mengacak halus rambut Zania. Aku tidak menyukai tindakan yang diberikan Devan kepadanya. Ingin sekali aku hempas tangan itu dari rambut Zania.


"Dev, kamu membuat tataan rambutku berantakan tahu"ucap Zania kepada Devan. Zania menatapku dan Devan bergantian. Aku melihat ada kekhawatiran disana. Devan menatapku dan menyapaku terlebih dahulu.


"Lama tidak bertemu Ky"ucapnya santai padaku dan aku menyambut tangannya. Kami memang bersahabat sejak dulu.


"Lama tidak bertemu juga Dev"ucapku kepadanya.


"Kamu datang sendiri kesini Ky?"tanyanya padaku. Aku tahu itu hanya basa-basinya padaku. Tapi aku gagal fokus akan tangan Devan yang menyelip ke pinggang belang Zania. Apa-apaan tangan itu? Berani-beraninya dia memeluk Zania didepanku.


"Bella kemana?"tanyanya padaku dan aku menatap kearah Zania yang mengalihkan pandangannya dariku.


"Kami sudah bercerai"ucapku yang dibalas senyum oleh Devan. Aku tahu maksud dari senyuman itu.


"Ternyata kamu tidak ahli dengan wanita ya Ky. Sudah dua kali kamu gagal mengenai wanita"ucap Devan dan aku tahu dia menyinggungku. Aku menatap kearah Zania lagi yang langsung menarik Devan untuk pergi.


"Kalau begitu aku dan Nia kesana dulu ya"ucapnya padaku dan aku hanya menganggukan kepalaku melihat Zania yang di gandeng mesra dengannya.


Rifky Pov' end


***

__ADS_1


"Dev"ucap Zania menghentikan langkahnya dan Devan menatap Zania bingung.


"Kenapa sayang"ucap Devan menatap Zania bingung


"Aku tidak suka kamu membahas hal seperti tadi dengan Rifky. Kamu menyinggungku? dan berhenti memanggilku sayang, apalagi tangan ini"ucap Zania yang mencubit tangan Devan. Devan pun terkekeh akan kelakuakan Zania padanya hingga dia dengan ringannya mengacak-acak rambut Zania halus. Hal itu membuat Zania merasa kesal.


"Kalau kamu marah seperti ini, kamu semakin imut tahu gak"ucap Devan. Zania tidak bisa berkata-kata lagi jika laki-laki itu seperti itu padanya. Tidak tahu kenapa setiap dengan Devan merahnya bisa hilang, hanya dengan kata-kata manis yang diucapkan Devan padanya. Tapi lain jika dengan Rifky, ada yang berbeda.


"Tapi itu kenyataan bukan. Dan dia juga telah menyakiti wanita yang aku cintai, jadi tidak masalah. dan maaf ya aku membuatmu merasa tersinggung sayang"ucap Devan yang memeluk Zania dan Zania pun tanpa sadar memeluknya dan menggangukan kepala setuju dengan ucapan dari Devan. Devan tersenyum senang setelahnya.


"Aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi, Ni. Aku janji akan hal itu"ucap Devan dalam hati yang masih dalam posisi memeluk Zania erat.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, comment, vote, rate ya...


jangan lupa juga cek cerita author yang lainπŸ’›πŸ’›πŸ’›,


SEEYOUNEXTTIME...

__ADS_1


__ADS_2