Harus Memilih

Harus Memilih
Part 32| Just For You


__ADS_3

"Wajahmu kenapa lagi sih, begitu amad. Kamu lagi kesel, karena aku minta menemanikubke butik" tanya Riri yang melihat sahabatnya lesu seperti itu.


"Bukan begitu Ri, aku cuma lagi sebel sama Devan saja. Gimana sih buat dia menjauh dariku" ucap Zania yang kembali sedih.


"Kenapa lagi sama kak Devan. Kalau soal untuk menjauhi kami sepertinya itu sulit Ni" ucap Riri ke sahabatnya itu.


"Aku merasa bersalah dengan semuanya Ri, aku gak mau jadi benalu untuknya, karena aku gak pantas untuknya Ri, Dia terlalu baik untukku, dengan semua perhatian yang telah dia berikan padaku aku sungguh merasa bersalah" ucap Zania.


"Karena dia sayang sama kamu Ni, dari cara kak Devan memandang dan menunggumu saat kamu dalam keadaan gak sadar berbulan-bulan, aku tahu dia masih mencintaimu. Apa lagi kaliankan belum ada kata break saat itukan"ucap Riri mengingatkan kembali apa yang dia ingat.


"Tapi aku tidak ingin, dia perhatian padaku, Ri. Setiap dia memberikan prilaku seperti itu padaku, rasanya ada yang aneh pada diriku Ri. Aku tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Tapi aku tidak ingin membohongi diriku lagi Ri"ucap Zania lagi.


Riri yang melihat wajah sahabatnya seperti itu pun langsung memeluknya.


"Aku tahu kamu tidak bisa melupakan laki-laki yang telah menerobos masuk ke-hatimu itu Ni. Tapi aku harap, kamu tidak salah mengambil keputusan lagi. Aku tidak ingin melihatmu terluka lagi Ni, aku ingin kamu merasakan bahagia, jadi aku harap kamu mengambil keputusan yang tepat"ucap Riri melepaskan pelukannya ke sahabatnya itu.


"Aku tahu Ri, Aku tahu. Kamu sahabat yang paling mengerti tentang aku. Terima kasih untuk selama ini mbak Riri yang sebentar lagi menikah sama mas Kevin"goda Zania ke sahabat ya itu.


"Apa sih ah....reseh"ucap Riri malu-malu.


***


"Kevin itu kemana sih emangnya?. Seharusnya kalian berdua yang datang kesini untuk memilih bajunya. Kan kalian berdua yang mau tunangan, bukan kamu saja. Dasar memang tuh orang, belum kena semprot dari aku sih?"ucap Zania yang melihat-lihat baju di butik itu sembari menunggu pakaian yang dipesen sahabatnya beres.


"Dia lagi ada seminar Ni. Aku ya sebenarnya sebal sama laki satu itu. Dia itu loh lebih mementingkan seminarnya dari pada aku. Jadinya aku diam in dia sekarang, tahu sendiri aku males debat sama dia. Ya sudahlah aku pergi sendiri terus minta tolong sahabat tercantikku untuk menemani aku yang diabaikan sama laki nya"goda Riri ke Zania.


"Heleh....kalau lagi butuhnya saja muji-muji. Coba kalau gak butuh, bahasa abcdz pun keluar. Memang laki-laki macam Kevin harus kena semprotan desinfekan Ri"ejek Zania yang mendapat tawa an dari Riri.


"Permisi Bu. Untuk pakaiannya sudah beres, boleh dicoba, takutnya ada yang kurang. Untuk baju pasangannya silahkan dicoba juga Bu"ucap salah satu karyawan butik itu.


"Oke. Yang baju laki-laki nya biar nanti, soalnya dia gak datang. Biar nanti pas aku bawa pulang dia coba."ucap Riri mengambil baju dan mencobanya.


Riri pun masuk keruangan ganti untuk mencoba baju pertunangannya itu.


"Gimana Ni"tanya Riri dengan pakaian yang telah di cobanya.


"Cantik Ri, tapi sayang seharusnya yang bilang begitu si Kevin, hehehe"ucap Zania menggoda sahabatnya itu.


"Dasar nih bocah..."ucap Riri.

__ADS_1


"OKe deh. Menurutku juga sudah bagus, gak terlalu mewah untuk acara pertunangan dan standarlah ya"ucap Riri ke Zania yang menganggukan kepala nya.


"iya, princess Riri"goda Zania lagi yang mendapat lemparan baju dari Riri. Mereka pun tertawa karena ulah mereka yang saling mengejek.


***


Di tempat seminar Kevin...


Setelah selesai menjadi pembicara di seminar itu. Kevin ingin pamit, karena harus menyusul Riri. Tapi ada seseorang yang memanggilnya. Dia pun menoleh ternyata orang itu adalah Derren.


"Hai dr. Derren"sapa Kevin.


"Mau kemana dr. Kevin, seminarnya kan belum selesai"ucap Derren basa basi dengan Kevin.


"Jemput calon isteri. Takut orangnya ngambek lagi Ren"ucap Kevin diselingi bercanda.


"Oh kamu mau nikah Vin?"tanya Derren.


"Ya pasti maulah. Masa iya, enggak"ucap Kevin.


"Sama siapa?"tanya Derren.


"Riri!? maksudnya"ucap Derren dan membuat Kevin melihat kearah Derren.


"Bagaimana kamu tahu"tanya Kevin.


"Karena wanita bar-bar yang aku kenal itu Riri dan Zania. Tapi kamu lebih condong ke Riri. Dia sudah Move on dari mantan terindahnya?"ucap Derren yang membuat Kevin bertanya-tanya dengan maksud ucapan Derren.


"Maksudnya?, matan terindah?"ucap Kevin menatap Derren tajam.


"Tanya saja ke dia, mantan terindah yang tidak bisa dia lupa. Oh ya selamat atas pertunangannya ya"ucap Derren lagi yang diangguki oleh Kevin yang langsung pamit pergi meninggalkan acara itu.


"Yang pasti, laki-laki yang pernah menghancurkan kepercayaannya" ucap Derren menatap Kevin sambil tersenyum licik.


***


"Terima kasih ya Ri, mampir dulu wah?!"ucap Zania ke sahabatnya itu.


"Kapan-kapan saja deh"ucap Riri dan Mobil Revan telah sampai di halaman rumahnya dan Riri yang melihatnya pun segera pamit ke Zania.

__ADS_1


"Aku pulang kalau gitu ya. Salamin ke tante Dewi sama paman Beno"ucap Riri yang melajukan mobilnya. Revan keluar dari mobilnya dan melihat Zania menatap mobil yang keluar halaman rumah itu.


"Dasar tuh bocah"ucap Zania melihat Revan berjalan kearahnya.


"Siapa itu dek?"tanya Revan menghampiri adiknya.


"Riri kak"jawab Zania dan Revan hanya menjawab deheman. Zania pun menatap wajah kakaknya itu sebentar.


Mereka pun berjalan ke dalam rumah sambil berbicara.


"Riri mau tunangan sama Kevin kak"ucap Zania ke Revan yang tiba-tiba langkahnya terhenti.


"Oh"ucap Revan yang melangkahkan kaki nya lagi.


"Nia senang karena Riri mau membuka hatinya lagi untuk laki-laki lain"ucap Zania lagi yang berhati-hati saat berucap.


"Hem...."ucap Revan meletakan tasnya di meja makan dan mengambil air dingin untuknya minum.


"Kapan kakak mengenalkan calon kakak ipar ke rumah"ucap Zania mengganti topik pembicaraan.


"Nih bocah, ntar kalau kakak sudah ada calon pas" ucap Revan kembali ke cara bicaranya. Zania pun tersenyum melihatnya.


"Kan banyak cewek yang deketin kakak. Kakak tinggal pilih saja?"ucap Zania lagi.


"Enak saja, emang mereka baju yang tinggal dipilih"ucap Revan nyeplos keadiknya.


"Kan Nia gak pernah menyamakan mereka dengan baju. Tapi aku harap kakak memilih wanita yang tepat. Bukan wanita yang mengejar kakak karena duit kakak"ucap Zania lagi.


"Oke adikku sayang"ucap Revan mengacak rambut Zania sampai berantakan.


"Ih....kak Revan"ucap Zania melihat Revan naik ke atas menuju kamar.


"Aku harap semua yang terjadi selama ini hanya kesalahpahaman kak. Aku harap kalian bisa menyelesaikan permasalahan kalian sebelum semua terlambat"ucap Zania menatap Revan yang masuk ke dalam kamar.


Jangan lupa like, comment, vote cerita Author, dan cek cerita lainnya "Menjaga Hati".


See u next time...


Terima kasih untuk para Gengs setiaπŸ’›πŸ’›πŸ’›

__ADS_1


__ADS_2