Harus Memilih

Harus Memilih
IML (Diantara Dua Pilihan)


__ADS_3

"jangan bilang kamu jatuh cinta sama aku ya Derren"ucap Zania memincingkan matanya mengejek kearah Derren. Derren pun tertawa karena sikap Zania.


"stop deh ketawanya emang ada yang lucu"kesal Zania karena Derren malah mengetawainnya. Derren pun mengacak-acak rambut Zania berasa sudah dekat saja. Zania pun menepis tangan Derren.


"oke, sorry. Kamu ke PD an banget sih, jadi siapa yang gak ketawa"ucap Derren ke Zania yang langsung cemberut.


Derren melihat kearah belakang Zania ada seseorang yang berjalan melangkah menghampiri mereka dan itu adalah Riri. Derren sedikit menyunggingkan senyumnya dan mencoba menggoda Zania.


"kalau misalnya aku beneran suka sama kamu bagaimana"ucap Derren ke Zania yang langsung menatap Derren tajam. Sedangkan Riri langsung menghentikan langkahnya. Derren yang melihat hal itu sedikit tersenyum.


"terserah kamu. Hak kamu menyukai siapa saja bukan, tapi aku gak bisa membalas cinta kamu, karena aku sudah ada Devan kekasihku"ledek Zania ke Derren yang malah tersenyum karena ucapan Zania.


Riri pun langsung menghampiri mereka berdua dengan menegurnya.


"Nia kamu kesini ngapain? dan Derren kenapa kamu bisa disini"ucap Riri mencoba tersenyum ramah ke Derren.


"astaga Riri, aku kira siapa"ucap Zania menoleh dan melihat sahabatnya itu ada dibelakangnya. Riri pun tersenyum ke arah Zania.


"ini rumahku"ucap Derren santai. Riri terkejut mendengarkan hal tersebut. Karena rumah Derren jarak 2 rumah dari rumahnya.


"ternyata kita tetangga ya"ucap Riri sedikit canggung dan Derren menganggap hal itu biasa.

__ADS_1


"iya. Ini rumah peninggalan ibuku dan satu-satunya rumah yang aku miliki disini dan tidak disita oleh bank"ucap Derren menekankan kalimat diakhirnya. Zania menatap Derren dan Riri bergantian. Dia tidak tahu masalah antara keduanya. Tapi dari kata-kata itu Zania melihat adanya perubahan ekspresi wajah dari keduanya.


"hey...hey..."ucap Zania membuyarkan lamunan dari keduanya.


"berarti kamu baru pindah dong ya. Kapan-kapan boleh lah kita orang main ke rumahmu. Tapi untuk sekarang jangan dulu deh ya, karena kondisimu yang tidak memungkinkan bukan"ucap Zania dan Riri menatap Derren dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"kalau begitu kamu masuk sana, isterahat"usir Zania ke Derren yang malah digelengi kepala oleh Derren.


"oke oke, terima kasih sudah nganterin aku"ucap Derren yang masuk kedalam rumahnya dan sekarang tinggal Zania dan Riri diluar.


Zania melihat kearah Riri yang menatap kearah Derren yang masuk ke rumah. Zania pun mencoba mengalihkan tatapan Riri itu ke dirinya.


"iya ni"ucap Riri.


"kamu sudah cerita sama kak Revan, tentang Derren"tanya Zania dan Riri pun terdiam akan hal itu.


"kamu sudah cerita kan Ri, gimana tanggapan kak Revan"ucap Zania lagi.


"sudah kok, dia hanya diam setelah itu"ucap Riri dan Zania pun terdiam. Dia tidak menyangka reaksi kakaknya akan seperti itu.


"Derren kaki nya kenapa diperban seperti itu"tanya Riri sedikit ragu. Zania menatap Riri dan langsung menjawabnya.

__ADS_1


"dia tadi kecelakaan. Aku gak sengaja lewat dan mengetahuinya, jadi aku mengantarkannya ke rumah sakit"ucap Zania melihat Riri yang sedikit terkejut dan khawatir terlihat jelas diwajahnya.


"oh begitu"ucap Riri kembali menatap kearah rumah Derren.


"iya Ri. Oh iya aku pulang kalau begitu ya Ri, sudah jam segini nih"ucap Zania dan Riri pun mengiyakannya. Zania pun pulang mengendarai mobilnya dan Riri meninggalkan tempat itu dan ke rumahnya.


Sebenarnya setelah masuk kerumah, Derren mengamati Riri dan Zania dari jendela rumahnya. Ekspresi Derren pun tidak bisa diartikan disana.


.


.


.


.


.


.


NEXT ON...

__ADS_1


__ADS_2