Harus Memilih

Harus Memilih
Akhir II


__ADS_3

Zania Pov'


Derren sudah menyerahkan diri kepihak yang berwajib. Hari ini adalah sidang pertamanya. Semua masalah dapat terselesaikan karenanya. Meskipun aku merasa ini tidak seharusnya terjadi, jika bisa dibicarakan dengan baik-baik, tapi bagaimana?, ini semua telah terjadi.


Jesicca sudah pulang dari rumah sakit dan sekarang dia berada di apartemen Derren. Dia sudah membaik dan aku tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Ketika melihat kakak satu-satunya merelakan diri dan menanggung beben sendiri untuknya.


Aku saat ini bersama Jesicca dan ada Rifky juga berada di persidangan Derren. Akhirnya hakim mengetuk palunya dan mengakhiri persidangan ini dengan lancar dengan pengakuan yang diberikan oleh Derren. Sungguh ini bukan mimpi bukan?, tapi jika ini yang terbaik untuk semua dan termasuk Derren aku hanya bisa tersenyum.


Derren tersenyum kearahku saat dia dibawa keluar ruangan itu, aku pun juga membalas senyum darinya. Sungguh inikah yang terbaik untuknya dengan menerima hukuman dengan dikurung dipenjara. Aku melihat kearah Jesicca yang tidak hentinya menangis dengan berakhirnya persidangan ini.


Aku mencoba mendekatinya tapi langkahku dihentikan oleh Rifky yang menghalangiku dan memberitahuku untuk membiarkan dia sendiri. Aku pun menatap Rifky dan tanpa terasa air mata ini ikut terjatuh entah kenapa. Aku seperti merasakan hal yang dirasakan oleh Jesicca. Sungguh aku terlalu lemah.


Tiba-tiba saja Jesicca menghampiriku dan berlutut didepanku. Sungguh aku tidak menginginkan hal ini, aku pun langsung membantunya untuk berdiri.

__ADS_1


"aku mohon..., bebaskan kakakku, ini semua salahku sungguh. Aku yang harusnya berada disana bukan kak Derren."ucapnya menatapku dan Rifky bergantian. Aku pun langsung duduk dan memeluknya memberikan sedikit kehangatan untuk menenangkan Jesicca.


"aku sudah tidak punya siapa siapa. Aku mohon padamu Zania, bebaskan kakakku dari sana. Aku yang selama ini salah dengan melukaimu bukan kakakku, kakaku sungguh menyayangimu. Aku berani bersumpah"ucapnya lagi yang tidak hentinya menangis.


"maafkan aku, tapi itu yang kakakmu inginkan Jes. Dia menyerahkan dirinya bukan karena masalah kecelakaan itu saja, tapi..."ucapku menatap Rifky yang hanya terdiam dan setelah itu menggelengkan kepalanya.


"ayo kita pulang saja ya, kami antar kamu ke rumah"ucapku lagi dan tidak melanjutkan ucapanku yang terpotong itu.


Kami pun langsung mengantar Jesicca kembali ke apartemen milik Derren dan setelah itu Rifky pun mengantarku pulang. Diperjalanan pulang Rifky tidak hentinya mencuri pandang kearahku.


"kenapa kamu baik sekali si Nia. Kenapa kamu baik kepada orang yang telah melukaimu dan jahat padamu"ucapnya dan ku balas dengan senyuman.


"termasuk kamu bukan"ucapku dan dia langsung menganggukan kepalanya dan hal itu membuatku tersenyum kembali.

__ADS_1


"apa sesuatu yang menyakitkan dan sebuah kejahatan atau hal buruk lainnya itu harus dibalas sebaliknya?, Aku bukan orang seperti itu Ky. Aku tidak akan pernah membalas semua itu, karena mungkin mereka hanya salah dalam melangkah?, iyakan?"ucapku lagi yang langsung menatap kearah jendela mobil.


"kamu tahu Ky? Dulu...aku pernah berfikir bodoh karena melepaskanmu dan berfikir dangkal karena ego yang gak beralasan. Penyesalan ternyata diakhir ya?(ucapku tersenyum geli sendiri dengan raut kesedihan yang tidak bisa disembunyikan). Tapi aku sadar, aku tidak berhak berfikir seperti itu. Kembalilah ke Bella, Ky. Aku tahu dia menunggumu. Kamu hanya menyesal kepadaku ky dan lebih tepatnya karena simpati dan kasian. Aku tahu kamu juga sangat menyayangi Bella, walaupun kamu tahu Bella telah membodohimu tentang masa lalunya yang bersama Derren bukan?"ucapku menunggu respon Rifky yang masih fokus menyetir, meskipun aku tahu, perasaannya saat ini tidak karuan.


"kembalilah ke Bella ky. Karena mencintai seseorang tidak harus dipaksa bukan?"ucapku lagi dan tiba-tiba saja mobil direm mendadak oleh Rifky dan membuat Zania terkejut.


Rifky menatap tajam kearah Zania dan Zania membalas tatapan itu dengan sangat lembut sehingga tatapan yang diberikan Rifky menjadi melembut.


"sungguh kamu ingin aku melakukan semua itu?!"sebuah kalimat tanya dan penekan yang dia ucapkan. Aku pun menunduk dan menganggukan kepalaku pelan. Dia menghela nafasnya dan mencoba mengaturnya pelan.


"Bella pun mengatakan hal yang hampir sama denganmu Nia. Apa sebegitu jahatkah aku dengan menyakiti kalian berdua"ucapnya lagi dengan menggenggam tanganku dan mengarahkan wajahku kearahnya. Dia menatapku dan aku tidak berani menatap sorot matanya itu.


"karena dia sangat mencintaimu ky. Harusnya kamu tahu itu. Ada anak diantara kalian berdua. Aku harap masalah kita selama ini terselesaikan saat ini juga"ucapku padanya.

__ADS_1


"aku menerima Devan Ky. Aku tahu dia sudah menungguku selama ini dan aku juga menunggunya. Mungkin kesalahan Devan dengan menyakiti Jesicca itu salah, tapi aku bisa mengerti dengan prilakunya itu. Aku sudah memutuskan untuk pergi dengan Devan ke London Ky. Kami akan menikah"dustaku kepada Rifky. Sungguh aku tidak ingin terlibat dengan masa lalu lagi. cukup ini menjadi kenangan untukku.


__ADS_2