
"Ri, aku harap kamu bahagia dengan Kevin ya. Kalau misal Kevin berani buat kamu nangis, gelitikin saja dia sampai nangis"celetuk Zania diakhir kalimatnya dengan candaan.
Sekarang mereka sedang berada disebuah cafetaria setelah operan sift dengan dokter lainnya. Riri yang mendengarkan tutur kata dari Zania merasa kesal.
"My bestie sweet banget si, kok curiga jadinya ya. Kamu menyembunyikan sesuatu dari aku ya Ni, mencurigakan. Awas saja ya, kamu gak datang dipernikahanku, aku jadiin rempeyek, asli deh. Aku bakal cariin kamu sampai ketemu, ngerti!"ucap Riri yang malah dibalas dengan cengengesan oleh Zania.
"Jangan jadi rempeyek dong Ri, ntar kamu gak punya teman secantik aku gimana?"goda Zania yang semakin membuat Riri jengah dengan kepedean temannya yang sudah level tinggi menembus langit ketujuh itu.
"Pede boros banget wah, males deh. Cantikan juga aku kali"ucap Riri pura-pura kesal. Setelah itu mereka malah tertawa gak jelas dengan tingkah masing-masing.
***
"Ni, masih tunggu pak Joko jemput. Mending pulang bareng aku saja yuk"ajak Riri kesahabatnya itu.
"Gak usah lah Ri, sebentar lagi pak Joko sampai. Kasian aku kalau nyuruhnya langsung balik arah pulang. Ya sudah kamu pulang saja duluan"ucap Zania.
"Ya sudah deh aku pulang ya, bye..."ucap Riri melambaikan tangan kesahabatnya itu yang sedang duduk di kursi depan cafe tempat mereka makan tadi.
"Oke siap Bu bos, hati-hati dijalan. Ingat mau nikah jangan kebanyakan main"goda Zania diakhir kalimat yang malah digelengin kepala tak percaya dari Riri.
"Mainnya juga sama lu saja. Ya sudah deh aku pulang duluan ya"ucap Riri yang langsung menuju ke mobilnya itu.
Zania masih terdiam dikursi itu. Sebuah notifikasi pesan muncul di ponselnya.
_Besok kamu harus ingat. Karena saya sudah menuruti apa mau kamu. Jam 7 pagi kamu dijemput oleh asisten saya_ Marcel
_Oke_ balas Zania
Setelah membalas pesan itu. Zania hanya menatap kosong kearah ponselnya. dan sebuah notifikasi baru muncul. Ternyata itu adalah pesan dari Devan untuknya.
_Kamu sudah pulang_ Devan
_ini lagi dicafe depan Rumah sakit, lagi tunggu pak Joko_ balas Zania
__ADS_1
_Baiklah kalau begitu, langsung pulang ya_ Devan
Zania menatap dalam pesan itu. Tanpa sadar dia mencengkram erat ponselnya itu.
_Iya, aku langsung pulang. Selamat tinggal Dev_ balas Zania
Devan yang melihat pesan dari Zania merasa ambigu dengan isi pesan tersebut.
"Selamat tinggal?"ucap Devan menatap ponselnya itu.
Saat ini Devan sedang berada diluar kota bersama dengan Kevin. Karena dia diundang menjadi narasumber dalam sebuah seminar disana.
"Kenapa Dev?"tanya Kevin yang sedari tadi melihat sikap Devan yang berubah penuh kekhawatiran.
"Ada yang aneh dengan Nia"jawab Devan yang malah dapat balasan senyum dari Kevin.
"Aneh apalagi sih? Sudah tahu sih, Nia memang selalu aneh dari dulu. Sama anehnya dengan Riri"ucap Kevin disela candanya. Devan menghela nafasnya kasar membuat Kevin terdiam setelahnya.
"Siap pak direktur"ucap Kevin setelahnya.
***
#Ditempat Rifky berada...
#Rifky Pov'
Riri beberapa menit lalu menghubungiku. Dia mengatakan ada yang aneh dengan Zania. Aku mencoba mengabaikan hal itu dan kenapa sepupuku ini memberitahukan hal seperti itu padaku?. Bukannya dia orang pertama yang tidak menyukaiku untuk kembali dengan Zania.
Aku masih kesal dengan Zania. Akan percakapan kami beberapa hari lalu. Sikapnya selalu berubah-ubah denganku. Kadang aku tidak mengerti jalan fikirannya itu. Kadang dia peduli padaku, kadang juga dia cuek dan menganggap diriku ini tidak ada.
Soal melepasnya?. Aku tidak tahu dengan perasaan ini. Ingin aku egois dengan perasaanku, tapi dia selalu mengingatkanku untuk tidak egois. Padahal semua ini aku lakukan untuknya atau untuk diriku sendiri. Kenapa aku bingung dengan perasaanku sendiri?!.
Aku menghela nafasku kasar yang mengalihkan fikiranku tentang Zania saat ini. Ketika sekretarisku memberitahukan padaku akan pembatalan dari pihak M_company. Banyak pertanyaan yang muncul dibenak ku, kenapa?. Karena waktu itu pihak M_company juga membatalkan kerjasama dengan perusahaan Pratnojoe namun setelahnya dia menyetujui kembali. Tapi sekarang pihak mereka membatalkan pertemuan ini dan mengatakan direktur mereka harus kembali ke negara asalnya mendadak. Apa-apaan pengusaha itu fikirku. Apakah fikirannya selabil itu?. Tapi kenapa dia bisa memimpin perusahaan besar seperti itu, dengan penghasilan triliunan per jamnya. Aku mencoba menenangkan pikiranku sejenak. Mungkin lain kali aku akan mengadakan pertemuan selanjutnya di lain waktu.
__ADS_1
"Mohon maaf pak, hari ini ada pertemuan dengan perusahan Utomo"ucap salah satu sekretarisku itu dan hanya aku balas anggukan saja. Setelahnya aku keluar dan diikuti olehnya.
Setelah selesai melakukan pertemuan dengan perusahan Utomo, tidak sengaja diperjalanan pulang aku melihat Zania. Disana aku melihatnya bertengkar dengan seseorang yang tidak aku lihat jelas wajahnya seperti apa. Aku pun meminta supirku untuk menghentikan mobil ini dan segera menghampiri Zania. Namun ketika aku ingin menghampirinya Zania dan orang itu sudah tidak ada disana.
"Siapa laki-laki itu?. Dia bukan Devan ataupun Revan?"ucapku menatap tempat dimana Zania dan laki-laki tadi berdiri.
#Rifky Pov' end
***
#Disisi Zania berada...
Zania menatap kesal kearah laki-laki yang saat ini ada disampingnya itu. Bagaimana tidak kesal?. Jika laki-laki itu memaksanya untuk ikut denganya saat ini juga. Sedangkan laki-laki itu bilang mereka akan pergi besok pagi.
"Aku harus kembali kerumah saya terlebih dulu, aku mohon"ucap Zania merasa kesal dengan sikap laki-laki ini.
Laki-laki itu menatap Zania tajam dan setelahnya tersenyum sinis.
"Jangan berani-beraninya kamu kabur dari saya Zania!. Kamu kira saya bodoh!. Jika kamu berani melakukan hal seperti itu, saya akan menghancurkan perusahaan keluargamu maupun perusahaan laki-laki yang kamu cintai itu, bahkan yang lebih parahnya lagi saya akan membuat orang-orang yang membuat adik-adik saya menderita itu akan merasakan hal yang sama yang dirasakan adik laki-laki saya Derren, paham!"ucap laki-laki itu tajam yang tidak lain dan tidak bukan adalah Marcell.
Marcell tidak menyangka jika Zania akan kabur darinya dengan pergi keluar kota. Untung saja orang suruhan Marcell yang dimintanya untuk mengawasi Zania memberitahunya. Jika Zania tidak pulang menuju rumah melainkan pergi menuju stasiun tanpa diketahui oleh supir yang mencari Zania di cafe tempat dia menunggu tadi.
.
.
.
.
.
NEXT ON
__ADS_1