
Diperjalanan pulang Zania memandangi Revan sambil tersenyum sendiri, membuat Revan melihat aneh ke adiknya itu.
"Kenapa kamu itu, senyum-senyum terus. Kesambet setan di cafe tadi jangan bilang."ucap Revan nyeplos sambil fokus menyetir mobilnya.
"ehm ngawor kakak itu. Mana ada setan, yang ada itu kakak. Aku kira kakak akan maksa Riri untuk memutuskan hubungannya dengan Kevin dan memintanya balikan lagi sama Kakak, kayak di film-film gitu. Ternyata Kakak aku orang yang bijaksana, hehehe"ucap Zania tidak hentinya menatap kearah Revan yang mulai risih ditatap oleh Zania.
"Dasar bocah!!!, kamu kira kakakmu ini apa. Lebay amat, Riri itu hanya masa lalu adikku sayang. Dan dia berhak memilih pasangan hidupnya, kenapa harus berlarut-larut dengan masa lalu yang gak pasti. Dan otaknya kamu itu jangan buat mikir hal-hal gak jelas seperti itulah"ucap Revan lagi yang masih dipandangi oleh Zania dan mulai kesal.
"Iya dech, tapi gak janji, hehehe. Kakak punya pacar ya!? makanya bilang gitu. Tapi, tadi kenapa kakak kayak tegang gimana gitu pas ketemu sama Riri. Terus sikap kakak yang bikin orang salah paham. Maksudnya apa coba, atau jangan-jangan jantung kakak masih berdebar setiap kali bertemu Riri ya"ucap Zania menggoda Revan yang mulai kesal.
"Ngomong apa sih ini bocah, gatal telingaku. otak bocah ini konslet sepertinya"ucap Revan menghindari pertanyaan Zania.
Zania menatap Revan selidik. Sampailah mereka dirumah, masih banyak seribu pertanyaan yang ingin dia tanyakan ke Revan. Mereka pun masuk ke rumah dan mendapati Papa dan Mama nya sedang duduk di ruang keluarga.
"Kalian itu dari mana sih?, mama sama papa sampai khawatir"ucap Dewi menghampiri kedua anaknya itu.
"Mama yang khawatir. Bawa-bawa papa, mereka kan sudah dewasa"ucap Beno yang di sewotin oleh Dewi.
"Anterin ini bocah belanja ma. Revan gak tega, ini bocah belanja sendiri"ucap Revan yang langsung duduk disamping Papa nya.
"Mama kira kemana. Kalau begitu sana kalian mandi dulu, habis itu makan. Kalau mau kemana-mana itu pamit, oke."ucap Dewi menatap kearah kedua anaknya itu.
"Iya sana kalian mandi"ucap Beno.
"Sudah makan tadi ma di luar sama Riri dan Kevin"ucap Zania.
"Oalah, seminggu lagi mereka tunangan kan ya"ucap Dewi dan menatap kearah Revan.
"Iya ma"ucap Zania.
"Revan gak apa-apa kan sayang"tanya Dewi khawatir ke anaknya ini dan Beno melirik sekilas kearah Revan.
"Sudahlah ma, Revan itu kan laki-laki stronger."canda Beno dan membuat Revan dan Zania tertawa mendengarnya.
"Bener pa, kak Revan mah Stronger"goda Zania ke Revan yang hanya digelengin kepala.
"Ya sudah, sana kalian mandi"ucap Dewi ke anak-anaknya itu.
__ADS_1
Revan dan Zania pun masuk kekamar mereka masing-masing.
"Pa, mama khawatir sama Revan. Apa gak sebaiknya, Revan kita kenalin ke anak teman papa saja"ucap Dewi ke suminya.
"Papa sih, boleh-boleh saja sayang. Tapi, Papa gak akan maksa Revan untuk menyetujuinya. Mereka sudah dewasa untuk memilih siapa pasangan mereka. dan Papa percaya Revan bukan remaja laki-laki 5 tahun yang lalu. Tapi dia adalah laki-laki dewasa. Papa juga gak ingin mengulang kesalahan papa sebelumnya"ucap Beno ke isterinya. Dia tahu kekhawatiran Dewi atas anaknya itu.
.
.
.
.
.
Rifky masih berkutik dengan laptop didepannya, karena minggu-minggu ini dia sangat sibuk dengan pekerjaan kantor yang semakin bertambah. Pintu ruangnya tiba-tiba diketuk oleh seseorang yang langsung masuk tanpa permisi. Ternyata orang itu adalah sepapu nya yaitu Riri yang membawa sebuah undangan.
Rifky melirik sekilas kearah Riri dan kembali fokus kearah laptopnya. Riri langsung duduk di sofa ruangan itu dan memberikan undangan yang dia pegang.
"Baguslah...sudah move on berarti"ucap Rifky asal dan masih membolak-balikan kertas disampingnya.
"Yaiyalah, emangnya kamu ky, yang masih terbayang-bayang masa lalu. Hidup itu harus ada prinsip dan berani memilih, bukan tidak punya pendirian. Seperti kamu, yang telah menyakiti dua wanita sekaligus. Urusan wanita untukmu itu nol besar deh. stupid man"ucap Riri memainkan handphonenya.
"Stupid girls, urusin saja urusanmu sendiri. Intinya jangan pernah kecewa dengan jalan yang telah kamu pilih. Sudah sana aku lagi sibuk "ucap Rifky.
"Aku tidak akan pernah kecewa"ucap Riri menatap kearah sepupunya itu.
"dan aku harap, kamu bahagia dengan kesendirianmu. Bella dan anakmu kembali ke London meninggalkanmu. Zania akan kembali dengan Devan, dan kamu nikmati kesalahan yang telah kamu perbuat"sindir Riri ke Rifky yang tanpa sadar berdecih.
"Aku akan menikmati kesendirianku saat ini, tanpa harus kamu beritahu Riri. Karena kamu sepupu paling reseh, aku ingatkan demi kebaikanmu dan Kevin, hati-hati dengan Derren. Dia tidak akan melihatmu, aku dan keluarga Erlangga bahagia"ucap Rifky mengingatkan sepupunya itu.
"Aku tahu dia begitu dendam dengan keluarga kita. Tapi apa sebabnya"ucap Riri lagi, mengingat ketika Derren harus pergi ke luar negeri dan putus darinya.
"Keluarga dia bangkrut karena kakek kita mencabut semua investasi di perusahaan ayahnya, kamu pun mengetahui masalah itu juga dan tahu sendiri apa yang terjadi pada Ayahnya. Kamu kan pacarnya waktu SMA pasti tahulah"ucap Rifky mengingatkan.
"Aku tahu. Tapi semua itu kesalahan ayahnya, yang menipu kakek kita"ucap Riri.
__ADS_1
"Sudahlah Ri. Intinya kamu harus hati-hati sama laki-laki itu. dan yang aku tahu Kevin pernah bertemu denganya."ucap Rifky mengingatkan kembali.
"Sudahlah. Aku harus kembali ke Rumah sakit. Ingat datang ke acaraku dan jaga perasaanmu. Karena aku pastikan Zania datang dengan Devan. Jadi aku harap kamu membawa pasanganmu, supaya tidak berlarut-larut dalam masa lalu Rifky Adi Erlangga"ucap Riri tersenyum mengejek ke arah Rifky lalu meninggalkan ruangan itu.
"Dasar Bocil itu, memang tidak pernah berubah"ucap Rifky melihat Riri yang sudah meninggalkan Ruangannya.
Rifky yang mendengarkan ucapan dari Riri membuang nafasnya kasar. Dan kembali berkutik dengan pekerjaannya namun dia tidak bisa konsentrasi.
Rifky pun mengambil handphonenya dan menelphone seseorang. Setelah selesai menelphone dia tersenyum dan kembali berkutik dengan laptopnya.
"Aku pastikan, laki-laki itu tidak menggangu keluarga kita"ucap Rifky menatap layar laptopnya tajam.
Di tempat lain...
Zania sedang berada di rumah sakit dan baru saja selesai melakukan CT scan. Sekarang dia berada di ruangan Devan yang sedang berada diluar ruangan. Zania memainkan handphonenya dan muncul di layar handphonenya berita artikel mengenai keluarga besar Erlangga.
*Rifky Adi Erlangga kembali lagi bercerai
Anak pengusaha Erlangga selalu gagal dalam pernikahan, Apa penyebabnya?
Rifky CEO termuda perusahaan Erlangga belum bisa melupakan isteri pertamanya*
Dan masih banyak artikel yang melampirkan judul-judul yang membuat Zania menyunggingkan senyum tidak sukanya. Zania pun mematikan layar handphonenya dan lebih memilih keluar dari ruangan itu.
Saat dia sedang berjalan untuk berkeliling area rumah sakit betapa terkejutnya Zania melihat dua orang yang dia kenal melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan.
.
.
.
.
.
Next on.....
__ADS_1