
"Mama..."panggil anak itu dan aku tersenyum kearahnya. Dia memeluk dan bermanja padaku.
"Mama... aku ingin mama pulang. Ada seseorang yang sedang menunggu mama"ucap anak itu lagi dan aku menggelengkan kepalaku.
"Mama tahu? ketika mama mengingatku, saat itu aku senang sekali, karena usahaku selama ini tidak sia-sia. dan yang semakin membuatku senang ketika aku bersama mama saat ini. Tapi, aku tahu, mama tidak seharusnya disini, karena mama harus kembali. Ada seseorang yang ingin bertemu mama dan ketika mama kembali kesana, aku berharap, mama maafkan ayah dan wanita itu ya"ucapnya lagi dan aku hanya membalasnya dengan pelukan erat ku.
Aku tidak bisa menahan tangisku, ketika setiap ucapan yang keluar dari mulutnya membuatku bersedih. Bagaimana bisa aku melupakan anakku sendiri?. Aku semakin memperdalam pelukanku padanya dan dia pun mempererat pelukan kami.
"Mama jangan menangis, aku akan selalu ada disini bersama mama"ucapnya lagi sambil menunjuk kearah jantungku.
"Evano...., namamu Eva..no"ucapku, tanpa sadar keluar air dari mataku. Dia menghapusnya dengan telapak tangannya yang kecil itu. Aku semakin menangis dan aku genggam tangan mungil itu.
"Maafkan mama ya sayang"ucapku tak bisa menghentikan air mata ini yang menerobos keluar.
"Namaku Evano,?!, terima kasih mama, telah memberiku nama yang sangat indah"ucapnya tersenyum manis kepadaku.
"Iya sayang, Evano adalah anugerah Tuhan yang sangat indah, yang diberikan Tuhan ke mama. Mama bersyukur, memiliki anak baik sepertimu"ucapku memeluk anakku ini.
"Terima kasih ma, Evano akan mengingatnya selalu, Evano bisa pergi dengan tenang, mama kembalilah"ucapnya tersenyum kearah ku dan membuatku menangis, ketika dia pergi menjauh dariku. Evano, anakku.
***
Beno dengan sabar mengelapi badan anaknya dengan waslap dan tiba-tiba saja air matanya jatuh tepat di jari-jari Zania dan terkejutnya dia ketika dengan refleks tangan Zania bergerak walau sebentar. Di susul dengan air mata yang keluar dari mata Zania.
Beno pun memanggil dokter dengan reaksi yang Zania berikan.
"Bagaimana Van, bagaimana keadaan anak paman"ucap Beno penuh dengan harapan.
"Paman!?, paman tahu sebuah mukzizat itu ada, saya harap Nia akan segera bangun dan menyapa kita, dia sudah memberikan merespon untuk kita" ucap dokter itu yang bernama Devan.
"Paman, mempercayakan ini padamu Van, hanya kamu yang paman percayai saat ini"ucap Beno, Devan terdiam dan berusaha tersenyum ke Beno.
Devan melihat kearah wanita yang dicintai nya itu. Ada rasa bersalah disana.
"Paman pulanglah, biar Devan yang nunggu Nia"ucap Devan.
__ADS_1
"Paman, titip Nia ke kamu ya Van"ucap Beno yang langsung meninggalkan rumah sakit itu.
#Devan Pov'
Aku melihat paman Beno pergi meninggalkan ruangan ini. Aku pun masuk dan melihatnya masih terbaring. Wajahnya begitu tenang dan damai. Aku rindu ketika dia begitu cerewet padaku, karena dia adalah orang yang tidak bisa diam, namun sekarang keadaannya dia terbaring lemah disini. Di bed pasien. Sedih rasanya melihat ini.
Aku mengetahui keadaanya dari Revan. Revan menghubungi saat kejadian buruk itu menimpanya. Saat itu aku berada di London, menempuh jenjang pendidikanku, sudah cukup lama aku disana.
Aku teringat ketika harus meninggalkannya, dia marah padaku dan tidak ingin berbicara denganku selama seminggu. Aku tidak bisa mengingatnya lagi, sangat menyakitkan untukku jika mengingatnya.
Aku genggam tangannya dan aku pandang dia. Aku tidak bisa mengontrol air mataku ini. Hingga dia membalas genggaman tanganku, dan membuka matanya secara perlahan.
#Devan Pov' end
***
"Sayang, mau mama kupasin apel"tanya Dewi keanaknya yang mengagguk akan ucapan Dewi.
"Kamu tahu, mama sangat bersyukur, karena banyak orang yang menyayangimu"ucap Dewi yang tiba-tiba datang Revan dan Beno.
"Ya iyalah.... kalau nggak ada anak jail ini, nggak seru ma, pa, nggak rame jadinya. Badannya gede, kelakuan Kayak anak kecil ini mah, spesies kek Nia jarang"ucap Revan yang langsung di lempari bantal oleh Zania.
"Ih.....ma, pa. Kakak tuh ngomong apaan sih, aw...kepala Nia sakit. Dia siapa ya ma, pa. Mukanya jelek sekali"ucap Zania beracting dan malah membikin kedua orang tuanya tertawa bahagia.
"Mulai lagi dia, amnesia bener syukurin kamu"ucap Riri tiba-tiba nongol bersama Kevin.
"Bener tuh, biar dia amnesia sekalian"ucap Revan ada tatapan mengejek ke Zania.
"Mama....kak Revan jahat....." ucap Zania mulai merengek.
"Sudah deh, kalian itu sudah pada gede juga, masih saja kayak anak kecil. Revan sudahlah, adikmu ini juga baru siuman, jangan di jailin terus"ucap Beno yang mendapat senyum pepsodent dari Revan.
"Nggak usah aneh-aneh lagi, bikin orang khawatir saja sih kamu ningnong"ucap Riri memberikan bingkisan ke Zania terus duduk disamping Nia.
"Iya, nih bocah bikin orang senam jantung emang"ucap Kevin langsung mendapatkan tatapan tajam dari Zania.
__ADS_1
"Bener itu Vin"ucap Riri.
"Kalian kok akur, sudah jadian ya"ucap Zania curiga yang membuat mereka berdua senyum-senyum nggak jelas.
"Kak, beneran mereka.."ucap Zania ke Revan dan setelah mengingat sesuatu, Zania pun terdiam tidak jadi menanyakan hal itu ke kakaknya yang memunculkan aura dinginnya itu. Suasana diruangan itu kembali hening hingga datang seorang laki-laki keruangan inap Zania bersama kakaknya yaitu Revan.
Semua orang melihat kearah Devan dan tersenyum. Sedang Zania menatap tajam kearah laki-laki itu dan di balas senyum oleh Devan.
"Nia, masih ingat Devan bukan,...."ucap Revan ke adiknya itu yang tidak menghiraukannya dan lebih fokus ngobrol dengan Riri.
Beno pun memberi kode ke mereka untuk memberikan ruang Devan dengan Zania. Mereka pun satu persatu keluar dari ruangan itu. Zania merasa kesal karena ditinggal keluar oleh mereka.
"Nia"ucap Devan mendekat ke Zania. Zania mengalihkan pandangannya kearah lainnya. Menghindari tatapan dari Devan untuknya.
"Aku senang kamu siuman, kamu..."ucap Devan terpotong kala Zania menatapnya.
"Buat apa kamu kembali ke sini?, buat apa kamu menemuiku?, setelah kamu meninggalkanku bertahun-tahun? jangan pernah menemuiku lagi Dev, aku tidak ingin melihatmu disini"ucap Zania menatap kearah lain. Saat itu pula mata Zania sudah memerah menahan tangis.
"Apa ini yang kamu maksud sayang, dengan orang yang sedang menunggu mama"ucap Zania pada dirinya sendiri.
"Mana bisa aku pergi dari hadapanmu. Aku mencintaimu Nia, aku tidak ingin meninggalkanmu lagi. Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu, maafkan karena keterlambatanku, hingga membuatmu seperti ini. Berilah aku kesempatan Nia, aku mohon"ucap Devan menggenggam tangan Zania yang masih berpaling dari tatapan Devan.
"Aku dah nggak pantas untukmu Dev, aku nggak pantas, aku sudah pernah bercerai dan mempunyai anak dan ..."ucap Zania terpotong.
"Cukup...aku sudah tahu itu. Aku tahu semuanya. Aku tak memandang semua itu, Nia. Karena nggak ada orang lain yang bisa mengantikan mu Nia. Aku pernah berjanji akan selalu bersamamu dan saat ini aku akan menepatinya. Memulai lagi bersamamu"ucap Devan dan tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengarkan percakpan itu di luar.
***
MUMPUNG LIBUR, GABUT DIRUMAH, LAJU NULIS KALI YA, OH YA JANGAN LUPA,,LIKE, COMENT, DAN VOTE YA
BOLEH DI SHERE JUGA KOK
OH.....TERIMA KASIH JUGA UNTUK PARA GENGS YANG SETIA DENGAN CERITA INIπππ, karena dukungan kalian selama ini adalah semangat bagi saya selaku penulis.
SAYA UCAPKAN TERIMA KASIH SEKALI LAGI YA PARA GENGS......
__ADS_1
NEXT ON .....
DI TUNGGU KELANJUTAN CERITANYA