
#Zania pov'
Selama ini aku mengikuti saran yang selalu diberikan orang tuaku dengan memintaku melakukan konseling hingga terapi.
Aku selalu bertanya-tanya, kenapa aku harus melakukan hal ini, sampai hampir 1 tahun lamanya.
Disatu sisi aku rindu kakakku Revan, dia selalu memberiku semangat, tapi dia harus pergi mengurus perusahan di London. Sedih, itu yang aku rasakan. Aku merasa kak Revan menghindariku, dan Papa Mama menyembunyikan sesuatu dariku.
Aku ingin tahu apa yang mereka sembunyikan dan mereka tidak menyukai kak Rifky. Apakah semua ini berhubungan dengannya. Hingga aku menemukan sebuah kunci di laci meja riasku. Aku tidak ingat memilikinya, karena memang aku jarang membuka laci ini dan aku kenali itu kunci aperteman.
Aku melihat logo disana yang menunjukan apertemen Xx. Aku ingin menanyakan hal ini ke Mama, tapi aku urungkan niatku. Entah mendapat kepikiran apa, aku pun ingin menuju kesana.
Aku dengan diam-diam keluar dari kamarku dan minta kunci mobil ke pak Joko, supir mamaku.
"Kunci mobil pak, cepet, darurat ini"ucapku ke pak Joko.
"Nggak bisa mbak, saya sudah dipesinin sama pak Beno, untuk tidak memberikan mbak Nia mengendarai mobil sendiri"ucap Pak Joko.
"Kalau gitu anterin Nia sekarang, buruan penting soalnya ini" ucap Zania sambil melirik kanan kiri, takut mamanya pulang kerja.
"Tapi saya laporan ke bapak dulu ya mbak, takutnya..."ucap pak Joko yang langsung aku potong.
"Pak Joko tahu, Nia sudah anggap pak Joko sama mbok Ani keluarga sendiri, untuk sekali ini tolong Nia, Nia cuma pingin tahu sesuatu saja, nggak lama kok"ucapku dan aku lihat pak Joko berusaha berfikir sejenak dan pak Joko pun mengantarku menuju alamat yang aku berikan.
"Loh mbak, ini kan, mbak Nia sudah ingat?"tanya pak Joko kepadaku dan membuatku bertanya-tanya dengan maksud ucapannya.
"Ingat apa pak,?"tanyaku yang membuat pak Joko semakin gelisah.
"oh...nggak mbak"ucapnya gugup. Semakin membuatku memiliki banyak pertanyaan.
"Mau kerumah temen saya pak, mau ambil barang, dia tinggal di daerah sini"bohongku yang langsung turun dari mobil.
Aku memasuki tempat itu, yang aku ketahui, Kevin tinggal disini. Dan yang aku pertanyakan kenapa aku memiliki kunci apertemen disini. Aku pun melihat nomer dari kunci itu dan menunjukan lantai 9 dan aku pun langsung menuju ke lantai 9. Sekarang aku berada di depan pintu itu apartemen itu, terlihat jelas disana nomer apertemen yang yang tertera di kunci yang aku miliki.
__ADS_1
Aku pun membuka pintu itu dan terkejutnya aku, pintu itu terbuka sempurna, namun tiba-tiba ada seseorang memegang pundak ku, dan dia adalah...
"Kak...kak Rifky"ucapku kaget melihat kak Rifky di belakangku.
Kak Rifky menatapku dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.
"Kenapa kakak disini?"tanyaku senormal mungkin.
"Pulanglah, papa mu mencarimu, kamu pergi tanpa izin darinya"ucap kak Rifky.
"Kenapa kakak bisa tahu, papa menelpon kakak. Sumpah....aku bukan anak kecil lagi tahu nggak, umurku saja hampir 26th, maaf ya kak, aku gak tahu kenapa papa sensi banget pas bilang aku dianter pulang kakak"ucapku dan melihat raut wajah Rifky yang mulai memejamkan matanya.
"Benar kata papa mu, jangan deket sama aku Nia, jangan sampai kamu menyesal."ucapnya yang membuatku bingung.
"Maksudnya kakak, apa sih. Kalian menyembunyikan sesuatu dariku kan"ucapku namun, kak Rifky mengambil kunci di pintu itu dan menutup kembali pintunya.
"Kunci itu?"ucapku yang melihat kunci itu diambil Rifky.
"Ini apartemenku. Ini kunci lama yang pernah hilang, ternyata ada di kamu"ucap Rifky yang membuka kembali pintu itu dan masuk kedalamnya.
Tapi yang aneh menurutku adalah, aku tidak ingat menemukan kunci itu dijalan atau lainnya. Aku pun kembali kerumah dan mendapatkan amarah papa ku yang memuncak, karena tindakanku. Aku tidak tahu kenapa papa menjadi sangat sensitive setalah aku mengucapkan nama Rifky. dan Papa menjadi protektif padaku.
#Zania Pov' end
***
Dirumah keluarga Pratnoejoe
"Papa akan menjodohkan kamu dengan kenalan papa"ucap Beno membuat Dewi dan Zania kaget dengan ucapan Beno.
"Nggak, Zania nggak mau. Kenapa papa selalu melakukan ini ke Nia, Papa ingin membuat Nia menderita! Ma...."ucap Zania memohon ke Dewi.
"Cukup pa, papa nggak mau mengulang masa lalu itu lagi bukan!!!, biarkan Nia memilih pasangannya sendiri dan menangani traumanya"ucap Dewi.
__ADS_1
"Nia, ke kamar ya"ucap Dewi dan Zania pun ke kamarnya.
"Jika papa belajar dari kesalahan papa yang sebelumnya, seharusnya jangan melakukan hal itu lagi. Papa tahu, Nia begini juga semua gara-gara papa!"ucap Dewi ke Beno,
"Kamu tahu, tadi Nia kemana?, dia ke apartemen laki-laki itu dan kenapa kamu tidak membuang kunci itu, Dewi!!!"ucap Beno yang di dengar oleh Zania.
"Semua orang membohongiku. Kenapa kak Rifky juga berbohong padaku"ucap Zania mendengarkan perdebatan kedua orang tuanya dengan mata memerah.
***
Hampir seminggu Zania cuti bekerja, karena Beno yang minta izin ke Rumah sakit tempat Zania bekerja. dan setiap hari mama papa nya selalu berdebat, hingga Zania mulai tertekan dengan semua itu.
Zania pun pergi tanpa ikut sarapan dengan mereka dan mengendarai mobilnya dengan melaju cukup kencang. Zania mengetahui salah satu kenyataan yang dia ketahui tadi pagi. Sebuah kenyataan yang mungkin membuatnya semakin merasa sebagai seorang pengecut. Benar! Dia melupakan sesuatu yang tidak seharusnya dia lupa. Zania mengetahui pertengkaran yang terjadi tadi pagi adalah mengenai dirinya. Namun, orang tuanya menyangkal nya dan membuat Zania semakin dilanda rasa bersalah.
"Kenapa aku harus melupakan semua itu. Betapa buruknya aku melupakan mereka!!!, Semua ini salahku, aku yang bodoh dengan gampangnya melupakanmu sayang, maafkan aku, maafkan aku" ucap Zania merasa tertekan dengan keadaan yang selama ini dia alami. Tanpa dia sadari ada sebuah mobil truk melintas dan bruk....mobil Zania menabrak mobil truk itu.
Zania di rawat hampir 1 bulan di rumah sakit, Revan pun kembali ke Indonesia ketika mengetahui keadaan adiknya.
Revan melihat keadaan adiknya yang dipenuhi alat untuk membantunya bernafas. Sungguh menyakitkan untuknya melihat hal itu.
"Maafkan kakakmu yang bodoh ini dek.....maafkan kakak dek,....maafkan kakak...."ucap Revan menangis disamping adiknya yang tertidur cukup lama itu.
"Tenang saja, Nia akan baik-baik saja, aku tahu dia kuat. Seharusnya kamu nyemangati dia, bukan nangis di hadapannya"ucap seseorang yang menghampiri Revan. Reven pun menoleh dan menyetujui ucapan orang tersebut.
"Ya udah, kamu pulang saja, biar aku yang jaga Nia"ucap orang tersebut lagi.
"Tolong jaga adik aku"ucap Revan menepuk pundak orang tersebut yang ternyata seorang laki-laki.
"Hem...pasti aku jagain"ucapnya menatap wajah Zania yang damai ketika tertidur cukup lama.
Revan pun pulang dan laki-laki itu menatap wajah Zania dengan bersedih.
"Andai aku tidak terlambat, mungkin kamu nggak akan seperti ini, sayang"ucapnya.
__ADS_1
The Next On .....