
Kita perlu bertemu!, Sekarang_ Zania
Seseorang yang melihat notif dari ponselnya itu pun menyunggingkan senyum kemenangannya.
"Selamat datang kembali ke duniaku, Zania"ucap seseorang itu yang tidak lain adalah Marcell.
***
Zania buru-buru keluar dari rumah tanpa dia sadari jika ada Revan didepannya. Revan pun langsung menegur adiknya itu.
"Mau kemana!?"tanya Revan dan Zania pun langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kearah kakaknya yang menatapnya bingung.
"Ada yang mau Nia beli. Nia diantar sama pak Joko kok" jawab Zania yang langsung pamit ke Revan.
"Hati-hati, pulangnya jangan malam-malam."ucap Revan ke Zania.
"Nia merasa anak kecil kalau diperhatikan kayak begini tahu gak kak, kayak lupa sama umur, hehehe"ucap Zania lagi yang langsung pamit ke kakaknya itu.
"Pergi dulu kak"ucap Zania lagi yang mendapatkan anggukan dari Revan yang menatap kepergian adiknya.
"Karena kakak gak mau kamu terluka. Cukup kesalahan kakak waktu itu"ucap Revan menatap sendu Zania yang sudah keluar dari halaman rumah.
***
Zania kadang merasa lucu dengan dirinya sendiri, karena merasa seperti anak kecil ketika dihadapan keluarganya padahal dia sudah berumur 26 tahun dan statusnya pernah menikah dan memiliki anak. Tapi dia tahu kenapa bisa seperti itu?. Ketakutan dan kekhawatiran keluarganyalah yang menyebabkan dia menjadi seperti ini. Dan dia menerimanya dengan lapang dada.
"Nia tidak akan terluka lagi kak, Nia janji"ucap Zania yang langsung masuk kedalam mobil dan pak Joko pun mengantarkannya ditempat tujuannya.
***
Sampailah Zania di tempat tujuannya. Dia melihat di cafe itu belum ada bentuk wujud laki-laki yang beberapa saat lalu dikiriminya pesan. Zania pun langsung duduk ditempat paling dekat dengan jendela kaca yang menampilkan pemandangan malam hari yang diterangi oleh lampu-lampu diluar sana.
Hampir satu jam Zania menunggu disana, tapi laki-laki itu belum muncul juga. Zania mengepalkan tangannya erat dan bangkit dari duduknya itu. Ketika akan melangkahkan kakinya keluar, laki-laki itu berada didepannya dengan senyuman khas dirinya. Zania mengepalkan tangannya erat dan laki-laki itu menaikan salah satu alisnya ketika melihat ekspresi Zania. Zania merasa kesal akan semua itu.
__ADS_1
"Where are you going?"ucapnya yang langsung berjalan menuju tempat duduk yang tadi Zania tempati.
"Lagi ngomong sama angin kali dia. Bicara sambil berlalu, gila"ucap Zania lirih.
Zania menghela nafasnya kasar dan berbalik kembali ketempat duduknya semula.
"Apa yang ingin kamu katakan?. Selagi saya berbaik hati memberikan waktu untuk seseorang yang telah menampar saya"ucapnya yang tidak lain adalah Marcell. Sambil duduk dengan angkuhnya disana memandang Zania rendah. Satu kata yang sebenarnya ingin Zania lontarkan, sialan.
"Karena kamu pantas mendapatkan tamparan itu tuan Marcell yang terhormat"jawab Zania menatap dingin kearah Marcell yang masih saja tersenyum. Sungguh memuakan.
"Apa itu yang ingin anda katakan kepada saya, diluar perkiraan saya ternyata"ucap Marcell lagi yang membuat Zania semakin jengah dengan laki-laki itu.
"Laki-laki sepertimu, kenapa bisa memimpin M_Company?. Perusahan besar seperti itu tidak layak memiliki pemimpin yang labil sepertimu"ucap Zania yang langsung to the point.
Marcell pun terkekeh mendengarkan ucapan spontan dari wanita yang ada didepannya ini.
"Kenapa?. Buat apa kamu mempedulikan perusahaan saya?. Oh iya, maaf atau perusahan keluargamu"ucapnya menatap Zania sinis.
Orang-orang disana menganggap itu hanya pertengkaran sepasang kekasih dan mereka kembali keaktivitas masing-masing. Sedangkan Zania menatap Marcell sengit dan senyuman menyebalkan itu membuat Zania merasa muak berhadapan dengan Marcell.
"Pelankan suaramu sayang. Mereka kira kita pasangan kekasih yang sedang bertengkar"ucap Marcell menggoda Zania yang semakin kesal dibuatnya.
Marcell pun kembali ke pembicaraan sebelumnya karena tidak adanya respon dari Zania. Marcell pun menjadi lebih serius dari sebelumnya.
"Bukanya saya pernah bilang ke kamu, saya tidak pernah main-main dengan perkataan saya"ucap Marcell yang masih duduk dengan santainya.
"Hem... aku berfikir kamu memang laki-laki gila, Marcell"ucap Zania menatap sengit laki-laki didepannya itu.
"Sesuka kamu menyebut saya apa. Karena saya sangat suka melihatmu seperti ini. Mungkin saya bisa meringankan beban dari keluargamu, jika kamu ikut dengan saya. Bukan hanya keluargamu saja, mungkin perusahan Erlangga maupun dokter itu. Lebih tepatnya orang-orang yang menyayangimu itu akan hidup tenang"ucap Marcell dengan santainya.
"Ikut denganmu, kamu gila!. Untuk apa aku ikut denganmu, oh...jangan bilang kamu menyukaiku selama ini makanya kamu mencari perhatianku"ucap Zania yang langsung merutuki apa yang baru saja terucap itu.
"Kenapa aku bicara begitu sih" ucap Zania dalam hati.
__ADS_1
Marcell pun langsung tertawa mendengar ucapan dari Zania itu. Ingin sekali Zania memukulnya.
"Ternyata fikiranmu sempit sekali. Kamu percaya diri sekali untuk berbicara seperti itu, Zania. Satu hal yang perlu kamu tahu, dengan hilangnya kamu dari sisi mereka, itu adalah kesenangan sebenarnya yang ingin saya lihat. Bukannya kamu tidak ingin perusahaan maupun karir mereka hancur bukan, pilihlah salah satu dari itu" ucap Marcel dengan menaikan salah satu alisnya dan tidak ketinggalan senyum menyebalkan itu.
"Karena kamulah sumber kebahagian mereka dan aku akan mengambil itu dari mereka. Setelah apa yang telah mereka perbuat ke adik-adikku"ucap Marcell dalam hati dan mentap Zania sinis.
***
Zania selalu mengingat perkataan laki-laki itu semalam. Dia tahu ucapan dari laki-laki itu adalah telak. Karena Marcell tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.
Saham perusahaan papanya pun mengalami penurunan karena gagalnya proyek besar itu. Berita batalnya kerjasama antar perusahan papanya dan M_company menyebar cepat hingga terdengar kepada para pemegang saham diperusahan Pratnojoe. Karena ini adalah proyek besar. Memang perusahan Pratnojeo adalah perusahan ternama dinegaranya apalagi mengenai bidang Property sangatlah terkenal. Tapi apalah dayanya jika dengan M_company perusahan terbesar didunia. Menjalin kerjasama dengan perusahan itu adalah keuntungan besar bagi perusahan papanya itu dan dapat mengait orang-orang supaya lebih tertarik dengan rancangan perusahan keluarganya itu.
"Aku setuju, tapi dengan syarat jangan menggangu mereka dan jangan membatalkan kerja sama itu" ucap Zania melalui sambungan telphone.
Marcell yang menatap layar handphonenya pun tersenyum senang karenanya. Rencananya akhirnya berhasil.
"Oke, besok kamu ikut saya ke Swiss. Kamu harus merawat Jesicca hingga sembuh dan intinya tidak ada yang boleh tahu akan keberadaanmu yang bersama saya" jawab Marcell.
"Oke" jawab Zania dan pembicaraan itu pun berakhir setelahnya.
"Kamu akan menyesal dengan memilih ini Zania"ucap Marcell tersenyum memandang ponselnya itu.
.
.
.
.
.
NEXT ON
__ADS_1