
"Dev, berhentilah mengikutiku!" tegur Zania yang mulai risih karena Devan selalu mengikutinya.
Saat ini Zania sudah pulih dari sakitnya dan di perbolehkan pulang oleh pihak Rumah sakit. Tapi masih dalam masa pemulihan dan pengawasan.
"Kenapa Ni, aku khawatir sama kamu biarkan aku mengikutimu" jawab Devan dengan raut wajah khawatir kepada Zania.
"Tapi aku gak nyaman Dev. Jadi please berhentilah mengikutiku. Aku baik-baik saja" ucap Zania kesal dan malah ditatap jahil oleh Devan. Hal itu semakin membuat Zania kesal.
"Masalahnya, aku ingin mengikuti dimana pun kamu berada. Terus gimana dong"ucap Devan tersenyum jahil.
"Terserah kamu lah!. Capek bicara sama batu berjalan"ucap Zania mengabaikan Devan yang masih mengikutinya.
"Kok batu sih?"ucap Devan yang berjalan disamping Zania.
"Iya batu lah, di kasih masukan gak mau denger"ucap Zania kesal yang malah semakin membuat Devan semangat 45.
"Kalau begitu, aku antar ya?"ucap Devan lagi dan mendapatkan tatapan cetus dari Zania.
"Dev.....!!!"ucap Zania memelas, supaya Devan tidak mengikutinya. Tapi tetap saja, Devan tidak mendengarkan perkataan Zania. Zania pun diantarkan oleh Devan.
***
"Mau ditemenin apa nggak?"tanya Devan setelah sampai di tempat tujuan mereka.
"Nggak perlu, biar aku sendiri saja. Kamu jaga mobil, takut mobil kamu nanti dicuri orang"celetuk Zania yang langsung keluar dengan membawa setangkai bunga.
"hmm baiklah, nurut saja takut dikatain batu sama sayang aku"ucap Devan menggoda Zania lagi. Tapi malah diabaikan oleh Zania.
Zania berjalan melangkah ketempat itu dan yang pertama dia lihat, adanya seorang laki-laki yang menggunakan kemeja hitam sedang berada disana dan membersihkan daun-daun dan rumput liar yang berada di gundukan tanah itu.
Zania menghampiri laki-laki itu yang juga terkejut akan kedatangan Zania. Zania yang melihat wajah laki-laki itu ada rasa rindu disana, tapi terselip benci yang juga mendomisi.
Zania meletakan bunga itu tepat diatas gundukan tanah yang telah dibersihkan oleh laki-laki itu. Laki-laki itu menatap Zania dalam dan Zania bisa merasakannya.
"Evano... Mama datang, sayang. Kamu pasti merindukan mama bukan?, Mama juga merindukanmu sayang? Mama tidak akan melupakan Evano lagi. Mama janji tidak akan pernah melakukan hal seperti itu lagi sayang"ucap Zania yang masih ditatap oleh laki-laki itu.
"Ayah pun tidak akan pernah melupakan Evano. Anak Ayah yang ayah sayangi"ucap laki-laki itu yang di tatap tajam oleh Zania.
Zania menghela nafasnya, mencoba mengatur emosinya saat ini. Dia mencoba tersenyum kearah tempat peristerahatan terakhir anaknya itu.
***
"Saya ikut bahagia atas kepulihanmu"ucap Rifky yang masih berdiri didepan makam Evano. Zania hanya menyunggingkan senyumnya.
"dan sepertinya, Devan kembali ke Indonesia untuk menepati janjinya padamu?"ucap Rifky lagi dan tidak ada jawaban dari mulut Zania yang hanya terdiam.
"Saya do'a kan kalian akan bahagia bersama"ucap Rifky lagi dan Zania tersenyum sinis dan menjawab pertanyaan terakhir dari Rifky.
"Terima kasih. Saya harap kamu juga bahagia dengan Bella dan Azka anak kalian"ucap Zania.
__ADS_1
"Hem..."jawab Rifky tidak ada jawaban lain disana.
"Semoga kalian menjadi keluarga yang harmonis, tidak seperti nasib saya dan anak saya"ucap Zania lagi yang tidak mendapat balasan dari Rifky yang terdiam.
Mereka pun terdiam setelah pembicaraan itu. Hanyalah keheningan yang dirasakan dan kecanggungan keduanya.
"Kalau begitu, saya permisi duluan?"ucap Zania ke Rifky.
"Evano, Mama pulang ya!!" ucap Zania lagi melihat kearah gundukan tempat peristerahatan terakhir anak nya itu.
"Kamu pulang sama siapa? biar saya antar kamu pulang"ucap Rifky menawarkan diri.
"Terima kasih atas tawarannya, tapi Devan menunggu saya di mobil. Kalau begitu saya permisi"ucap Zania mencoba tersenyum.
Rifky melihat Zania memasuki mobil itu yang disambut senyum oleh Devan. Ada rasa cemburu pada dirinya, tapi segara nya tepis rasa cemburu itu.
Rifky pun masuk kedalam mobilnya dan mengendarainya keluar dari tempat pemakaman itu. Zania yang melihat mobil Rifky keluar duluan merasa ada suatu perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Devan yang melihat raut wajah Zania seperti itu pun hanya diam. Mereka pun pulang.
"Rifky tadi disana?"tanya Devan yang masih dalam keadaan menyetir.
"Hem.."jawab Zania yang fokus menatap layar handphonenya.
"Bagaimana keadaannya sekarang?"tanya Devan lagi.
"Kelihatannya baik-baik saja"jawab Zania yang langsung menatap ke depan.
"Kamu tidak ingin bertanya, kenapa mereka bercerai?"tanya Devan memancing Zania untuk bertanya.
"Untuk apa? aku tidak ada kepentingan untuk mengurusi kehidupan orang lain"jawab Zania membuat Devan meringis mendengarnya.
"Karena Bella tidak ingin mengikat laki-laki yang tidak mencintainya lagi" ucap Devan yang tidak mendapatkan jawaban dari pernyataannya itu.
"Kak Rifky jago dalam perceraian, aku tidak heran akan semua itu. dan alasan yang Bella ambil terlalu klasik, mereka tidak memikirkan nasib anak mereka, sungguh miris"ucap Zania yang akhirnya membuka suaranya.
"Hem..."ucap Devan kembali fokus dengan menyetir.
"Kamu dulu yang mulai, bukan aku. Bisa minta tolong anterin aku ke Rumah sakit?"ucap Zania meminta tolong ke Devan
"Untuk!?, jangan bilang kamu mau mengajukan untuk kembali bekerja? kamu belum pulih Nia!!?"ucap Devan lagi.
"Dev? aku itu harus menemui Riri?, dia minta aku menemani dia beli baju buat pertunangan dia dengan Kevin"ucap Zania tersenyum membayangkan kedua sahabatnya itu akhirnya mengakhiri masa lajangnya.
"Kenapa harus sama kamu?, kenapa gak sama Kevin saja. Kan mereka yang mau tunangan?, Aku gak mau kamu capek, sayang. Kamu masih dalam pemulihan"ucap Devan dan membuat dahi Zania berkerut mendengar Devan memanggilnya sayang.
"Sayang sayang, lancar bener nyebutnya"ejek Zania.
"Kan emang kamu sayangnya aku"goda Devan ke Zania.
"Cukup deh Dev, pingin muntah deh aku dengernya"ucap Zania yang malah membuat Devan ketawa mendengarnya.
__ADS_1
"Muntah karena sayang tapi kan?"goda Devan lagi.
"Devan!!!"ucap Zania malu di godain Devan terus.
"Hahaha, oke oke, langsung ke Rumah sakit nih"ucap Devan yang dibalas deheman oleh Zania.
Devan bahagia karena wanita yang dicintainya itu bisa tersenyum lagi. Ada rasa menyesal di hatinya dan rasa bersalah yang mendalam.
"Kalau mau pulang, jangan lupa telpon ya. Biar aku jemput"ucap Devan ketika Zania ingin turun dari mobil.
"Ngapain di jemput segala. Aku pulang sama Riri sekalian"ucap Zania membuka pintu mobil tapi tertahan oleh Devan.
"Oke. Tapi tetep kabarin aku, kalau sudah pulang ya"ucap Devan memandang wajah wanita yang di cintai nya itu.
"Iya babang tampan"ucap Zania menggoda Devan.
"Sudah dari lahir sih tampan, gak heran kalau sering di puji"bangga Devan ke dirinya sendiri.
"Ish ... mulai deh sombongnya,"ucap Zania.
"Kan sayangku yang muji tadi"goda Devan ke Zania.
"Aih...sudahlah mulai lebay tahu gak"ucap Zania dan Devan tersenyum.
"Kiss dulu kalau begitu"goda Devan menunjuk ke pipinya dan Zania yang melihatnya mengerutkan keningnya.
"Apaan sih Dev, mulai ganjen tahu g...ak"ucap Zania yang kaget di cium pipinya oleh Devan.
"Devan...!!!"rengek Zania atas kelakukan Devan padanya.
"Upah untuk tadi!"goda Devan lagi tersenyum jail ke Zania.
"Awas saja kalau melakukan hal kaya gini lagi. Habis kamu sama aku"ucap Zania yang hanya disenyumin oleh Devan.
"Hati-hati sayang"goda Devan lagi ke Zania.
"Bodo amat, sana pergi"ucap Zania yang meninggalkan Devan.
Devan pun meninggalakan halaman Rumah sakit itu.
"Sumpah itu orang kesambet apa sih, jadi ganjen gini. Reseh amat. Awas saja dia tunggu pembalasanku. Devan kurang ajar!!!"ucap Zania berjalan kesal menuju ke ruangan Riri.
Jangan lupa like, coment, vote dan cek cerita author "Menjaga hati" RECOMENDED banget, seru juga ceritanya gengs.
Oh ya Terima kasih untuk para Gengs yang setia sama cerita Novel Author...💛💛💛💛💛
Di tunggu kelanjutan cerita selanjutnya ya....
SEE YOU NEXT ON....
__ADS_1