
Aku melihat ekspresi dari dua pasangan manusia yang dijodohkan itu. Kak Revan memasang wajah datarnya disana sedangkan Gladis hanya terdiam tapi terlihat jelas bahwa dia menyimpan beribu banyak pertanyaan.
###
Setelah perjodohan itu Gladis tinggal dirumahku. Aku melihat gadis itu anak yang baik dan akan menjadi kakak ipar ku. Kak Revan begitu dingin dengannya. Aku merasa marah dengan kak Revan karena terlalu cuek dan dingin kepada gadis lugu seperti Gladis.
"hai, gimana kuliahmu"tanyaku ke Gladis yang tersenyum ramah padaku.
"fine² saja kk"ucapnya
"jangan panggil kak dong, panggil nama saja"ucapku tersenyum kearahnya.
"iya Kak, eh maksudnya Nia"ucapnya sedikit canggung.
"kamu jangan ambil pusing dengan sikap kak Revan ya dis, emang dia itu seperti itu"ucapku kepadanya. Dia hanya tersenyum kepadaku.
Aku melihat kak Revan baru saja pulang dari kantornya dan masuk ke rumah. Aku pun memanggilnya dan meminta kakakku untuk menghampiriku dan Gladis yang masih fokus dengan laptopnya. Aku melihat Gladis yang langsung berhenti mengerjakan tugas kuliahnya itu dan melihat kearah kak Revan yang menghampiri kami.
"kak aku mau berangkat kerja nih, soalnya dapat sif sore. Bisa minta tolong bantu Gladis kerjain tugas kuliahnya gak. Soalnya aku gak bisa membantunya"ucapku sontak membuat Gladis menatapku terkejut. Aku pun tersenyum kearah Gladis yang bingung sedangkan kak Revan hanya diam saja. Aku pun langsung pamit dan meninggalkan mereka.
Aku berangkat kerja dan diantarkan oleh supirku karena Devan sangat sibuk belakangan ini dan aku tidak diperbolehkan menyetir oleh orang tuaku karena kejadian itu.
Aku tersenyum mengingat kelakuanku yang aku perbuat kepada kak Revan dan Gladis. Aku percaya gadis kecil itu bisa membuat kak Revan melupakan Riri. Aku sangat yakin akan hal itu.
"mbak Nia lagi seneng banget sepertinya"ucap pak Joko padaku.
__ADS_1
"menurut pak Joko, Gladis itu anak baik bukan"tanyaku.
"iya mbak. Menurut saya mbak Gladis gadis yang baik dan tidak seperti anak muda sekarang yang suka keluyuran"ucap pak Joko. Aku pun menganggukan kepalaku.
.
.
.
.
.
"Mau pulang bos"sapaku ke Riri yang langsung menoleh dan menghampiriku.
"iya dong, gantian kamu yang kerja"ejek Riri padaku.
"hahaha iya deh"ucapku padanya.
"gak diantar Devan lagi nih, tumbn tuh orang. Mau hilang lagi apa"ucap Riri padaku.
"ya biarin saja sih Ri. Dia punya banyak urusan tahu ri. Gak dijemput Kevin"tanyaku ke Riri dan Riri langsung menunjuk ke sebuah mobil yang menghampiri kami. Benar saja itu adalah Kevin.
"pak Kevin gak kerja nih"ejekku ke Kevin yang malah gelengin kepalanya itu.
__ADS_1
"nganterin sayang aku dulu dong"ucapnya yang membuatku dan Riri tertawa.
"iya deh, iya. Jaga sayangnya ya, hati-hati nyetir nya"ejekku ketika Riri masuk kedalam mobil itu.
"pulang ya Ni"ucap Riri
"aku ijin sebentar ya Bu dok"ucap Kevin yang membuatku geleng kepala saja.
Mobil Kevin dan Riri pun meninggalkan halaman rumah sakit dan ku pun langsung masuk ke ruangan ku. Terkejutnya aku melihat ada Rifky disana yang baru saja keluar dari kamar pasien. Aku pun ingin menyapanya tapi dia sangat tergesa-gesa.
"siapa yang di rawat, aku baru tahu. Apa pasien baru"ucapku bertanya-tanya.
Aku pun memastikan siapa yang dirawat disana dan itu adalah seorang wanita dan wajahnya tidak asing bagiku, mirip seseorang yang aku kenal.
.
.
.
.
.
NEXT ON
__ADS_1