Harus Memilih

Harus Memilih
Rahasia I


__ADS_3

Aku masih mengingat perkataan Rifky semalam dan aku merasa bodoh yang hanya diam dan cepat-cepat keluar dari mobilnya itu.


Aku pun keluar dari kamarku dan hari ini aku libur kerja. Aku lihat Gladis sudah siap-siap untuk berangkat kuliah.


"kuliah pagi ya"tanyaku kepadanya dan disambut senyuman olehnya.


"iya kak Nia, eh maksud aku Nia"ucapnya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu. Aku pun merasa lucu dengan sikap di lucu dari calon ipar ku itu.


"pelan-pelan saja, santai. Oh iya, berangkatnya bareng kak Revan saja, aku denger sih dia harus ke kantor pagi-pagi gini. Ada urusan katanya"ucapku lagi dan aku melihat ekspresi wajahnya yang malah cemas, takut, dan sulit diartikan pokoknya.


"kenapa?, apa kemarin kak Revan macam-macam sama kamu dia"tanyaku lagi yang dibalas gelengan kepala olehnya.


"sarapan dulu deh, takut gak fokus nanti kamu"ucapku lagi dan dia denganku langsung menuju ke ruang makan dan melihat mama dan Bi Ani sedang menyiapkan makanan.


"Mama, maafin Nia ya ma, gak bantuin Mama sama Bu Ani di dapur"ucapku sambil memeluk mama dari belakang. Mama yang merasa risih dengan tingkah manjaku menyuruhku kembali ke meja makan.


"Sudah sana temani Gladis, dek"ucap Mama padaku.


"Gladis sarapan dulu nak, nanti biar diantar sama Revan. Tunggu sebentar lagi dia turun"ucap mama lagi yang membuatku tersenyum entah kenapa. Gladis hanya tersenyum ragu mendengarkan ucapan mama. Aku pun langsung duduk disampingnya.


Zania Pov' End


Revan baru saja keluar dari kamarnya dan berpakaian rapi. Dia pun melewati ruang makan yang disana sudah ada Gladis, Zania dan Dewi mama nya. Dewi pun sontak memanggil Revan untuk bergabung.

__ADS_1


"sarapan dulu Van, jangan asal nyelonong pergi gitu"ucap Dewi keanaknya itu yang sangat malas sekali berada satu ruangan dengan gadis kecil yang merusak harinya itu.


Revan pun berjalan kearah ruang makan.


"Revan telat ma, ini ada rapat dengan investor untuk proyek perusahan"ucap Revan yang mendapatkan dengusan dari Dewi.


"kalau gitu makan roti bakar saja ya, kan gak lama. Mama gak mau kamu pergi dari rumah dalam keadaan perut kosong. Pokokny perutmu itu harus keisi makanan atau minum susu saja, nih"ucap Dewi memberikan susu digelas untuk Revan. Revan melihat kearah orang yang memberikan ketawa kecil itu kepadanya. Dia menatap kearah Gladis dengan tajam dan Gladis pun menundukan kepalanya.


"Mama, Revan itu bukan anak kecil lagi. "ucap Revan Jengah yang malah mendapatkan Bullyan dari Zania yang sedari tadi melihat gerak gerik dari kakaknya itu.


"bilang saja malu. Soalnya disini ada calon isteri, bisanya saja rebutuan perhatian mama sama aku"ucap Zania mengejek ke Revan yang langsung melihat kearah Zania yang cekikikan melihat raut wajah kakaknya itu.


"Revan pamit ma, males pagi-pagi debat sama bocah cilik ini"ucap Revan yang langsung pergi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


"bagaimana bisa kalian tidak menemukan perempuan itu, hah!!!"bentak laki-laki itu yang merasa frustasi.


"sebenarnya kami menemukannya bos, dan dia berada di RS. tempat bos kerja"ucap salah satu bawahan laki-laki itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Devan.


"dan yang menjadi penanggung jawabnya itu ternyata tuan Rifky bos. Apa jangan-jangan Tuan Rifky tahu semua yang telah terjadi bos"ucapnya lagi dan membuat Devan mencengkram rambutnya semakin frustasi.


"Rifky...lu terlalu ikut campur dengan urusanku. Aku akan menemui dia"ucap Devan yang langsung pergi meninggalkan tempat dimana Jesica di tahan olehnya.


.


.


.


.


.


SEE YOU NEXT TIME


JANGAN LUPA UNTUK LIKE, COMMENT, VOTE AND RATE


DAN JANGAN LUPA UNTUK CHECK CERITA AUTHOR "menjaga hati"💛💛💛

__ADS_1


__ADS_2