Harus Memilih

Harus Memilih
Seoson 2|Part 9| Problematika II


__ADS_3

"Jangan berani-beraninya kamu kabur dari saya Zania!. Kamu kira saya bodoh!. Jika kamu berani melakukan hal seperti itu, saya akan menghancurkan perusahaan keluargamu maupun perusahaan laki-laki yang kamu cintai itu!"ucap Marcell yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Zania.


"Kenapa!!!. Kenapa kamu melakukan semua ini padaku, Marcell?!"terisk Zania dengan menghentakkan tangan Marcell dengan keras yang sedang menggenggam tangan Zania hingga terlepas.


"Kenapa?. Karena saya ingin tahu seberapa berharganya kamu bagi mereka dan lebih penting saya senang melihatmu seperti ini"jawab Marcell yang langsung membawa Zania pergi dari tempat itu.


***


#Di rumah keluarga Pratnojoe...


Semua keluarga sudah berkumpul diruang makan untuk menyantap makan malam mereka. Tapi tunggu dulu, seperti ada yang kurang. Zania tidak ada diantara mereka. Revan pun mencoba menghubungi adiknya itu dan nomer yang dituju pun tidak aktif, membuat Dewi, ibu mereka merasa cemas. dengan anak bungsunya itu.


"Adikmu dimana Van, kenapa sudah jam makan malam belum pulang ya?. Padahal dia janji akan pulang gak telat loh tadi sama mama iyakan, Gladis"tanya Dewi berturut-turut dan dicoba ditenangkan oleh Gladis yang tepat duduk berada disamping Dewi.


"Gak aktif ma nomer Nia. Pergi tadi sama pak Joko kan?"tanya Revan yang mendapatkan balasan mata Gladis.


"Kalau gak aktif nomornya, coba kak Revan telphon pak Joko kak. Soalnya pak Joko belum pulang juga kan"ucap Gladis ke tunangannya itu.


Revan pun langsung menelphon pak Joko supir yang siap antar jemput Zania dan akhirnya diangkat juga.


"Hallo pak, ini sudah jam berapa kenapa belum pulang dan Zania dimana?"tanya Revan melalui sambungan telponnya itu.


"Mohon maaf tuan, tadi saya meninggalkan mba Nia di cafe karena mau bertemu temannya pas saya balik lagi mbak Nia nya gak ada tuan. Ini saya lagi muter-muter cari bak Nia tuan. Maaf sekali lagi tuan"ucap pak Joko takut dimarahi oleh Revan karena kehilangan Zania atau lebih tepatnya Zania yang meninggalkan pak Joko ke stasiun.


"Bagaimana bisa pak, coba bapak cari Nia di tempat Riri atau di rumah sakit!"ucap Revan yang langsung mengakhiri sambungannya itu.


Sontak hal tersebut membuat Dewi langsung berfikir macam-macam mengenai anaknya itu. Banyak sekali keanehan yang dilakukan oleh Zania hari ini dan membuat Dewi sangat khawatir. Dewi pun langsung berlari menuju kekamar Zania dan disusul oleh Gladis. Sedangkan Revan mendapatkan tatapan tajam dari Beno.


"Cari adik kamu sampai ketemu, paham!!"ucap Beno yang langsung menyusul kearah kamar Zania dan melihat Dewi menangis histeris setelahnya dan sampai terdengar dibawah membuat Revan langsung berlari menuju kekamar adiknya itu.


"Kenapa kamu ninggalin mama lagi Nia, kamu mau kemana lagi nak..."ucap Dewi tak berhenti menangis dalam pelukan Gladis yang memegang sebuah surat yang ditinggalkan Zania diatas kamarnya yang bertulisan.

__ADS_1


*Mama, papa


Maafkan Nia pergi begini lagi, hehehe. Nia cuma ingin liburan saja kok, Nia cuma ingin jauh dari suasana kota untuk sementara ini. Jadi harap mama dan papa tidak mencari Nia. Jika Nia lama gak kembali pulang ya. Nia bakal pulang kalau Nia udah merasa cukup berlibur, love you mama papa...


Dear


Zania


Beno pun mengambil paksa kertas itu dan membacanya. Setelah itu dia meremas kertas itu kasar dan membuangnya dengan mudah.


"Revan!. Cepat suruh orang cek seluruh penerbangan dimana pun dan cari adikmu itu, sekarang"perintah Beno dengan matanya yang memerah.


Revan pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang disebrang sana untuk mengecek semua jadwal penerbangan, apakah ada nama adiknya disana.


"Aku gak mau Nia menghilang lagi seperti dulu pa, mama gak mau. Pasti ini ada masalah yang dia sembunyikan, papa harus menemukan Nia pa, papa harus menemukan anak kita pa"ucap Dewi merasa frustasi dengan keadaanya saat ini dan Gladis masih setia menenangkan Dewi yang menangis sejadi-jadinya itu.


"Papa janji bakal menemukan Nia, ma. Jadi mama tenanglah"ucap Beno mencoba meyakinkan isterinya itu.


"Tenang, papa kira mama bisa setenang papa. Apa papa lupa dengan kejadian waktu itu?. Nia tidak bakal melakukan hal seperti ini jika ini bukan masalah besar baginya. Pasti ada sebuah masalah besar yang dia tanggung sendiri pa, anak kita merasa sakit sendiri lagi. Mama merasa tidak berguna menjadi orang tua"ucap Dewi tidak bisa menghentikan tangisannya itu.


***


"Kamu memaksaku, ikut denganmu saat ini dan telah mempersiapkan semua ini. Kamu telah merencanakan hal ini jauh hari bukan?"tanya Zania yang sekarang berdiri didepan Marcell yang menikmati minumannya didalam pesawat pribadi itu.


Sekarang Zania memang sedang berada didalam pesawat bersama Marcell dan pesawat pun sudah lepas landas beberapa jam yang lalu. Marcell masih tetap mengabaikan Zania dan membuat Zania geram dibuatnya. Zania pun mengambil alih gelas yang dipegang oleh Marcell itu dan membuat Marcell menoleh kearah Zania tajam.


"Seharusnya kamu berterima kasih kepada saya Zania, karena kamu tidak perlu mengurusnya dengan susah payah. Itu bukan yang kamu tunggu dari mulut saya atau ada yang lain, minggir..."ucap Marcell yang kembali menikmati hidangan makanan yang telah disiapkan. Hal itu semakin membuat Zania menahan segala emosinya sesaat.


"Oke aku akan mengikuti rencanamu Marcell dan kamu harus menepati janjimu itu"ucap Zania menatap Marcell dengan tatapan yang sulit diartikan itu sedangkan Marcell hanya tersenyum kecil mendengarkan ucapan Zania yang baru saja terlontar itu.


"Aku tidak pernah berjanji"ucap Marcell pelan sangat pelan hingga tidak terdengar oleh Zania.

__ADS_1


***


#Kediaman keluarga Pratnojoe...


Pak Joko baru saja sampai dirumah dan mendapatkan seribu pertanyaan dari Dewi. Hanya kata maaf yang bisa dilontarkan oleh pak Joko ke nyonya pemilik rumah itu.


"Maafkan saya Bu, tadi mba Nia menyuruh saya pergi dulu dan balik jika ditelphon tapi ternyata Mba Nia pergi. Maafkan saya Bu Dewi"ucap pak Joko merasa bersalah ke Dewi yang menangis karena Zania belum ketemu sampai saat ini.


Beno yang mendengar dan melihat hal tersebut pun hanya bisa menghela napasnya dengan kasar.


"Gladis, bawa mama ke kamar ya nak"ucap Beno ke Gladis yang mengaguk setuju akan ucapan Beno.


"Ini bukan salah pak Joko, sekarang pak Joko pulang saja ya, ini sudah malam"ucap Beno mencoba menenangkan Pak Joko yang merasa takut dan bersalah.


"Tapi tuan"ucap pak Joko yang langsung dipotong oleh Beno setelahnya.


"Gak ada tapi-tapian. Sekarang bapak pulang saja, untuk masalah Nia itu adalah masalah saya sebagai ayahnya"ucap Beno dan pak Joko pun akhirnya menuruti ucapan dari Beno.


"Bagiamana?"tanya Beno ke Revan yang baru saja masuk kedalam rumah.


"Nia tidak ada dipenerbangan mana pun pa"ucap Revan merasa menyesal tidak mendapatkan hasil.


"Sekarang hubungin Rifky?"ucap Beno Sarkas.


.


.


.


.

__ADS_1


.


NEXT ON...


__ADS_2