
Di rumah sakit...
Riri baru saja pulang dari kantor Rifky dan sekarang sedang menuju rumah sakit, tempatnya bekerja.
Sampailah dia di tempat kerjanya dan memarkirkan mobilnya. Dia pun turun dari mobil yang dia kendarai dan akan menuju ke ruangannya. Namun dia melihat Revan yang juga memarkirkan mobilnya itu. Riri pun menyapanya.
"Hai kak"sapa Riri dan Revan pun menoleh kearah seseorang yang memanggilnya. Riri sebenarnya masih sangat canggung dengan Revan. Mesikupun semalam dia bisa mengobrol baik dan tertawa bersama laki-laki itu.
"Hai"jawab Revan dingin seperti biasa membuat Riri semakin canggung dibuatnya.
"Kakak jemput Nia?!"tanya Riri basa-basi. Dia tahu laki-laki ini belum bisa akrab dengannya. Walaupun semalam mereka bisa tertawa bersama. Tapi sifat laki-laki itu kembali ke keadaan semula yang sangat dingin dan mendomisili.
"Hem..."jawab Revan yang langsung meninggalkan Riri yang mengikuti di belakangnya.
"Kak, kakak ada masalah?" tanya Riri yang masih mengikuti Revan dibelakang. Revan pun menoleh menatap Riri dalam diam.
"Kenapa? Apa pedulimu denganku?"ucap Revan dingin yang membuat Riri terdiam dan masih mengikuti dibelakang Revan.
"Bagaimana pekerjaan kakak?"tanya Riri masih dengan basa-basinya. Dia tidak ingin adanya kecanggungan antara mereka berdua lagi. Maka dari itu dia mencecar Revan dengan beberapa pertanyaan.
"Kenapa? kamu ingin tahu!,"ucap Revan yang masih tetap dingin saat berbicara. Sebenarnya dia menahan emosinya saat ini. Karena dengan menatap wanita yang ada dibelakangnya itu menyakitkan baginya. Apalagi saat malam itu, dia harus bersikap seperti itu kepadanya, karena ada adik perempuannya itu.
"Maaf kak. Aku kira kita sekarang berteman. Semalam kakak sangat baik dan memberikan ucapan selamat padaku. dan memberikan dukungan maupun saran yang baik untukku ataupun Kevin. Aku kira kita tidak akan canggung lagi setelah itu. Aku kira kesalahpahaman itu telah berakhir"ucap Riri menundukkan kepalanya dan berjalan meninggalkan Revan yang malah menariknya dan membawa Riri kesudut dinding disana.
Revan menatap Riri yang terdiam dan tidak memberikan perlawanan padanya.
"Kenapa kamu hanya diam, saat aku paksa seperti ini! Harusnya kamu teriak atau memukulku bahkan memaki, kenapa pasrah seperti ini!?"ucap Revan kesal menatap perempuan yang ada dihadapannya ini.
"Karena melawanmu juga, aku tidak akan menang"ucap Riri yang badannya sebenarnya bergetar takut, dengan raut wajah Revan seperti itu.
"Kamu yang mempersulit semua ini"ucap Revan tajam menatap Riri.
"Kak Revan tahu, ini juga sulit bagiku!!! aku lelah dengan semua ini. Melupakan kakak adalah cara salah yang aku lakukan selama ini. Karena, kakak selalu hadir dibenakku. Tapi aku ingin melupakan semua itu. Aku hanya ingin semuanya kembali seperti semula. Aku bisa berteman lagi denganmu, tanpa adanya kecanggungan ataupun pemaksaan. Tapi kalau seperti ini, aku sadar kamu tidak bisa berteman denganku"ucap Riri menatap mata laki-laki itu yang juga menatapnya dalam
"Karena aku tidak ingin menjadi temanmu. dan masalahmu denganku belum selesai. Kamu melarikan diri selama ini. Dengan cara mengurusi masalah Zania adikku, hingga kamu akan bertunangan dengan Kevin. Kamu lari dari masalah kita dan tiba-tiba ingin menyelesaikan masalah ini dengan berteman!!!"ucap Revan dengan meninggikan suarnya dan membuat Riri kaget dibuatnya.
"Tapi kenapa semalam kakak menyetujuinya!!! Kenapa kakak munafik seperti ini!!! Kamu yang menyetujuinya!! Kamu ingin tahu kenapa aku selalu lari darimu. Semua itu karena aku membenci sifat posesifmu Revan!!! Kamu selalu menyakitiku tapi kamu menyalahkan semuanya padaku. Kamu terlalu lama menyembunyikan sifat aslimu dari keluargamu"ucap Riri tidak menahan emosinya. Revan pun mencengkram lengan Riri dan semakin mempersempit ruang untuk Riri bergerak.
"Karena kamu hanya milikku Ri. Gak ada yang bisa memilikimu selain aku"ucap Revan dan mencium Riri paksa. Zania yang tidak sengaja lewat mendengar pembicaraan mereka dan terkejut dengan apa yang Revan lakukan ke Riri.
"Kakak"ucap Zania pelan dan menutup mulutnya tidak menyangka apa yang Revan lakukan barusan dengan meninggalkan tempat itu dengan seribu pertanyaan yang ada di otaknya.
__ADS_1
Ingin sekali Zania membantu sahabatnya itu. Tapi apalah dayanya, kaki itu tidak berani melangkah kesana dan tidak bisa berfikir lagi.
***
Revan menatap Riri yang menangis karena kelakuannya itu. Dia tahu bahwa dia sering menyakiti perempuan itu dengan caranya dan tanpa disadari pun dia sering menyakiti perempuan yang selama ini masih ada dihatinya ini. Tapi, sangat berat jika harus melepaskan perempuan yang dicintainya ini untuk orang lain.
"Aku benci kamu Van. Aku sangat membencimu. Aku akan lepas darimu, aku akan melepaskan diri darimu dengan caraku!!!"ucap Riri menangis sesenggukan dengan memukul-mukul pundak Revan.
"dan aku tidak akan pernah melepaskanmu. Meskipun kamu menjauhiku dengan cara menikah dengan laki-laki itu"ucap Revan menyunggingkan senyumnya. Riri pun mendorong Revan dan pergi dari hadapan laki-laki itu.
.
.
.
.
.
Di tempat yang berbeda...
Zania berjalan tergesa-gesa dan tidak sadar sampai menabrak Devan. Devan merasa bingung dengan keadaan Zania saat ini.
"e....eng..enggak apa-apa"jawab Zania dan melihat Riri berjalan kearahnya.
Zania melihat mata Riri sedikit bengkak, seperti orang habis menangis. Zania menatap kearah Devan dan Devan pun menatap balik kearah Zania.
"Dev, aku harus menemui Riri"ucap Zania dan Devan menatap Zania dengan khawatir. Revan pun menghampiri Zania dan Devan setelah melihatnya.
"Ayo pulang"ucap Revan setelah melihat Zania dengan wajah hangat dengan senyum yang tidak tertinggal.
"eh ... sebentar kak. Nia ada urusan sebentar"ucap Zania tanpa menatap kearah kakaknya itu dan langsung pergi.
"Aku mau menyapa Riri terlebih dahulu"ucap Zania yang meninggalkan kedua laki-laki itu.
"Nia kenapa? Kok seperti orang habis melihat setan sih, sampai tadi ngelamun di jalan"ucap Devan dan dijawab oleh Revan dengan pundaknya yang bergerak.
"Mana aku tahu, kamu yang bersamanya tadi"ucap Revan dan mendapatkan tatapan bingung Devan.
"Hem..."jawab Devan setelahnya.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Di ruangan Riri...
Riri menutup ruangannya dan menangis karena apa yang telah terjadi. Zania yang ingin masuk mengurungkan niatnya setelah mendengar suara tangisan dari sahabatnya itu.
"Kenapa kak Revan keterlaluan seperti ini dengan Riri. Kenapa semalam dia bersikap baik jika akhirnya melukai perasaan Riri seperti ini. dan kenapa Riri hanya diam tadi? Apa dia masih.."ucap Zania yang langsung pergi meninggalkan tempat itu.
.
.
.
.
.
Zania masih memikirkan kejadian kemarin. Ingin sekali dia menjadi teman cerita sahabatnya itu, tapi apalah daya. Riri tidak membiarkan dia masuk kedalam masalah itu. Zania mencoba bertanya kepada Devan yang juga merupakan teman dekat dari kakaknya itu. Tapi Devan tidak mengetahui masalah percintaan kakaknya itu. Zania langsung mengingat satu nama yang sangat dekat dengan kakaknya dan Riri. Dia adalah Sepupu Riri dan sahabat Kakaknya Revan.
"Aku ingin melihat mereka berdua bahagia, tanpa harus menyakiti satu sama lain. Aku tidak ingin mereka sepertiku"ucap Zania yang langsung mengetik nama di kontak handphonenya dan mengirim pesan yang langsung mendapat balasan cepat itu.
Zania pun membuat janji dan mengajaknya bertemu kesebuah cafe yang tidak terlalu berinsik itu. Zania sudah berada disana dan menunggu orang tersebut datang. Orang tersebut pun datang dengan sangat beribawa. Orang yang sebenarnya sangat dia rindukan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Next on.......