Harus Memilih

Harus Memilih
IML (Pertemuan Dengannya)


__ADS_3

Semua itu ada waktunya. Ketika mencintai begitu sulit dari dicintai. Ketika bahagia harus dimulai dari kesedihan. Ketika memilih harus menyakitkan. Ketika cinta begitu menyakitkan, sangat menyakitkan dan sangat menyakitkan dan sangat menyakitkan.


(Zania Dwi Pratnojoe)


.


.


.


.


.


Devan sedang menunggu Zania di kantin. Tiba-tiba ada seorang laki-laki datang menghampirinya dan ternyata itu adalah Rifky sahabatnya. Rifky langsung duduk disamping Devan sambil berbincang-bincang.


"tumben, pagi-pagi sudah disini Dev"ucap Rifky yang langsung duduk disamping Devan.


"emangnya gak boleh, pagi-pagi ke kantin"ucap Devan yang masih menikmati baksonya.


"ya boleh saja kali, siapa juga yang larang"ucap Rifky yang juga langsung memesan minuman.


"gimana masalahmu dan orang tuamu, sudah berwajah"tanya Rifky ke Devan yang menganggukan kepalanya.


Mereka pun berbinxang-bincang hingga selesai makan dan Rifky pun ingin langsung pergi karena ada urusan, tapi dia melihat Devan yang masih duduk dikantin.


"masih betah dikantin, nungguin siapa sih"tanya Rifky lagi.


"pacarku lah Ky, kalau pergi marah dia nanti"ucap Devan yang malah diketawain oleh Rifky.


"bucin ternyata sobat aku ini, hahaha"ucap Rifky tertawa.


"kurang ajar"ucap Devan melemparkan kerupuk ke Rifky yang langsung menangkap kerupuk itu dan memakannya.

__ADS_1


"mana Bella. Biasanya ngekor terus, takut kekasih tertampannya ini nyangkut ke cewek lain"ucap Devan yang ditanggapi biasa oleh Rifky.


"emang dia gak kuliah, sampai-sampai ngikut aku terus"ucap Rifky yang diketawai oleh Devan.


"ya kan biasanya kalau ada Rifky ya ada Bella"goda Devan ke sahabatnya itu.


"ya terserah mu saja lah. Yang terpenting kamu senang"ucap Rifky.


"oh ya aku duluan, ada urusan. Semoga sukses dengan kekasih manjamu itu. Jangan lupa kenalin ke aku lah"ucap Rifky lagi.


"oke kapan-kapan aku kenalin, yang penting jangan sampai kamu berpaling dari Belle ke kekasih ku"ucap Devan yang malah di ketawain oleh Rifky.


"gila saja lu, kalau kekasihmu mau ya boleh saja"goda Rifky ke Devan.


"dan itu tidak akan bakal terjadi"ucap Devan dan mereka hanya tertawa.


Rifky pun pergi meninggalkan kantin. Dalam perjalanannya dia melihat ada seorang perempuan yang tidak asing baginya itu sedang mengambil buku-bukannya yang berserakan di lantai.


"pasti dia menabrak orang lagi"ucap Rifky yang langsung menghampiri perempuan itu dan membantunya.


"sama-sama"ucap Rifky membuyarkan lamunan Zania yang langsung sadar akan lamunannya.


"maaf merepotkan mu"ucap Zania yang malah mendapatkan senyuman dari Rifky.


"tidak merepotkan. Saling membantu tidak salah bukan"ucap Rifky ke Zania. Zania pun menggelengkan kepalanya karena menyetujui ucapan Rifky.


"ehm...kalau begitu saya permisi"ucap Zania yang langsung berlalu dan Rifky melihat kepergian Zania.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Dikantin...


Zania melihat Devan duduk sendirian dimeja kantin itu. Zania tersenyum melihat kekasihnya itu merasa bosan. Zania pun menghampiri Devan dengan mengejutkannya.


"drrrrr"kaget Zania ke Devan yang langsung diketawain oleh Zania.


"nunggu lama ya sayang"ucap Zania ke Devan yang menggangukan kepalanya, pertanda setuju.


"sampai habis bakso lima mangkok nih"ucap Derren.


"kok gak tungguin aku"kesal Zania menggoda kekasihnya itu.


"ya sudah pesen lagi deh"ucap Devan yang malah mendapatkan ketawa dari Zania. Devan mengerutkan keningnya kesal karena berhasil dijaili oleh Zania kekasihnya itu.


"berarti kamu makan lagi dong yang. Jangan deh, ntar kamu gendut pula, kek mana dong"ucap Zania cemberut ke Devan yang malah di ketawain oleh Devan yang langsung mencubit hidung Zania.


"kalau gendut kan imut sayang"goda balik Devan.


"gak boleh"ucap Zania menatap tajam Devan yang malah semakin membuat Devan tertawa melihat tingkah kekasihnya itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


NEXT ON...


__ADS_2