
Hawa dingin itu sangat terasa di tubuhku hingga ke tulang-tulangku. Aku menatap adanya seseorang yang menghampiriku dengan raut wajah kecemasan yang dia tunjukan saat melihatku. Dia terus memanggil manggil namaku hingga...
Zania Pov'
Aku terbangun dari tidurku dan aku baru saja memimpikan hal yang tidak bisa aku jelaskan. Sudah seminggu setelah kejadian Jesicca dan sekarang dia sudah baikan dan aku memberikan kabar berita itu ke Derren dan memberikan pengertian, tentang apa yang menimpa adiknya itu. Aku tahu Derren merasa tidak menerima dengan apa yang dilakukan Devan ke adiknya itu, tapi aku menjelaskan semuanya itu, meskipun kutahu ada raut kesedihan dan penyesalan diwajahnya saat melihatku dan ekspresi tidak menyenangkan saat menyebut nama Devan. Aku sebenarnya merasa khawatir akan hal ini. Maka dari itu aku selalu mengikuti Derren mulai saat ini. Aku tidak ingin semua hal yang tidak aku inginkan itu terjadi.
"mau kemana?"tanya kak Revan padaku yang sudah rapi dengan pakaianku.
"ada perlu kak" ucapku yang ditatap tajam oleh kakakku.
"Jangan bilang kamu akan menemui laki-laki itu?, sudah hampir seminggu ini kamu mengikuti dia. Maksud kamu apa sih Nia!"ucap kak Revan yang mengetahui itu semua dari Riri yang menceritakan semua itu ke kak Revan. Aku tahu mereka khawatir kepadaku.
Aku tidak bisa menjawab lontaran dari kak Revan, dan dia kembali berucap lagi.
"kakak bilang, jangan pergi sama dia!. Dia itu gak baik buat kamu, Nia. Kamu tidak ingat apa yang dilakukan adiknya padamu dan apa yang telah dilakukan Derren dengan Riri"ucap kak Revan berat ketika menyebutkan nama Riri disini. Saat itu pula ada Gladis yang berada diruang tamu dan mendengarkan akan perdebatan kami.
"cukup kak, itu masa lalu. Aku hanya ingin masa lalu itu tidak berulang lagi dengan berada didekat Derren. Kakak harusnya tahu dia itu tidak seperti yang kakak fikirkan, dia hanya salah dalam mengambil jalan buat dirinya"ucapku lagi yang langsung pergi meninggalkan ruangan itu. Sungguh sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa aku ingin berada didekat Derren. Meskipun aku tahu apa yang telah dia lakukan dulu ke Riri dan apa yang telah adiknya lakukan padaku. Tapi ada rasa penyesalan diwajahnya saat itu. Saat aku memberitahukan apa yang dilakukan Jesicca adiknya. Ada rasa ingin menenangkan hatinya dan berada didekatnya. Aku tidak tahu kenapa?
.
.
__ADS_1
.
.
.
"gimana keadaan Jesicca?"tanyaku kepada Derren yang sekarang kami berada di cafe dekat Rumah sakit tempatku bekerja dan tempat Jesicca dirawat. Derren menatapku dan aku tidak bisa mengartikan arti tatapan yang dia berikan kepadaku itu. Dia pun mengalihkan tatapannya itu kearah jalan karena, ya!? kami mengambil tempat duduk di out door.
"dia sudah baikan, 2 hari lagi bisa pulang."ucapnya yang kembali menikmati coffe miliknya.
"syukurlah. Jangan minum coffe saja, pesan makan ya"ajakku padanya yang kembali menatapku sekilas dan fokus ke arah lain.
"Setelah Jesicca keluar dari Rumah sakit, aku ingin Devan bertanggung jawab dengan adikku. Aku ingin Devan menikahinya"ucap Derren padaku, bagaikan ada petir di hari yang panas, Derren mengatakan itu dengan menatap serius kearahku.
"aku sudah mengatakan hal itu ke Devan, tapi tanggapan laki-laki itu..."ucap Derren berhenti. Aku tahu respon yang akan diberikan Devan pasti tidak bisa menerimanya.
"aku akan mencoba memberikan Devan pengertian, jika itu maumu"ucapku ke Derren yang menatapku dan sungguh aku tidak bisa mengartikan tatapan yang diberikan itu padaku.
"kamu tahu Derren?, Sebenarnya aku merasa takut jika kamu akan menjadi Derren yang dulu, atau mungkin kamu masih Derren yang dulu. Apalagi dengan apa yang dilakukan Devan, aku merasa takut dengan apa yang akan kamu lakukan ke Devan. Aku cuma bisa berharap kamu menjadi Derren yang bijak dan menghadapi masalah tanpa terbawa emosi. Maka itu aku selalu mengikutimu. Aku hanya takut kamu melakukan sebuah kesalahan yang sama"tambahku, seketika tatapan Derren menajam menatapku, sungguh aku takut melihat hal itu.
"itu bukan urusanmu Nia!?, apapun yang terjadi padaku itu adalah hidupku. Pulanglah, aku tahu kamu libur hari ini"ucap Derren yang membuatku terdiam sesaat.
__ADS_1
"maaf kalau aku berkata salah. Aku hanya berharap kita semua bisa berteman baik, dan mulai menjalin pertemanan tanpa ada permusuhan"ucapku lagi yang langsung pergi meninggalkan Derren yang menatapku menjauh dari tempat itu.
Saat meninggalkan tempat itu ada seseorang yang menghentikan langkahku, dia adalah Rifky. Aku tahu dia selama ini selalu berada di belakangku, yaitu mengikutiku.
"kenapa kamu selalu menemui laki laki baji*** itu"ucap Rifky menatap tajam kearahku.
"dan untuk apa kamu mengikuti selama seminggu ini!!"ucapku tidak kalah tajam terhadap Rifky. Dia menghela nafasnya kasar setalah apa yang terlontar dari mulutku ini.
"ya sudah ayo pulang"ucapnya yang menarikku membawa masuk ke mobilnya. Ya, benar aku selalu datang bersama Rifky, dan dia selalu mengawasi ku dari jauh. Aku tidak bisa menolak tawarannya ini, karena itu juga perintah dari kakakku Revan. Meskipun aku tahu Rifky orang yang sangat sibuk.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
hai reader....tunggu author besok ya, bakalan update lagi, terima kasih readers tersayang🖤🖤🖤