Harus Memilih

Harus Memilih
Seoson 2|Part 7| Bimbang


__ADS_3

*Aku mengerti


Perjalanan hidup yang kau lalui


Ku berharap meski berat kau tak merasa sendiri


Kau telah berjuang menaklukan hari-harimu yang tak mudah


Buatku menemanimu, membasuh lelahmu


Izinkan ku lukis senja


Mengukir namamu disana


Mendengar kamu bercerita


Menangis dan tertawa


Biar ku lukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia


(Budi doremi_Melukis senja🎶)


*Menatapnya? Apakah aku sanggup melakukannya


_Zania Dwi Pratnojoe


***

__ADS_1


#Dikediaman keluarga Pratnojoe...


Zania baru saja keluar dari kamarnya dan akan menuju ke ruang makan. Disana dia hanya melihat ada Gladis dan Dewi yang sedang menyiapkan makanan untuk breakfast. Tidak ada Revan maupun Beno disana. Apa ini terlalu pagi?. Tapi biasanya Beno dan Revan itu sudah stand disana untuk coffee pagi mereka yaitu ritual sebelum berangkat ke kantor. Tapi anehnya pagi ini mereka tidak ada. Zania pun langsung menghampiri dua wanita yang sangat dia sayang itu.


"Papa dan kak Revan dimana, ma?. Kok tumben gak pesan coffee paginya" tanya Zania. Dewi pun langsung menengok kearah Zania yang berjalan kearah meja makan dan langsung duduk setelahnya.


"Mereka ke kantor sayang, ada rapat mendadak dari pihak M_company. Sepertinya kerjasama antar perusahan masih bisa dipertimbangkan. Syukurlah kalau begitu bukan. Oh iya, sarapan dulu sebelum berangkat sayang. Gladis sudah buatkan nasi goreng nih"ucap Dewi ke Zania yang hanya tersenyum setelahnya dan melihat kearah Gladis, calon kakak ipar yang umurnya berada dibawahnya itu.


"Laki-laki itu menepati janjinya!. Tapi, pasti ada sesuatu yang dia rencanakan. Aku tidak boleh segampang itu mempercayainya" ucap Zania dalam hati.


"Hai, kok melamun sih pagi-pagi. Kesambet loh nanti" tegur Gladis mengejutkan Zania yang langsung reflek menggaruk lehernya yang tidak gatal itu.


"Efek baru bangun tidur yeah gini, Dis. Makanya jangan begadang kamu ini, sayang. Mama tahu semalam kamu gak tidur. Kamu lagi mikirin apa sih?" tanya Dewi menghampiri anaknya itu.


"Kalau mama tahu Nia gak tidur, mama juga begadang dong. Jadi balance dan Nia gak mikirin apa-apa kok. Hanya ingin begadang saja" jawab Zania menyela. Dewi hanya menggelengkan kepalanya akan ucapan anaknya itu. Sedangkan Gladis hanya tersenyum menanggapi perdebatan kecil ini.


"Gini nih, kalau di kasih tahu, pasti diputer balik perkataan mama loh, Gladis. Adik ipar kamu ini..."ucap Dewi mencubit gemas pipi Zania yang kaget akan sikap mamanya yang mendadak itu.


"Ih...mama, Nia bukan anak kecil. Sakit tahu"ucap Zania merajuk yang malah diketawai Dewi dan Gladis menahan senyumnya itu.


"Ngomong apa lagi sih ini bocah. Jangan macam-macam ya Nia. Jangan kayak pas remaja, kamu main kabur. Kalau ada masalah dibicarakan baik-baik, jangan main kabur mama gak suka kalau Nia seperti itu nak"ucap Dewi yang tahu arah pembicaraan anaknya itu.


"Kan tanya saja sih ma? Kok mama sampai kepikiran begitu. Kalau ada masalah Nia pasti cerita kok"ucap Zania sambil menikmati sarapannya itu. Walaupun sebenarnya dia sedang memikirkan sesuatu.


"Kalau mau liburan atau lainnya mah mama bolehin dan gak bakal kesepian. Karena ada Gladis disini. Tapi mama gak bakal membolehkan kamu pergi sendiri, atau main kabur-kaburan. Kami gak mau buat mama khawatirkan?"ucap Dewi ke anaknya itu. Zania hanya menundukan kepalnya itu dan setelahnya tersenyum ke arah Dewi dan memeluk mamanya itu.


"Nia gak akan pergi sendiri dari sini. dan untuk itu, Nia berharap mama jangan terlalu mengkhawatirkan keadaan Nia lagi"ucap Zania mulai lagi manjanya ke Dewi yang geli akan sikap anaknya ini. Yang tidak bisa hilang manjanya walaupun sudah dewasa dan bukan remaja lagi. Walaupun sebenarnya Dewi merasa ada yang berbeda dengan anaknya ini, tapi dia menepis pikiran itu dari kepalnya itu.


"Lihat Nia nih, Gladis. Masih kayak bocahkan"ucap Dewi lagi yang membuat Gladis tersenyum melihat keakraban ibu dan anak itu.


"Gladis jadi pingin peluk mama juga"ucap Gladis yang langsung memeluk Dewi. Mereka pun saling berpelukan dan tertawa bersama setelahnya.


***

__ADS_1


#Dirumah Sakit...


Zania merasa kesal melihat sahabatnya ini yang mondar-mandir kayak setrikaan. Kalau bener setrika palingan itu baju sudah licin kayak prosotan kali ya.🤭


"Lu itu apa-apaan sih Ri, kayak setrika tahu gak. Bolak-balik gak jelas, sudah licin tuh baju"ejek Zania yang jengah melihat sahabatnya itu gelisah tanpa tahu penyebabnya.


"Harusnya sebagai sahabat kamu menenangkan aku dong Ni. Kok malah diledekin gini"kesal Riri yang langsung duduk ditempat duduk pasien diruangan Zania yang biasanya digunakan untuk konsultasi.


"Gimana aku mau menenangkan kamu, masalahnya saja aku gak tahu. Makanya cerita dong. Bukan mondar-mandir kek gitu"ucap Zania sambil memainkan game dikomputer depannya.


"Ih...nyebelin tahu gak. Lu kan tahu sendiri Ni, seminggu lagi aku nikah"ucap Riri terjeda karena Zania langsung memotongnya.


"Terus, masalahnya apa, kok lu bikin ribet sih. Nikah tinggal nikahkan?!"jawab Zania yang masih asik dengan game yang ada di komputer itu. Riri merasa kesal dibuatnya.


"Makanya kalau aku lagi ngomong tuh jangan asal kamu potong Nia. Belum selesai cerita sudah main potong saja dan dengerin aku cerita dulu kenapa?. Gamenya Bentaran"kesal Riri dan hanya dibalas cengengesan dari Zania yang langsung fokus kesahabatnya itu.


"Iya iya sorry. Mangga lanjutkan, tuan putri Riri yang cantik"goda Zania yang malah membuat Riri semakin kesal dibuatnya. Riri pun kembali bercerita ke sahabatnya itu.


"Acara pernikahan aku kan seminggu lagi nih dan aku sudah mengajukan cuti ke pihak rumah sakit, tapi. Aku tuh kesel tahu gak sama si Kevin!!!. Sudah tahu hari H seminggu lagi, dia malah belum mengajukan cuti dan hari ini dia masih di Jogja buat jadi pembicara seminar disana!. Ya ampun, aku tuh bingung menghadapi laki-laki macam dia tahu gak. Aku gak mau dia capek Ni, apalagi 3 hari sebelum hari H pastikan banyak banget acaranya. Dia gak mengkhawatirkan keadaanya atau gimana sih. Aku pun heran, nikah kok ribet amat sih. Aku kira ijab kabul selesai, kok masih banyak banget adatnya"kesal Riri yang malah menjadi hiburan untuk Zania yang langsung tertawa dibuatnya.


Dari balik tawa Zania sebenarnya ada rasa sedih disana. Karena besok dia harus meninggalkan sahabat dan keluarganya itu. Apalagi tidak bisa menemani sahabatnya itu dihari kebahagiannya.


"Ini yang di inginkan Marcell dariku. Dia tidak akan pernah membiarkanku bahagia. Apa sebenarnya masalahmu padaku Marcell?. Apa aku melupakan sesuatu itu yang membuatmu membenciku sampai sekarang ini" ucap Zania dalam hati .


.


.


.


.


.

__ADS_1


NEXT ON...


__ADS_2