Harus Memilih

Harus Memilih
Part 7| Mengontrol Diri


__ADS_3

Maaf untuk teman teman yang setia membaca karangan cerita saya,


maaf baru update...


Karena banyaknya kendala dan pekerjaan yang lumayan menguras otak😁 jadi galfokus sama novel saya ini.


Untuk itu mohon dukungannya buat teman teman oke.


.


.


.


.


.


***


Tiba-tiba Zania menangis karena perlakuan Rifky kepadanya. Rifky yang melihat hal ini pun merasakan hatinya seperti di hancurkan berkeping-keping. Dia tidak bisa melihat perempuan itu manangis. Rifky pun melepaskan genggaman tangannya itu dan meninggalkan Zania yang masih dalam keadaan berantakan karena ulahnya yang tidak bisa mengontrol emosi tersebut.


"Kamu mabuk dan melampiaskan semua padaku, kamu ba****t Rifky!!! kamu anggap saya wanita apa hah!!!"teriak Zania menangis meninggalkan Rifky yang terkejut akan yang telah dia lakukan kepada Zania.


#Zania Pov'


"Kenapa aku menangis, jangan lemah Zania"ucapku terduduk kebawah sambil memukul-mukul dadaku yang terasa sangat sesak ini.


"Aku tidak boleh terlihat lemah di hadapan laki-laki macam itu. Tenangkan dirimu, please (menarik napas dalam)"ucapku kembali tapi dada ini terasa sesak sekali ketika mengingat perilaku laki laki itu.


Aku pun menghapus air mata yang tidak tahu mengapa terus keluar ini. Perlakuan laki-laki itu keterlaluan menurutku dan semua perkataannya ingin sekali aku....aish...cukup buat apa aku sumpah serapah buatnya. Ini hanya pernikahan kontrak, tidak ada perasaaan tapi hati ini tidak bisa aku bohongi. Laki-laki itu apa tidak mengingatku. Kak Rifky, kamu berubah.


Aku memang terlambat mengingatmu kak, tapi kamu sungguh berubah, bukan seperti orang yang aku kenal.


Aku pun berdiri dan kembali ke kamarku untuk membersihkan badanku yang sudah lelah karena perjalanannku dan lelah karena harus kembali kehidupan ini.


Aku melihat sebuah tanda merah di leherku dan membuatku jijik melihatnya. Aku coba menghapusnya tapi tidak hilang juga. Aku mencoba menenangkan diriku akan semua kejadian ini, menetralkan fikiranku yang sudah entah ingin pergi kemana ini.


#Zania Pov' end.


***

__ADS_1


Zania melangkahkan kakinya menuju ke dapur untuk mengambil minum. Dia melihat adanya Rifky yang sedang mengambil minum juga. Dia pun mencoba menghilangkan kecanggungan pada dirinya itu dengan mengabaikan sosok Rifky yang menatapnya berjalan kearahnya.


"Untuk yang tadi pagi saya minta maaf. Hal itu terjadi karena pengaruh alkohol dan saya tidak bisa mengontrolnya" ucap Rifky tanpa melihat kearah Zania. Zania pun tersenyum sinis mendengarkan ucapan Rifky itu.


"Lupakan saja, bukankah itu hal biasa bagimu. dan untuk maaf, saya anggap itu tulus. Saya harap anda tidak terlalu ikut campur urusan saya. Apalagi mengatur atur saya. Karena anda harus ingat isi kontrak itu" ucap Zania yang langsung berlalu meninggalakan Rifky yang meremas botol mineral yang dipegangnya hingga air di botol itu keluar.


"Sebegitu bencikah kamu padaku Nia" ucap Rifky dengan mata yang memerah sambil tersenyum sinis menatap kepergian Zania.


Entah apa yang sedang difikirkan Rifky saat itu hingga meminum alkohol dan menyebabkannya hilang kendali seperti itu.


Sedangkan disisi Zania, dia memegang dadanya yang kembali terasa sesak saat ini.


***


#3 bulan kemudian


Author Pov'


Setelah semua kejadian itu terjadi. Mereka melupakannya. Bagaikan kejadian itu tidak pernah terjadi. Zania melakukan aktivitasnya seperti biasa kerja, tidur, makan kerja, hanya saja berbeda status dan tempat tinggal. Sedangkan Rifky masih sama saja masih menjalin hub. dengan kekasihnya yaitu Bella.


Di kantor Revan...


"My brother....."panggil Zania yang tiba-tiba masuk ke ruangan kantor Revan tanpa permisi seperti biasa.


"Apa sih? Sudah Nia pertegas, Nia bukan bocil. Reseh bener punya kakak satu ini. Jugaan status saja yang berubah ya kak, sifatku tidak akan ada yang boleh merubah" ucap Zania sambil menjulurkan lidahnya ke kakaknya itu.


Revan pun menghampiri adiknya dan menjitak kepala adiknya itu.


" Aw...jahat bener sih kak, gimana kalau gagar otak, nih Nia" ucap Zania mengelus-elus kepalanya.


"Heleh...mulai dramanya. Sudah bersuami juga, manja-manja sama suami sana, kan seru jadinya, hehehe. Baru pulang kerja kamu dek?" ucap Revan mengalihkan pembicaraan.


"Apa sih kak, reseh. Ya iyalah kak, Nia itu baru balik tadi rame banget pasiennya sampai Zania lelah begini dan masih sempet mampir ke kantor kakak. Adik berbakti bukan!" ucap Zania manja ke Revan.


"Berbakti itu sama suami. Kalau lelah ya berhentilah kan kamu mantu dari om Mario. Tinggal minta duit ke Rifky saja pasti langsung dikasih hehehe. Gitu kok masih kerja saja kamu. Kesini sudah izin suami belum?" tanya Revan lagi ke adiknya.


" Aiz... kak Revan mah, ini udah tugas aku kak. Sudah sekolah mahal-mahal, terus sudah di bekali ilmu, kok ya tidak di gunain. Itu mah bodoh." ucap Zania asal nyerocos karena ya begitu sikapnya.


"Kakak tanya kamu sudah izin ke suamimu kan?. Takutnya di cariin loh dek. Kamu tuh sudah bersuami, wajib mengerjakan pekerjaan ibu rumah tangga" ucap Revan di selangi senyum jailnya.


"Sudah kak. Sudah deh kak, adikmu ini lapar, ajakin makan saja sih dari pada di introgasi seperti ini" ucap Zania lagi

__ADS_1


"Ya sudah ayo, kakak juga lagi isterahat nih, kita makan di restoran dekat kantor saja ya" ucap Revan yang diangguki adiknya.


Mereka pun sudah selasai makan dan Zania izin ke kakaknya untuk ke toilet. Saat akan ke toilet tanpa sengaja dia melihat Rifky dengan kekasihnya sedangkan makan berdua di restoran tersebut.


"Gimana kalau kak Revan tahu?!" ucap Zania yang langsung menghubungi Rifky tapi tidak di jawabnya telpon tersebut. Zania pun langsung menghampiri mereka.


Mereka terkejut melihat Zania yang tiba-tiba berada dihadapannya.


"dokter Zania" ucap Bella tersenyum kikuk.


"Saya pinjam Rifky dulu, sebentar tidak lama" ucap Zania tersenyum kikuk.


"Kenapa tidak disini saja"ucap Bella menatap Zania sengit membuat Zania menghela nafasnya kasar.


"Kak Revan ada disini, jadi dari pada kamu dipergoki kak Revan karena sedang selingkuh mending..." ucap Zania terpotong ketika suara yang di kenalnya memanggilnya.


"Loh Nia, Rifky disini juga" ucap Revan menghampiri mereka.


"Ka....kak" ucap Zania gugup sedangkan Rifky dan Bella biasa saja.


"Habis ketemu klien kamu Ki, ada Bella juga sekretaris mu" ucap Revan yang sudah berada dihadapan mereka.


"Salam pak Revan" ucap Bella yang di balas Revan biasa.


"Gabung saja kalau gitu ya" ucap Revan yang diangguki keduanya. Sedangkan Zania hanya merasa kikuk melihatnya.


Zania pun duduk disamping Rifky dan Revan di samping Bella.


"Oh ya kamu sudah tahu kan Rifky menikah dengan adik saya. Kenalkan dia Zania adik sekaligus isteri dari bos kamu" ucap Revan santai.


"Iya pak, saya sudah kenal Bu Zania waktu di undang di pernikahan mereka" ucap Bella tersenyum kecut. Zania yang mendengar itu hanya tersenyum sinis.


"Oh iya-iya, gimana ky. Adikku nyusahin gak" tanya Revan yang langsung di tendang kakiknya oleh Zania.


"Aw..." ucap Revan kembali.


"Pak Revan tidak apa-apa" tanya Bella yang dijawab gelengan dari Revan


"Ehm...iya nyusahin" ucap Rizky melihat kearah Zania yang langsung melihat kearah Rizky dengan tajam.


Lanjutannya ...ntar dulu ya....

__ADS_1


Dan jika kalian suka sama cerita ini, mohon bantuannya ok ok bantu like comment, apalagi vote.😁


__ADS_2