I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 11: Sangat Berbeda


__ADS_3

"Boy, bagaimana? Apa kau mendapatkan kerjasama itu? Apa agensi kita berhasil mendapatkan kerjasama dengan Z Empire?"


Yunna terlihat begitu antusias menyambut kedatangan Boy, sang fotografer. Jujur saja Yunna sangat berharap Boy berhasil mendapatkan kerjasama dengan perusahaan besar tersebut. Karena jika Agensi tempatnya bernaung selama satu terakhir ini berhasil bekerjasama dengan Z Empire, nama dan karirnya akan semakin memuncak dan Yunna bisa lebih di kenal banyak orang.


"Belum, kita masih harus menunggu. Karena yang menemuiku hari ini bukan CEO-nya langsung melainkan asistennya. Dan dia tidak bisa memutuskan tanpa persetujuan dari atasannya. Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah menunggu dan berharap semoga mereka mau bekerjasama dengan Agensi ini."


"Lalu siapa saja model yang kau ajukan sebagai bintang iklan dari perusahaan mereka? Tidak mungkin kan kau memilih mereka yang tidak berbakat sama sekali?'


"Tentu saja tidak, aku juga tidak ingin rugi. Cuma kau dan Cintya saja, karena hanya kalian berdua yang paling layak."


Yunna tersenyum lebar. "Kau memang hebat, Boy. Kau memilih orang yang tepat, ya meskipun sebenarnya aku tidak setuju dengan kau memilih Cintya. Tapi ya sudahlah, sudah terjadi ini. Oya, aku lapar. Bagaimana kalau kau memakanku sekarang juga." Yunna menyeringai.


"Tawaran yang menarik, Sayang. Karena kebetulan sekali aku juga sedang lapar."


-


-


Aiden melempar berkas-berkas itu keatas meja, sebenarnya dia tak tertarik sama sekali untuk menerima pengajuan kerjasama tersebut. Namun setelah melihat siapa model yang di rekomendasikan oleh Agensi tersebut Aiden menjadi sangat-sangat tertarik.


"Hubungi Agensi kecil itu dan katakan pada mereka, jika ingin mendapatkan kerjasama itu maka suruh modelnya yang bernama Yunna untuk datang untuk tanda tangan!!"


Pria berkacamata itu lalu mengangguk. "Baik, Presdir. Kalau begitu saya permisi dulu."


Sudah saatnya Aiden membalas sakit hatinya pada wanita itu. Apa yang telah Yunna lakukan padanya dimasa lalu akan dia kembalikan berkali-kali lipat. Aiden ingin melihat Yunna hancur.


Tokk... Tokk .. Tokk...


Suara ketukan pada pintu mengalihkan perhatiannya. Aiden mengangkat wajahnya dan mendapati sang sekretaris memasuki ruangannya. "Ada apa, Maria?"

__ADS_1


"Presdir, Nona Nero sudah tiba."


"Persilahkan dia untuk masuk," Maria mengangguk. Kemudian dia meninggalkan ruangan atasannya.


Selang beberapa detik setelah kepergian Maria. Seorang wanita cantik memasuki ruangan Aiden, dan keduanya sama-sama terkejut setelah pandangan mereka saling bertemu. Baik Aiden maupun Aster sama-sama tidak ada yang menyangka jika mereka akan menjadi partner kerja.


"Aku menyukai semua hasil rancanganmu, ini surat kontrak kerja samanya. Kau bisa memeriksanya terlebih dulu." Tanpa banyak pertimbangan, Aiden langsung menandatangani surat kerjasama tersebut, begitu pula dengan Aster.


"Semoga ini bisa menjadi kerjasama yang saling menguntungkan."


"Aku harap juga begitu. Sudah hampir jam makan siang, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Kebetulan makanan di kantin kantor tak kalah lezat dari makanan-makanan yang ada di restoran dan hotel berbintang." Ucap Aiden memberi penawaran.


"Apa tidak masalah jika kau makan siang bersamaku? Bagaimana jika karyawanmu sampai salah paham melihat kita makan siang bersama? Aku tidak ingin digosipkan tidak jelas nantinya." Aster menimpali dengan kata-kata bercanda.


Aiden tersenyum tipis. "Aku rasa itu tidak akan terjadi. Atau mungkin kau memiliki rekomendasi di tempat lain?"


Aster tampak berpikir. Dan dia teringat pada satu tempat. "Ada, dan tempat ini recommended banget. Bagaimana kalau kita makan siang di sana saja?" Usul Aster memberi penawaran.


-


-


Bandara utama Incheon International Airport masih terlihat ramai seperti biasanya. Bandara besar itu dipenuhi ratusan orang dengan tujuan penerbangan yang berbeda-beda, kebanyakan menuju pada kota besar yang sama. Beberapa dari orang-orang itu nampak terburu-buru menyeret koper-koper besar mereka. Sebagian lagi ada yang hanya duduk-duduk sambil membaca surat kabar.


Satu persatu pesawat mulai berangkat sesuai dengan jadwalnya masing-masing, lalu disusul dengan pesawat-pesawat yang tiba membawa penumpang yang sebagian besar baru terbangun dari tidur lelapnya.


Dari kejauhan terlihat seorang wanita berambut hitam sebahu menyeret kopernya menuju pintu keluar. Wanita itu menghentikan langkahnya, pandangannya kemudian menyapu ke segala penjuru arah. Tak terlihat batang hidup orang yang datang untuk menjemputnya.


"Dimana dia, kenapa belum tiba juga? Bukankah dia sudah tau jika aku pulang hari ini?"

__ADS_1


Dan wanita itu pun memutuskan untuk menghubunginya. Tersambung namun tak ada jawaban dari orang yang dihubunginya. Dia mencobanya sekali lagi, lagi-lagi tersambung namun tetap tak ada jawaban.


"Aisshhh...!! Sebenarnya dia ini sedang melakukan apa sih, sampai-sampai panggilanku tidak dia angkat!! Apa dia sesibuk itu?!" Wanita itu menggerutu kesal, lagi-lagi tidak ada jawaban dan itu membuatnya kesal setengah mati.


Tak ingin menunggu tanpa kepastian yang jelas. Wanita itu pun memutuskan untuk menggunakan taksi. Dan masalah orang yang tidak datang menjemputnya itu, dia pasti akan membuat perhitungan dengannya.


-


-


Aiden menghentikan mobilnya di depan sebuah kedai di kawasan Myeongdong. Kedai itu tidak terlalu besar dan jauh dari kata mewah namun banyak pengunjungnya. Tanpa berkata apa-apa, Aster turun dari mobil Aiden kemudian disusul oleh pria itu. Aiden menatap wanita di sampingnya penuh tanya.


"Kita akan makan siang di sini?" Dia memastikan. Aster mengangguk lalu menarik Aiden memasuki kedai tersebut.


Aster menoleh dan menatap Aiden dengan alis saling bertautan. "Memangnya kenapa, apa ada yang salah dengan makan di kedai kecil semacam ini?" Ucapnya memastikan.


Aiden menggeleng. "Tidak ada. Hanya saja aneh melihat perempuan berkelas sepertimu makan di kedai kecil seperti ini. Karena setahuku, perempuan lebih suka makan di restoran mewah berbintang lima." Ujarnya.


"Itukan pendapatmu, dan tak semua perempuan seperti itu. Jujur saja, dibandingkan harus makan di restoran mewah lebih baik makan di kedai kecil seperti ini. Untuk apa makan di tempat mahal jika tidak bisa membuat kita kenyang, mau ditempat mewah atau kedai kecil toh sama-sama mengenyangkan." Ujarnya sambil tersenyum tipis.


Aiden menatap Aster dengan pandangan tak percaya. Baru kali ini dia bertemu dengan gadis dari kalangan elit namun penuh kesederhanaan. Dia terlahir di tengah keluarga kaya raya namun tak pernah malu untuk makan di tempat yang jauh dari kata mewah. Aiden ingin tau, orang tua seperti apa yang telah mendidik Aster sehingga melahirkan karakter yang begitu luar biasa.


"Kenapa diam saja, ayo masuk. Kau tidak akan menyesal makan disini, dijamin semua makanannya enak dan kebersihannya terjamin. Ini adalah kedai langgananku, aku dan mama sering makan disini."


Aiden dan Aster berjalan beriringan memasuki kedai tersebut. Di dalam kedai sudah penuh dengan pengunjung dan hanya ada satu meja yang tersisa. Dan meja itulah mereka akan duduk.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2