I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 33: Sangat Berharap


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa sampai babak belur seperti ini? Apa kau baru saja dikeroyok oleh orang satu kampung?" tanya Aster penasaran.


Sontak Aiden mengangkat wajahnya dan menatap Aster dengan kesal, dia selalu saja asal bicara yang terkadang membuat Aiden kesel setengah mati. Dan membuat orang lain kesal, adalah salah satu kelebihan gadis itu. Dan kesabaran Aiden sering kali diuji ketika bersama istrinya ini. Alhasil, sebuah jitakan malah mendarat mulus di kepala aster


"Yakk! Kenapa kau malah menjitak kepalaku?!" teriak Aster sambil mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Aiden.


"Siapa suruh kau asal bicara. Aku terluka karena ada kumpulan orang gila yang tiba-tiba menghadangku dan mengajakku berkelahi, bukan karena dikeroyok orang satu kampung!!" jawab Aiden menjelaskan.


"Salahmu sendiri, siapa suruh mempunyai banyak musuh yang tersebar di mana-mana!! Ini kan akibatnya, bagus bukan nyawamu yang melayang sia-sia. Heran deh, kenapa laki-laki hobi sekali terlibat masalah!!"" ucap Aster menimpali.


Aiden mendengus. Lagi-lagi Aster menguji kesabarannya, dan ini bukan yang pertama atau kedua kalinya. Karena sudah berkali-kali kesabaran Aiden diuji olehnya. "Berhenti mengoceh seperti burung beo. Kau membuat kepalaku semakin pusing!!"


Aster mendecih sebal. Tanpa mengatakan apapun, Aster beranjak dari hadapan Aiden dan pergi begitu saja. Berada di satu ruangan dengan Aiden lama-lama membuatnya terkena stroke ringan karena selalu makan hati.


"Dasar patung es berjalan. Apa tidak bisa sehari saja dia tidak membuat orang lain kesal. Dan bagaimana bisa aku menikah dengan laki-laki menyebalkan seperti itu?!" Aster terus saja menggerutu tidak jelas. Dia kesal setengah mati.


Bukan lagi rahasia baru, jika terkadang mereka berdua seperti kucing dan anjing. Selalu saja ribut dan memiliki bahan untuk diributkan, perkara kecil pun bisa menjadi besar jika mereka sudah terlibat perdebatan sengit.


"Nunna, apa kau salah minum obat pagi ini? Kau sangat tidak jelas, ngomel-ngomel sendiri, bicara bicara sendiri, dan apa-apaan mimik mukamu itu?! Kenapa kau terlihat jelek sekali?!"


Aster mengambil beberapa lembar roti tawar lalu masukkan ke mulut Aileen sebelum dia semakin banyak bicara. Bukan hanya kakaknya yang seringkali membuatnya ke satu setengah mati, tetapi adiknya malah lebih parah lagi.


Mengabaikan Aileen yang batuk-batuk karena tersedak. Aster pergi keluar menuju teras depan. Tanpa mengatakan apapun, Aster menyambar kunci mobil dari tangan supir Aiden lalu membawa mobil suaminya itu entah ke mana. Aster butuh pelampiasan untuk melepaskan kekesalannya sekarang.


Sebagai Putri mafia dan mantan ketua gangster. Kebut-kebutan di jalan raya bukanlah sesuatu yang aneh bagi Aster. Meskipun dia terlihat lemah lembut, anggun, dan feminim. Akan tetapi dia memiliki sebuah hobi yang menantang yang tak diketahui oleh banyak orang. Yakni ugal-ugalan di jalanan.


Tin.. Tin... Tin..


Perhatian Aster teralihkan oleh suara klakson pada mobil yang melaju di samping kirinya. Gadis itu menoleh dan mendapati Aiden-lah yang mengemudikan mobil tersebut. Kemudian gadis itu menepikan mobilnya diikuti oleh Aiden yang berhenti dibelakang mobil yang Aster kemudikan.

__ADS_1


Gadis itu turun dari mobil tersebut begitu pula dengan Aiden. Lelaki itu menghampiri Aster yang lalu menjitak gemas kepalanya. "Dasar kau ini, kenapa kok hobi sekali membuat orang lain cemas dan khawatir?!"


"Salahmu sendiri, kenapa kau hobi sekali mengajakku ribut. Daripada terus-terusan ribut denganmu, lebih baik aku keluar dari udara segar."


Aiden mengeluarkan sebungkus rokok dan pematik dari saku celananya lalu mengeluarkan satu batang kemudian menyulutnya. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu?"


"Katakan saja," pinta Aiden.


"Kenapa laki-laki hobi merokok? Emangnya apa enaknya benda beracun itu?" Aster menatap Aiden penasaran.


"Karena rokok adalah identitas pria!!"


Aster memiringkan kepalanya dan menatap Aiden penuh tanya. "Identitas pria, bagaimana bisa begitu? Bukankah ada perempuan juga, lalu kenapa rokok hanya menjadi identitas pria?" Dia semakin penasaran.


Aiden mengangkat bahunya acuh. "Aku sendiri tidak tahu." Jawabnya. Aiden menghisap kembali rokoknya dan menghembuskan asapnya lewat hidung.


Rokok sendiri adalah benda berbahan dasar tembakau kering yang dilinting pada selembar kertas. Bagi kaum pria, rokok seperti identitas sebagai pria. Dimana ketika mereka menghisap rokok dan menghebuskan asapnya, maka mereka merasa seperti pria yang sesungguhnya. Menurut sebagian dari mereka yakni kaum perokok, mereka merasa jika seorang pria tidak merokok maka pria itu bukanlah pria sejati.


Ting...


Sebuah pesan singkat yang masuk ke ponsel Aster mengalihkan perhatian keduanya. Alis Gadis itu saling bertautan melihat nomor asing tertera di layar ponselnya. Penasaran siapa yang mengirimnya pesan singkat, Aster pun segera membuka dan membacanya.


"Hah!! Bocah ini sudah ada di Seoul saja?!" Seru Aster setelah membaca pesan singkat tersebut.


"Memangnya pesan dari siapa?"


"Leon, sahabatku. Orang yang aku kenal di luar negeri, dan satu-satunya orang Asia yang aku kenal di sana. Dia memberitahuku jika sekarang sudah berada di Seoul dan mengajakku untuk bertemu," jawab Aster.


"Tidak boleh pergi!!"

__ADS_1


Aster memicingkan matanya dan menatap Aiden dengan bingung. "Memangnya kenapa kau melarangku untuk pergi? Lagipula dia itu sahabatku, orang yang sudah banyak membantuku. Jangan mulai lagi deh, aku sedang malas berdebat denganmu!!"


"Tapi aku memiliki hak dan alasan untuk melarangmu pergi, karena aku adalah suamimu!!"


"Cemburu eh?" Goda Aster sambil menyeringai.


"Dalam mimpimu!! Sudah ayo pulang. Satu mobil saja denganku, mobil itu tinggalkan saja di sini. Biar Tao saja yang mengurusnya nanti!!" Aster memanyunkan bibirnya dan menatap punggung Aiden yang semakin menjauh dengan sebal.


Bisa-bisanya dia memaksanya lagi, dan anehnya Aster malah tidak bisa menolaknya. Dia mengikuti Aiden lalu masuk ke dalam mobil suaminya tersebut.


-


-


Ting...


Perhatian pemuda itu teralihkan. Dia segera membuka pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Itu adalah pesan balasan dari seseorang yang diam-diam menempati ruang kosong di hatinya.


"Maaf, tapi aku tidak bisa pergi. Lain kali saja kita bertemu, oke."


Pemuda itu 'Leon' mendengus berat. Ternyata Aster menolaknya untuk bertemu, padahal dia sudah sangat merindukan gadis itu. Mungkin memang bukan hari ini, ganti saja di astro sama ke situ sekarang. Dia adalah seorang desainer, jadi sudah pasti jika sangat sibuk dan cara memiliki waktu luang.


Kemudian Leon mengirim pesan balasan pada Aster. "Baiklah, tidak apa-apa. Aku bisa mengerti. Kita masih bisa bertemu lain waktu."


Padahal Leon sangat berharap untuk bisa bertemu dengan Aster sekarang, tetapi sepertinya Dewi Fortuna sedang tidak berpihak padanya. Jadi yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu sampai Aster memiliki waktu.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2