I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 61: Luar Biasa


__ADS_3

Aiden tak henti-hentinya menatap kedua buah hatinya penuh kekaguman. Rasanya begitu luar biasa menjadi seorang ayah. Tak pernah terpikirkan sebelumnya jika dia akan merasakan kebahagiaan yang begitu luar biasa.


Usia si kembar baru lima bulan, namun mereka begitu aktif dan energik. Mereka sangat sehat dan tubuhnya semakin bulet. Mungkin karena mereka masih ASI eksklusif tanpa makanan pendamping apapun.


"Apa mereka bangun?"


Perhatian Aiden teralihkan oleh kedatangan Aster. Wanita itu baru selesai mandi. Aiden menggeleng. "Mereka masih tidur, lihatlah Sayang betapa pulsanya mereka berdua. Aku sampai tidak bosan-bosan melihat wajah polosnya ketika tidur."


Aster mengangguk. Kemudian dia berdiri disamping Aiden. "Ya, kau benar. Mereka seperti malaikat kecil, aku sungguh-sungguh sangat bahagia memiliki mereka." Ucapnya seraya menyandarkan kepalanya di bahu kanan suaminya. Aiden tersenyum. Diusapnya kepala coklat istrinya lalu mengecupnya.


"Sebaiknya pakai dulu pakaianmu, kau bisa masuk angin jika hanya memakai handuk saja." Ucap Aiden yang kemudian dibalas anggukan oleh Aster.


Setelah berpakaian lengkap, Aster kembali menghampiri Aidan yang masih belum beranjak dari boks bayi mereka. Sudut bibir Aster tertarik ke atas melihat wajah polos si kembar. Lea sangat mirip dengan Papanya sementara Leon mirip dengannya. Tapi untuk sifat Aster tidak tau siapa mirip siapa. Karena sekarang mereka masih bayi.


"Pelayan sudah menyiapkan buah untukmu, sebaiknya kau makan dulu." Kemudian Aster menoleh dan mendapati potongan-potongan buah segar di atas meja.


"Kita makan sama-sama," ucapnya tanpa melepaskan kontak matanya dengan Aster. Kemudian Aiden mengangguk. Keduanya meninggalkan boks bayi si kembar.


Aster yang dulunya sangat membenci melon dan semangka sekarang justru sangat menyukainya. Sejak hamil, makanan yang bisa dia konsumsi hanyalah buah-buahan. Dan sejak saat itulah dia menjadi terbiasa pada melon dan semangka, dan ternyata rasanya tidak terlalu buruk.


"Oya, Ai. Bagaimana jika akhir pekan ini kita pergi ke rumah mama dan bermalam disana? Pasti mereka sudah sangat merindukan cucu-cucunya." Ucap Aster memberi usul.


"Kedengarannya bukan ide yang buruk. Baiklah, aku akan mengosongkan semua jadwalku dihari itu."


Aster menaikkan alisnya. "Jadwal apa memangnya? Bukankah sekarang kau jarang ada kesibukan apapun, bahkan ke kantor saja kau hampir tidak pernah. Seharian kau selalu bersama mereka." Cibir Aster setelah mendengar ucapan suaminya.


Aiden tertawa. Dia begitu gemas dengan jawaban dan ekspresi Aster. Memang benar apa yang istrinya katakan. Sejak Aster mengandung si kembar, dirinya memang menjadi jarang sekali pergi ke kantor. Aiden lebih sering menghabiskan waktunya di rumah baik itu untuk bekerja ataupun melakukan aktifitas lainnya. Alasannya hanya satu, dia tidak ingin kehilangan momen paling berharga dalam hidupnya.

__ADS_1


Lelaki itu kemudian mengacak rambut Aster lalu memeluknya dengan erat. Menjadikan kepala coklat Aster sebagai tumpuan dagunya.


"Kau tau, Aster. Selama aku hidup, baru kali ini aku merasakan kebahagiaan yang sempurna. Kehadiran Kalian bertiga benar-benar merubah segalanya dalam diriku. Terimakasih, Sayang, telah hadir dan menyempurnakan hidupku." Ucap Aiden kemudian mengecup kening Aster.


"Untuk itu jangan bosan-bosan menyimpan kecebongmu di dalam perutku. Aku ingin memiliki anak lebih dari dua." Jawabnya dan langsung mendapatkan jitakan cinta di kepalanya.


"Yang dua saja belum besar, malah minta nambah lagi. Bahkan sekarang saja kau masih sering mengeluh nyeri, jangan mengatakan omong kosong lagi."


Aster tertawa. "Aku hanya bercanda, kenapa kau serius sekali. Bahkan sakit ketika melahirkan si kembar masih sangat terasa, bisa-bisa lubang cinta milikku tambah lebar jika melahirkan sekali lagi."


"Dan jika terlalu lebar, rasanya sudah tidak mantap lagi. Untuk itu beri jeda pada kehamilan berikutnya!!"


Dan entah obrolan random macam apa yang mereka bicarakan. Dan sungguh sebuah kemajuan yang sangat pesat seorang Aiden yang dingin tiba-tiba bisa bercanda seperti itu. Namun sikap itu hanya dia tunjukkan ketika bersama Aster, bukan dengan orang lain. Karena hanya ketika bersama wanitanya dia bisa bersikap berbeda.


"ADRIAN, KAU CARI MATI YA?!"


Para pelayan sudah berkumpul di kamar mereka berdua, Tao juga tampak ada disana. Aiden mendekati Tao yang sedang menenangkan Aileen yang menangis. "Ada apa ini?"


Mendengar suara yang begitu familiar sontak Aileen mengangkat wajahnya lalu berhambur ke pelukan sang kakak. "Hyung, huaaaa... selamatkan aku dari bocah ini. Dia ngumpul lagi di tempat tidurku,"


Lalu pandangan Aiden bergulir pada Adrian yang terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pemuda itu tersenyum tiga jari. Aiden mendengus berat. Lagi-lagi masalah mengompol, dan ini bukan pertama kalinya.


"Mulai malam ini kalian berdua tidur saja di kamar yang terpisah. Adrian, kau kembali ke kamarmu yang sebelumnya."


Sontak Aileen mengangkat wajahnya dan menggeleng. "Tidak mau!! Aku takut jika tidur sendirian. Apalagi setiap malam aku selalu nonton film horor. Bocah ini tidak perlu pindah, cukup beri ranjang satu lagi saja."


Aiden mendengus. "Terserah." Kemudian ia mengajak Aster keluar dari kamar Aileen. Hal semacam itu memang kerap sekali terjadi, dan itu bukan pertama kalinya.

__ADS_1


-


-


"WILLIAM, BERHENTI MEMBUAT MAMA MARAH!!"


Tak jauh berbeda dengan suasana di kediaman Aiden. Kehebohan hampir setiap hari juga terjadi di kediaman Steven, siapa lagi biang keroknya jika bukan William. Dia selalu saja melakukan kekonyolan yang membuat ibunya marah dan kesal setengah mati.


"Ma, jangan marah-marah terus. Kau nanti bisa cepat muncul keriput loh." Bukannya meminta maaf dan tak mengulangi lagi kenakalannya. William malah mengatakan kalimat yang membuat ibunya semakin marah.


"Diam!! Memangnya siapa yang memintamu untuk bicara!!"


Steven yang terganggu dengan keributan itu menutup telinganya dengan kapas. Hampir setiap hari selalu terjadi keributan di rumahnya, dan perkaranya selalu saja hampir sama. Dia sampai berpikir apakah Jessica tidak capek marah-marah terus seperti itu.


"Mulai hari ini sampai dua Minggu ke depan, jangan harap kau bisa mendapatkan kembali semua fasilitasmu!! Mama akan menyitanya!!"


Mata William sontak membelalak. "Apa?! Disita lagi, janganlah Ma. Kau sudah sering menyita semua fasilitas mewahku, memotong uang jajanku dan lain sebagainya. Kali ini jangan ya, Will janji tidak akan melakukan kenakalan lagi. Tapi jangan mencabut semua fasilitas Will ya," rengek pemuda itu.


"Keputusan Mama sudah final dan tidak bisa diganggu gugat, protes hukuman akan dilipat gandakan. Jadi fasilitasmu akan disita selama satu bulan!!"


Bukannya terkejut lagi. William pingsan sampai kejang-kejang. Tentu saja bukan sungguhan, tetapi hanya berpura-pura saja. Tujuannya agar ibunya tak mencabut semua fasilitasnya, tapi sepertinya sia-sia saja. Jessica sudah hafal betul dengan kelakuan putra bungsunya tersebut. Trik semacam itu tak lagi mempan padanya.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2