
"Apa, jadi orang yang ingin Papa jodohkan denganku adalah Aiden?!"
Aster tak bisa menyembunyikan keterkejutannya setelah mengetahui jika orang yang ingin dijodohkan dengannya ternyata adalah Aiden. Benar-benar di luar dugaannya, dia tak pernah menduga jika orang itu ternyata adalah Aiden.
"Benar sekali, dan bukankah Ini adalah sebuah kebetulan yang manis? Kau menolak mentah-mentah saat Papa hendak menjodohkanmu dengan laki-laki yang kami
pilihkan untukmu. Kau bersikeras untuk memperkenalkan calon suamimu pada kami berdua, dan calonmu itu ternyata adalah Aiden." Tutur Steven.
Aster menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung sekali, kenapa bisa seperti ini? Niat awalnya membawa Aiden dan mempertemukan dia dengan kedua orang tuanya untuk menghindari Perjodohan itu, tapi ternyata orang yang dijodohkan dengannya adalah Aiden.
Sekarang Aster jadi bingung sendiri. Harus bagaimana dia sekarang, mengaku pada kedua orang tuanya jika sebenarnya hubungannya dan Aiden adalah palsu. Atau tetap melanjutkan sandiwaranya. Dia benar-benar dilema.
"Aster, sebenarnya kau dan Aiden telah dijodohkan sejak lama. Kakek buyutmu dan kakek Aiden berteman baik. Meskipun usia mereka berbeda jauh, tapi mereka berdua memiliki ikatan persahabatan yang sangat kuat."
"Dan demi hubungan kekeluargaan diantara mereka tidak terputus, kakek buyutmu berniat menjodohkan kalian berdua. Dan rencana itu jauh sebelum kau dilahirkan, karena rencana itu awalnya hanya sebuah obrolan antara dua pria dewasa yang Papa anggap sebagai candaan. Tapi ternyata bukan."
"Sebelum kakek buyutmu pergi. Dia berpesan pada Papa, supaya anak Papa kelak dijodohkan dengan seseorang dari keluarga Zhang. Beberapa tahun lalu, kakek Zhang menemui Papa dan membicarakan tentang rencananya dan mendiang Kakekmu."
"Tapi pada saat itu Papa tidak bisa memberikan jawaban apa-apa, bahkan hanya untuk sekedar mengatakan iya papa tidak bisa. Karena semua keputusan ada di tanganmu, dan pada saat itu Kau masih terlalu muda untuk memikirkan tentang Perjodohan apalagi rumah tangga. Apalagi Papa dengar jika Aiden menolak perjodohan itu, jadi Papa semakin tidak berani memberitahumu." Ujar Steven panjang lebar.
Aster dan Aiden saling bertukar pandang, mereka berdua sama-sama bingung harus melakukan apa sekarang. Semua ini di luar dari apa yang mereka rencanakan sebelumnya. Dan salah satu diantara mereka berdua, harus mengambil keputusan tentang bagaimana hubungan mereka kedepannya.
"Paman, Bibi. Kami akan mengikuti alurnya saja. Tuhan yang telah merencanakan semua ini, dan kami akan mengikuti alur yang Tuhan berikan saja bagaimana akhirnya hubungan kami bermuara,"
__ADS_1
Aster mengangguk. "Benar sekali apa yang Aiden katakan. Meskipun kami berdua berpacaran, sebenarnya aku dan dia juga tidak ingin buru-buru menikah. Karena mama memintaku untuk membawa calon suami ke rumah ini, makanya aku mengajak Aiden untuk datang." Tutur Aster.
"Mama dan Papa juga tidak akan memaksakan kehendak pada kalian berdua. Semua keputusan ada di tangan kalian berdua, bagaimana baiknya. Kalianlah yang seharusnya menentukan," ucap Jessica menuturkan.
Sebenarnya Jessica sudah tahu jika hubungan Aster dan Aiden. Karena setahunya, aster tidak memiliki teman dekat apalagi kekasih. Namun tiba-tiba dia mengatakan akan memperkenalkan calon suaminya dalam waktu kurang dari 24 jam, tentu saja membuat Jessica ragu dan tidak yakin.
"Tidak, tidak. Papa tidak setuju dengan Mamamu. Papa malah berniat menikahkan kalian dalam waktu dekat, karena itu lebih baik daripada hubungan kalian tanpa kejelasan." Ucap Steven menyahuti.
"Apa, Pa? Menikah?!" Aster memekik keras. Gadis itu menggeleng. "Tidak mau!! Aku masih belum siap untuk menikah, Pa. Lagipula aku dan Aiden~"
"Tidak ada tapi-tapian. Keputusan Papa sudah final. Lagipula sudah saatnya kau itu menikah dan membina rumah tangga, apa kau mau jadi perawan tua?! Ada bagusnya juga loh menikah, dengan begitu ada seseorang yang lebih memperhatikan dan menjagamu. Lagipula Aiden adalah pria yang baik, meskipun dia seorang Duda. Tapi dia adalah lelaki yang baik. Percayalah, Nak. Tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan putrinya. Karena setiap orang tua hanya ingin membahagiakannya."
Aster menggigit bibirnya mendengar perkataan ayahnya. Sepertinya keputusan sang ayah sudah final. Lalu apakah dia benar-benar siap untuk menikah dan membinar rumah tangga. Apalagi hidup dengan orang asing bukanlah sesuatu yang mudah.
"Sudah-sudah. Nanti lagi mengobrolnya, sebaiknya kita sarapan dulu. Mama sudah sangat lapar," ucap Jessica menenangi perbincangan Aster dan Steven.
Aiden tak merespon sama sekali. Otaknya sedang berpikir keras. Membina kembali rumah tangga, apakah dia sudah siap? Dan sepertinya sudah saatnya untuk move on dan mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu. Karena tidak ada gunanya mengenang masa lalu yang menyakitkan.
Dan tidak ada salahnya juga dia membuka hati untuk orang lain. Apalagi Aster adalah gadis yang baik dan unik. Aiden sendiri selalu merasa nyaman ketika berada di dekatnya. Dan jika mereka benar-benar menikah, Aiden berjanji akan selalu menjaga dan melindungi Aster. Menjadikannya sebagai wanita yang paling bahagia nantinya.
.
.
__ADS_1
Usai sarapan. Mereka lanjut mengobrol di ruang keluarga. Banyak aib Aster yang dibuka oleh Jessica maupun Steven di depan Aiden. Mulai dari yang dia paling susah dibangunin, suka mengigau ketika tidur, hobi berkelahi ketika masih sekolah. Dan yang paling parah adalah dia yang tidak bisa memasak.
Aster benar-benar malu setengah mati setelah aibnya dibuka oleh kedua orang tuanya sendiri. Bukannya merasa bersalah setelah membuka aibnya, mereka malah terlihat bahagia apalagi Jessica mengatakannya dengan sambil tertawa.
"Hahaha...!! Begitulah putri Mama yang unik ini, Ai. Dan Mama harap kau jangan sampai mencicipi masakannya meskipun hanya sedikit saja. Mama cemas kau akan masuk rumah sakit karena terserang diare parah!!"
Gadis itu mempoutkan bibirnya dan menatap sang ibu dengan kesal. Bagaimana bisa dia dengan sangat bangganya membuka semua aibnya di depan Aiden. Pasti setelah ini dirinya menjadi bahan ejekan laki-laki tersebut.
"Mama, cukup!! Ada apa denganmu ini? Kenapa kau malah membuka aibku yang sangat memalukan itu di depannya?! Bikin malu saja!!"
"Bukannya membuka aib, Sayang. Hanya ingin berbagi cerita pada Aiden. Kau dan dia akan segera menikah, jadi sudah sewajarnya jika kalian berdua saling terbuka dengan sifat dan kepribadian masing-masing. Bukankah begitu, Ai?" Jessica menatap Aiden. Sementara Aiden hanya tersenyum tipis tanpa memberikan jawaban apa-apa.
"Sudah-sudah!! Sudah cukup kalian mengomporinya. Aiden, urusan kita disini sudah selesai. Sebaiknya kita pulang sekarang. Bukankah kau ada meeting penting sebentar lagi. Ma, Pa. Kita berdua pulang dulu ya. Bye-bye, dan terimakasih untuk sarapan mewahnya. Aku sayang kalian berdua!!"
"Yakk!! Kalian berdua, jangan pulang dulu. Mama belum selesai. Aster!! Aisshhh, kenapa gadis ini semakin menyebalkan saja!! Benar-benar photo copymu!!" Jessica beranjak dari hadapan Steven dan pergi begitu saja.
Ayah dua anak itu mendengus. Steven menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Dia tak ada bedanya dengan Aster, sama-sama seperti bocah!!
-
-
Bersambung.
__ADS_1