
Aileen meninggalkan cafe. Dia mendapatkan banyak keuntungan dengan berpura-pura buta. Dia yang memenangkan tantangannya dan William kalah darinya. Yang Artinya dia harus mentraktirnya makan selama satu Minggu penuh. Aileen tiba di luar dan dia sedikit kebingungan.
"Loh kok mobilnya William gak ada? Kemana perginya dia?"
Aileen tampak kebingungan ketika keluar dari Cafe dan menemukan mobil William sudah tidak ada di parkiran. Dia celingukan ke sana kemari, berharap mobil itu masih ada dan hanya dipindahkan tempat saja. Tetapi mobil itu benar-benar sudah tidak ada, mungkinkah William meninggalkannya.
Pemuda itu melihat kesisi kanan, kiri, depan dan belakang sebelum mengeluarkan ponselnya dari kantong celana. Orang-orang bisa menertawainya jika mereka sampai melihat ponsel yang ia miliki.
Setelah dirasa aman. Buru-buru Aileen mengeluarkan ponsel tersebut lalu mengirim pesan singkat pada William untuk menanyakan keberadaannya. Karena tak ada balasan, akhirnya Aileen pun memutuskan untuk menghubunginya.
"William, kau dimana? Aku sudah mencarimu kemana-mana kenapa kau tidak ada?"
"Kau mau mencariku sampai lebaran domba pun tidak mungkin ketemu, karena aku sudah pulang!!"
Mata Aileen pun membulat. "MWO?! Jadi kau sudah pulang? Lalu aku nanti pulangnya bagaimana, masa iya merangkak seperti siput?"
"Masa bodoh, itu bukan urusanku. Sudah ya aku tutup dulu, bye bye Alien."
"Yakk!! William, William!!"
Aileen menekuk bibirnya ke bawah, matanya berkaca-kaca. Dia sedih sekali William meninggalkannya. Padahal dia tidak bisa kemana-mana tanpa tebengan dari dia. Lalu bagaimana dia harus pulang?
Menghubungi Aiden dan meminta sang kakak untuk menjemputnya? Bisa-bisa Aileen digantung hidup-hidup olehnya, karena bukannya belajar dengan benar malah kelayapan tidak jelas. Sepertinya dia tidak memiliki pilihan selain mencari tebengan pada orang lain agar bisa pulang.
-
-
"Sebenarnya kita mau pergi kemana?"
Hening... Tak ada jawaban. Yang ditanya terus diam dan hanya menatap lurus ke depan. Lebih tepatnya pada jalanan beraspal yang mereka lalui. Aiden hanya melihat sekilas kearah Aster tanpa berniat menjawab semua pertanyaannya.
__ADS_1
"Aiden, aku bertanya padamu!! Sampai kapan kau akan mengabaikanku?!"
Aster berdecak kesal untuk kesekian kalinya atas tak adanya respon dari seseorang disebelahnya. Tak ada suara yang keluar dari bibir mereka sejak menaiki mobil sport itu. Aiden merasa sedikit jengah dengan tingkah istrinya yang berkali-kali berdecak.
"Hentikan, Aster." Ucap –salah, perintah Aiden dingin.
Gadis itu mengerucutkan bibirnya, berlipat sudah kejengkelannya kepada sosok cuek suaminya. Aster sendiri tidak tau apa yang terjadi pada lelaki disebelahnya ini. Sikapnya berubah 180° sejak beberapa hari lalu. Lebih tepatnya sejak pertemuannya dan Leon di kantor Aiden hari itu.
"Atau jangan-jangan kau kesal padaku karena cemburu ya? Jangan bilang kalau kau cemburu pada Leon?" Tebak Aster sambil menatap Aiden dengan serius.
"Dalam mimpimu!!"
Gadis itu berdecak sebal. Sudah terlihat jelas jika Aiden sedang cemburu padanya, tapi dia tak kau mengaku juga. Dan Aster sangat tau kalau suaminya itu memang menyebalkan dan bermulut tajam.
Ia bahkan tak jarang bertanya-tanya kenapa bisa menikah dengan lelaki dingin dan berlidah tajam seperti Aiden. Padahal tak sedikit juga laki-laki lain yang lebih dari Aiden. Lebih perhatian, lebih hangat, lebih keren, lebih tampan dan lebih-lebih lainnya.
Dia hanya geleng-geleng kepala kala pikiran itu merecokinya. Atau mungkin karen Aster sudah mulai jatuh cinta padanya? Cinta itu memang tak pilih-pilih. Kalau suka mungkin bisa memilih mau suka dengan yang mana. Tapi kalau cinta? Adakah yang bisa mengatur hati untuk jatuh cinta pada siapa?
"Untuk apa?"
"Aku bilang hentikan mobilnya!!" Perintah Aster sekali lagi. "Sebaiknya aku pulang jalan kaki saja dari pada satu mobil dengan manusia kulkas sepertimu. Kau menyebalkan!!"
Pintu disamping kanannya tidak bisa dibuka. Pintu itu terkunci. Lalu pandangan Aster bergulir pada Aiden. "Kenapa? Kau hanya memintaku untuk menghentikan mobilnya, tidak untuk membuka pintu juga." Aiden berkata seolah-olah dia mengerti apa yang Aster pikirkan. Dan mobil itu kembali melaju dengan kecepatan tinggi. Aster tak lagi merengek supaya Aiden menghentikan mobilnya.
Mereka tiba disebuah Villa yang terletak jauh dari keramaian kota. Aster memicingkan matanya dan menatap sang suami penuh tanya. "Tempat apa ini?"
"Aku rasa kau tidak buta sampai-sampai tidak tau tempat apa ini. Jangan banyak tanya, cepat turun."
Aster mendengus sebal. Kenapa di dunia ini ada modelan pria seperti Aiden, yang dingin dan bermulut tajam. Rasanya Aster ingin sekali menghajar Aiden sampai pingsan. Dia benar-benar sangat menyebalkan.
"Yakk!! Tunggu, Aiden jangan tinggalkan aku!!" Seru Aster yang sedikit kerepotan karena heels yang dia kenakan. Jika tau Aiden hendak mengajaknya ke tempat seperti ini, pasti dia lebih memilih Flat Shoes dari pada Heels Shoes. "Yakk!! Aiden, aku bilang tunggu aku!! Kenapa kau tadi tidak bilang-bilang jika kita akan datang ke tempat seperti ini?!"
__ADS_1
Tak ada respon dari Aiden. Lelaki itu hanya melirik sekilas kearah Aster yang tampak kesulitan berjalan. Aiden mendesah berat. Kemudian dia berhenti dan mengulurkan tangannya pada Aster. "Kenapa tidak dari tadi, dasar menyebalkan!!" Omel Aster sambil menerima uluran tangan Aiden.
"Ck, berhentilah mengoceh seperti burung Beo. Telingaku sampai sakit mendengar ocehanmu!!" Ucap Aiden menimpali.
Untuk sampai ke Villa memang perlu berjalan kaki sejauh lima meter. Mobil tidak bisa masuk ke sana karena tempatnya yang tinggi. Villa itu terletak disebuah perbukitan yang jauh dari keramaian kota. Villa itu dikelilingi perbukitan hijau yang membuat udaranya terasa segar dan Asri. Belum lagi suara kicauan burung yang hinggap di dahan-dahan pohon.
Aster memperhatikan ke sekelilingnya. Benar-benar seperti berada di negeri dongeng. Tempat ini begitu sunyi dan tenang. Sangat cocok untuk menenangkan pikiran ketika sedang suntuk.
"Apa Villa ini milikmu?"
"Hn,"
Aster menatap punggung Aiden dengan sebal. Lagi-lagi bahasa planet yang keluar, dan dia paling benci jika Aiden sudah menggunakan bahasanya dari alam lain. "Ck, dasar menyebalkan. Apa kau kehabisan stok kata sampai-sampai harus menggunakan bahasa planetmu itu?!"
"Kau terlalu banyak bertanya."
Dengan kesal Aster memukul Aiden dengan tasnya. Bodoh amat meskipun dia disebut sebagai istri durhaka. Dia sudah terlalu kesal sama suaminya ini. "Yakk!! Apa-apaan kau ini?! Aster hentikan!!" Teriak Aiden. Namun tetap saja Aster tak mengindahkan teriakan suaminya. Aster terus memukulinya dengan brutal.
"Aku bilang hentikan!!" Aiden menghentikan aksi brutal Aster dengan menggenggam pergelangan tangannya. Membuat tubuh Aster tertarik ke depan dan nyaris bertubrukan dengan tubuh Aiden.
Kontak mata diantara mereka pun tak bisa terhindarkan. Aiden menatap ke dalam mata Hazel Aster begitu dalam, membuat yang ditatap menjadi gugup dan salah tingkah."Le..Lepaskan. Tiba-tiba aku kebelet pipiss, dimana aku bisa pis of the curr?"
Dan inilah yang terjadi pada Aster jika dia terlewat gugup. Dia pasti akan kebelet pipiss dan bahkan bisa terkencing di celana. Seperti yang dia alami ketika pertama kali brand fashion miliknya mengikuti fashion weeek di Paris.
Aiden mendengus. Dia menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Kemudian Aiden membawa Aster masuk ke dalam. Karena tak ada toilet di luar Villa. Aiden tak mau jika Aster sampai terkeciing di celana.
-
-
Bergabung.
__ADS_1