
"MAMA, PAPA, KAMI PULANG!!"
Teriakan nyaring itu menggema di setiap sudut kediaman Nero. Sepasang suami-istri terlihat menuruni tangga menyambut kedatangan kedua buah hatinya. Aster dan William.
William merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum lebar melihat sang ibu berlari kearahnya. Bukannya memeluk William, Jessica malah melewatinya begitu saja. Lalu dia menoleh kebelakang, ternyata yang ibunya hampiri bukan dirinya melainkan kakaknya, Aster.
Pemuda 18 tahun itu mempoutkan bibirnya. Kebiasaan yang dia lakukan ketika sedang kesal. "Yakk!! Kenapa malah Aster Nunna saja yang Mama peluk, aku ini juga anakmu. Apa Mama tidak merindukanku?" Protes William.
"Apanya yang perlu dirindukan darimu? Sedangkan setiap hari kita bertemu, dasar bocah ini!!" Lalu pandangan Jessica bergilir pada Aster. Sudah tiga tahun, akhirnya putrinya pulang juga.
Aster memeluk ibunya dengan erat. "Aku merindukanmu, Mama." Ucap Aster sambil mengeratkan pelukannya. Kedua matanya tampak berkaca-kaca, dia benar-benar terharu dan bahagia.
Jessica tersenyum. Wanita itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan putrinya. "Mama, juga merindukanmu, Nak." Jawabnya sambil mengusap rambut panjang Aster dengan gerakan naik-turun.
Melihat bagaimana sang ibu memperlakukan kakaknya membuat William merasa iri. Bagaimana tidak, hampir setiap hari dia dimarahi dan diomeli, sedangkan Aster malah dipeluk dan disayang-sayang. Apa karena dia anak pertama dan seorang perempuan?!
"Tidak adil!! Kenapa Mama pilih kasih padaku, hampir setiap hari Mama selalu mengomeliku, sementara Aster Nunna tidak pernah." Pemuda itu mempoutkan bibirnya.
"Itu karena kau suka menguji kesabaran Mamamu!!" Sahut Steven yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping William. Ayah dua anak itu meninggalkan William begitu saja dan menghampiri dua wanita kesayangannya. "Bagaimana bisa kalian berpelukan tanpa diriku?" Serunya lalu memeluk keduanya.
William pun tak mau ketinggalan. "Aku juga mau berpelukan juga!!" Serunya lalu ikut berpelukan bersama kakak, ayah dan ibunya. Meskipun sering mengomel dan memarahi William, tapi bukan berarti Jessica tidak menyayanginya. Dia sangat menyayangi anak-anaknya, hanya saja William sering membuatnya emosi dan naik darah.
"Sudah-sudah nanti lagi berpelukannya. Aster pasti lelah, sebaiknya sekarang biarkan dia istirahat." Ucap Steven seraya melepas pelukannya.
"Ya, Pa. Kebetulan aku juga sangat lelah. Ma, Pa, Aku ke kamar dulu." Ucap Aster dan pergi begitu saja.
Selain lelah, Malam ini dia ada janji untuk bertemu dengan teman-teman lamanya. Rencananya mereka akan makan malam di Green Hotel. Hotel berbintang lima yang hanya bisa di datangi oleh mereka-mereka yang berkantong tebal.
Meskipun sebenarnya dia sangat lelah, tetapi Aster harus tetap datang. Karena jamuan makan malam itu disiapkan khusus untuk menyambut kepulangannya. Dan yang menyiapkannya adalah kedua sahabat Aster, Serra dan Tiffany.
__ADS_1
-
-
Dia mengetukkan jari-jarinya di atas meja kerjanya. Matanya yang dingin menatap datar pria yang berlutut di hadapannya. Seringai sinis tercetak disudut bibirnya. "Sampai kapan kau akan berlutut seperti itu, Gerry Lee?"
"Sampai kau mau membantuku untuk menghancurkan wanita jalan* itu!!"
Kemudian dia bangkit dari kursinya dan menghampiri Gerry yang masih belum bergeming. Aiden mengangkat wajahnya, jari-jarinya mencengkram rahang Gerry dengan kuat, membuat pria itu meringis kesakitan.
"Tapi bantuanku tidaklah gratis. Aku ingin kau berlutut dan mencium kaki Shilla sampai dia mau memaafkan mu. Dan sebelum dia mau memaafkanmu, jangan berharap aku mau membantumu!!"
"Kenapa kau memberiku syarat yang begitu sulit?! Apa tidak ada syarat lainnya, yang lebih muda untuk aku lakukan?"
"Ada, tentu saja ada." Aiden melemparkan sebuah belati kecil kepangkuan Gerry. "Potong lida*mu dan kelima jari kirimu, jika kau bisa melakukannya maka hari ini juga aku akan membantumu menghancurkan wanita itu!!"
Mata Gerry membulat sempurna mendengar syarat gila yang diajukan oleh Aiden. "Kau tidak waras ya? Bagaimana bisa kau memberikan syarat yang tidak masuk akal , aku tidak mau!! Lebih baik aku sendiri saja yang menghancurkannya!!"
Tanpa berkata apa-apa, Gerry bangkit dari posisinya dan pergi begitu saja. Mana mungkin dia menerima syarat tak masuk akal yang Aiden berikan padanya. Lebih baik dia mencari cara lain, daripada harus meminta bantuan pada iblis.
Tak lama setelah kepergian Gerry. Seorang pria memasuki ruangan Aiden dan tanpa basa-basi dia duduk di sofa sudut ruangan tersebut. "Siapa yang memberi ijin padamu untuk sembarangan masuk ke ruangan ini?!"
Pria itu mempoutkan bibirnya. "Dasar Iblis, kapan kau akan berhenti bersikap menyebalkan seperti ini, Bocah?!!" Celetuk laki-laki itu yang tak lain dan tak bukan adalah paman kecil Aiden.
"Hn," Aiden tak menggubris kalimat protes itu. Di kembali ke meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Tiba-tiba pria itu bangkit dari duduknya lalu menghampiri Aiden. "Bagaimana kalau malam ini kau ikut Paman pergi ke Green Hotel? Alumni Paman akan akan mengadakan Reuni tahunan, dan di sana banyak juga wanita-wanita cantik dan sexy. Kita bisa melakukan permainan ganda, bagaimana? Oke kan?"
Aiden mengangkat wajahnya dan menatap pria itu dengan datar. "Apanya yang ganda, aku seorang Impote*, jadi jangan berharap lebih padaku. Pergilah, aku masih banyak kerjaan."
__ADS_1
"Impote* apanya, jelas-jelas kau ini normal. Atau begini saja, kau tetap ikut datang tetapi tidak ngapa-ngapain hanya makan malam saja. Ayolah Aiden, hanya sekali ini saja. Hampir semua yang datang itu berpasangan dan masa hanya Paman saja yang datang untuk mencari pasangan. Aiden, Paman mohon, ikut ya."
Aiden menghela napas panjang. Melihat Hyuk memohon seperti itu membuatnya tidak tega untuk menolaknya. Meskipun terkadang tak berperasaan, tetapi Aiden masih memiliki sisi lembut.
"Baiklah, tapi ini pertama dan terlahir aku menemanimu datang ke acara gak berguna seperti itu!!"
Hyuk mengangguk dengan antusias. "Aiden, memang kau yang terbaik. Paman sangat beruntung memiliki keponakan sepertimu. Kalau begitu sampai jumpa nanti malam ya. Paman pergi dulu."
Aiden mendesah berat. "Dasar merepotkan!!"
-
-
Sebuah sedan hitam berhenti di halaman Green Hotel. Seorang wanita muda berparas cantik nan anggun terlihat turun dari mobil tersebut. Tubuh rampingnya dalan balutan dress hitam bermotif bunga sepanjang lutut bermodel kemben. Rambut panjangnya yang biasanya dia gerai, malam ini diikat poni tail.
"Kau tidak perlu menungguku. Mungkin aku pulang agak malam."
Sopir itu mengangguk. "Baik, Nona."
Melihat mobilnya sudah melaju pergi. Kemudian Aster berbalik badan dan.. BRUGG.. tanpa sengaja dia menubruk punggung seseorang yang baru saja keluar dari mobilnya. Matanya membelalak sempurna, dia hilang keseimbangan dan hampir terjungkal kebelakang jika saja orang yang ditubruknya tak menangkapnya tepat waktu.
Refleks, Aster mengalungkan sebelah lengannya pada leher pria itu dan membuat mata mereka berdua bertemu pandang. Dan untuk sesaat, Aster merasakan udara disekitarnya tiba-tiba menghilang.
"Ya Tuhan, lagi-lagi Bumi memanggilku!!"
-
-
__ADS_1
Bersambung.