
"Presdir, tolong ampuni saya."
Lelaki itu terus memohon agar Aiden memaafkannya. Aiden berhasil menemukan orang yang melakukan korupsi besar-besaran dan membawa kabur uang perusahaan kurang dari 24 jam.
Menemukan seorang penghianat tentu saja bukan perkara sulit baginya, Aiden memiliki banyak mata, tangan dan kaki yang tersebar dimana-mana. Dan mencari masalah dengan Aiden, sama saja dengan menghantarkan nyawa dengan sia-sia.
Lelaki itu menyeringai sinis. "Memangnya apa hakmu memintaku untuk memaafkan?! Jangan bermimpi!! Karena orang sepertimu lebih layak dikirim ke neraka!!"
"Jangan Presdir, saya mohon!!" Lelaki itu lalu merangkak dan memeluk kaki Aiden. "Saya tahu saya salah, tetapi saya melakukannya karena terpaksa. Saya memiliki hutang yang sangat besar pada rentenir untuk pengobatan istri saya yang sedang sakit parah, dan sudah jatuh tempo."
"Saya bingung kemana harus mencari uang, karena gelap mata, akhirnya saya mengkorupsi uang perusahaan!!" Lelaki itu pun akhirnya memberikan penjelasan perihal kenapa dia sampai mengkorupsi uang perusahaan.
"Lalu kenapa kau tidak membicarakannya denganku dan malah mengkorupsi uang perusahaan?!"
"Saya merasa tidak enak jika harus merepotkan Anda. Saya sudah mencari bantuan kemana-mana, tetapi tak ada seorangpun yang mau membantu saya apalagi meminjamkan uang. Dan jika bukan karena terpaksa, saya tidak akan melakukan kebodohan seperti ini." Dia menundukkan kepalanya, penyesalan terlihat jelas dan sepasang mata hitamnya.
Aiden menghela napas panjang. Jika sudah seperti ini, lalu bagaimana mungkin dia bisa tega memberikan hukuman pada pria di depannya ini. Yang bisa dia lakukan hanyalah membuktikan ucapannya. Benar atau tidak jika istrinya sakit keras.
"Antar aku untuk melihat istrimu!!"
Sontak lelaki itu mengangkat wajahnya dan menatap Aiden dengan bingung. "U..Untuk apa, Presdir?"
"Jangan banyak tanya!! Antarkan saja aku untuk bertemu dengannya!!"
"Ba-Baik, Presdir."
.
.
Akhirnya mereka berdua tiba di rumah sakit tempat istri lelaki itu dirawat. Mereka berdua memasuki rumah sakit tersebut dan menuju ruangan dimana istri pria itu berada. Alis Aiden saling bertautan, lalu dia menatap pria yang berjalan di sampingnya.
"Bukankah ini kelas nomor tiga? Apa di sini istrimu dirawat?"
Pria itu mengangguk. "Benar, Presdir. Kami bukanlah orang yang mampu. Biaya pengobatan di kelas dua dan kelas utama sangatlah mahal. Jadi bagaimana mungkin kami mampu membayarnya." Dia tersenyum pilu.
"Namamu, Bram kan?"
Pria itu mengangguk. "Ya, Presdir. Di ruangan inilah istri saya dirawat. Mari silakan masuk," cara membukakan pintu untuk item dan mempersilahkannya untuk masuk ke ruangan inap istrinya. Di dalam ruangan itu ada dua anak kecil, salah satu makna dari perutnya. Dia lapar.
__ADS_1
"Appa," seru si sulung melihat kedatangan sang ayah. "Ji-hyun lapar, dia terus saja menangis dan meminta makan. Tapi aku tidak memiliki uang sama sekali untuk membeli makanan."
Pandangan Bram lalu bergulir pada Aiden. Kemudian dia menghampiri kedua putrinya tersebut. "Kecilkan suaramu, atasan Appa ada di sini. Tidak enak jika dia sampai mendengarnya. Nanti ya, Appa pasti membelikan makanan untuk kalian berdua."
Bram benar-benar tidak enak pada Aiden. Untuk itu dia memberikan nasehat kepada putrinya agar dia tidak merengek lagi. Lalu si kecil menghampiri Aiden sambil menangis sesenggukan. "Paman, apakah kau memiliki uang? Aku mohon berikan sedikit untukku. Aku lapar, aku belum makan dari kemarin."
Hati Aiden terenyuh melihat air mata bocah perempuan itu. Kemudian dia berlutut dan menghapus air mata di pipi gembilnya. "Kau ingin makan apa? Paman akan membelikan semua makanan yang kau inginkan." Ucapnya.
"Sungguh?" Aiden mengangguk. "Tidak mau yang mewah. Cuma sepotong roti saja, biarpun murah yang penting bisa mengganjal perutku."
Aiden mengusap kepala bocah perempuan itu dengan lembut. "Pergilah bersama sopir Paman, dia akan mengantar dan menemani kalian berdua. Beli makanan apapun yang kalian inginkan."
"Presdir, i..itu tidak perlu. Saya akan membelikan mereka sepotong roti saja. Itu sudah cukup." Dia benar-benar merasa tidak enak pada Aiden.
"Bukan masalah, lagipula aku membelinya bukan untukmu. Tetapi untuk anak-anakmu!!"
-
-
"Aster,"
Aster menoleh mendengar seseorang memanggilnya. Tampak Leon yang melambaikan tangan padanya. Kemudian lelaki itu menghampirinya sambil tersenyum lebar.
"Menunggumu. Bagaimana kalau kita minum kopi di cafe biasa, aku yang akan mentraktirmu." Leon tersenyum.
"Maaf, Leon. Aku tidak bisa. Aku sudah menikah, tanpa ijin dari suamiku aku tidak bisa pergi sembarangan apalagi dengan laki-laki lain. Jadi tolong mengertilah, aku tidak mau jika Aiden sampai salah paham pada hubungan kita."
Senyum di bibir Leon pun pudar seketika setelah mendengar jawaban Aster. "Tidak masalah, kau tidak perlu merasa tidak enak padaku. Aku mengerti kok, memang tidak seharusnya aku mengganggumu yang sudah berkeluarga. Kalau begitu aku pergi dulu."
Leon sadar diri. Dia memang berada diposisi yang salah. Leon mencintai wanita yang telah bersuami, yang seharusnya itu tak dia lakukan.
"Sekali lagi maaf, Leon."
Leon menggeleng. "Tidak apa-apa. Santai saja, aku pergi dulu ya."
Selang beberapa saat setelah Leon pergi. Aiden datang dan menghampiri Aster. Ekspresi wajahnya tidak enak dilihat, dan Aster yakin itu ada hubungannya dengan kedatangan Leon barusan. "Untuk apa dia menemuimu?"
Aster menggeleng. "Tidak ada, hanya sekedar menyapa saja. Ngomong-ngomong kau dari mana saja? Kenapa pergi lama sekali, lalu bagaimana dengan karyawanmu yang melakukan korupsi itu? Kau sudah menemukannya?"
__ADS_1
Aiden mengangguk. "Masalahnya sudah clear, kau lapar tidak? Ayo makan siang bersama,"
Aster mengangguk antusias. "Kebetulan sekali aku memang sudah sangat kelaparan, kita makan di cafe biasanya saja."
"Hn, terserah kau saja!!"
-
-
Shilla sedang menikmati makan siangnya disebuah cafe seorang diri. Sejauh ini tak ada yang menarik perhatiannya, sampai dia melihat kedatangan sepasang suami-isteri yang memasuki cafe dimana dia berada sambil bergandengan tangan.
Gyuttt...
Wanita itu mengepalkan tangannya. Kobaran bara api serasa membakar hati dan dadanya. Shilla terbakar cemburu melihat kebersamaan mereka berdua. Dan Shilla tidak terima karena Aiden lebih memilih Aster daripada dirinya.
Shilla bangkit dari kursinya lalu pergi ke dapur cafe. Entah apa yang dia rencanakan kali ini.
-
-
Seorang pelayan menghampiri pasangan suami istri itu sambil membawa pesanan mereka. Langsung hidangan utama, karena mereka sudah terlalu lapar untuk menikmati hidangan pembuka.
"Kenapa dia masih terus saja menemuimu?"
"Aku tidak tau, dan aku juga tidak meladeninya."
"Aku tidak suka kau masih berhubungan dengannya!! Kalau perlu blok saja nomor ponselnya!!"
Aster mendesah berat. "Dasar pencemburu. Sudahlah, aku lapar dan jangan mengoceh lagi!!" Balas Aster menimpali.
Dua puluh menit setelah berkutat dengan piring, garpu, sepotong daging dan beberapa potong hidangan pelengkap, Aiden mengambil serbet untuk mengelap mulutnya yang ternodai saus lemon. Mereka baru saja menyelesaikan hidangan utama dan sedang menunggu dessert.
"Setelah ini antarkan aku ke minimarket, ada sesuatu yang ingin aku beli."
"Hn, baiklah."
-
__ADS_1
-
Bersambung.