
Aster terus melamun di samping Aiden yang sedang mengemudi. Saat ini mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju lokasi proyek yang menjadi tujuan utama perjalanan mereka.
Sesekali Aiden menoleh dan menatap gadis yang duduk di sampingnya. Alisnya saling bertautan melihat Aster yang sedari tadi hanya diam, biasanya Gadis ini sangat bawel dan selalu memiliki topik hangat untuk di bahas. Tapi tidak untuk kali ini. Dan itu membuat Aiden penasaran.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Aiden memecah keheningan.
Lalu Gadis itu menoleh dan menatap lelaki di sampingan. "Apa kau ingat pada sepasang tupai yang kita temui ketika berhenti tadi?" tanya Aster memastikan, kemudian Aiden mengangguk.
"Ya, aku mengingatnya. Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan kedua tupai itu?"
Aster menggeleng. "Tidak ada yang salah, hanya saja aku merasa iri pada mereka berdua. Mereka yang binatang saja memiliki pasangan, lalu kenapa aku yang manusia malah tidak memilikinya. Bukankah ini sangat tidak adil untukku?" Dia menatap Aiden yang juga menatap padanya.
Aiden mendengus geli mendengar apa yang gadis itu katakan. Benar-benar tidak masuk akal, Aiden pikir Aster diam karena apa. Ternyata karena dia merasa iri pada tupai. Benar-benar gadis yang unik dan langkah.
Mereka berdua hampir sampai di lokasi yang dituju, sekitar 500 meter lagi. Tiba-tiba Aiden menepikan mobilnya. Kedua mata Aster membulat sempurna melihat Aiden yang tiba-tiba membuka jasnya, lalu melepas Vest dan kemejanya. Menyisakan singlet putih yang melekat pas ditubuh kekarnya.
"Omo!! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melepas pakaianmu?" Seketika Aster menjadi panik. Dia benar-benar takut ai dan akan melakukan sesuatu padanya.
Aiden memicingkan matanya dan menatap gadis itu penuh tanya. Memangnya apa yang sedang dia pikirkan? Apa dia pikir dirinya akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak padanya? Sepertinya Aster sudah salah paham.
Aiden menyeringai, dia memiliki ide jahil untuk mengerjai gadis disampingnya ini.
Lelaki itu membuka seat belt-nya. Aiden mendekati Aster lalu mengungkungnya dan membunuh jarak diantara mereka. Aiden mendekatkan wajahnya membuat Aster dengan refleks menutup rapat-rapat matanya.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Aneh... Dia tak merasakan apapun juga. Ragu-ragu Aster membuka matanya dan mendapati Aiden yang sedang tersenyum penuh kemenangan kearahnya. Dan hal itu membuat Aster kesal setengah mati, dia merasa dipermainkan oleh lelaki ini.
"Kenapa kau menutup mata? Memangnya apa yang kau pikirkan?"
__ADS_1
"Dasar patung es menyebalkan!! Aku membencimu!!" Aster membuang muka ke arah lain.
Aiden benar-benar membuat moodnya buruk. Lalu apakah Aster berharap Aiden akan menciumnya? Ya, sepertinya memang begitu. Atau mungkin diam-diam Aster telah menaruh hati pada Aiden? Entahlah, biarkan waktu saja yang menjawabnya.
Aster menoleh dan kembali menatap Aiden. Dia heran kenapa lelaki itu sampai melepas semua pakaian mahalnya dan menggantinya dengan rompi proyek yang dia pakai di luar singlet putihnya.
"Kenapa kau malah berpakaian seperti ini?" Aster menatap Aiden penuh tanya. Dia butuh penjelasan kenapa lelaki ini mengganti pakaiannya.
"Kau akan tau sendiri setibanya kita disana." Jawab Aiden lalu menghidupkan kembali mesin mobilnya.
Apa yang Aiden katakan membaut Aster menjadi penasaran. Memangnya apa yang membuat dia sampai rela menyamar sebagai salah satu pekerja proyek, mungkinkan ada sesuatu yang terjadi? Aster akan mengetahuinya nanti.
.
.
Mereka berdua tiba di lokasi. Dari kejauhan Aster dan Aiden melihat salah satu pekerja yang sedang dimarahi oleh mandor proyek. Tak hanya dimarahi dia juga dihina dan dicaci maki. Penasaran Apa yang terjadi Aster pun memutuskan untuk menghampiri mereka berdua dan meninggalkan Aiden sendirian.
Si mandor menoleh dan menatap tajam pada perempuan di depannya ini. Dia penasaran dari mana datangnya gadis ini dan tiba-tiba sudah ada di dekatnya. "Memangnya kau siapa dan tau apa? Sebaiknya kau pergi dan tidak usah ikut campur!!"
"Aku bertanya baik-baik ya, kenapa kau malah nyolot jawabnya?!" Aster pun mulai terpancing emosi.
"Dasar perempuan tidak jelas. Sebenarnya kau ini siapa dan dari mana kau munculnya, tiba-tiba sudah ada disini dan ikut campur masalahku?!"
"Siapapun aku itu tidak penting. Aku tadi hanya bertanya kenapa kau memarahinya, tapi jawabanmu malah sepanjang rel kereta. Belum lagi nadamu yang tinggi dan bikin orang emosi!!"
"Kau terlalu berisik dan ikut campur!!"
Plaakkk!!
Aster menutup matanya ketika pria itu tiba-tiba mengangkat tangannya dan hendak menamparnya. Namun pergelangan tangan pria itu ditahan oleh Aiden. Sontak dia menoleh dan menatap lelaki itu dengan marah. Kemudian dia menyentakkan tangannya hingga genggaman Aiden terlepas.
"Kurang ajar!! Pekerja rendahan sepertimu berani sekali ikut campur. Apa kau ingin aku pecat atau potong gaji?! Sebelum aku marah dan memberimu pelajaran, sebaiknya cepat kembali bekerja!!"
__ADS_1
"Atas dasar apa aku harus menurut padamu?! Memangnya kau siapa sampai-sampai berani memecah dan mengancam potong gaji?" Aiden menatap pria itu dengan dingin.
"Kau tanya siapa aku?! Aku ini orang yang paling berkuasa disini. Bahkan Aiden Zhang sekalipun tak akan berani macam-macam padaku. Karena kekuasaannya lebih besar daripada dirinya. Jadi sebagainya kau jangan macam-macam apalagi membuatku marah!!"
Lalu pandangan Aiden bergulir pada Aster. Seolah-olah dia berkata. 'Sekarang kau sudah tahu bukan, kenapa aku sampai menyamar?'
Aidan telah menerima banyak keluhan dari para pekerjanya Jika ada salah satu mandor proyeknya yang selalu berbuat semena-mena. Dan kedatangan Aiden kali ini untuk membuktikannya secara langsung. Dan benar saja, dan dia sudah menemukan si biang kerok itu.
"Apa aku bisa memegang kata-katamu itu? Benarkah jika Aiden Zhang juga tidak berani macam-macam padamu?" Aiden menyeringai.
"Ya, tentu saja. Mana berani dia padaku. Aku ini memiliki banyak anak buah, apa dia ingin mati mengenaskan jika berani mencari gara-gara denganku?!" Ucap Pria itu dengan sombongnya.
"Kau benar-benar dalam masalah besar, Tuan. Apa kau tidak tau siapa yang ada di hadapanmu ini?!" Sahut Aster menimpali.
"Memangnya siapa yang memintamu untuk bicara? Dasar betina tak beretika. Sebaiknya kau diam dan tidak usah ikut campur!!" Teriak pria itu sambil mendorong Aster. Beruntung Aiden langsung sigap menangkapnya dari belakang. Jika tidak, sudah bisa dipastikan jika pantatnya akan berciuman dengan lantai yang keras.
"Kau semakin keterlaluan saja. Sepertinya aku tidak bisa mempertahankan orang sepertimu lagi disini. Kau... Dipecat!!"
Alih-alih terkejut. Pria itu malah tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang Aiden katakan. "Bocah, bocah. Kau pikir kau ini siapa bisa memecatnya begitu saja?! Bahkan kedudukanku disini lebih tinggi darimu dan kau mau memecatku?! Kau bermimpi ya?!"
Penyamaran Aiden terlalu sempurna, sampai-sampai pria itu tidak tau jika yang sedari tadi dia hina dan dia maki-maki adalah bos besar yang selama ini memberinya gaji.
"Kau benar-benar tidak mengenaliku?" Kemudian Aiden melepaskan kacamatanya dan juga tompel yang ada di dagunya. Kedua mata pria itu sontak membulat sempurna setelah melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Tuan Zhang?!"
"Kau dipecat. Segera angkat kaki dari sini. Aku tidak mau melihat mukamu lagi. Aster, ayo pergi!!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1