I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 45: Adik Tiri Aiden


__ADS_3

"Kakak!!"


Langkah Aiden terhenti oleh seruan keras seorang pemuda yang memanggilnya kakak. Sontak dia menoleh dan mendapati seorang remaja berusia 15 tahun berlari menghampirinya.


Alis Aiden saling bertautan. Dia menatap remaja itu penuh tanya. "Kau memanggilku apa? Apa kita pernah mengenal sebelumnya?"


"Kau Aiden Zhang kan? Aku adalah Adrian, kita memiliki ibu yang sama tapi ayah yang berbeda. Ibu sudah meninggal, dan sebelum pergi. Dia memberikan foto ini padaku, Ibu memintaku untuk mencarimu karena dia bilang kau adalah kakakku."


Aiden kemudian mengambil foto tersebut dari tangan Adrian. Dibelakang foto itu terdapat sebuah pesan yang ditulis oleh ibunya. Ya, itu adalah tulisan ibunya dan Aiden sangat mengenalnya.


"Lalu dimana, Ayahmu?"


"Dia sudah menikah lagi dan meninggalkan kami. Sekarang Papa sudah hidup bahagia dengan keluarga barunya. Dia meninggalkanku dan Mama ketika dia sedang sakit keras." Jawab remaja itu.


Aiden mencoba mencari kebohongan dari ucapannya. Namun tidak ia temukan, remaja itu mengatakan kejujuran. Kemudian Aiden memperhatikan penampilannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pakaian yang melekat di tubuhnya tak mencerminkan jika kehidupannya baik-baik saja.


"Lalu dimana selama ini kau tinggal?"


"Sebelum Ibu meninggal, kami tinggal disebuah desa kecil di barat daya kota Busan Tapi setelah Ibu meninggal, aku tinggal di kolong bersama anak jalanan di kolong jembatan. Rumah lama kami diambil istri muda ayah lalu di jual dan dia mengusirku."


"Lalu apakah Ayahmu tidak peduli padamu?"


Adrian menggeleng. "Sejak memiliki istri muda dan anak dari perempuan itu. Dia tidak pernah peduli lagi padaku dan ibu. Bahkan saat ibu di rumah sakit dan meninggal pun, ayah tidak mau datang melihatnya." Adrian menundukkan kepalanya. Matanya berkaca-kaca.


Melihat remaja di depannya ini membuat Aiden merasa iba. Meskipun tak menunjukkannya, tetap Aiden sedih atas kepergian ibunya. Meskipun wanita itu meninggalkannya dan Aileen, tapi tetap saja dia adalah wanita yang melahirkan dirinya dan Aileen.


"Tinggalkan semua barang-barangmu dan ikut pulang denganku. Aku akan meminta orangku untuk memenuhi semua kebutuhanmu." Ucap Aiden dan berlalu.


Kemudian Adrian berjalan mengekor di belakang Aiden. Dia akan sangat berterimakasih jika lelaki itu benar-benar mengijinkannya untuk ikut tinggal bersamanya. Meskipun terlihat dingin dan tak bersahabat. Tetapi Adrian tau jika Aiden adalah orang yang baik.


-


-


"Huhuhu, kenapa kalian semua jahat padaku. Aku ini anak baik, tapi kenapa kalian berdua malah memberikan hukuman berat dan tak manusiawi seperti ini padaku?! Tanpa mobil, tanpa kartu kredit, tanpa televisi, bagaimana aku bisa hidup?! Jika begini terus lebih baik aku mati saja!!"


Aster dan Jessica saling bertukar pandang. Bukannya merasa iba dan kasian melihat William yang terus menangis sedari tadi. Mereka justru merasa geli. Sudah lebih dari dua jam pemuda itu ngoceh tidak jelas sambil menangis sesenggukan.


"Mama, aku ini anakmu kan? Kenapa kau kejam sekali padaku seperti itu, kota!! Karena aku dengar ibu kota itu lebih kejam dari ibu tiri!! Ma, kembalikan fasilitasku dan biarkan aku hidup dengan bahagia!!"


"Cukup William Nero!! Sampai air matamu habis dan kau menangis darah sekalipun. Mama tidak akan mengembalikan semua fasilitasmu!! Kau sudah mengecewakan Mama dan Papa. Kami hanya memintamu untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan kau malah bermain-main!!"


"Sebelum kau berhasil masuk tiga besar dan mengurangi kenakalanmu, jangan harap kami akan mengembalikan semua fasilitas itu!!"


"Huhuhu... Hwaaaaa!!! Mama jahat, Mama jahat. Mama tidak sayang lagi padaku. Huhuhu, Mama jahat!!"


William menangis seperti bocah yang tak dibelikan permen oleh ibunya. Pemuda itu berguling di lantai sambil terus menangis. Dan melihat tingkahnya yang kelewat konyol membuat Aster gemas sendiri. Dia pun segera mengabadikannya. Aster merekam apa yang sang adik lakukan lalu mengunggahnya di media sosial miliknya.


Aster tertawa geli melihat bagaimana menggemaskannya William yang sedang menangis itu. Dan postingannya pun langsung mendapatkan ribuan like dan ratusan komentar dari pengikutnya di Instagram.


"Eo," dan wanita itu terkejut karena Aiden ikut mengomentari postingannya juga. Aiden mengatakan jika William dan Aileen memiliki sifat 11-12. Dan itu adalah fakta. "Sudahlah, Ma. Biarkan saja. Capek menangis juga nanti berhenti sendiri. Sebaiknya sekarang kita siapkan makan malam, Aiden mungkin datang sebentar lagi."


Jessica mengangguk. "Baiklah."


-


-

__ADS_1


"Eo, Hyung. Siapa dia? Kenapa mukanya mirip denganku?"


"Namanya Adrian dan mulai hari ini dia akan tinggal bersama kita disini. Dia anak Mama dengan suami barunya. Mama sudah meninggal dan dia memintanya untuk menemukan kita."


Mata Aileen membelalak. "Apa?! Mama sudah meninggal?" Aiden mengangguk. "Ka..Kapan?" Matanya mulai berkaca-kaca.


"Dua Minggu yang lalu." Adrian menjawab pertanyaan Aileen.


"Hiks, hiks, hiks. Mama," dan tangis Aileen pun pecah.


Aiden tau jika selama ini Aileen sangat merindukan ibu mereka. Dia selalu datang diam-diam untuk melihat bagaimana kondisinya. Tetapi sejak dia pindah dari tempat tinggal lamanya Aileen sudah tidak pernah menemukan lagi, lalu tiba-tiba sekarang dia mendapatkan kabar jika ibunya telah meninggal.


Aileen menghambur ke pelukan kakaknya dan menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar terpukul dengan berita tentang kematian ibu mereka.


"Hiks, Hyung. Kenapa Mama harus pergi sebelum datang menemuiku. Aku tidak marah kok meskipun dia meninggalkan kita, aku juga tidak membencinya. Tetapi kenapa dia tak pernah datang untuk menemui kita?"


Aiden menggeleng. "Aku juga tidak tau. Jangan menangis lagi, kau ini sudah dewasa seharusnya tidak menangis. Mulai malam ini, Adrian akan satu kamar denganmu. Jangan bertengkar apalagi saling bermusuhan!!" Aiden meninggalkan keduanya begitu saja dan pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua.


.


.


Aiden duduk termenung di tempat tidurnya. Kemudian dia mengambil sebuah album foto yang tersimpan di laci nakas samping tempat tidurnya. Perlahan-lahan Aiden membuka lembar demi lembar album foto tersebut. Semua kenangan masa kecilnya dan Aileen bersama sang ibu tersimpan di album foto tersebut.


"Kenapa kau pergi secepat ini? Padahal aku belum memaafkanmu, seharusnya kau datang terlebih dulu pada kami untuk mendapatkan hukuman. Tapi kenapa kau malah pergi lebih awal?!"


Lelehan-lelehan bening mengalir dari pelupuk Q matanya. Meskipun dia terlihat dingin dan tak peduli. Namun jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam Aiden tetap merasa kehilangan. Bagaimana pun juga dia adalah ibunya, orang yang telah melahirkannya. Dan tanpa dia mungkin saat ini dia tak ada di dunia ini.


Bangkit dari duduknya. Aiden pergi ke kamar mandi. Dia tak ingin orang lain sampai melihatnya yang rapuh apalagi melihatnya menangis. Dan setelah mencuci muka dan mengganti pakaiannya. Kemudian Aiden meninggalkan kamarnya. Dia masih harus menjemput Aster di rumah orang tuanya.


-


-


Ia pun kembali ke dapur untuk membantu ibunya menyiapkan makan malam.


"Kenapa mukamu kusut begitu? Pasti karena Aiden belum juga datang kan?" Aster mengangguk. "Mungkin dia masih di jalan dan sebentar lagi juga datang."


"Tapi, Ma. Dia membuatku cemas dan khawatir. Ponselnya tidak bisa dihubungi dan selalu berada di luar jangkauan. Bagaimana jika sesuatu yang buruk sampai terjadi padanya? Aku benar-benar takut dia kenapa-napa, Ma."


Suara mobil yang memasuki halaman menyita perhatiannya. Aster berlari keluar untuk melihat siapa yang datang. Bukan Aiden, tetapi ayahnya. Dan perempuan itu pun menghela napas kecewa.


"Kenapa malah Papa yang datang duluan, padahal yang aku tunggu orang lain."


Steven menjitak kening putrinya saking gemasnya. "Dasar anak durhaka. Bukannya senang melihat Papa pulang malah mengeluh. Ya sudah, tunggu saja disini, nanti juga dia pasti datang. Papa masuk dulu."


Ayah dua anak itu menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya. Cinta benar-benar bisa merubah karakter seseorang, yang awalnya cuek jadi tidak sabaran begitu.


"Stev, kau sudah pulang? Aku pikir kau baru pulang besok," seru Jessica saat melihat kedatangan suaminya.


"Pertemuan lebih cepat dari yang aku bayangkan. Dimana William, apa dia masih belum mau keluar dari kamarnya?"


Jessica mengangguk. "Seperti tidak hapal bagaimana sifat putramu itu. Aku benar-benar tidak mengerti dirinya. Aku cerdas dan berprestasi, tapi kenapa William malah bodoh dan suka membuat masalah. Sebenarnya sifat siapa yang menurun padanya?"


"Kakek, begitulah sifatnya. Sifat William menurun darinya. Dia konyol, tidak berprestasi dan suka membuat masalah. Semasa dia muda, nenek sering sekali dibuat emosi oleh tingkah dan kelakuannya. Jadi kau tidak perlu merasa heran. Ya, sudah. Aku mandi dulu." Steven mengecup singkat bibir Jessica dan pergi begitu saja.


Sementara itu. Senyum dibibir Aster mengembang lebar ketika melihat orang yang ditunggu-tunggu sedari tadi akhirnya datang juga. Aster berlari menghampiri Aiden dan langsung memeluknya.

__ADS_1


"Hei, apa-apaan ini?" Bingung Aiden sambil membalas pelukan Aster.


"Kau jahat!! Kenapa kau sangat menyebalkan, Ai? Aku sudah menunggumu dari tadi , tapi kenapa kau baru datang sekarang?! Ponselmu juga tidak bisa dihubungi, apa kau tau bagaimana takut dan cemasnya aku?"


Aiden mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Aster. "Maaf, Sayang. Ponselku habis baterei. Ya sudah, ayo masuk. Aku membawakan cake kesukaanmu dan Mama." Aster mengangguk, keduanya kemudian berjalan beriringan masuk ke dalam.


Steven tersenyum menyambut kedatangan menantunya tersebut. "Akhirnya kau datang juga, Ai. Apa kau tau bagaimana cemas dan paniknya istrimu ini tadi karena kau tidak datang-datang. Sampai-sampai Papa yang jadi korban dari kekesalannya."


"Apa yang Papa katakan? Memangnya kapan aku jadikan Papa sebagai korban dari kekesalanku?! Papa suka fitnah deh!!" Aster kemudian beranjak dari hadapan ayahnya dan pergi begitu saja. Meninggalkan dua lelaki kesayangannya itu lalu menghampiri Ibunya.


"Aiden sudah datang?" Aster mengangguk."Hm, pantas saja wajahmu terlihat sumringah. Makan malam sudah siap, cepat panggil adikmu. Ayo kita makan malam sama-sama."


Semua sudah berkumpul dimeja makan termasuk William yang terus menekuk mukanya. "Berhentilah memasang muka jelekmu itu di depanku, William Nero!!"


"Yakk!! Nunna, bisakah kau diam?! Apa kau tidak tau jika aku ini sedang sedih dan berduka? Kenapa kau tidak memiliki hati sama sekali, dasar kakak menyebalkan!"


Aiden tak tau menahu apa yang sebenarnya terjadi. Sejak dia datang, wajah William kusut seperti pakaian belum disetrika. Atau mungkin dia bernasib sama seperti Aileen yang seluruh fasilitasnya di cabut. Karena mereka berdua memiliki kenakalan yang sama. Sifat mereka 11-12.


Dan sementara itu. Aster merasa jika ada yang tidak biasa pada suaminya ini. Raut mukanya menunjukkan sebuah kesedihan dan kehilangan yang mendalam. Bahkan dia lebih banyak diam hari ini, dia hanya bicara beberapa kata saja itupun jika ada yang bertanya.


Aster tau jika Aiden bukanlah tipe pria yang banyak bicara. Tapi sikapnya malam ini benar-benar sangat tidak biasa. Aster ingin bertanya tapi tidak sekarang, setidaknya tidak dihadapan kedua orang tuanya. Apalagi sekarang mereka sedang menyantap makan malam.


.


.


Saat ini Aster dan Aiden sedang dalam perjalanan pulang ke kediaman lelaki itu. Sepanjang jalan Aiden terus saja diam dan hanya fokus mengemudi. Dan sikapnya itu semakin membuat Aster yakin jika memang telah terjadi sesuatu.


"Semua baik-baik saja kan?" Aster menatap Aiden penasaran.


Lelaki itu lalu menoleh dan membalas tatapan istrinya. "Memangnya ada apa?" Aiden balik bertanya.


"Aku perhatikan kau lebih banyak diam malam ini. Biasanya kau mengobrol dengan Papa tapi malam ini kau lebih banyak diam. Apa terjadi sesuatu?" Aster bertanya dengan hati-hati.


Aiden mengangguk. "Aku mendapatkan kabar jika Ibuku telah tiada. Hari ini putranya bersama suami mudanya tiba-tiba datang menemuiku dan memberitahuku jika dia telah tiada. Dan yang aku sesalkan kenapa dia harus pergi sebelum mendapatkan hukuman dariku."


"Hentikan mobilnya," pinta Aster.


Aiden memicingkan matanya. "Untuk apa?'


"Jangan banyak tanya, hentikan saja!!" Pintanya sekali lagi.


Kemudian Aiden menghentikan dan menepikan mobilnya. Dia benar-benar tidak tau kenapa Aster memintanya untuk menghentikan mobilnya. Aster membuka sabuk pengamannya kemudian mendekat pada Aiden lalu memeluknya. Membuat Aiden semakin bingung dengan sikap istrinya ini.


"Kau pasti sedih dan kehilangan. Sejahat apapun dia, tetap saja dia adalah ibumu. Meskipun bibirmu terus saja mengatakan jika kau membencinya. Tetapi aku yakin jika hatimu berkata sebaliknya. Dan jika ingin menangis, menangis saja. Tidak ada siapa-siapa disini, hanya ada kita berdua." Ucap Aster sambil menepuk-nepuk punggung Aiden.


Aiden mendengus geli. "Apa yang kau lakukan , Nona? Aku memang sedih dan kehilangan, tapi aku tidak sampai secengeng itu. Lepaskan pelukanmu, kita bisa kemalaman sampai rumah."


Aster melepaskan pelukannya dan menatap sang suami dengan kesal. "Dasar kau ini. Aku bersikap seperti ini karena peduli padamu. Tapi kenapa kau malah menertawaiku?! Apa kau pikir ini lucu? Dasar manusia kulkas menyebalkan!!"


Aiden terkekeh geli. Kemudian dia menarik lengan Aster dan membawa wanita itu kepelukannya, mendekap tubuhnya dengan erat.


"Terimakasih karena sudah peduli padaku. Aku memang sedih dan kehilangan, tapi aku juga tidak bisa berlarut-larut. Dan selama kau ada di sisiku, apa yang sulit akan menjadi mudah. Untuk itu jangan coba-coba untuk pergi apalagi meninggalkanku. Karena aku tak akan sanggup hidup sendirian tanpa dirimu!!"


Aster menggeleng. "Tidak akan!! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu!! Selamanya kita akan selalu bersama-sama, selamanya."


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2