
Kaki yang berbalut oleh sepatu hitam mengkilap tersebut menginjak rem, seketika menghentikan mobil yang tadinya berjalan. Kini terdengarlah nyanyian jangkrik yang menemani langit kelam, mendengungkan suara mereka di tengah kesunyian.
Si perempuan melepas sabuk pengaman."Mau masuk dulu?" Tawar perempuan itu pada sosok tampan yang duduk disampingnya.
Si pria menggeleng. "Tidak usah, ini sudah malam dan tidak enak jika ada yang melihatnya. Kau sebaiknya cepat masuk lalu istirahat. Besok pagi aku akan datang untuk menjemputmu." Ucap si pria yang kemudian dibalas anggukan oleh perempuan itu yang tak lain dan tak bukan adalah Aster.
"Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu." Aiden mengangguk. Setelah melihat Aster sudah masuk ke apartemennya. Kemudian Aiden menghidupkan kembali mesin mobilnya. Mobil mewah itu lalu melaju meninggalkan kawasan elit tersebut.
Jika saja Aster tak menghubunginya dan mengajaknya untuk bertemu tadi. Pasti sekarang dia sudah ada di club' malam bersama teman-temannya. Aiden menunda untuk pergi hanya demi Aster. Entah kenapa dia tidak bisa mengesampingkan gadis itu dengan yang lain. Seolah-olah dia adalah prioritas utamanya.
Dua puluh menit berkendara. Aiden tiba di kediamannya. Dia kebingungan melihat bibi Shim yang terus mondar-mandir tak jelas di teras. Dia terlihat sangat cemas. Penasaran apa yang terjadi. Aiden pun menghampiri wanita itu. "Ada apa, Bibi?" Tanya Aiden setibanya dia di depan bibi Shim.
"Tuan muda, Anda datang tepat waktu. Tuan muda Aileen terus mengancam akan bunuh diri jika anda tidak mengembalikan semua fasilitasnya."
Aiden mendesah barat. "Berani-beraninya bocah itu barulah lagi. Apa masih belum cukup hukuman yang aku berikan kemarin?!" Ucap Aiden lalu bergegas menuju kamar Aileen.
Sementara itu...
Aileen yang mengancam akan bunuh diri sekarang berdiri di ambang jendela. Dia mengatakan akan melompat dari sana jika tak ada yang mau membantunya mendapatkan kembali semua fasilitasnya yang dicabut oleh Aiden. Membuat semua orang menjadi panik dan ketakutan, bahkan beberapa diantaranya sampai meyakinkan Aileen jika akan membantunya.
Aiden tiba di kamar Aileen. Tatapan datarnya berubah dingin dan tajam membuat aura suram seolah-olah menyelimuti tubuhnya. Membuat orang-orang yang ada di ruangan itu menunduk ketakutan.
"Apa kau sungguh-sungguh ingin bunuh diri? Maka lakukan saja, kau pikir aku akan luluh dengan acamanmu itu?! Jika mati bukan aku juga yang rugi, tapi kau sendiri. Kau akan dipukuli sampai tulang-tulangmu hancur, tak cukup itu saja. Kau juga akan di rebus di dalam kuali yang sangat besar di dalam air mendidih hingga tulang-tulangmu melebur. Jadi, kalau ingin lompat, cepat lompat. Aku akan melihatmu dari sini!!" Ujar Aiden panjang lebar.
Bukannya membujuk supaya Aileen mau turun, Aiden malah menakut-nakutinya dan membuat ketakutan pemuda itu sampai keubun-ubun.
"Hyung, aku tadi hanya bercanda saja. Aku tidak serius. Lagipula siapa yang mau mati? Jika aku mati lalu bagaimana denganmu? Kau pasti akan kesepian tanpa diriku."
__ADS_1
"Alasan!!" Cibir Aiden dan pergi begitu saja.
Dia sudah menduganya jika Aileen tidaklah sungguh-sungguh ketika mengancam akan bunuh diri. Adiknya itu adalah seorang pengecut, jadi mana mungkin Aileen berani melakukannya.
Aiden sangat lelah dan matanya berat untuk diajak kompromi. Dia memang harus cepat tidur, bukan karena besok harus pergi bekerja. Tapi ada hal lain yang akan dia lakukan esok hari.
-
-
Aster mematut dirinya di depan cermin. Tubuh rampingnya dalam balutan gaun panjang yang mengikuti lekuk tubuh atasnya dan mengembang di bagian bawah. Rambut panjangnya yang biasanya selalu dia urai, hari ini diikat ekor kuda dan menyisakan anak rambut disisi wajah cantiknya.
Wajah cantiknya di polesi make up tipis yang membuat kecantikannya terlihat natural. Tak berlebihan namun tetap cantik. Hari ini Aster akan memperkenalkan Aiden pada Steven dan Jessica. Dia benar-benar tidak mau dijodohkan oleh pria pilihan ayahnya, karena belum tentu orang itu sesuai dengan kriterianya.
Ting...
Suara denting pada ponselnya menyita perhatian Aster. Itu adalah pesan singkat dari Aiden, lelaki itu memberitahunya jika dia sudah menunggu di parkiran.
Dan setibanya disana, dia tampak kebingungan karena mobil Aiden tak ada. Sampai dia mendengar suara klakson dari samping kanannya, pantas saja Aster tak menemukan Aiden, karena lelaki itu memakai mobil yang berbeda.
"Pantas saja aku tidak bisa menemukanmu. Ternyata kau memakai mobil yang berbeda dari biasanya. Oya, bagaimana penampilanku hari ini, cantik tidak?" Aster merentangkan kedua tangannya dan meminta pendapat Aiden atas penampilannya.
"Sempurna. Sudah cepat naik," Aster mengangguk. Ia segera naik ke mobil Aiden.
-
-
__ADS_1
Jessica terus mondar-mandir di depan pintu. Sudah hampir tiga puluh menit dia berdiri di teras rumahnya. Tapi orang yang dia tunggu-tunggu belum juga menunjukkan batang hidungnya. Steven yang kebingungan melihat tingkah istrinya segera menghampiri Jessica.
"Sebenarnya siapa yang kau tunggu? Kenapa aku perhatikan dari tadi kau mondar-mandir tidak jelas disini?" Steven menatap Jessica penasaran.
"Aster dan calon suaminya. Dia bilang mereka akan datang pagi ini. Tapi sampai jam segini kenapa belum sampai juga, padahal aku sudah masak banyak sekali."
Steven mendesah berat. "Aku pikir karena apa, ternyata karena merek. Mungkin saja mereka masih di jalan, ini adalah jam kerja sudah pasti jalanan agak macet. Jadi tunggu saja, mereka pasti datang."
"Iya, aku tau. Tapi kenap lama sekali?! Apa Aster tidak tau kalau mamanya ini sudah sangat penasaran pada calon suami pilihannya!!"
"Dasar anak itu. Padahal aku sudah memilihkan calon yang terbaik untuknya. Bibit, bebet sampai bobotnya tidak ada yang diragukan lagi. Meskipun dia duda, tapi bukan sembarang duda. Tapi bagaimana lagi, aku juga tidak bisa memaksanya. Sudah, ayo masuk. Nanti juga datang."
Jessica mengambil napas panjang dan menghelanya. Dia mengangguk, kemudian ia masuk bersama Steven. Sebenarnya dia sangat berat untuk masuk karena ingin tetap di teras menunggu kedatangan mereka berdua.
-
-
Aiden menghentikan mobilnya di halaman luas sebuah mansion mewah. Ini adalah kediaman orang tua Aster. Dan Aiden sedikit terkejut, ternyata Aster adalah putri Steven Nero. Yang artinya dia adalah cucu dari Hans Nero, sahabat baik mendiang kakeknya.
Dunia memang sempit. Karena itu artinya, gadis yang dimaksud oleh kakeknya adalah dia. Namun saat itu Aiden masih terlalu muda dan dia belum berniat membina rumah tangga, di tambah lagi dia telah memiliki kekasih, yakni Yunna. Sehingga dia menolak rencana perjodohan tersebut.
Tapi sepertinya takdir berkata lain. Karena Aiden malah bertemu dengan gadis yang pernah di tolaknya dulu dengan cara yang tidak terduga. Dan sekarang mereka menjadi dekat.
"Ayo masuk, mama dan papa pasti sudah menunggu kita!!"
-
__ADS_1
-
Bersambung.