
Hari demi hari telah berlalu. Tak terasa kandungan Aster mulai memasuki bulan ke tujuh. Dan memasuki trimester ketiga, dia tak lagi mual-mual seperti sebelumnya. Apapun sekarang masuk ke dalam perutnya termasuk nasi.
Derap langkah kaki seseorang yang datang menyita perhatian Aster. wanita itu tersenyum tipis menyambut kepulangan suaminya. lalu pandangannya bergulir pada perutnya yang membuncit. "Honey, lihatlah Papamu sudah pulang."
Aiden pergi selama beberapa hari ke luar negeri untuk perjalanan bisnis dan baru kembali hari ini. Sebenarnya dia tidak tega jika harus meninggalkan Aster, tapi mau bagaimana lagi. Karena proyek itu juga sangat penting dan menentukan masa depan perusahaannya.
"Omo!! Apa yang terjadi pada matamu? Apa kau mengalami cidera?" Aster terkejut ketika melihat perban menutup mata kanan suaminya yang tersembunyi dibalik poninya.
Aiden menggeleng. "Tidak. Aku sedang sakit mata. Panda itu yang membawa penyakit menular ini dan menularkannya padaku. Aku sengaja menutupnya supaya tidak sampai menular padamu." Jelasnya menuturkan.
"Hufft, untunglah. Aku kira matamu cidera. Kau pasti sangat lelah. Kalau begitu aku akan menyiapkan air hangat untukmu, sebaiknya kau segera mandi lalu istirahat."
Aiden menahan lengan Aster ketika hadiah hendak pergi ke kamar mandi. "Tidak perlu, biar aku sendiri yang melakukannya. Sebaiknya kau istirahat saja, ingat pesan dokter, kau itu tidak boleh sampai kelelahan."
"Hm, baiklah." Aster mengangguk patuh, dia menuruti apa yang dikatakan oleh Aiden.
Aiden beranjak dari hadapan Aster dan pergi begitu saja. Dia hendak mandi, sekujur tubuhnya sudah lengket semua oleh keringat. Perjalanan jauh yang baru saja dia tempuh tak hanya menyita waktunya saja, tetapi tenaganya juga.
10 menit berlalu, Aiden keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk yang melingkari pinggulnya. Aroma maskulin yang begitu khas bergaul di hidung Aster ketika Aiden keluar dari dalam sana. Aroma yang selalu membuat Aster merindukannya ketika mereka saling berjauhan.
Perban yang sebelumnya menutup mata kanan Aiden pun tak ada lagi, sehingga Aster bisa melihat bagaimana kondisi nata suaminya tersebut. "Hanya sedikit merah dan barair. Tapi, apa kau sudah memeriksakannya ke dokter?" tanya Aster memastikan.
Aiden menggeleng. "Belum, pekerjaanku di sana terlalu padat sehingga tidak memiliki waktu untuk pergi ke rumah sakit." Jelasnya.
Aster mendesah berat. "Baiklah kalau begitu, setelah ini kita pergi ke rumah sakit. Meskipun hanya iritasi ringan saja, tetapi tetap saja harus diperiksakan." Ucap Aster.
__ADS_1
"Baiklah, aku nurut saja." Aiden tak mungkin menolak saran dari Aster. Lagipula matanya memang perlu di periksakan. Meskipun yang dia alami hanya iritasi ringan saja, tetapi tetap saja membutuhkan penanganan juga."
Sepuluh menit kemudian Aiden keluar dari walk in closet dengan pakaian lengkap. Dia memakai kacamata hitam untuk menyembunyikan mata kanannya yang memerah. Keduanya kemudian berjalan beriringan meninggalkan ruangan bernuansa putih dan gold tersebut.
-
-
"Yakk!! Kenapa aku kalah lagi?!"
Aileen memekik kencang sambil melemparkan kartu-kartunya ke depan. laki-laki biar kalah dari William dan Adrian. Dalam hal bermain kartu, Aileen memanglah yang paling payah. tidak seperti William yang sangat mahir.
"Kalian pasti curang ya? Kalian berdua pasti mencurangiku kan, makanya aku kalah!!"
"Enak saja, kalau kalah ya kalah saja. Terima dengan lapang dada, tidak perlu mengeluh apalagi menyesalinya. Lagi pula aku dan Adrian juga tidak memiliki alasan untuk mencurangimu. Memang dasar kaunya saja yang sangat payah!!" jawab William menimpali.
"Sesuai perjanjian yang kau sebutkan tadi, maka yang kalah menjadi babu yang menang. Maka dari itu, kau harus menjadi babu kami berdua!!"
Benar-benar telah menelan ludahnya sendiri. dia yang menggagas hukuman bagi yang kalah, dan justru dia sendirilah yang mengalaminya. Ibaratnya senjata makan tuan, begitulah yang Aileen alami sekarang.
"Iya, iya. Aku tahu, aku tahu. Aku tidak pikun dan aku ingat betul dengan perjanjiannya!!" jawab Aileen dengan tegas.
Entah nasib buruk seperti apa yang nantinya akan dia alami setelah hari ini. Dalam hatinya Aileen berdoa supaya mereka berdua tak melakukan kegilaan dan merepotkan dirinya.
-
__ADS_1
-
Aster bisa menghela nafas lega setelah mendengar apa yang dokter sampaikan. Mata kanan Aiden baik-baik saja dan hanya mengalami iritasi seperti yang dia katakan sebelumnya.
"Tidak perlu melakukan tindakan apapun, dalam dua tiga hari mata, Tuan Zhang, juga pasti membaik."
"Lalu apakah tidak perlu sampai di rawat, Dok?" tanya Aster memastikan.
Dokter itu menggeleng. Cidera Aiden hanyalah cidera ringan saja. Jadi tak perlu tindakan apapun, hanya perlu salep dan obat tetes saja. "Tidak, Nyonya. Ini adalah resep yang harus kalian tebus di apotek. Dan Anda sebaiknya tidak terlalu cemas karena mata Tuan Zhang baik-baik saja." ucap dokter itu meyakinkan.
Aster mengangguk. "Baiklah, dok. Kalau begitu kami permisi dulu."
Kemudian keduanya meninggalkan ruangan dokter tersebut. Berkali-kali Aiden menghela nafas, padahal matanya hanya mengalami iritasi ringan saja. Tetapi Aster paniknya minta ampun. "Bagaimana, apa sekarang kau sudah lega setelah mendengar penjelasan dokter?"
"Ya, aku lega. Sangat-sangat lega malahan. lagi pula siapa yang tidak panik dan cemas ketika melihat suaminya pulang dari luar negeri dengan mata di perban sebelah. bukan hanya aku saja, para istri di luar sana juga pasti akan bersikap sama sepertimu saat tau ada yang tidak beres dengan kondisi fisik suaminya." Jawab Aster menuturkan.
Aiden mendengus. Kenapa wanita tidak pernah mau mengalah dan selalu ingin menang sendiri, apalagi dalam masalah perdebatan. Dan jika sudah mulai terlibat perdebatan dengan Aster. Aiden memilih mundur. Dia tak ingin terkena serangan darah tinggi karena istrinya yang cantik ini.
"Ya sudah, ayo pulang. Aku sangat lelah dan ingin segera beristirahat."
"Aster mengangguk. "Baiklah."
-
-
__ADS_1
Bersambung.