
"Shilla, apa yang kau lakukan disini?!"
Langkah Shilla terhenti oleh pertanyaan itu. Lalu dia menoleh dan mendapati seorang wanita yang sangat dia kenal berjalan menghampirinya. Orang itu yang pastinya adalah Yunna menatapnya dengan sinis.
Yunna menatap Shilla dari ujung rambut sampai ujung kaki. Wanita itu banyak berubah, dan penampilannya jauh lebih menarik dari sebelumnya.
"Wow, setelah tiga tahun menghilang sekarang kau kembali dengan penampilan yang sangat berbeda. Aku yakin mantan suamimu yang bodoh itu pasti akan mengejarmu lagi,"
"Hm, mendengar apa yang kau katakan, sepertinya kau sudah membuangnya juga seperti kau membuang Aiden dulu. Tapi beruntung aku bisa lepas dari bajinga* itu, jika saja dia tidak berselingkuh denganmu pasti aku tidak pernah tahu bagaimana belangnya dia. Dan aku tidak menyesal sama sekali lepas dari si bodoh itu, karena sekarang aku sudah mendapatkan yang jauh lebih baik!!" Tutur Shilla.
"Aku jadi penasaran, memangnya pria seperti apa yang mau pada sampah seperti mu. Apalagi kau hanya barang bekas yang tidak ada harganya lagi!!"
Plaakkk...
Yunna menahan tangan Shilla yang hendak menamparnya. Meskipun ia selalu saja direndahkan dan diperlakukan sampah oleh orang lain, tetapi Yunna tidak akan membiarkan Shilla merendahkan dirinya.
"Jaga mulutmu itu jika kau tak ingin aku sampai merobeknya!! Dan asal kau tahu saja, calon suamiku adalah pemilik dari perusahaan ini!!"
Yunna tertawa meremehkan mendengar apa yang Shilla katakan. Apakah wanita ini sedang bermimpi atau sedang menghayal untuk bisa menikah dengan Aiden.
"Shilla, Shilla. Terus terang saja aku sangat kasihan padamu, kau bilang jika calon suamimu adalah pemilik perusahaan ini yang artinya orang itu adalah Aiden?! Mimpimu terlalu tinggi, Nona. Karena dia sudah memiliki tambatan hati yang baru. Baik aku maupun dirimu, sebaiknya tidak usah bermimpi terlalu tinggi. Karena kau dan aku tidak ada yang selevel dengannya!! Jadi cepatlah bangun dari mimpi gila mu itu!!" Yunna menepuk bahu Shilla pergi begitu saja.
Yunna memang seorang wanita yang gila harta. Dia terkejut setelah mengetahui jika Aiden adalah seorang yang kaya raya, memang terbesit di pikirannya untuk memohon agar ia bisa kembali padanya. Tapi Yunna masih memiliki harga diri, dia yang sudah membuangnya jadi tidak mungkin ia ambil kembali.
"Yunna, kau memang wanita brengse*!! Aku akan membuktikan padamu jika wanita yang dicintai oleh Aiden adalah diriku!!"
Shilla sangat penasaran dengan wanita yang dimaksud oleh Yunna, emang sehebat apa dia sampai-sampai Yunna mengatakan jika ia dan dirinya tidak sebanding dengannya. Dan sehebat apapun dia, namun Shilla yakin jika ialah yang nantinya akan menjadi pemenangnya.
__ADS_1
-
-
"Aku menyukai semua rancanganmu, rancangan yang kau buat sama persis seperti yang aku bayangkan."
"Jadi kau menyukai rancanannya?" Aiden mengangguk. Aster tersenyum puas. "Oh ya, kira-kira siapa yang pantas menjadi modal utama dalam rancanganku ini? Aku tidak ingin hasil karyaku dipakai oleh model yang tidak profesional,"
"Hm, untuk saat ini aku tidak bisa memberimu rekomendasi. Akan aku pertimbangkan terlebih dulu, atau mungkin kau sendiri saja yang menjadi modelnya. Aku rasa kalau lebih cocok dan lebih pantas daripada orang lain,"
"Aku sih tidak ada masalah, karena biasanya untuk promosi Aku tidak pernah memakai jasa orang lain. Tapi aku membutuhkan model laki-laki sebagai partnerku, atau mungkin kau saja yang menjadi partnerku? Jujur saja aku sulit sekali menemukan chemistry dengan orang lain, bagaimana? Kau setuju bukan?"
Aiden menatap Aster cukup lama. Otaknya sedang berpikir keras antara menyetujui usulan Aster atau tidak. Tetapi tak ada salahnya jika ia mencobanya.
"Baiklah, aku rasa itu tidak ada masalah."
Wanita itu berlari menghampiri Aiden dan langsung memeluknya. "Ai, aku merindukanmu." Ucap Shilla sambil mengeratkan pelukannya.
Sementara itu, Aster yang merasa jika ia berada di tempat yang tidak tepat memutuskan untuk keluar. Mungkin saj mereka berdua membutuhkan privasi. Aiden yang sadar Aster hendak keluar langsung menahannya.
"Kau mau kemana?"
"Tiba-tiba aku haus, aku keluar dulu untuk mengambil minum. Dan kau sedang ada tamu, jadi aku tidak ingin mengganggu!!" Aster melepaskan genggaman tangan Aiden pada pergelangan tangannya dan pergi begitu saja.
Selepas kepergian Aster, di ruangan itu hanya menyisakan Aiden dan Shilla. Kemudian Shilla membuka paper bag yang ia bawa mengeluarkan sebuah setelan jas yang kemudian dia berikan pada Aiden.
Aiden tak lantas menerima paper bag tersebut, dia menatap Shilla penuh tanya. "Apa ini?" Aiden membutuhkan penjelasan.
__ADS_1
"Seperti yang kau inginkan selama ini, aku setuju untuk menikah denganmu. Aku juga sudah menyiapkan gaun pengantin dan juga sudah membuat undangan, aku juga sudah menyiapkan gedung pernikahannya. Kau hanya tinggal tahu beres saja,"
"Apa? Menikah, memangnya siapa yang mau menikah denganmu? Jangan sembarangan Shilla, pernikahan bukanlah sebuah permainan!!"
"Memangnya siapa yang mengatakan jika pernikahan adalah permainan, Aku hanya ingin mengabulkan apa yang menjadi impianmu selama ini. Maafkan aku Aiden, karena selama ini tak menyadari perasaanmu padaku. Dan sekarang, Aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Kau sudah menjadi duda, dan aku sudah menjadi janda. Tak ada lagi yang bisa menghalangi cinta kita,"
Aiden mendorong tubuh Shilla yang hendak memeluknya. "Kau tidak masuk akal, Shilla. Keluarlah, pekerjaanku masih banyak. Satu lagi, bawa pergi jas ini karena aku tak membutuhkannya!!"
"Aiden kau keterlaluan. Kau membuatku sakit hati, kau mengecewakanku. Aku membencimu!!"
Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ada di kepala Shilla, bagaimana bisa dia melakukan sesuatu yang sangat tidak masuk akal. Menikah, mencintainya? Sebenarnya apa yang dia katakan, Memangnya kapan dia pernah mencintainya? Aiden benar-benar tak habis pikir dengan wanita itu!!
.
.
Yunna menghampiri Aster dengan membawa dua kopi yang salah satunya dia berikan Pada Aster. "Aku ingin meminta maaf padamu atas sikapku pagi ini, kau boleh menganggapku gila atau tak masuk akal. Tapi percayalah, jika aku tak bermaksud untuk merebut Aiden kembali. Aku sudah merelakannya. Aku sadar, karena memang akulah yang bersalah."
"Kenapa kau harus memberikan penjelasan padaku? Bahkan aku dan Aiden tidak memiliki hubungan spesial apapun, kami hanya sebatas rekan kerja itu saja tidak lebih."
Yunna menggeleng. "Perasaan seseorang siapa yang tau. Sekarang kau berkata begini, tapi belum tentu nantinya bagaimana. Baik kau maupun dia, tidak ada yang bisa menolak apalagi menghindar ketika perasaan itu datang."
"Entahlah, semua akan aku serahkan pada takdir. Dan biarkan waktu yang menjawabnya nanti!!"
-
-
__ADS_1
Bersambung.