I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 17: Tubuhmu Bukan Robot


__ADS_3

Jam dinding telah menunjuk angka 23.00 malam. Namun wanita itu masih belum juga beranjak dari kursinya. Dia masih disibukkan dengan pena dan kertas-kertas putihnya. Dia harus menyelesaikan hasil rancangannya sesegera mungkin. Satu Minggu, waktu yang dia miliki untuk menyelesaikan semua rancangan musim gugurnya.


Lelah yang mendera tubuhnya pun tak ia hiraukan. Sudah dua hari dua malam dia hampir tak tidur sama sekali, padahal otak dan tubuhnya butuh istirahat.


Suara dering pada ponselnya mengalihkan perhatiannya, alih-alih menerima panggilan itu Aster malah mengabaikannya. Itu bukanlah sebuah panggilan yang penting, lagi pula untuk apa dia menerima panggilan dari orang yang tidak pernah bisa menghargai usaha dan kerja kerasnya. Ya, orang itu adalah CEO dari sebuah perusahaan besar yang berada di luar negeri.


"Sampai kapan kau akan membiarkan ponselmu terus berdering dan mengganggu ketenangan orang lain?" Seru seseorang dari arah pintu.


Sontak Aster mengangkat wajahnya dan dia terkejut mendapati keberadaan Aiden di Boutiquenya. "Kau, sedang apa kau disini?"


"Tidak ada, hanya tidak sengaja lewat saja dan mendapati lampu-lampu di Boutique ini masih menyala. Dan saat aku memeriksanya, ternyata pintunya tidak dikunci. Jadi aku memutuskan untuk langsung masuk saja, dan benar dugaanku kau masih disini. Apa kau tidak lelah? Tubuhmu bukan robot, dan kau juga butuh istirahat!!"


Aster mengambil napas panjang dan menghelanya. "Mau bagaimana lagi, deadlinenya hanya tinggal satu Minggu. Bisa-bisa kau menyebutku sebagai desainer yang tidak profesional, kau itu kan iblis dalam bentuk malaikat!! Aku tidak ingin jadi perkedel di tanganmu hanya gara-gara desainnya tidak selesai tepat waktu!!"


Tukkk...!!


Alhasil sebuah Jitakan keras mendarat mulus pada kepala Aster. "Yakk!! Kenapa kau malah menjitak kepalaku?!" Protes Aster sambil mengusap kepalanya yang baru saja dijitak oleh Aiden.


"Salahmu sendiri, kenapa kau asal bicara dan mengataiku ini dan itu. Kepalaku sedikit pusing, bisakah kau buatkan kopi untukku?"


"Tidak!! Bikin saja sendiri. Dispensernya ada di sana, kopi+gula, Cup-nya juga sudah tersedia. Aku sibuk jadi jangan menggangguku!!"


Aiden mendengus geli. Ekspresi Aster yang begitu menggemaskan membuatnya gemas sendiri. Tiga tahun dia tidak pernah berinteraksi dengan lawan jenisnya sampai seimtim ini, kecuali dengan Shilla, dan itupun tak sedekat dan selepas ketika dia bersama Aster.


Kemudian Aiden bangkit dari duduknya dan berjalan kearah dispenser. Karena Aster menolak untuk membuatkannya kopi akhirnya dia pun membuatnya sendiri. "Dimana para karyawanmu, kenapa kau hanya sendirian dan tidak ada yang membantu?" Tanya Aiden tanpa menatap lawan bicaranya.


"Mereka semua sudah pulang dan mungkin sekarang sudah beristirahat di rumah masing-masing. Aku tidak mau membebani mereka dengan pekerjaan lebih, setelah mereka bekerja selama lebih dari 10 jam. Lagipula mereka bukan robot, otak dan tubuh mereka juga perlu istirahat,"

__ADS_1


"Lalu kau bukan?!" Aiden menyela cepat. "Kau juga bukan robot, Nona Muda Nero. Seharusnya kau tidak terlalu memforsir dirimu sendiri dengan pekerjaan hingga membuatmu lupa waktu. Tanggung jawab memang penting, tapi tubuh dan kesehatanmu juga penting. Dan aku tidak ingin dicap sebagai partner bisnis yang buruk jika kau sampai jatuh sakit." Tutur Aiden.


Aster memutar kursinya dan menatap Aiden yang juga menatap padanya. Pandangan mereka berdua bertemu, kita punya saling menatap selama beberapa detik. Aster menghela napas panjang.


"Benar apa yang kau katakan. Tubuhku bukan robot dan aku butuh istirahat. Dan bisakah kau memberiku tumpangan, kebetulan aku tidak membawa mobil hari ini."


"Tentu,"


-


-


"Gerry!!"


Pria itu mengangkat kepalanya yang tertunduk setelah mendengar seseorang memanggil namanya dengan keras. Wajah Gerry tampak pucat dan darah segar terus mengalir dari luka saya* di pergelangan tangannya.


Orang itu hendak membebat pergelangan tangan Gerry dengan kain, tapi dia menolaknya. Bahkan Gerry tak mau ketika temannya itu hendak membawanya ke rumah sakit.


"Memangnya kau tahu apa tentang cinta, kan kau belum pernah merasakan jatuh cinta!! Aku mencintainya begitu tulus dan perasaanku padanya sangat dalam. Tapi dia malah menghianatiku dan memilih bersama pria lain. Disini, di dada ini rasanya sangat menyakitkan!!"


"Persetan dengan yang kau katakan, sebaiknya sekarang kita ke rumah sakit sebelum kau mati kehabisan darah!!"


Pria itu tetap memaksa meskipun Gerry menolaknya. Gerry ingin mati, tapi pria itu ingin temannya tetap hidup. Dia tidak pernah bertemu dengan laki-laki bodoh seperti Garry, yang hanya karena cinta dia rela sampai kehilangan nyawanya.


"Lepaskan aku!! Jangan memaksaku, aku tidak mau!!"


"DIAM!!" bentak pria itu emosi.

__ADS_1


Dia memaksa Gerry yang sudah lemas untuk masuk ke dalam mobilnya. Mereka sudah tidak memiliki banyak waktu lagi. Nyawa Gerry bisa dalam bahaya jika dia tak segera ditangani oleh dokter.


-


-


Aiden dan menghentikan mobil mewahnya di sebuah apartemen mewah yang terletak dikawasan elit. Dan disinilah Aster tinggal, dia memutuskan untuk tinggal di Apartemen. Bukan karena dia tidak ingin tinggal bersama orang tuanya lagi, tapi Aster ingin lebih mandiri.


"Jadi disini kau tinggal?"


Aster mengangguk. "Baru Minggu kemarin aku pindah kemari. Dan maaf, aku tidak bisa mengajakmu untuk masuk ke dalam. Ini sudah larut malam dan tak baik jika pria dan wanita yang belum menikah berada di satu hunian yang sama. Apalagi di jam selarut ini."


Aiden mengangkat bahunya acuh. "Bukan masalah, dan kau tidak perlu meminta maaf. Masuklah, udara di luar sangat dingin. Aku pulang dulu." Aiden masuk kembali ke dalam mobilnya. "Masuklah, tidak perlu menungguku sampai pergi. Kau bisa sakit jika terlalu lama berdiri di luar,"


"Baiklah, terimakasih untuk tumpangannya. Sampai jumpa besok." Ucap Aster dan pergi begitu saja.


Aiden menatap punggung Aster yang semakin menjauh selama beberapa detik. Kemudian dia menghidupkan kembali mobilnya dan segera tancap gas meninggalkan kawasan elit tersebut.


Dua puluh lima menit berkendara. Akhirnya Aiden tiba di kediamannya. Matanya memicing melihat sebuah mobil terparkir di halaman depan Mansion mewahnya. Aiden merasa asing dengan mobil tersebut, dia baru pertama kali melihatnya. Dan dia tidak tau siapa pemiliknya.


Tak mau ambil pusing dengan mobil tersebut, kemudian Aiden melenggang masuk dan pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Dia sangat lelah dan matanya tak bisa diajak kompromi lagi. Dia membutuhkan tempat tidurnya saat ini juga.


"Good Night, Baby."


"Shilla, apa yang sedang kau lakukan di kamarku?!"


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2