I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 38: Untuk Apa Ditunda


__ADS_3

Glukkk...


Susah payah Aiden menelan salivanya ketika melihat Aster keluar dari kamar mandi hanya dengan balutan gaun tidur super minim berwana merah menyala. Entah karena sengaja tau menang Aster memang ingin memakainya, namun gaun itu membuat benda kebanggan milik Aiden berdiri tegak. Aster baru saja membangkitkan libidoonya.


"Kenapa kau berpakaian seperti itu ditengah cuaca seperti ini? Apa kau ingin mati kedinginan?"


Aster memperhatikan penampilannya, dia rasa tidak ada yang salah dengan pakaian yang ia pakai sekarang. "Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan pakaian yang kupakai? Lalu kenapa hidungmu mengeluarkan darah? Apa kau sakit?" Aster menghampiri Aiden untuk memastikan Apakah dia baik-baik saja.


Buru-buru Aiden menyekat darah yang keluar dari hidungnya. "Aku tidak apa-apa, hanya sedikit kelelahan saja!!"


Sungguh Aiden tidak sadar sama sekali jika dia mimisan. Jika bukan Aster yang memberitahunya. Pasti Aiden tidak akan sadar jika darah keluar dari lubang hidungnya. Meskipun dia menyadari ada sesuatu yang hangat mengalir dari hidungnya.


"Sungguh?" Sekali lagi Aster mamastikan.


"Hn,"


Gadis itu mendecih sebal. Lagi-lagi Aiden menggunakan bahasa planetnya. Apa dia kehabisan stok kata-kata untuk membalas ucapannya. "Ck, berhenti menggunakan bahasa yang tidak aku mengerti, Tuan Muda Zhang!!"


Pukkk...


Aiden melemparkan sebuah cardigan pada Aster dan mendarat mulus di wajah cantiknya."Pakai itu. Kau bisa masuk angin jika memakai pakaian kurang bahan seperti itu!!"


Aster menyipitkan matanya. "Hem, sepertinya ada yang tidak beres. Tidak bisanya kau mengurusi apa yang aku pakai. Kau mencurigakan, lihatlah celanamu yang menonjol itu. Sepertinya sesuatu sedang berdiri,"


"Itu karena aku menahan kencing. Pergilah tidur, ini sudah malam. Besok kita harus kembali ke Seoul pagi-pagi sekali."


Kemudian Aiden beranjak dari hadapan Aster dan pergi begitu saja. Sepertinya dia harus melakukan permainan solo setelah ini. Senjata tempur miliknya terus berkedut nyeri dan itu membuat Aiden tidak tahan. Bisa saja dia menyerang Aster detik ini juga, tetapi hal itu tak dia lakukan karena Aiden tak ingin digantung hidup-hidup oleh Aster.


Sudah lebih dari lima menit. Namun Aiden belum juga kembali dari kamar mandi. Dan hal itu membuat Aster kebingungan sekaligus penasaran. "Ck, kenapa lama sekali. Sebenarnya apa yang dia lakukan di kamar mandi itu apa, buang air kecil atau pingsan?!"

__ADS_1


Aster pun memutuskan untuk memeriksanya. Siapa tau Aiden benar-benar pingsan di kamar mandi. "Aiden, sebenarnya kau ini kencing atau pingsan?!" Seru Aster sambil membuka pintu kamar mandi.


Deggg...


Tubuh Aster membeku di depan pintu ketika melihat sebuah benda asing milik suaminya yang sekarang tegak berdiri sempurna. Membuatnya berkali-kali menelan ludah dengan susah payah. "I...Itu senjata tempur milikmu?" Aster menunjuk pisang raja milik Aiden. Dia bertanya dengan suara gagap.


Kemudian Aster berjalan mendekat dan memegang sosis berurat tersebut. "Wow, besar dan panjang!!" Dia mengangkat wajahnya dan mengunci langsung ke dalam manik hitam milik Aiden.


"Jauhkan tanganmu dari sana, Aster Zhang!!" Geram Aiden menuntut. Suaranya terdengar jelas jika dia sedang menahan hasrat yang sangat besar.


"Ini sangat luar biasa. Aku ingin mencicipinya."


Alis Aiden saling bertautan. "Kau pikir senjata tempurku ini adalah gula-gula, yang bisa asal cicipi saja?!"


Aster memancungkan bibirnya. "Jangan pelit deh. Kalau tidak kau berikan padaku lalu mau kau berikan pada siapa? Wanita murah-an itu, atau mungkin perempuan lain di luaran sana?!" Aster menatap Aiden penasaran.


"Jangan asal main-main dengan pisang rajaku ini. Sekali sembur, perutmu bisa langsung membuncit!!"


Aster menggeleng. "Untuk hamil, aku rasa tidak deh. Mana mungkin jika hanya sekali sembur bisa langsung hamil?! Bagaimana kalau kita mencobanya, kalau uji coba ini berhasil, maka itu artinya kau adalah seorang pria perkasa, tapi kalau gagal~ Ya, begitulah!!"


Aiden mendengus berat. "Dasar perempuan aneh. Cepat tidur, jangan banyak bicara lagi. Kenapa semakin malam bicaramu malah semakin ngawur saja?!"


Aiden ingin sekali menerima tawaran Aster, tetapi tidak dengan cara seperti ini. Dia juga dia menyerahkannya dengan suka rela dan tanpa beban, pasti Aiden akan langsung menerimanya. Tetapi untuk saat ini, bela duren perlu dipertimbangkan lagi.


.


.


Malam sudah semakin larut. Namun Aiden masih tetap terjaga. Sesekali dia menoleh pada penghuni lain disamping kanannya yang sudah tertidur pulas dan menghela napas. Pakaian yang Aster pakai benar-benar sangat meresahkan. Dia sungguh tidak tau apa maksud dan tujuan Aster memakai pakaian semacam itu?

__ADS_1


Kemudian lelaki itu bangkit dari berbaringnya dan pergi ke balkon. Dia perlu mendinginkan tubuhnya yang memanas karena terbakar oleh hasrat ingin bercinta. Aiden adalah pria normal. Jadi wajar jika miliknya langsung berdiri tegak ketika melihat Aster berpakaian minim seperti itu.


"Sial!! Sebenarnya ada apa denganku, kenapa aku jadi sensitif begini akan semua hal yang berhubungan dengan gadis itu?!" Gumam Aiden penuh kebingungan.


Aiden mengeluarkan satu batang rokok dari bungkusnya lalu menyulut dan menghisapnya. Asap putih keluar dari sela-sela mulutnya ketika dia menghela napas. Rokok adalah teman paling setia ketika dia dalam keadaan dilema.


"Aiden, aku kedinginan."


Aiden menoleh ke belakang setelah mendengar suara Aster berkaur di telinganya. Terlihat gadis itu menghampirinya sambil memeluk tubuhnya sendiri. "Aku kedinginan." Rengek Aster sambil memanyunkan bibirnya.


"Lalu?"


"Lalu apanya? Inisiatif dong, bagaimana caranya supaya aku tidak kedinginan lagi!! Misalnya kita bercocok tanam," gadis itu memainkan kuku-kuku lentiknya.


Mata Aiden memicing. "Kau sungguh-sungguh ingin bermain kuda lumping denganku? Apa kau yakin dan sudah memikirkannya baik-baik jika tidak akan menyesal nantinya?!'


"Tentu saja tidak. Karena aku sudah memikirkannya baik-baik. Kita berdua sudah menikah, dan pernikahan kita saat di mata hukum dan negara. Memangnya apa lagi ya perlu diragukan? Bukankah benar yang aku katakan?"


Aiden menatap Aster yang juga menatap padanya. Dia mencoba mencari keraguan di dalam mata gadis itu, tapi tidak ada. Karena yang ada hanyalah keyakinan saja, sepertinya Gadis itu benar-benar sudah sangat yakin dengan keputusannya. Dan jika Aster sudah menginginkannya, Lalu bagaimana mungkin Aiden bisa menolaknya?


"Kenapa kau terus menatapku? Ya atau tidak? Jika memang tidak mau ya sudah, aku juga tidak akan memaksa. Sebaiknya aku kembali tidur saja!!"


Aster beranjak dari hadapan Aiden dan pergi begitu saja. Namun langkahnya dihentikan oleh Aiden dengan menggenggam pergelangan tangannya. Lelaki itu menarik lengan Aster lalu mencium bibirnya dan melu-matnya.


Tak ada penolakan dari gadis itu, Aster justru menerimanya dengan sangat baik. Dan malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang dan paling menyenangkan untuk mereka berdua. Karena mereka akan bercinta sampai pagi tiba.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2