
"ini adalah foto buat perempuan itu, habis dia untukku!!"
Shilla menyerahkan selembar foto pada Gerry. Dia meminta mantan suaminya itu agar membunuh dan menghabisi perempuan yang ada di foto tersebut.
Ketika Gerry mengatakan ingin kembali padanya, tentu saja hal itu dimanfaatkan oleh Shilla untuk memuluskan rencananya. Dia yang ingin Aster tersingkir dari sisi Aiden tak perlu sampai turun tangan sendiri karena ada Gerry yang bisa dia manfaatkan.
"Siapa sebenarnya perempuan ini? Kenapa kau ingin menghabisinya? Memangnya masalah apa yang dia miliki denganmu? Sampai-sampai kau ingin menyingkirkan dia dan membuatnya lenyap selamanya dari dunia ini?!"
Shilla menatap Gerry dengan sebal. "Jangan banyak bertanya!! Lakukan saja seperti yang Aku perintahkan, bukankah kau sendiri yang sudah menerima syarat yang kuberikan supaya bisa kembali padaku?! Jadi lakukan saja dan jangan banyak bertanya!!"
"Shilla, aku pasti akan melakukannya. Tapi setidaknya aku harus tahu alasan kamu ingin menghabisi perempuan di foto ini, Apa karena dia sainganmu atau karena hal lain?"
"Karena dia sainganku!!" Shilla menyela cepat. Lalu dia mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke dalam mata hitam Gerry. "Dia yang sudah merebut posisiku. Seharusnya aku yang ada diposisi itu. Dan aku tidak terima, untuk itu aku ingin wanita itu tersingkir agar posisiku tetap aman!!"
Mendengar yang Shilla katakan, Gerry kemudian berpikir jika perempuan itu adalah saingan Shilla di tempat kerjanya. Dan dia ingin menyingkirkannya supaya tidak memiliki saingan lagi.
"Baiklah, aku akan menghabisi perempuan ini untukmu. Aku akan membuktikan padamu, jika aku benar-benar tulus ketika memohon supaya bisa kembali padamu!!"
Shilla tersenyum lebar mendengar ucapan Gerry. Ternyata tidak sulit memanfaatkan mantan suaminya yang bodoh ini. Dengan bertindaknya Gerry, Shilla tak perlu sampai mengotori tangannya sendiri hanya untuk menyingkirkan perempuan itu.
"Setelah selesai, dan tugasmu berhasil kau selesaikan. Temui aku, aku akan memberikan imbalan yang besar untukmu. Bukan uang, imbalanku diatas ranjang!!"
Gerry menyeringai. "Itu yang kunantikan!!"
-
-
Sepanjang hari Aster terus melamun sampai-sampai beberapa desain terbarunya terbengkalai. Dia benar-benar tidak bisa fokus dan konsentrasi sejak tadi pagi. Menikah dengan Aiden, kalimat itulah yang mengganggunya sampai detik ini. Lalu apa jadinya jika dia dan Aiden sampai benar-benar menikah?!
__ADS_1
Dan disaat Aster tengah bergulat hebat dengan pikirannya. Tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka, dan sosok orang yang sedari pagi dia pikirkan memasuki ruangan tersebut.
"Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan, Aster Nero?" Tegur orang itu. Tapi sepertinya dia masih belum menyadari siapa yang datang dan berdiri di depannya.
Gadis itu mengambil nafas panjang dan menghelanya. "Rusa kutub itu. Mama dan papa bersikeras menjodohkanku dengannya, mereka selalu mengatakan kalimat yang sama 'Jika dia yang terbaik dan jodoh yang paling tepat untukku' tapi masalahnya aku masih bingung dan ragu."
"Dia itu duda dan mirip balok es. Lalu apa bisa dia bersikap hangat dan perhatian padaku? Aku benar-benar galau setelah mati. Dia itu sangat tampan dan sangat sayang jika di lepaskan, di sisi lain aku juga merasa bingung dengan keputusanku sendiri. Hal ini benar-benar membuatku stress berat!!" Tuturnya panjang lebar.
Kemudian Aster menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Belum pernah dia sampai segala ini, Apalagi itu karena pria. Aiden benar-benar luar biasa, karena berhasil membuat dirinya galau setengah mati.
Tiba-tiba Aster terdiam. Sepertinya dia menyadari sesuatu. Sontak gadis itu mengangkat kepalanya, kedua matanya membulat sempurna melihat siapa yang berdiri di hadapannya. "Aiden?!" Dia memekik dengan keras. "Sejak kapan kau berdiri disini?" Aster menatapnya penasaran.
"Sejak Kau mulai berbicara ngelantur dan ngawur. Aku tidak tahu apa yang membuatmu sebimbang itu untuk menikah denganku?! Tenanglah, aku tidak mungkin mengigitmu apalagi memakanmu hidup-hidup."
"Memangnya siapa yang Bimbang, jangan sok tahu deh jadi orang. Ngomong-ngomong untuk apa kau datang kemari?!" Aster menatap Aiden penasaran.
"Memangnya perlu ya sampai fitting gaun pengantin segala. Bukankah aku bisa memakai gaun pengantin manapun, kenapa harus fitting segala?! Aku tidak mau!!"
Aiden menautkan alisnya. "Apa kau yakin tidak mau? Aster mengangguk. "Sayang sekali ya, padahal perancangnya adalah seorang perancang ternama dunia yang sedang menjadi incaran para calon pengantin supaya mau mendesain gaun pengantin yang akan mereka kenakan sekali seumur hidup!!"
Lagi-lagi Aster membulatkan matanya mendengar apa yang Aiden katakan. "Aiden tunggu!! Oke, kita pergi. Apa kau puas?!"
Aiden tersenyum lebar. Caranya berhasil, bagaimana Aster tidak langsung tertarik. Karena desainer yang Aiden maksud adalah idola Aster. Orang yang memberinya inspirasi untuk menjadi seorang desainer bernama.
Dan dia memiliki sebuah impian untuk memakai gaun pengantin hasil rancangannya ketika dia menikah. Dan kali ini Aster tak bisa melepaskan kesempatan emas tersebut. Karena itu langkah dan hanya datang sekali seumur hidup.
.
.
__ADS_1
Aiden bangkit dari duduknya saat tirai terbuka dan memperlihatkan sosok cantik seorang gadis yang tampak begitu anggun dan sempurna dalam balutan sebuah gaun pengantin. Melihat bagaimana cantiknya gadis itu membuat Aiden sampai tak berkedip sama sekali. Dan ditatap seperti itu oleh Aiden membuat Aster gugup sendiri.
"Ke..Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa menurutmu ini tidak bagus di tubuhku?" Tanya Aster mematikan.
Aiden menggeleng. "Sempurna. Kau sangat cantik dan sempurna dalam balutan gaun pengantin itu. Dan aku menyukainya,"
Blusshh...
Rona merah seketika muncul di ketua pipi Aster mendengar pujian Aiden. Apa telinganya tidak salah dengar? Seorang pria yang memiliki sifat seperti kutub Utara tiba-tiba memberikan sebuah pujian. Itukan sangat langkah.
"Jangan mengatakan omong kosong!! Itu tidak lucu. Lalu menurutmu bagaimana dengan gaun yang ini? Oke tidak?"
Aiden mengangguk. "Sempurna. Kita ambil yang itu saja, gaun itu benar-benar sangat cocok denganmu. Kau cantik dan sempurna memakainya. Mirip putri di negeri dongeng,"
"Aku bilang cukup!! Jangan mengatakan omong kosong lagi. Jika yang kau puji adalah para penggemarmu yang fanatik itu. Pasti mereka semua sudah pingsan karena gombalanmu ini, Untung saja itu adalah aku."
Grepp...
Kedua mata Aster membulat sempurna saat Aiden tiba-tiba menariknya dan membunuh jarak diantara mereka berdua. Jari-jarinya menyentuh permukaan bibir tipis Aster yang tampak menggoda. Aiden mendekatkan bibirnya lalu mencium dan melumaat bibir tipis itu. Dan ciuman sepihak itu hanya berlangsung kurang dari tiga puluh detik saja.
"Bibir ini, akan menjadi canduku. Aku akan menciumnya setiap saat, setiap detik dan setiap waktu."
"Dasar messum!!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1