I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 31: Sangat Payah


__ADS_3

"Sampai kapan kau akan mendiamiku, Aster Nero?!"


Aster mengangkat wajahnya dan menatap sebal pada suaminya itu. "Sampai kadal beranak domba!!" Jawabnya ketus.


Tak ada respon dari Aster. Gadis itu hanya menatap sekilas ke arah suaminya dan kembali sibuk pada ponselnya. Sepertinya Aster masih kesal setengah mati pada Aiden karena ditinggalkan begitu saja di jalanan.


"Oke, aku salah. Aku minta maaf, sebagai permintaan maaf. Bagaimana jika aku membuatkan makan malam untukmu?" Usul Aiden.


Sontak Aster mengangkat kepalanya. "Kau bisa memasak?" Dia menatap Aiden penuh keraguan.


"Kau meragukanku? Begini-begini, aku lebih mahir darimu dalam urusan memasak. Ayo ikut aku ke dapur." Aiden berjalan lebih dulu dan diikuti Aster yang mengekor belakangnya.


Beberapa pelayang membungkuk ketika melihat kedatangan mereka berdua. Seorang kepala pelayan menghampiri pasangan suami istri tersebut. "Tuan Muda, tidak biasanya Anda datang kemari. Apakah Anda dan Nyonya membutuhkan sesuatu?" Tanya kepala pelayan itu dengan sopan.


Aiden menggeleng. "Tidak, malam ini kalian tidak perlu memasak untukku dan Aster. Biar aku melakukannya sendiri," ucap Aiden seraya membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan makanan mulai dari sayur, daging dan tak lupa buah-buahan sebagai pencuci mulutnya.


"Memangnya kau mau masak apa?" Aster berdiri disamping Aiden. Lelaki itu menoleh pada gadis disampingnya yang menatapnya penuh rasa penasaran.


Aiden tak menjawab pertanyaan Aster dan hanya menatapnya selama beberapa detik. Tanpa harus menjelaskannya, Aster pasti tau setelah masakannya selesai. Dan Aiden melanjutkan pekerjaannya dengan mencuci terlebih dulu sayur dan daging yang hendak di masak.


"Biar aku saja yang mencuci sayur dan dagingnya." Namun pekerjaannya segera diambil alih oleh Aster, Aiden pun lanjut untuk menyiapkan bumbu-bumbunya. "Aku jadi sangat penasaran seperti apa rasa masakanmu, awas saja kalau tidak enak."


Aiden melirik Aster dari ekor matanya. "Bisa tidak kau jangan bawel. Diam dan lihat saja," ucapnya dengan nada sinis.


Aster mempoutkan bibirnya. Dia benar-benar kesal dengan jawaban Aiden. Bisa-bisanya dia menjawab pertanyaannya dengan nada dingin seperti itu. "Dasar balok es menyebalkan!!" Gerutu Aster setengah menggumam.


Setelah mencuci sayur dan daging, kemudian Aster lanjut untuk mencuci buah yang sudah Aiden keluarkan dari dalam kulkas. Setelah memastikan buah-buahan itu bersih, Aster pun berinisiatif untuk sekalian mengupas dan memotongnya.

__ADS_1


"Aahhhh..."


Pisau bermata tajam itu lepas dari genggamannya setelah tanpa sengaja mengiris ujung jarinya. Darah segar seketika mengalir dari lukanya. Dan apa yang terjadi pada Aster membuat Aiden menjadi panik. Dia meraih tangan istrinya lalu menghisap jarinya yang terluka lalu meludahkan darah yang ada di dalam mulutnya.


"Ck, dasar ceroboh. Sudah tau payah dalam segala hal, masih saja memaksakan diri. Jika sudah begini siapa yang perlu disalahkan? Aku atau kau yang ceroboh?!" Aiden mengomeli Aster habis-habisan. Karena kecerobohannya sendiri dia jadi celaka. Ujung jarinya terluka karena teriris pisau.


"Yakk!! Kenapa kau malah menyalahkanku?! Aku ini berinisiatif membantumu, namanya juga apes mau bagaimana lagi!?" Jawabnya membela diri.


Kemudian Aiden mengangkat wajahnya dan menatap gadis didepannya ini dengan pandangan tajam. "Jangan lakukan kebodohan lagi. Sebaiknya duduk saja dan tunggu masakannya matang. Kau tidak perlu melakukan apapun!!" Ucapnya sambil menutup luka kecil itu dengan sebuah plaster luka.


"Huft, baiklah."


.


.


Usai makan malam. Mereka berdua memutuskan untuk duduk berantai di ruang keluarga. Baik Aster maupun Aiden sama-sama malas untuk pergi ke kamar yang berada di lantai dua. Dan sungguh Aster tak menyangka jika masakan Aiden begitu lezat, pantas saja dia bisa menyombongkan diri.


"Berhenti menatapku seperti itu, Aster Nero!! Kau membuatku tidak nyaman!!" Ucap Aiden tanpa menatap lawan bicaranya.


"Kenapa? Aku senang kok menatapmu, kau itu tampan. Dan pantas saja perempuan itu sampai jatuh bangun mengejarmu."


Sontak Aiden mengangkat wajahnya dan membuat matanya dan Aster saling bertemu pandang. Gadis itu sedang tersenyum kearahnya. "Jika aku memang setampan yang kau katakan. Tidak mungkin aku dikhianati oleh istriku sendiri. Untuk itu jangan mengatakan omong kosong lagi!!" Ucapnya dingin.


Aster menatap Aiden dengan pandangan serius. Dia mencoba membaca apa yang pria ini pikirkan, tapi tidak bisa. "Apa kau masih mencintai mantan istrimu itu?" Tanya Aster hati-hati.


Aiden mengangkat wajahnya sekali lagi dan membalas tatapan Aster untuk kesekian kalinya. "Sudah tidak ada alasan untukku tetap mencintainya. Dan aku tidak akan jatuh untuk kedua kalinya dalam lubang yang sama," jawabnya menimpali. "Apa yang kau lamunkan? Buka mulutmu," pinta Aiden lalu memasukkan potongan buah apel ke mulut Aster.

__ADS_1


"Tidak ada, aku tidak melamunkan apapun. Hanya saja aku takut jika kau sampai terbebani dengan pernikahan ini,"


"Menikahimu adalah keputusanku, jadi aku tidak akan merasa menyesal apalagi terbebani dan pernikahan ini. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak," ucap Aiden.


"Jika aku boleh tau, apa sebenarnya alasanmu mau menikah denganku? Sedangkan kita belum cukup lama saling mengenal apalagi memahami sifat pribadi masing-masing." Perbincangan mereka mulai masuk ke dalam jenjang yang lebih serius.


Aster benar-benar takut jika Aiden sampai terbebani dengan pernikahan merek berdua. Apalagi merek menikah karena perjodohan, bukan karena cinta dan keinginan dari hati masing-masing.


Dan jika boleh jujur, sebenarnya Aster masih belum siap menikah dan membina rumah tangga. Namun di tidak memiliki pilihan untuk menolak pernikahan tersebut. Terlebih lagi orang yang dinikahinya adalah seorang duda mapan dan tampan.


"Wow, kelihatannya apel ini sangat manis. Aku ingin mencicipinya juga,"


Plaakkk ..


Aster memukul tangan Aileen ketika pemuda itu hendak mengambil salah satu potongan apel yang Aiden kupaskan dan potongkan untuknya. "Enak saja, kalau mau kupas dan potong sendiri. Karena yang ini Aiden kupas dan potongkan untukku!!"


"Aisshh, Nunna. Kenapa kau pelit sekali sih. Sama adik ipar sendiri ini, kenapa kau perhitungan sekali. Lagipula Aiden Hyung juga gak bakal melarangku memakannya. Iya kan, Hyung."


"Sekali tidak boleh ya tidak boleh. Kenapa kau memaksa sekali. Lagipula apel ini milikku sekarang, terserah aku mau memberimu atau tidak. Dan aku tidak mau membaginya denganmu!!"


"Nunna!!"


Aiden mendesah berat. Dan beginilah mereka berdua ketika bertemu. Selalu saja ada masalah yang diributkan. Aileen yang jahilnya minta ampun, dan Aster yang keras kepala. Dan Aileen sering kali terkena mental setiap kali berdebat dengan perempuan yang sekarang telah resmi menjadi kakak iparnya tersebut.


Malas mendengar perdebatan mereka berdua. Aiden pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan meninggalkan mereka begitu saja.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2