
Gerry benar-benar dibuat tak berkutik oleh Aster dan Aiden. Berhadapan dengan mereka berdua membuatnya seperti sedang uji nyali. Terutama ketika melihat sorot mata dan tatapan Aiden yang terlewat tajam. Sepanjang Gerry mengenalnya, ini pertama kalinya dia melihat tatapan tajam Aiden.
Namun bukan itu yang mengerikan, melainkan puluhan pasang mata yang saat ini tengah menatapnya dengan pandangan menellanjangi. Mereka saling berbisik-bisik sambil tersenyum dan tertawa.
Ini benar-benar memalukan sekali. Bagaimana tidak, tubuhnya setengah tellanjang, Gerry memakai cellana dalam saja. Dan percayalah jika bukan Aiden yang memiliki ide gila itu melainkan Aster. Ya, dialah yang memiliki ide untuk memajang Gerry di keramaian dengan keadaan setengah tellanjang.
"Yakk!! Kau benar-benar iblis betina, cepat lepaskan aku!!" Teriaknya menuntut.
Aster menggeleng. "Inilah akibatnya jika kau berani mencari masalah dengan putri pasangan Bos mafia dan mantan ketua gangster. Kau sudah mencari masalah dengan orang yang salah," ucap Aster menimpali.
Aiden sungguh tak menduga jika istrinya ini memiliki sebuah ide yang sangat gila. Bagaimana bisa terpikirkan untuk memajang Gerry yang setengah tellanjang di tengah kota, di depan banyak orang. Istrinya ini benar-benar sangat luar biasa, luar biasa gilanya.
"Lepaskan aku!!" Teriak Gerry menuntut. "Kau adalah wanita terkejam yang pernah aku temui. Setelah memecahkan satu telurku, kau mempermalukanku dengan memajangku di depan banyak orang!! Huhuhu...!! Aku mohon lepaskan aku!!"
"Tidak!! Sebelum kau mengaku atas dasar apa kau ingin mencelakaiku, jelas-jelas aku dan dirimu tidak pernah memiliki masalah apa-apa. Atau mungkin ada orang lain di balik ini semua. Mengaku maka aku akan mempertimbangkan untuk melepaskanmu, atau tetap bungkam dengan konsekuensi kau tidak pernah aku lepaskan!! 10 detik, Aku akan memberimu waktu untuk berpikir,"
"Baik, baik, aku mengaku saja. Sebenarnya aku disuruh dan diperintahkan oleh seseorang."
"Siapa yang menyuruh dan memerintahkan?!" Aiden menyela cepat.
"Shilla!! Dia yang menyuruhku, Shilla bilang aku bisa kembali padanya jika berhasil melukai dan mencelakai perempuan yang bersamamu itu!!" Akhirnya Gerry pun mengaku. Dia tidak ingin terus-terusan dipermalukan seperti ini jika tidak mengatakan yang sebenarnya.
Gyutt...
Tangan Aiden terkepal kuat. Tanpa basa-basi dan mengatakan apapun. Lelaki itu beranjak dari hadapan Aster dan pergi begitu saja. Dia hendak membuat perhitungan dengan wanita itu. Aiden tidak bisa membiarkannya, karena jika dibiarkan, hal semacam ini pasti akan terjadi lagi. Aiden mengenal baik Shilla perempuan seperti apa.
"Hei, kau mau kemana? Manusia kutub, kenapa aku malah ditinggal sendirian?! Aiden!!" Teriak Aster namun tak dihiraukan oleh lelaki itu. Aster mendengus berat. "Awas saja kau nanti. Aku pasti akan membuat perhitungan denganmu!!"
-
-
__ADS_1
Berkali-kali Shilla mengecek ponselnya namun belum ada pesan ataupun panggilan masuk dari Gerry. Ini sudah berjam-jam, seharusnya dia sudah berhasil menyingkirkan perempuan itu.
Baru saja Shilla hendak pergi ke kamarnya, namun suara ketukan pada pintu menghentikan langkahnya. Kemudian wanita itu berbalik untuk melihat siapa yang datang bertamu. Mata Shilla berbinar-binar setelah mengetahui siapa yang datang, tanpa membuang banyak waktu Shilla segera membukakan pintu untuk tamunya itu.
"Aiden," seru Shilla dan berhambur ke pelukan Aiden . Bukannya membalas pelukan wanita itu, Aiden malah mendorongnya hingga sila tersungkur ke lantai. "Aiden, Kenapa kau malah mendorongku?" Seru Shilla sambil menatap Aiden tak percaya.
"Apa kau sudah bosan hidup, beraninya kau mengirim seseorang untuk melukai Aster!! Apa peringkatanku sebelumnya kau anggap main-main?!" Ucap Aiden dengan tatapan tajam penuh intimidasi.
Shilla menatap Aiden dengan mata berkaca-kaca. "Jadi karena dia, karena wanita itu kau datang menemuiku?! Memangnya Apa hebatnya dia dibandingkan aku?! Aiden, yang sudah lama menyukaimu, dan aku satu-satunya yang paling layak untuk bersanding denganmu. Tapi kenapa kau malah memilih wanita lain, KENAPA?!"
"Karena kau murahan!!"
Sakittt!! Hati Shilla seperti dicabik-cabik setelah mendengar jawaban Aiden. Dengan gampangnya dia menyebutnya murahan, bahkan ketika mengatakan kata itu Aiden seperti tak memiliki beban.
"Aku tidak pernah main-main dengan peringkatanku, Shilla. Sekali lagi kau berani mencoba membuatnya celaka, aku tak akan segan-segan untuk menghabisimu. Jangan kacaukan pertemuan kita dengan keserakahanmu!!"
Plaakkk!!
"Jika kau ingin mati, lakukan saja. Tidak ada yang melarang dan menghalangimu!! Karena jika kau mati, itu akan lebih baik!!"
"AIDEN!!" bentak Shilla dengan suara meninggi. Dia benar-benar tak menyangka jika Aiden akan memperlakukannya seperti ini. Shilla menyambar piisau buah yang ada diatas meja. "Kalau begitu aku akan bunuh diri di depanmu!!"
"Lakukan saja!! Aku tidak peduli!!"
Tanpa ragu sedikit pun Shilla memotong pergelangan tangannya. Bukannya panik dan terkejut melihat tangan Shilla yang berlumuran darah, Aiden malah meninggalkannya begitu saja. Bukan dia yang memintanya untuk bunuh diri, tapi itu keinginannya sendiri.
"Aiden, kau benar-benar keterlaluan!!"
Buru-buru Shilla membebat lengannya dengan kain agar darahnya tak semakin banyak yang keluar. Sepertinya yang dia lakukan ini pun sia-sia saja, karena Aiden tak peduli sama sekali. Baik dia mati ataupun tidak.
-
__ADS_1
-
BRAKK...
"Ayam, ayam, ayam!!"
Aileen terlonjak kaget dan nyaris terkena serangan jantung dadakan karena ulah Aster. Perempuan itu membanting pintu kamarnya dengan keras hingga menimbulkan suara dentuman yang nyaris membuatnya jantungan.
Dia tidak tau apa yang terjadi sebenarnya. Tadi berangkat bersama Aiden, tapi kembali sendirian dalam keadaan marah-marah. Alis Aileen saling bertautan. "Mungkinkah mereka berdua sedang bertengkar?" Aileen memicingkan matanya. Senyum miring tercetak di bibirnya. Aileen pun segera pergi ke kamar Aster untuk mencuci otaknya.
"Nunna, boleh aku masuk." Seru Aileen di depan kamar Aster. "Aku masuk ya,"
"Mau apa kau datang kemari?" Aster menatapnya dengan tajam. "Mau mencuci otakku?!"
"Bukan begitu, aku kemari untuk menghiburmu. Nunna, kenapa kau terlihat sedih sih? Apa ini karena Aiden Hyung, memangnya apa yang telah dia perbuat padamu? Apa dia menyakitimu?! Kemarilah dan curhatkah pada adik,"
Aster menutup matanya dan mendengus. Dia bangkit dari duduknya seraya membawa sebuah bantal. "Jangan semakin memperkeruh keadaan apalagi berusaha mencuci otakku. Sebaiknya kau keluar sekarang sebelum aku merubahmu menjadi perkedel daging!!"
Aster memukul Aileen dengan bantal itu berkali-kali. Membuat pemuda itu berteriak dan meminta ampun, tapi Aster tak menghiraukannya. Dia terus memukuli Aileen sambil mendorongnya keluar.
"Nunna, hentikan!! Kenapa kau beringas sekali, ini sakit!!"
"Seharusnya kompor meleduk sepertimu itu diberi pelajaran, bukannya dibiarkan. Sekali lagi kau berusaha menjadi orang ketiga dalam hubunganku dengan Aiden, habis kau!!"
Aileen memanyunkan bibirnya. Kenapa dia merasa jika Aster semakin galak dari hari ke hari. Dia dan Aiden benar-benar pasangan yang sempurna. Sama-sama sadisnya.
-
-
Bersambung.
__ADS_1