
"OMO!!"
Aster yang sedang asik ngedrakor terlonjak kaget karena suara kepada ponselnya. Dengan kesal, Gadis itu menyambar ponselnya yang ada di atas meja. Aster terus menggerutu tidak jelas, dia paling kesal ketika sedang menonton drama favoritnya tiba-tiba ada yang menganggunya.
"Ck, orang gila dari mana sih nelpon jam segini dan mengganggu orang sedang menonton Drama. Bener-bener menyebalkan!!"
Dan kekesalan Aster semakin memuncak setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Aiden, dialah yang menghubunginya. Dengan perasaan dongkol, Aster menerima panggilan itu.
"Ck, apa saja yang sedang kau lakukan sih?! Kenapa lama sekali angkat telfonnya?!"
"Yakk!! Balok es, kenapa malah jadi kau yang kesal dan marah-marah, eo?! Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau tiba-tiba menghubungiku, mengganggu orang sedang nonton drama saja!!" Aster tak mau kalah dan menimpali ucapan Aiden dengan ketus.
"Baiklah, aku salah. Aku minta maaf. Dokumenku ada yang tertinggal, segera antarkan kemari. Dan dokumen itu ada di atas laci samping tempat tidur. Minta Tao untuk mnsgantarkanmu."
Aster mendengus berat. "Dasar menyebalkan!! Jadi kau menghubungiku hanya untuk dokumen?! Baiklah, aku akan pergi sekarang juga."
Setelah mengganti pakaiannya. Aster menghampiri Tao yang sedang bermain monopoli dengan tukang kebun di teras depan. Aster geli sendiri melihat bagaimana ekspresi Tao saat dirinya berhasil mendapatkan rumah di Negera impiannya.
"Panda, berhenti dulu mainnya. Bosmu yang mirip kulkas berjalan itu memintamu untuk mengantarkanku ke kantornya. Dokumennya ketinggalan dan dia memintaku untuk mengantarnya kesana."
"Oh, oke-oke. Tapi sebentar lagi, Nunna Bos. Aku masih perlu mendapatkan satu rumah lagi!!"
"Tidak ada sebentar lagi, sebentar lagian. Ayo pergi sekarang atau kau ingin di pecat oleh Aiden?!"
Tao membulatkan matanya seraya menggelengkan kepala. "Tidak, tidak, tidak!! Aku memiliki tiga kucing liar yang harus kurus dan kuhidupi, dan jika aku sampai dipecat bagaimana caraku untuk menghidupi mereka bertiga?! Ya sudah ayo pergi sekarang," ucap Tao.
Dia sungguh tidak ingin mengambil resiko besar dan kehilangan pekerjaannya, apalagi gaji yang dia terima setiap bulannya sangat besar belum lagi bonus tahunannya. Ditambah lagi tempramen Aiden yang sangat buruk. Bisa-bisa dirinya di pecat dan tidak diberikan pesangon.
-
-
"Baiklah, aku salah. Aku minta maaf. Dokumenku ada yang tertinggal, segera antarkan kemari. Dan dokumen itu ada di atas laci samping tempat tidur. Minta Tao untuk mnsgantarkanmu."
Aiden mengakhiri sambungan telfonnya lalu berbalik dan menghampiri tamunya. Rencananya mereka berdua akan bekerja sama untuk sebuah proyek besar. Dan dokumen mengenai proyek tersebut malah ketinggalan di rumahnya.
__ADS_1
"Maaf sudah membuang waktumu. Dokumen untuk proyek itu tertinggal dan aku meminta istriku untuk mengantarkannya kemari."
"Tidak perlu terburu-buru, Tuan Zhang. Lagipula saya juga tidak sedang sibuk kok." Lelaki itu tersenyum.
Sembari menunggu dokumen itu tiba. Mereka berdua membahas beberapa poin penting tentang proyek besar yang sedang terencanakan. Jika proyek tersebut berhasil, maka kedua belah pihak akan sama-sama mendapatkan keuntungan yang sangat besar.
"Aiden, ini dokumennya,"
Dan obrolan mereka berdua terinterupsi oleh kedatangan Aster. "Eo," baik Aster maupun lelaki itu sama-sama terkejut setelah mereka saling bertatap muka. "Leon," seru Aster dengan suara meninggi. Dia benar-benar terkejut saat mengetahui jika tamu suaminya adalah sahabatnya. Keduanya kemudian berpelukan.
"Aster, senang bertemu denganmu lagi,"
"Maaf, kemarin aku tidak bisa menemuimu. Aku benar-benar sangat sibuk,"
Leon menggeleng. "Tidak apa-apa, aku bisa mengerti dan memahami kesibukanmu. Lega melihatmu baik-baik saja,"
"Jadi kalian berdua sudah saling mengenal?" Aiden menatap mereka berdua bergantian.
Aster melepaskan pelukannya seraya menganggukkan kepala. "Ya, dialah orang yang hendak aku temui kemarin. Aku dan Leon bertemu ketika kami berada di luar negeri, karena sama-sama berasal dari negara yang sama, akhirnya kami berdua menjadi teman dekat." Jawab Aster memberi penjelasan.
Dan itu artinya orang yang sempat membuatnya kesal adalah lelaki yang ada di hadapannya ini. Meskipun demikian, tetapi Aiden tidak bisa mencampurkan masalah pribadi dan pekerjaan. Dia harus tetap bersikap profesional, begitu pula dengan Leon.
"Apa kalian sudah selesai?" Tanya Aster pada kedua lelaki tampan itu. "Sudah waktunya makan siang, bagaimana jika kita makan siang bersama-sama saja?" Dia memberi usul pada keduanya.
"Bukan ide yang buruk, aku setuju. Bagaimana dengan Anda, Tuan Zhang?" Leon menatap Aiden yang sedari tadi berekspresi dingin.
"Hn,"
Leon menatap Aiden dengan bingung. Dia benar-benar tidak mengerti arti kata 'Hn,' yang dia ucapkan. Kemudian Aster yang menjawab kebingungan Leon.
"Itu artinya di setuju. Manusia kulkas ini memang suka memakai bahasa planet yang tidak dimengerti oleh orang lain. Untungnya saja aku ini pandai, sehingga tidak sulit untuk menterjemahkan kalimat yang dia ucapan itu." Tutur Aster.
Melihat kedekatan mereka berdua, membuat Aiden tak nyaman. Terlebih lagi ketika Aster berbicara begitu lepas dengannya, belum lagi dengan tatapan Leon ketika memandang istrinya tersebut. Dari sorot matanya Aiden bisa menilai jika sebenarnya Leon memiliki perasaan lebih pada Aster, namun tidak dengan gadis itu.
"Kenapa kalian berdua hanya diam saja? Ayo pergi sekarang," Aster memeluk lengan keduanya seraya menatapnya bergantian. Yang disamping kanan adalah suaminya, dan disamping kiri adalah sahabatnya.
__ADS_1
Aiden kemudian melepaskan pelukan Aster lalu menjauh dari mereka berdua. Tangan kiri Aster masih memeluk lengan kanan Leon."Kalian duluan saja, masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," Aiden kembali kemeja kerjanya. Dia tidak mau pergi dengan mereka berdua.
"Tidak bisa!! Aku tidak mau mendengar alasan apapun, pokoknya kau harus ikut makan siang bersama kami!!" Aster menyahuti.
Aiden menatap datar pada gadis itu. Lalu pandangannya bergulir pada Leon. Refleks pria itu menghindari tatapan dingin Aiden yang serasa menusuk itu. Dia merasa tak enak pada Aiden yang ternyata adalah suami dari Aster.
"Maafkan aku Aster, aku lupa jika sudah ada janji dengan orang lain. Kalian berdua saja yang pergi. Aku pergi dulu." Selepas kepergian Leon, di ruangan itu hanya menyisakan Aster dan Aiden.
Pandangan Aster lalu bergulir pada Aiden."Masih tidak mau pergi?"
"Hn," Aster mendesah berat. Lagi-lagi Aidan menggunakan bahasa planetnya. Lelaki itu menyambar jasnya yang ada di sandaran kursi lalu memakainya. Dan sekarang Aster tahu alasan idol tidak mau pergi, yakni karena Leon. "Dasar kau ini. Lihatlah, kau membuatnya ketakutan. Bukankah sebaiknya kita tadi pergi bertiga, dasar kulkas berjalan!!"
Menurut Aster sikap Aiden sangatlah aneh. Jelas-jelas dia dan Leon adalah rekan bisnis. Tetapi kenapa sikapnya malah berubah total setelah kedatangannya. Benar-benar pria yang sulit di mengerti.
-
-
Bruggg...
"Yakk!! Apa kau tidak memiliki mata?! Jalan tidak lihat-lihat. Apa yang sedang kau lakukan di sini, ini toilet wanita!!"
"Ma..Maaf, Nona. Saya sungguh tidak tahu jika ini adalah adalah toilet wanita. Aku ini pria buta, jadi bagaimana bisa membedakan mana toilet wanita dan toilet pria. Bahkan untuk sampai di sini pun, aku sampai tersesat sebanyak 50 kali." Ucap pemuda itu membela diri.
Perempuan itu memicingkan matanya, lalu dia mengibaskan tangannya di depan wajah pemuda itu. Matanya tak bereaksi sama sekali, benar-benar buta, pikirnya. Lalu dia mengantarnya keluar dari toilet wanita menuju toilet pria.
Ditengah langkahnya, pemuda itu mengeringkan matanya pada pemuda lain yang berdiri di depan lorong toilet pria. Pemuda itu benar-benar menang banyak, sedangkan dirinya tak mendapatkan keuntungan apa-apa.
"Sialan kau Aileen. Tunggu saja, aku tidak akan kalah darimu!!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1