
Sang penguasa malam telah meninggalkan peraduannya, dan tempatnya mulai digantikan oleh sang surya yang mulai merangkak naik menuju singgasananya. Malam telah berlalu dan pagi mulai menjelang.
Di sebuah mansion mewah yang memiliki tiga lantai, terlihat seorang wanita keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk yang menutup dari bagian dada sampai atas lututnya. Setelah berpakaian lengkap dan ber-make up, wanita itu pun melanggar keluar meninggalkan kamarnya.
Alisnya saling bertautan ketika melihat Aidan sedang berbincang dengan seorang laki-laki paruh baya yang wajahnya terlihat sangat asing. Di samping paruh baya itu, terlihat seorang perempuan seumuran dengannya. Dia tanpa malu-malu ketika menatap Aiden.
"Aiden, menikah dengan satu marga sudah menjadi tradisi turun-temurun di keluarga kita. Mulai dari zaman nenek moyang, tradisi ini sudah diterapkan. Jadi sebagai penerus kepala keluarga Zhang, kau harus melanjutkan tradisi ini!!"
"Tradisi kolot kalian tidak ada hubungannya denganku!! Dan aku tidak ada di melanjutkan tradisi menggelikan semacam itu, lagi pula aku sudah menikah. Jadi aku menolak untuk menikahi putrimu ini!!"
"AIDEN!!" paruh baya itu berteriak dengan nada tinggi. Dia menatap lelaki di depannya penuh amarah. "Jadi kau ingin melanggar tradisi keluarga kita?! Bocah kemarin sore sepertimu berani sekali menodai tradisi turun temurun dari jaman nenek moyang!!"
"Memangnya kenapa jika dia melanggar tradisi kalau kalian?! Lagi pula zaman sudah maju, jadi untuk apa masih mempertahankan tradisi kolot semacam itu?!" Sahut Aster menimpali.
Ketiganya sontak menoleh. Paruh baya itu dan putrinya menatap Aster dengan pandangan tak suka, sementara air dan menarik sudut bibirnya melihat kedatangan wanita itu. Dia ingin melihat bagaimana cara Aster menghadapi ayah dan anak ini. Dan Aiden berani bersumpah jika mereka akan terkena stroke ringan menghadapi Aster yang bar-bar.
"Kau siapa? Kenapa berani sekali ikut bicara dalam obrolan serius Papa dengan Kak Aiden?"
"Kau bertanya siapa aku? Betul juga ya, aku masih belum memperkenalkan diriku pada kalian berdua. Perkenalkan Aku adalah Aster Zhang, dan statusku di rumah ini sebagai istri Tuan Muda Zhang sekaligus Nyonya Rumah!!"
"Aiden, sebenarnya perempuan gila dari mana yang kau pelihara ini? Berani-beraninya dia mengaku sebagai Nyonya di rumah ini!!"
"Apa masih belum jelas yang dia katakan?! Bukankah dia sudah memberitahu kalian berdua jika dia adalah istriku dan juga Nyonya rumah di sini!! Jadi jangan sembarangan menyebutnya!!" balas Aiden menimpali.
Andien, nama perempuan itu. Dia menarik lengan ayahnya. "Pa, cepat lakukan sesuatu!! Kak Aiden tidak boleh menikahi wanita lain, karena yang boleh dia nikahi hanyalah aku!!"
"Andien, tenanglah. Papa juga tidak akan membiarkan Aiden sampai merusak dan mencoreng tradisi lama keluarga kita. Dan memang sudah seharusnya yang dia nikahi itu adalah kamu!!" Jawab pria itu.
Aster mendengus. Sepertinya bicara dengan mereka secara baik-baik tidak ada gunanya, sepertinya harus menggunakan cara yang warbiasa baru mereka bisa mengerti.
"Kenapa kau ini kolot sekali sih jadi orang, lagipula ini bukan lagi zaman Victoria!! Menikah masih dengan cara dijodohkan. Dan kau~" Aster menunjuk Andien tepat di depan mukanya.
"Jangan pernah bermimpi untuk bisa menikah dengan Aiden, karena aku tidak rela jika harus berbagi suami dengan siapapun dan wanita manapun!! Tapi jika aku masih bersikeras, maka aku tidak akan sungkan-sungkan lagi!!"
__ADS_1
"Kau~"
"Yo, paman zhang, Andien Nunna. Kalian datang rupanya. Dan rupanya bau busuk yang menyengat tadi berasal dari kalian berdua ya?! Pantas saja bau busuknya lebih menyengat dari bangkai tikus di rumah Molly."
Belum reda emosinya gara-gara Aster. Malah datang satu biang kerok lagi, dan yang ini malah lebih parah dari kakak iparnya. "Yakk!! Berani sekali kau menyamakan kami dengan bangkai!!" Teriak Andien dengan emosi.
"Loh, jadi kalian berdua Marasa ya? Padahal aku kan hanya bercanda, kalian berdua ini gampang sekali perasaan. Ngomong-ngomong, hati-hati ya jika berurusan dengan Aster Nunna. Semoga kewarasan kalian berdua masih tetap terjaga, hehehe." Aileen menepuk paman Zhang dan pergi begitu saja.
Aster tiba-tiba meninggalkan mereka bertiga. Aiden melihat kemana istrinya pergi dari ekor matanya. Ternyata Aster pergi ke dapur, tak lama kemudian wanita itu kembali dengan membawa sebuah pisau dan satu ekor ayam utuh yang belum dipotong-potong.
"Untuk apa ayam itu?" Aiden menatap Aster dengan bingung.
"Aku ingat jika singa peliharaanmu sudah lama tidak makan daging segar. Aku berencana memberikan ayam ini pada Molly, tapi sepertinya tidak cukup jika hanya satu ekor ayam saja. Aha, aku punya ide. Bagaimana jika kalian berdua saja yang menjadi santapan molly? Dan aku akan sangat bersyukur jika kalian berdua dengan sukarela mau menjadi makan malamnya!!" Aster memainkan pisau itu dengan mengiris-iris daging ayam tersebut.
Glukk...
Susah payah Andien dan ayahnya menelan salivanya mendengar apa yang Aster katakan dan apa yang dia lakukan. Apakah wanita ini adalah seorang psycho, apakah Aiden menikahi wanita gila? Tak ingin memiliki nasib yang mengerikan, mereka berdua pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Mansion Zhang.
"Aiden, Paman akan kembali untuk membahas ulang tentang tradisi keluarga kita. Dan saat Paman kembali, pastikan wanita gila ini sudah pergi dan angkat kaki dari rumah ini!! Andien, ayo pergi."
Aiden mendengus berat. Dengan gemas dia menjitak kepala coklat istrinya. "Makanya, jangan sok-sokan. Sudah tau berbau, masih nekat memegangnya!! Ganti pakaianmu, ayo makan malam di luar."
"Kebetulan sekali aku memang ingin makan malam di luar. Tunggu sebentar aku akan segera kembali," ucap Aster dan pergi begitu saja.
Hari ini adalah ulang tahun Aiden. Dan dia ingin merayakannya dengan makan malam di luar. Tak ada ucapan selamat apalagi kado special yang dia dapat dari orang-orang terdekatnya. Karena mereka memang tidak tau jika hari adalah hari ulang tahunnya.
-
-
"Hachu... Hachu..."
William terus bersin-bersin sejak pagi tadi. Semalaman dia tidur di kamar mandi karena hukuman dari ibunya. Jessica menghukumnya dengan meminta William untuk tidur di kamar mandi. Dan baru keluar pagi ini.
__ADS_1
Bukan karena kejam atau apapun itu. Tetapi dia hanya ingin membuat putranya itu jera dan tak lagi mengulang kenakalan yang sama lagi dan lagi.
"Ini, minum obatnya." Jessica memberikan beberapa butir obat pada William dan memintanya untuk segera meminumnya.
William menggeleng. "Tidak mau!! Obat itu sangat pahit," jawabnya setengah merengek.
"Kalau manis gula-gula namanya. Jangan banyak alasan, cepat minum obatnya atau tidur satu malam lagi di kamar mandi?!" Ancam Jessica bersungguh-sungguh.
William membulatkan matanya. "Tidak mau!! Tidak lagi-lagi, baiklah aku minum obatnya. Tapi jangan memintaku untuk tidur lagi di kamar mandi. Aku tidak mau!!" akhirnya William menurut dan mau meminum obatnya. Dia tidak ingin sekali lagi terakhir di kamar mandi.
"Nah, begitu dong. Ini baru namanya anak pintar!!" Setelah memastikan William sudah meminum obatnya, Jessica segera keluar meninggalkan kamar putranya.
-
-
"Apa, jadi hari ini adalah ulang tahunmu?!"
Aiden memberitahu Aster jika hari ini adalah ulang tahunnya. Seperti yang sudah dia duga, Aster benar-benar terkejut setelah ia memberitahunya. "Lalu kenapa baru memberitahuku sekarang? Aku kan jadi tidak menyiapkan apapun untukmu!!" Aster menatap suaminya itu dengan sebal.
"Awalnya aku ingin memberitahumu, tapi aku rasa itu tidak perlu. Lagipula hari kelahiran bukanlah sesuatu yang spesial," jawab Aiden menimpali. "Aster, apa-apaan kau ini?!"
Sebuah sendok mendarat mulus pada kening Aiden. Membuat jidatnya merah seketika karena ulah Aster. "Dasar bodoh!! Tentu saja hari lahir adalah hari yang paling spesial, biarpun kau tidak ingin merayakannya dengan orang lain, setidaknya kau harus merayakannya dengan pasanganmu!!"
Aiden mengangkat bahunya acuh. "Sudahlah tidak perlu membahas masalah hari kelahiran lagi, aku lapar jadi sebaiknya kita makan sekarang!!"
Aster menatap Aiden dengan tatapan tak terbaca. Dia melihat kesedihan di dalam mata dingin itu. Meskipun Aiden mengatakan tidak perlu ada perayaan dan sejenisnya, tetapi Aster tau jauh di dalam lubuk hatinya dia juga ingin merayakannya.
Dia tidak tau betapa kesepiannya Aiden selama ini. Perceraian orang tuanya telah merubah pribadinya yang hangat menjadi dingin. Dan jika bukan dirinya, lalu siapa lagi yang akan peduli pada pria ini. Karena Aster-lah teman hidup yang Aiden pilih dengan hatinya.
-
-
__ADS_1
Bersambung