
Bau gosong yang berasal dari dapur membuat Aiden terkejut bukan main. Buru-buru dia menyibak selimutnya dan pergi ke dapur untuk melihat apa yang terjadi.
Matanya membulat sempurna melihat kobaran api di atas wajan. Di sana ada Aster yang berusaha untuk mematikan apinya. Aiden segera mematikan kompornya lalu mengambil handuk basah dan meletakkan diatas wajan yang terbakar.
"Aiden!!" seru Aster. "Huaaa..." Dan gadis itu pun langsung menghambur ke pelukan suaminya. "Hiks, aku sangat panik dan takut. Aku berusaha membuat sarapan untuk kita berdua, tapi tiba-tiba api menyambar ke wajah dan itu membuatku sangat ketakutan!!" gadis itu terisak.
Selain untuk membela diri, Aster menangis juga untuk melepaskan ketakutannya. Dan menangis adalah senjata paling ampuh untuk meluluhkan seorang laki-laki. Dan alasan lain Aster menangis, supaya dia tidak diomeli oleh Aiden.
Aiden menghela napas. "Kenapa kok ini keras kepala sekali?! Bukankah aku sudah memberitahumu untuk tidak masuk dapur lagi, tapi kenapa kau bandel sekali?! Bagaimana jika dapur sampai kebakaran dan kau terluka?!" dan benar saja. Aster mendapat Omelan dari Aiden akibat kecerobohannya.
Aster menyeka air matanya. "Hiks, kenapa kau malah memarahiku?! Aku sedang panik, lihatlah kakiku sampai gemetaran. Aku tadi melihat resep di YouTube, dan aku mencoba membuat sarapan untuk kita berdua. Tapi endingnya malah tidak menyenangkan seperti ini." Gadis itu menundukkan wajahnya.
Ekspresinya terlihat jelas jika dia sangat bersalah dan sedih karena usahanya gagal total. Tetapi itu hanyalah drama yang dia buat supaya Aiden bisa simpatik dan tidak memarahinya. Dan berhasil, Aiden hanya ngomel saja.
Aiden mendesah untuk sekian kalinya. "Lain kali jangan ceroboh lagi. Sebaiknya kau ikut les memasak saja. Aku akan meminta Tao untuk mengurusnya." Sontak Aster mengangkat wajahnya. Matanya langsung berbinar-binar mendengar apa yang suaminya katakan.
"Bolehkah?" Aiden mengangguk. "Kyyya!! Kau memang yang terbaik, Ai." Seru Aster dan berhambur ke pelukan suaminya.
Aiden tersenyum tipis. Dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Aster. Dia sungguh tidak menduga dengan respon yang Aster berikan. "Belajar dengan sungguh-sungguh, supaya keinginanmu untuk menjadi istri yang baik bisa terwujud.
"Em, itu pasti." Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Aiden sambil tersenyum lebar.
Aiden menyentil kening Aster. "Berhenti membuat orang lain cemas. Kau mengerti?" Gadis itu mengangguk sambil mengusap keningnya yang baru saja disentil oleh Aiden. "Kita sarapan diluar saja. Aku tidak mau Villa ini rata jadi tanah karena kecerobohanmu!!" Ucapnya datar.
"Kalau begitu tunggu sebentar, aku ganti pakaian dulu." Ucap Aster bersemangat.
Aiden mengangguk. Kemudian lelaki itu meninggalkan dapur. Dia akan menunggu Aster di luar.
-
-
"Huaaa...!! Kenapa bau ayam ini belum hilang juga? Padahal aku sudah mandi kembang sebanyak 7 kali!!"
__ADS_1
Aileen frustrasi sendiri karena bau tak sedap yang berasal dari kottoran ayam belum juga hilang dari tubuhnya. Padahal dia sudah mandi kembang sebanyak tujuh kali. Memakai parfum dan lotion juga. Tetapi aromanya masih saja menyengat dan belum mau hilang.
"Tuan Muda, sebaiknya Anda berendam lagi saja. Baunya sangat tidak enak dan membuat orang yang mencium baunya ingin muntah!!" Ucap seorang wanita paruh baya sambil menutup hidungnya.
"Bibi jahat!! Kenapa harus menghinaku. Huaaa..!! Cepat bantu aku cari cara untuk menghilangkan aroma tidak sedap ini!!" Aileen menangis.
"Maaf, Tuan Muda. Tapi Bibi juga tidak tahu, mungkin Tuan Muda berendamnya kurang lama. Tapi, Tuan Muda. Apakah Tuan Muda sudah cuci rambut?"
Aileen menggeleng. "Belum, bagaimana aku mau keramas. Berendam hampir satu jam saja sudah membuatku kedinginan!!" Jawabnya.
Wanita itu memijit pelipisnya. Sepertinya dia sudah tau letak permasalahannya, kenapa aroma tak sedap itu belum mau hilang juga meskipun Aiden sudah mandi berkali-kali.
"Sepertinya Bibi sudah tahu akar permasalahannya. Itu karena Tuan Muda belum keramas sampai sekarang, aroma tidak sedap itu berasal dari rambut !!" Jelas Bibi.
"Benarkah? Mungkin saja iya!! Kenapa aku tidak kepikiran sampai sana, seharusnya aku mencuci rambutmu juga. Aisshh, kenapa aku jadi sebodoh ini?! Biasanya aku kan sangat pintar dan pandai." Ucapnya dan berlalu begitu saja.
-
-
Sepanjang menuju meja tersebut. Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka berdua. Baik itu pria maupun wanita. Melihat tatapan kurang ajar para pria pada Aster membuat Aiden merasa tak nyaman. Dia merangkul bahu gadis itu dan membuat Aster sedikit terkejut. Ia pun mengangkat wajahnya dan menatap bingung pada Aiden yang hanya berekspresi dingin.
Diam-diam gadis itu menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis.
Ting...
Sebuah pesan masuk mengejutkan Aster. Gadis itu mengangkat ponsel yang berada di tangan kanannya. Lalu pandangan Aster bergulir pada Aiden, dia bisa ngambek lagi kalau tau siapa yang mengirimnya pesan.
"Pesan dari siapa?" Tanya Aiden seraya mendaratkan pantatnya di kursi.
"Mama, dia meminta kita untuk datang. Malam ini mama ingin supaya kita berdua makan malam di sana." Dustanya.
Aster tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya jika yang mengirim pesan singkat itu adalah Leon. Bisa-bisa Aiden bersikap menyebalkan lagi seperti kemarin. "Malam ini sepertinya tidak bisa. Mungkin besok malam, aku ingin kita bermalam satu malam lagi disini."
__ADS_1
"Itu juga yang mau aku katakan padamu. Aku belum mau pulang,"
Dan obrolan mereka berdua diinterupsi oleh kedatangan seorang pelayan. Aster pun segera memesan makanan untuk dirinya sendiri juga Aiden. Sambil mencatat makanan pesanan Aster, pelayan itu sesekali curi-curi pandang pada Aiden.
Berkali-kali dia menelan ludah melihat bagaimana panasnya Aiden dalam balutan pakaian yang dia kenakan sekarang. Jeans hitam panjang, singlet putih yang dibungkus Vest V-Neck yang senada dengan warna celananya. Dan apa yang dilakukan oleh pelayan itu ternyata disadari oleh Aster.
"Ekhemm!! Bisakah kau menyiapkan makanannya sekarang? Kami sudah sangat lapar!!"
Pelayan itu pun tersentak. Dia segera sadar dari lamunannya. Kemudian dia membungkuk dan berlalu dari hadapan Aster dan Aiden. Gadis itu mendesah berat. "Dasar pelayan menyebalkan!! Sudah tau datangnya tidak sendirian, masih berani curi-curi pandang!! Seperti tidak pernah melihat pria tampan saja!!" Gerutu Aster. Pelayan itu benar-benar membuatnya kesal.
Aiden memicingkan matanya. "Kau mengatakan sesuatu?" Aster menggeleng."Oh, berarti aku yang salah dengar." Ucapnya melanjutkan. Aiden kembali sibuk dengan ponselnya, tak lama kemudian ponsel itu berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk. Dan Aiden pun segera menerimanya.
"Aku sudah membaca email-nya. Dan aku ingin file itu ada di mejaku besok pagi!!" Kemudian dia memutus sambungan telepon itu begitu saja.
Pelayan datang membawa pesanan mereka. Dan lagi-lagi dia mencuri pandang pada Aiden. Dia meletakkan makanan-makanan itu tanpa melihat sedikit pun apakah letaknya sudah tepat atau belum sampai akhirnya...
"Ahhh...!! Panas, panas!!" Dan pelayan itu pun tersentak kaget. Tanpa sengaja dia menumpahkan sup panas itu pada Aster. Membuat gadis itu langsung berteriak. "Yakk!! Sebenarnya kau ini bisa bekerja atau tidak sih?!" Bentak Aster marah.
Pelayan Itu pun berkali-kali membungkukkan badan dan meminta maaf pada Aster. Karena keteledorannya, dia membuat orang lain celaka. "Lain kali kalau bekerja pakai matamu!!" Ucap Aiden dengan nada menusuk.
Akibat dari kelalaian pelayan tersebut. Punggung tangan Aster jadi memerah. Aiden pun menjadi panik, dia meminta odol untuk pertolongan pertama. "Apa sakit?" Tanya Aiden dengan raut wajah cemas.
Aster menggeleng. "Tidak, hanya sedikit panas saja. Tidak apa-apa, nanti juga membaik sendiri. Lagipula tidak parah kok."
Belum pernah Aster melihat Aiden yang secemas dan sepanik ini. Dia bereaksi cepat bahkan sampai memarahi pelayan tersebut. Karena apa yang menimpanya memang murni kelainan pelayan tersebut.
"Setelah ini kita pergi ke dokter saja. Aku takut jika lukanya parah. Lihatlah, sampai memerah begini.*
Sekali lagi Aster menggeleng. "Tidak perlu, tanganku baik-baik saja," dia meyakinkan pada Aiden jika dirinya memang tidak apa-apa dan baik-baik saja.
-
-
__ADS_1
Bersambung.