I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 7: Pertemuan Kedua


__ADS_3

~Tiga Tahun Kemudian!!~


"Aku baru saja mendarat, beberapa desain terbaruku akan ku kirimkan besok malam. Masih ada beberapa yang harus ku perbaiki,"


Wanita itu berjalan meninggalkan bandara sambil berbicara dengan seseorang yang terhubung dengan earphone yang terpasang di telinga kanannya. Wanita itu berjalan dengan acuh, meskipun senyuman sesekali menghiasi bibir tipisnya.


Bruggg...


Dan karena terlalu fokus pada obrolannya. Tanpa sengaja dia menabrak punggung seseorang yang berdiri di depannya. Hampir saja wanita itu roboh kebelakang jika tak ada tangan yang menangkapnya tepat waktu. Dan insiden kecil itu membuat pandangan mereka bertemu.


Baik wanita itu maupun orang yang ia tabrak sama-sama terkejut setelah melihat wajah masing-masing. "Kau?!" Dan keduanya berseru bersamaan. Aster dan Aiden, mereka kembali bertemu secara tidak sengaja setelah pertemuan pertama mereka tiga tahun yang lalu.


Aiden memperhatikan penampilan Aster dari ujung rambut sampai ujung kaki. Banyak yang berubah pada wanita itu, selain wajahnya yang semakin cantik, dia juga terlihat lebih dewasa. Begitupun dengan Aster yang memperhatikan Aiden, dia semakin tampan namun juga terlihat cantik. Benar-benar sosok Adonis dalam dunia nyata.


Tanpa banyak basa-basi, Aiden mengajak Aster untuk singgah di cafe. Pukul 11.43 siang, yang artinya sudah hampir tiba waktu makan siang.


Keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Aster maupun Aiden, keduanya sama-sama diam dalam keheningan. Sampai akhirnya salah satu dari mereka berdua bersuara dan mengakhiri keheningan itu.


"Kau ingin pesan apa?" Aiden mengangkat wajahnya dan menatap gadis di depannya itu penasaran.


"Samakan saja denganmu," jawabnya singkat.


Dan tak sampai lima menit. Makanan dan minuman mereka datang. Seorang pelayan menghampiri keduanya lalu meletakkan semua makanan dan minuman yang Aiden pesan di atas meja.


"Kenapa hari itu kau pergi tanpa meninggalkan kata-kata pada, Aileen? Dia sangat sedih setelah tau ternyata kau sudah meninggalkan hotel."


"Memangnya kenapa aku harus memberitahunya? Toh diantara kami juga tak ada hubungan apa-apa, dan disisi lain aku tidak ingin disebut memberikan harapan palsu padanya jika bersikap terlalu baik. Lagipula aku tidak ingin terlibat hubungan apapun dengan laki-laki yang usianya lebih muda dariku!!" Jelas Aster panjang lebar.


"Tapi dia sangat menyukaimu,"

__ADS_1


Aster tersenyum meremehkan. "Bahkan kita berdua bertemu saja baru satu kali. Bahkan aku dan biang kerok itu juga belum begitu saling mengenal, jadi bagaimana mungkin ada kata suka? Itu tidak masuk akal." Tuturnya.


"Masuk akal juga yang kau katakan." Ucap Aiden menimpali.


"Kau mau berangkat ke luar negeri atau baru kembali? Em, dan maaf... Mata kirimu itu?" Aster tak melanjutkan ucapannya, dia tidak enak pada Aiden dan takut menyinggung perasaannya.


Mata kiri Aiden tertutup perban yang dia sembunyikan di balik poninya, namun masih sedikit terlihat meskipun tidak terlalu mencolok.


Aiden mengalami sebuah insiden dua Minggu yang lalu, dan dia memutuskan pergi ke Swiss untuk melakukan operasi penyembuhan. Dia tidak mau ambil resiko besar dengan membiarkan dokter tak berpengalaman yang menanganinya.


"Mata kiriku mengalami cidera dan sedang dalam proses penyembuhan. Aku baru kembali dari Swiss,"


Ponsel Aster tiba-tiba berdering dan menyita seluruh perhatiannya. Nama William tertera dan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. "NUNNA!!" buru-buru Aster menjauhkan ponselnya dari telinganya setelah mendengar teriakkan William.


Aster menatap layar ponselnya dengan kesal lalu berteriak. "Yakk!! Bocah, apa kau sudah bosan hidup hah?! Berani sekali kau berteriak padamu!! Aku masih ada di bandara, sebentar lagi aku keluar. Jangan kemana-mana dan tunggu aku di sana!!"


"Nunna juga kenapa berteriak padaku? Membuatku jantungan saja, baiklah aku akan menunggumu disini. Jangan lama-lama, aku hampir jantungan karena teriakanmu!!"


"Tidak usah, biar aku saja yang membayarnya. Cepatlah pergi, sepertinya adikmu sudah menunggu terlalu lama." Wanita itu tersenyum lalu mengangguk. Aster bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja. Begitupula dengan Aiden.


Setelah membayar makan siangnya, pria itu meninggalkan bandara. Mungkin jemputannya juga sudah tiba.


-


-


"Bagus, sekali lagi, sekali lagi. Oke."


Seorang photographer tersenyum puas setelah melihat hasil jepretannya hari ini. Seorang wanita menghampirinya lalu berdiri disamping pria itu. "Bagaimana hasilnya, Boy. Bagus tidak?" Dia bertanya sambil menyandarkan kepalanya pada dada pria itu, Boy.

__ADS_1


Boy tersenyum. "Kapan kau pernah gagal, Yunna. Dan semua iklan yang memakai dirimu selalu sukses dipasaran. Dan rencananya aku akan mengajukan kerja sama dengan Z Empire untuk menjadikanmu sebagai bintang iklan produk-produknya."


Mata Yunna memicing. "Z Empire, jadi kau masih berusaha untuk mendapatkan kerjasama dengan mereka? Bukankah mereka sudah pernah menolak untuk bekerjasama dengan agensi ini?" Yunna memicingkan matanya.


"Itu memang benar. Tapi tidak ada salahnya juga untuk dicoba lagi Aku juga sedang mengincar kerjasama dengan Nona Nero, dia adalah desainer terkenal. Jika kita bisa mendapatkan kerjasama dengannya dan kau sebagai bintang iklan untuk semua hasil rancangan terbarunya. Pasti namamu akan semakin melambung tinggi, dan agensi kecil kita bisa semakin terkenal nantinya," tutur Boy panjang lebar.


Yunna tersenyum. "Kedengarannya menarik,"


"YUNNA!!"


Perhatian semua orang di ruangan itu teralihkan oleh teriakan keras seseorang dari arah pintu. Semua menoleh, seorang pria menghampiri Yunna dan menariknya menjauh dari Boy. "Yakk!! Gerry, apa-apaan kau ini?!" Bentak Yunna emosi.


"Kau yang apa-apaan, kenapa kau malah dekat-dekat dengan pria lain sementara kau sudah memiliki aku sebagai kekasihmu?!"


Yunna menyentak kasar tangan Gerry dan menatapnya tajam. "Percaya diri sekali kau mengakui dirimu sebagai kekasihku. Asal kau tau saja, aku tidak pernah Sudi memiliki kekasih tidak berguna dan bodoh sepertimu!! Dan jika kau ingin kembali padaku, kau harus sukses dulu, karena aku tidak mau hidup dengan pria miskin sepertimu!!"


"YUNNA!!"


PLAKK...


Gerry menampar pipi Yunna dengan keras, membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut bukan main terutama Boy. Tak terima artisnya ditampar, Boy langsung melayangkan tinjunya pada wajah Gerry. Dia juga meminta security untuk menyeretnya pergi.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Boy memastikan. Yunna menggeleng. "Dia benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa ada pria seperti itu, kasar dan tidak berhati. Sebaiknya kompres pipimu dengan air dingin agar tidak bengkak." Yunna mengangguk.


Boy lebih kaya dari Gerry. Lagipula Gerry sudah tidak berguna lagi, jadi untuk apa mempertahankan hubungan dengan pria yang tidak bisa memberikan kesenangan untuknya. Boy jelas lebih baik, meskipun dia sudah memiliki pasangan, Yuuna tidak peduli.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2