
Seharian ini Aster hanya malas-malasan di rumah. Dia terlalu malas untuk melakukan pekerjaan apapun, termasuk mandi. Aster tak keluar sama sekali dari kamarnya, dia hanya berguling-guling di tempat tidurnya. bahkan untuk makan pun, Aiden bawakan ke kamar.
Jam dinding telah menunjuk angka 18.00 petang. Dan wanita itu tetap berada di zona ternyamannya, yakni tempat tidur. bahkan dia tidak menghiraukan keberadaan Aiden di sana. Aster terlalu asik dengan dunianya sendiri.
"Ini sudah hampir petang, Apa kau tidak ingin mandi?" tanya Aiden pada wanita itu.
Aster menggeleng. "Malas ah," dia menjawab singkat.
Aiden mendengus berat. Dia tidak bisa memaksa Aster, karena dipaksa pun akan percuma saja. "Baiklah, terserah kau saja." ucapnya lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
Semenjak kandungan Aster memasuki bulan ketujuh, Aiden menjadi jarang pergi ke kantor. Dia tidak tega meninggalkan Aster sendirian di rumah.
Meskipun banyak pelayan yang bisa menemani dan menjaganya, tetapi Aiden tetap saja tidak bisa merasa tenang meninggalkannya. Itulah kenapa dia memutuskan untuk bekerja dari rumah dan hanya pergi ketika menghadiri pertemuan penting dengan para koleganya.
Aster bangkit dari berbaringnya lalu menghampiri Aiden. "Aku ingin makan ramyeon, bisakah kau membuatkannya untukku?"
"Tapi makan malam hampir saja siap, sebaiknya jangan terlalu banyak makan, makanan cepat saji. Itu tidak baik untukmu dan juga janin di dalam perutmu." ucap Aiden menasehati.
Aster mempoutkan bibirnya dan menatap suaminya itu dengan sebal. "Baru juga memintanya sekarang, malah diceramahi. Kau dengar sendiri kan, Nak. Papamu tidak sayang padamu, padahal bukan mama yang ingin memakannya tapi itu keinginanmu?!" gerutu Aster sambil mengusap perutnya yang membuncit.
"Jangan berkata yang tidak tidak pada anakku, Aster!!" Aiden menatap istrinya itu dengan sebal. "Baiklah aku akan membuatkannya sekarang, tapi jangan memasang wajah jelekmu itu lagi di depanku!!"
Alhasil sebuah bantal mendarat mulus pada wajah Aiden yang dilemparkan oleh Aster."Dasar suami menyebalkan, sudahlah lebih baik aku padamu!!"
Aiden menghela nafas. Kambuh lagi penyakitnya, jika sudah merajuk seperti itu. Maka Aster akan sangat sulit untuk dibujuk. Dan bukan Aiden namanya jika tak tahu bagaimana caranya meluluhkan Aster yang sedang ngambek.
Aiden menangkup wajah Aster lalu mencium bibirnya. Karena itulah satu-satunya cara paling ampuh untuk mengatasi Aster yang sedang merajuk. dan berhasil, Aster pun tak merajuk lagi.
"Kau memang paling tau bagaimana caranya membuatku senang. Ayo, buatkan ramyeon untukku." Aster memeluk lengan Aiden menariknya menuju dapur. Beberapa pelayan segera membungkuk saat melihat kedatangan mereka berdua.
"Tuan, Nyonya. Apakah Anda berdua membutuhkan sesuatu?" pelayan itu bertanya pada keduanya.
Aiden menggeleng. "Lanjutkan saja pekerjaan kalian." Ucap Aiden dan melenggang meninggalkan mereka, diikuti Aster yang mengekor dibelakangnya. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya mereka melihat keberadaan Aster dan Aiden di dapur, jadi mereka tak merasa heran lagi.
Dan setelah berkutat dengan kompor selama sepuluh menit. Akhirnya ramyeon yang Aster minta pun selesai dimasak. Wanita itu tersenyum lebar, dengan lahap dia menyantap ramyeon yang Aiden buatkan untuknya.
"Pelan-pelan saja makanya, tidak ada yang memintanya." Ucap lelaki itu mengingatkan. namun tak ada tanggapan dari Aster. Wanita itu sangat lahap menyantap ramyeonnya.
Mencium aroma Ramyeon yang lezat. Membuat hidung Tao langsung kembang-kempis. Buru-buru dia meninggalkan kamarnya dan mencari dari mana aroma itu berasal. Seperti seekor kucing yang mencoba menemukan aroma ikan yang sedang dipanggang.
Tao terus mengendus-endus bahkan setibanya dia di depan Aster yang sedang memakan Ramyeonnya. Dan sikap aneh Tao membuat Aster kebingungan dan bertanya-tanya.
"Yakk!! Panda, sebenarnya apa yang kau lakukan?!" bentak Aster kesal.
"Ternyata aroma lezat itu berasal dari Ramyeon ini. Nunna, bisakah kau membaginya sedikit untukku? Aku benar-benar ngiler mencium aroma lezatnya.
Buru-buru Aster menjauhkan ramyeon itu dari Tao. "Enak saja!! Tidak boleh, kalau mau bikin saja sendiri. Karena Aiden membuat Ramyeon ini hanya untukku!!"
Tao mempoutkan bibirnya. "Huhuhu... Dasar pelit, minta sedikit saja tidak boleh."
"Biarin, memang aku pikirin!!" wanita itu kemudian menjulurkan lidah padanya. Dan Tao pun semakin dibuat nelangsa oleh majikannya tersebut.
"Huhuhu... Nunna, kenapa kau sangat tega sekali padaku. Aku ini anak yang baik hati dan tidak sombong. Masa iya, minta sedikit saja tidak boleh. Kenapa kau ini pelit sekali sih." Ucap Tao sambil memasang muka menyedihkannya di depan Aster.
Malas mendengar pedesaan mereka berdua. Aiden pun memutuskan untuk pergi dan mengabaikan keduanya.
"Nunna, sedikit saja ya. Ayolah, kau jangan pelit padaku." Rengek Tao memohon.
Bukannya merasa kasihan pada Tao. Aster justru semakin merasa sebal. Masa bodohlah dengan pemuda itu. Tao memang selalu bertingkah seperti itu. Dan Ini bukan pertama kalinya dia memasang muka menyedihkan di depannya.
Dan diantara semua pelayan serta anak buah Aiden. Hanya Tao satu-satunya yang berani pada Aster apalagi bersikap seenaknya. Orang lain akan berpikir dua kali, tetapi tidak dengan Tao. Dan orang pemberani seperti Tao perlu diberi penghargaan.
__ADS_1
"Aku sudah selesai, bereskan mejanya."
"Baik, Nyonya."
Setelah selesai makan dan menghabiskan Ramyeonnya. Aster segera meninggalkan meja makan. Tak lupa dia juga l meminta pelayan untuk membereskan meja. Sementara Tao hanya bisa gigit jari.
.
.
Aiden menoleh setelah mendengar suara pintu di buka dari luar, Aster masuk ke dalam dan menghampiri Aiden yang sedang memangku laptopnya. Wanita itu mempoutkan bibirnya.
"Kenapa malah meninggalkanku dengan panda menyebalkan itu?" protes Aster pada Aiden.
"Aku terlalu malas mendengar perdebatan kalian berdua makanya aku memutuskan untuk pergi dari sana." jawabnya.
Aster menghela nafas. "Sebenarnya kau mendapatkan orang seperti itu dari mana?! Selain menyebalkan, dia juga sangat menjengkelkan. Membuat orang kesal dan darah tinggi saja!!"
Kesal bulan berarti benci. Aster tak membenci Tao sama sekali. Dia hanya kesal pada sikap dan kelakuannya. Tak jarang dia membuatnya kesal dan jengkel setengah mati. Dan hal tersebut sudah terjadi berkali-kali.
"Tidak perlu terlalu dipikirkan. Memang begitulah sikapnya. Sebaiknya cepat mandi sana, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Jika tidak mau mandi, jangan harap aku mau satu ranjang denganmu!!"
Aster merenggut kesal mendengar ancaman Aiden. "lagi pula meskipun dirinya tidak mau mandi, badannya masih tetap harum. Kalau memang tidak mau satu ranjang denganku sebaiknya tidur saja di luar sana!!" Jawab Aster tak mau kalah.
Wanita itu kemudian berbaring di ranjangnya dan menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut. Mengabaikan Aiden yang mendengus sebal karena sikap kekanakannya. "Baiklah, terserah kau saja. Mau mandi ataupun tidak, aku tidak peduli lagi!!"
Dan setelah menyelesaikan pekerjaannya. Aiden pergi keluar untuk makan malam. Meninggalkan Aster sendirian di kamar. Aileen dan Adrian sudah menunggunya di meja makan . Sementara Aster kembali ke dunianya sendiri. Nonton drama favoritnya dari tab kesayangannya. Dan ini pula yang dia lakukan seharian ini di rumah.
.
.
"Ada apa dengan mukamu itu? Tidak bisanya kau menekuk mukamu seperti pakaian kusut belum disetrika?" tanya Aiden penasaran.
"Dia di tolak sama gadis incarannya, Hyung." Jawab Adrian menimpali.
"Benarkah itu?"
Aileen mengangguk. "Hiks, Dia sangat jahat padaku, Hyung. Padahal aku benar-benar sangat menyukainya, Aku sudah memberikan perhatian lebih padanya dengan mengirimnya pesan sehari sampai 100 kali. Menanyakan kabarnya, menanyakan keberadaannya, sampai menanyakan warna pakaian dala* yang dia pakai. Tetapi dia tak menghargai sama sekali perhatianku ini. Huhuhu, aku sakit hati."
Aiden memijit pelipisnya yang terasa pening gara-gara penuturan Aileen. "Dasar bodoh. Jika caramu mengejar perempuan seperti itu. sampai kadal beranak harimau pun tidak akan ada perempuan yang mau denganmu. Mereka akan menolak dan kabur meninggalkanmu!!"
"Hiks, lalu aku harus bagaimana, Hyung? Padahal aku sangat sayang dan mencintainya dengan setulus dan selembut hatiku. Tapi perasaanku padanya tak dihargai sama sekali. Huhuhu, beginikah rasakan patah hati?"
"Sebaiknya kau diam dan makan saja yang banyak!! Tidak usah memikirkan perkara cinta lagi, belajar yang benar dan jangan membuatku kecewa untuk kesekian kalinya atau kau akan tau akibatnya!!" Aiden menatap Aileen dengan tatapan mengintimidasi.
Dan mendengar apa yang Aiden katakan membuat Aileen gelagapan dan ketakutan setengah mati. Tidak lagi-lagi dia ingin membuat kakaknya marah. Aileen tidak ingin berakhir menyediakan pada akhirnya. Mengingat jika kakaknya itu sangat mengerikan.
"I..Iya, Hyung. Aku tau."
-
-
"William!! Kau sudah bosan hidup ya?!"
Teriakan maut Jessica menggema memenuhi setiap inci rumah. Siapa lagi biang keroknya jika bukan William. William membuat masalah sampai-sampai membuat Jessica dilabrak oleh orang tua rekan satu kelasnya.
William mengerjai salah satu teman kelasnya hingga membuatnya trauma. Dia dan Aileen mencuri pakaian dal*mnya yang berbetuk Hello Kitty lalu menggantungnya di pintu gerbang kampus. Akibatnya dia menjadi bahan olok-olokan dari teman-temannya.
Kedua mata William membulat sempurna melihat Jessica yang berlari kearahnya sambil memegang sebuah kemoceng. Dan gagang kemoceng itu siap memukul pantatnya.
__ADS_1
"Huaa...!! Mama, jangan lakukan itu. Aku mohon jangan memukulku dengan kemoceng itu. Huhuhu, Mama ampun!!"
"Jangan kabur kau bocah sialan!! Berhenti disana atau Mama akan menggantungmu hidup-hidup!!"
Steven yang baru saja pulang dari kantor tampak kebingungan melihat apa yang mereka berdua lakukan. "Ada apa ini? Jess, kenapa kau mengejar putramu sambil membawa kemoceng segala? Memangnya kenakalan seperti apa lagi yang dia lakukan?" Steven bertanya dan menatap Jessica penasaran.
"Sebaiknya kau diam dan jangan banyak bertanya. Ini tidak ada hubungannya denganmu!! Bocah nakal ini perlu diberi pelajaran, karena ulahnya dan kenakalannya aku sampai dilabrak dan dimaki-maki oleh orang lain!!"
"Bagaimana bisa?"
"Tentu saja bisa, karena putramu ini super ajaib!!"
Tak ingin terkena imbasnya dan amukan dari Jessica. Steven pun memutuskan untuk tak ikut campur apalagi banyak bertanya. Dia tak ingin terkena amukan istrinya juga. Lebih baik dia ke kamar dan beristirahat. Karena berhadapan dengan wanita yang sedang marah itu rasanya sangatlah mengerikan. Dan dia tak ingin coba-coba.
-
-
Jam dinding telah menunjuk angka 22.00 malam. Akan tetapi Aster masih terjaga dan enggan untuk menutup matanya. Wanita itu terus menatap pada Aiden yang tertidur pulas di sampingnya dan menghela napas.
"Aiden, bangun." Aster mengguncang lengan Aiden dan memaksa lelaki itu untuk segera bangun.
Dengan malas Aiden membuka matanya."Ada apa? Ini masih malam sebaiknya tidur lagi," pinta Aiden lalu menutup kembali matanya. Bukannya menuruti permintaan suaminya, Aster malah mengguncang lengan Aiden sekali lagi.
"Aiden, bangun." Rengek Aster dan memaksa Aiden untuk bangun. "Aku tidak bisa tidur. Untuk itu cepat bangun." Rengek wanita itu menuntut.
Aiden mendesah berat. "Kenapa tidak bisa tidur? Apa yang membuatmu tidak bisa tidur?" kemudian Aiden merubah posisinya dan menatap Aster penasaran.
Wanita itu menggeleng. "Aku juga tidak tau." Jawabnya sambil menggelengkan kepala. Lagi-lagi Aiden menghela napas. Jadi jangan tidur lagi!!"
"Baiklah, lalu kau ingin bagaimana sekarang?" Aiden menatap Aster dengan malas Sebenarnya dia sangat mengantuk, tetapi Aiden tetap memaksakan diri untuk tak tidur lagi.
"Aku ingin melihat bintang. Jadi ayo keluar dan temani aku melihat bintang." Wanita itu memohon.
Aiden menyambar kemejanya yang ada di sandaran tempat tidur lalu memakainya. Kemudian dia bangkit dan beranjak dari tempat tidurnya. "Ayo," Aster mengangguk.
Ia pun segera mengikuti Aiden lalu keduanya berjalan kearah balkon. Berkali-kali Aiden menguap karena rasa kantuk yang luar biasa. Dan lagi-lagi dia mengabaikannya.
"Setelah anak kita lahir. Bagaimana kalau kita pergi ke luar negeri saja? Aku ingin tinggal di Eropa, menikmati hidup disana bersama kalian." Aster menoleh dan menatap Aiden dengan serius.
"Kenapa? Bukankah mama dan papa tinggal disini, lalu kenapa kau ingin ke luar negeri?"
Aster menggeleng. "Aku tidak memiliki alasan khusus. Hanya ingin saja tinggal disana."Jawabnya.
"Bagaimana nanti saja. Kita bicarakan lagi." Tidak mungkin Aiden mengatakan tidak pada Aster. Meskipun permintaannya bertolak belakang dengan keinginannya. Karena Aiden tak bisa mengecewakannya.
"Oya, Ai. Beberapa hari lalu aku bertemu dengan pria paruh baya yang mengaku sebagai ayahmu. Dia mengatakan sangat ingin kembali pada kalian tapi kau tidak mau menerimanya." Tiba-tiba Aster teringat pada pertemuannya dengan Tuan Zhang yang secara tak sengaja.
Mendengar hal itu mimik muka Aiden jadi tak enak untuk dilihat. "Sebaiknya jangan pernah berhubungan dengannya!! Aku tidak suka kau berhubungan dengan laki-laki apapun alasannya,"
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya. Kami bertemu karena tidak sengaja. Tau begitu aku tidak memberitahumu." Aster kesal dengan jawaban Aiden.
Aiden mendengus berat. Kenapa sejak hamil perasaan Aster menjadi sangat sensitif? Atau memang seperti itu setiap wanita yang sedang hamil. Mudah tersinggung perasaannya? "Kau mau kemana?" Aiden menatap Aster yang melenggang pergi.
"Kamar. Tiba-tiba aku mengantuk, terserah kau mau disini atau masuk." ucapnya dan pergi begitu saja. Aiden mendesah berat. Lagi-lagi Aster merajuk, apa karena dia salah bicara?!
-
-
Bersambung.
__ADS_1