I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 40: Terjun Bebas


__ADS_3

Sinar mentari pagi menerobos masuk melewati sela – sela jendela. Sinar itu menyinari wajah seorang gadis, ralat... melainkan seorang wanita hingga dia terbangun.


Perlahan tapi pasti, dia pun membuka matanya yang masih terasa sangat berat lalu pandangannya bergulir ke arah jam dinding yang ada di kamar itu. Pukul 06.30 pagi.


Seketika itu juga dia terkejut. Dengan cepat ia melompat dari tempat tidur langsung menuju kamar mandi. Ketika sampai di pintu kamar mandi, siapnya dia malah terpeleset kain basah yang ada di bawah, beruntung dia tidak jatuh hingga mencederai tubuhnya.


Setelah mandi dan berganti pakaian. Aster buru-buru pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Meskipun bukan menu spesial, tetapi dia masih bisa menyiapkan menu spesial ala kadarnya seperti roti panggang, roti selai dan telor mata sapi.


Dan setibanya dia di dapur. Ternyata sudah ada Aiden yang sedang menyiapkan sarapan. Aster mengambil lagu itu lalu berdiri disampingnya. "Ngomong-ngomong Apa yang sedang kau masak? Aromanya sangat lezat,"


"Kau sudah bangun?" Alih-alih menjawab pertanyaan Aster, Aiden malah balik bertanya."Masakannya sudah hampir selesai, kau ingin mencicipinya?" Tawar Aiden.


Aster mengangguk. "Boleh-boleh, aku memang sangat ingin mencicipinya." Kemudian Aiden mengambil sendok lalu menyuapi Aster. Wanita itu tersenyum lebar seraya mengacungkan jempolnya. "Sangat lezat. Kau adalah koki terbaik yang pernah aku kenal. Daripada les memasak, bagaimana jika kau sendiri saja yang mengajariku?"


"Tetapi harganya tidak murah,"


Aster mengangkat bahunya tanda tak peduli. Kemudian dia mengangkat kedua tangannya lalu memeluk leher Aiden. "Semahal apapun harganya, aku pasti akan membayarnya." Perempuan itu menyeringai.


Kemudian Aiden mengangkat dagu Aster lalu mengecup singkat bibir tipis merah mudanya."Kau semakin berani saja ya, tapi aku justru menyukainya?" Kembali Aiden membawa bibir Aster ke dalam ciuman.


Awalnya memang hanya sebatas menyentuh atau menempel, tapi lama kelamaan Aiden pun mulai meluma* kecil bibir wanita yang memiliki tinggi badan tak lebih dari dirinya itu.


Lama kelamaan lum*tan Aiden berubah menjadi sedikit lebih kasar. Dan coba tebak, lum*tan Aiden saat itu sukses membuat Aster menggerakkan kecil ranum tipisnya. Yah bisa di bilang kalau Aster balas meluma* bibir Aiden tanpa sadar.


"Enghhhh" Aiden sedikit tersenyum saat merasakan bibir Aster balas meluma* bibirnya. Aiden begitu menikmati aktifitas bibirnya dengan bibir sang istri yang begitu memabukkan dan membuatnya candu, dengan sedikit gemas Aiden pun menggigit kecil bibir bawah Aster.


"Emphhh A..Aid...en," mendengar namanya di sebut dengan begitu mesra, Aiden yakin istrinya ini menikmati ciumannya. Hingga dia tak ada niatan untuk melepaskan tautan bibir mereka yang kini sudah entah berapa lama saling meluma* dan saling mengulum.


"'Ahhiiii, sudhahh hhepas" Aster mencoba mendorong kecil dada Aiden, berharap kalau dengan itu ciuman mereka akan berakhir. Tapi sepertinya itu tak berhasil, buktinya saja Aiden malah pura-pura tak tau dan malah terus meluma* bibir Aster lagi dan lagi.


Aster pun kesal dengan kelakuan suami tampannya ini, dengan semangat Aster l pun menggigit keras bibir bawah Aiden. Dan berhasil, dia langsung melepaskan ciuman mereka yang sangat panjang itu. Sementara itu Aster tersenyum penuh kemenangan karena melihat wajah Aiden yang kini sangat tidak enak di lihat itu.


"Kenapa kau malah menggigitku?" Aiden menatap Aster dengan kesal.


"Salahmu sendiri, apakah sengaja ingin membuatku kehabisan nafas?! Sudah tahu aku sangat payah dalam urusan satu itu, malah masih memaksakan diri!!" Protes Aster tak mau kalah.


Aiden menghela nafas. Akhirnya dia pun memilih mengalah, karena jika diteruskan maka akan panjang urusannya. Aster tak akan berhenti mengomel, dan itu bisa berlangsung berjam-jam.


"Baiklah aku salah, aku minta maaf. Sebaiknya bantu aku menyusun makanan-makanan ini di meja makan, setelah ini kita sarapan sama-sama." Aster mengangguk. Kemudian dia membawa makanan-makanan itu dan menyusunnya di meja makan.

__ADS_1


Selanjutnya, sarapan mereka lewati dengan tenang. Tak ada lagi obrolan apalagi perdebatan di antara mereka berdua, yang ada hanyalah denting sendok dan piring yang saling bersentuhan.


-


-


"Diamlah, Will. Jangan gerak-gerak terus, kita berdua bisa jatuh nanti!!"


"Aduh, aduh, aduh. Diam bagaimana, banyak semut yang masuk ke tubuhku. Aduh, semuanya malah masuk ke dalam celana dal*mku. Aduh, aduh, aduh. Semut-semut itu malah menggigit sosis beruratku, ahhh..."


"Yakk...!! Yakk...!! Yakk..!!"


"HUAAAA...!"


GUBRAK!!!"


Kedua pemuda itu terjun bebas dari atas pohon dengan posisi yang tidak elit. Setengah tubuh Aileen masuk ke dalam tong sampah, sedangkan William jatuh ke dalam kubangan bekas mandi kerbau. Saat ini kedua pemuda itu sedang berada di pedesaan. Mereka berdua jalan-jalan untuk menikmati liburan.


Sambil menyelam minum air, tentu saja mereka berdua tak membuat liburannya sia-sia. Aileen dan William pergi ke sungai untuk mengintip para perempuan yang sedang mandi. Mereka berdua naik ke atas pohon supaya bisa lebih jelas dan lebih leluasa, namun sial menimpa mereka berdua.


Tak ingin diamuk warga dan dituduh sebagai orang mesum. Keduanya pun memutuskan untuk segera pergi dari sana. "Ini semua karena dirimu, bukannya untung malah buntung!!"


Aileen mendengus berat. "Sebaiknya kita kembali ke penginapan saja. Tubuhku bau busuk dan ini membuatku ingin muntah!!"


-


-


Bukan Shilla namanya jika menyerah. Karena dalam kamusnya, tak ada kata menyerah. Shilla tak akan menyerah untuk mendapatkan Aiden, bagaimanapun caranya dia akan merebut lelaki itu dari pelukan Aster.


"Ini bayaran kalian, aku akan memberikan sisanya setelah kalian berhasil memisahkan wanita ini dari pelukan suamiku!!"


Salah seorang dari ketiga orang itu mengambil foto yang Shilla sodorkan pada mereka. Alisnya saling bertautan, matanya memicing. Mereka berdua merasa tak asing dengan orang yang ada di foto tersebut.


"Tunggu dulu, sepertinya aku mengenal perempuan ini. Dia mengingatkanku pada.... OMO!! KETUA!!" Tiba-tiba lelaki itu memetik keras.


Pria yang duduk di sampingnya lalu merebut foto itu dari tangannya karena merasa penasaran. "Omo!! Inikan Nona Muda," dia juga terkejut.


Shilla menatap mereka berdua dengan bingung. Apa mereka mengenal Aster, lalu siapa ketua yang mereka maksud?! "Apa kalian mengenal perempuan ini?" Shilla mencoba memastikan.

__ADS_1


"Kami mundur. Kita bertiga tidak bisa menerima pekerjaan ini, orang yang ingin kau habisi adalah putri dari mantan ketua. Dan aku peringatkan padamu, jangan coba-coba menyentuhnya jika kau tidak ingin berada dalam masalah besar!!"


"Dasar orang-orang tidak berguna!! Memanggil kalian kemari hanya membuang-buang waktu saja, sebaiknya kalian pergi dari sini dan terima kasih untuk peringatan. Kayaknya peringatan semacam itu tak berlaku untukku!!"


"Itu terserah padamu, yang terpenting kami sudah mengingatkanmu. Kita pergi!!"


Shilla menatap kepergian mereka dengan marah. Dia tidak tahu seistimewa apa perempuan itu sampai-sampai semua orang berusaha melindunginya termasuk Aiden, tapi bukan berarti Shilla akan menyerah begitu saja. Dia pasti akan memisahkan Aiden dan Aster bagaimanapun caranya. Karena satu-satunya wanita yang layak bersanding dengan Aiden hanya dirinya.


-


-


Aster memicingkan matanya melihat Aiden yang sedang mengganti pakaiannya. Kemudian dia menghampiri sang suami yang menyadari kedatangannya.


"Segera ganti pakaianmu dan bersiap-siap, kita kembali ke Seoul hari ini juga."


"Kenapa terburu-buru sekali? Padahal aku masih ingin disini!!"


Aiden melirik wanita itu dari ekor matanya."Lain kali kita kesini lagi. Maria menghubungiku dan perusahaan sedang ada masalah. Jadi kita harus kembali sekarang juga. Aku harus segera menyelesaikan masalah itu dengan segera."


"Sepertinya masalah yang serius,"


Aiden mengangguk. "Salah satu karyawanku melakukan korupsi besar-besaran dan membawa kabur uang kantor. Untuk itu kita harus kembali sekarang juga, aku akan menyelidiki masalah ini!!"


"Korupssi?" Aiden mengangguk. "Bagaimana bisa, bukankah orang-orang yang bekerja di perusahaanmu adalah orang-orang terpercaya dan pilihan?!"


Aiden menggeleng. "Kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari satu sudut pandang. Karena apa yang terlihat baik, belum tentu baik. Dan yang terlihat buruk, belum tentu buruk. Makanya penting untuk tetap waspada pada orang-orang yang ada di sekeliling kita!!"


"Ya, kau benar. Kalau begitu aku akan siap-siap sekarang."


"Aku akan menunggumu di luar."


Aster mengangguk. "Baiklah,"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2